• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pasar Modal Syariah di Indