• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Kawasan Cagar Budaya Kotagede

IV. DATA DAN ANALISIS

4.1.1. Sejarah Kawasan Cagar Budaya Kotagede

Kotagede terletak sekitar 6 km dari pusat kota dan berada di bagian selatan Kota Yogyakarta, berdekatan dengan Ring Road Selatan dan Ring Road Timur Kota Yogyakarta. Kotagede merupakan salah satu tempat yang mempunyai nilai sejarah bagi Kota Yogyakarta, karena pada kawasan ini pernah dijadikan pusat pemerintahan ketika zaman pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada abad XVI M sebelum pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Diceritakan dalam Saujana Budaya Kotagede (Greenmap) tentang Kotagede dari masa ke masa (Tabel 3) yang diawali ketika Ki Ageng Pemanahan mendirikan sebuah pemukiman di wilayah hutan Mentaok, hadiah dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang, atas jasanya dalam menumpas musuh Pajang yang dipimpin oleh Arya Penangsang. Wilayah ini kemudian disebut Mataram, dengan pusat pemukiman Kotagede. Ki Ageng Pemanahan bergelar Ki Ageng Mataram hingga wafatnya pada tahun 1584.

Ketika pamor Pajang menurun, Sutawijaya, putra dan penggantinya, berkeinginan untuk memiliki kekuasaan sendiri dan menyusun kekuatan, lepas dari Pajang. Setelah Pajang dapat ditundukkan dengan bantuan Pangeran Banawa, Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram Islam dengan pusat pemerintahan di Kotagede. Ia bergelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama. Selain berusaha memperluas daerah kekuasaannya, Panembahan Senapati juga membangun Kotagede, antara lain benteng kota, jagang (parit keliling), masjid agung, dan makam kerajaan di sebelah masjid agung. Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di kompleks tersebut, berdekatan dengan makam ayahnya.

Panembahan Senapati digantikan oleh salah satu putranya, Pangeran Anyakrawati atau Panembahan Sedang ing Krapyak. Selama masa pemerintahannya, beliau menyempurnakan pembangunan makam kerajaan, membangun Taman Danalaya di sebelah barat kraton, mendirikan lumbung Gading, menanam pohon-pohon lada, kemukus, dan kelapa, serta membuat krapyak (hutan perburuan) di Beringan.

24 Pangeran Anyakrawati jatuh sakit dan wafat di Krapyak pada tahun 1613. Panembahan Sedang ing Krapyak digantikan oleh salah satu putranya, Pangeran Rangsang yang bergelar Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kerta, tidak jauh dari Kotagede. Walaupun begitu, sifat kekotaan Kotagede tetap terpelihara. Profesi-profesi yang dulu menjadi bagian dari kehidupan istana seperti kerajinan, pertukangan, dan perdagangan berjalan terus. Jadi, fungsi politik Kotagede berubah menjadi fungsi pasar. Sejak saat itulah muncul sebutan Pasar Gede untuk menyebut Kotagede.

Kotagede dapat tetap bertahan karena mempunyai dua keistimewaan. Pertama, wilayah Kotagede dianggap sebagai tanah pusaka karena terdapat makam leluhur Kerajaan Mataram Islam. Sikap orang Jawa yang menghormati leluhur dan berorientasi pada lingkungan kerajaan menjadikan makam kerajaan tersebut selalu dijaga dan diziarahi, baik oleh pihak kraton maupun masyarakat umum. Kedua, Kotagede sendiri sejak menjadi ibukota Kerajaan Mataram Islam telah dikenal sebagai pusat industri dan perdagangan pribumi. Fungsi pasar ini tetap hidup setelah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan.

Akibat perjanjian Giyanti 1755, separuh wilayah Kotagede timur dikuasai oleh Surakarta dan separuh wilayah barat dikuasai oleh Yogyakarta. Hanya wilayah makam kerajaan, masjid agung, dan pasar yang dikelola secara bersama- sama.

Pada sekitar tahun 1910, empat kerajaan Jawa bagian selatan, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegara, dan Pakualaman sepakat mengadakan pembaharuan terhadap sitem kepemilikan tanah dan sistem pemerintahan. Dalam sistem kepemilikan tanah, sistem kepatuhan diganti menjadi sistem kalurahan, dimana setiap penduduk desa memiliki hak atas tanah, sehingga secara bersama- sama masyarakat dapat membentuk desa. Kotagede yang semula merupakan tanah lungguh bagi abdi dalem Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta diubah menjadi enam kelurahan dan berubah masuk wilayah DI Yogyakarta pada 1950 dan pada 1990-an dibagi lagi antara Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.

Pada tahun 1960-an, yaitu pada jaman PKI perokonomian Kotagede cukup merosot. Kehidupan masyarakat tidak lagi sebaik pada masa munculnya perindustrian, sampai Kotagede ini disebut sebagai kota miskin. Hal ini diperburuk dengan terjadinya inflasi mata uang yang semakin menurunkan tingkat

perekonomian Kotagede. Tetapi setelah pada 1990 industri perak mulai diminati kembali yang kemudian ikut meningkatkan kembali taraf kehidupan masyarakat setempat.

Sempat terjadi bencana gempa bumi pada tahun 2006. Banyak bangunan tua yang memang telah rapuh mengalami ambruk parah. Tetapi pemerintah dan masyarakat dapat kembali membenahi kerusakan yang terjadi. Terdapat beberapa bangunan tua yang tidak direhabilitasi kembali dikarenakan biaya yang dibutuhkan cukup besar, sehingga hanya dilakukan pembenahan sampai bangunan tersebut dapat ditinggali kembali, tidak sama dengan bentuk bangunan yang sebelumnya.

Sampai saat ini, Kotagede telah menjelma sebagai kawasan berkarakter urban dengan permasalahan yang umum dihadapi bersifat spasial-arsitektural, selain masalah sosial-budaya, terutama sejak akhir abad XIX M ketika mulai banyak pedagang bermodal besar menetap. Kenyataan yang muncul adalah bahwa banyak lahan yang mengandung potensi sejarah berubah fungsi menjadi pemukiman penduduk yang padat, karena kebutuhan akan ruang. Selain itu, terjadi pula penurunan kualitas bangunan yang diasumsikan mengubah wajah arsitektur tradisional Kotagede. Faktor usia dan masalah biaya perawatan juga menjadi masalah dalam pelestarian bangunan-bangunan yang menjadi karakter Kotagede (Saujana Budaya Kotagede (Greenmap), 2005).

Tabel 3 Ringkasan perkembangan KCB Kotagede pada setiap periode

Periode Tahun Keterangan

Awal Periode Mataram

Islam

Periode

1577 Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan

1584 Ki Ageng Pemanahan Mangkat, Panembahan Senapati

membangun tembok keliling kraton

1586 Kotagede dijadikan tempat kedudukan kraton

1587 Kotegede menjadi pusat Kerajaan Mataram

1592 Tembok keliling selesai dibangun

Tahun Keterangan

Awal Periode Mataram Islam

1606 Makam Kotagede selesai dibangun

1613-1645 Masa pemerintahan Sultan Agung, raja lebih banyak tinggal di Kerta, Kotagede tetap menjadi makam raja-raja 1618 Raja berkraton di Kerta, Ibusuri di Kotegede

Periode Zaman Penjajahan Belanda

1633 Diberlakukan sistem kalender baru (Hijriyah)

1755 Perjanjian Giyanti, terjadi pembagian kekuasaan, Kotagede dibagi menjadi Kotagede Surakarta (Ska) dan Kotagede Yogyakarta (Yk)

26 1903 Kotagede bergerak dari kota para abdi dalem karya-tukang-

kraton menjadi pusat industry dan perdagangan pribumi

<1910 Golongan Kalang terbagi 2 sub-kelompok, Yogyakarta

(Yk) dan Surakarta (Ska). Kalang Ska diberi gelar mantra Kalang bertugas menyediakan dan mengawasi pelayanan pekerjaan kayu. Kalang Yk mengurusi transportasi dengan kuda. Sub Kalang Ska memperoleh lisensi dari kraton untuk membuka rumah gadai di seluruh wilayah

1910-1920 Perubahan pemilikan tata guna lahan kerajaan, menjadikan wibawa kraton merosot

>1920 Muhammadiyah lahir sebagai pembaharuan Islam dan

tradisi Kotagede

1922 Jaman batik/periode batik awal industri rakyat

1920-1930 Jaman perak, Kotagede sebagai kota saudagar/pedagang

1925 Jaman keemasan umat Islam Kotagede-ekonomi rakyat

1934 Pembangunan makan Hastana Rangga oleh Hamengku

Buwono VIII

1935-1938 Masa perak telah mencapai puncaknya-ekonomi rakyat Masa

Kemerdekaan RI

1945 Kasultanan Yogayakarta bergabung dengan RI dan secara

resmi diakui tahun 1952, Kotagede Ska masuk Bantul, Kotagede Yk masuk Kota Yogyakarta

1942-1950 Jepang berkuasa, perak bangkit lagi namun tidak sejaya masa sebelumnya

1950-1960 Jaman PKI, Kotagede sebagai kota miskin 1960-1990 Inflasi mata uang, perekonomian memburuk

1990-2010 Perak mulai diminati kembali, Kotagede mulai tumbuh sebagai daerah wisata perpaduan kawasan komersial dan historis

2006 Terjadi bencana gempa bumi, telah merobohkan beberapa

bangunan tua yang ada di Kotagede dan telah dilakukan rehabilitasi pada sebagian bangunan yang memungkinkan untuk diperbaiki

Dokumen terkait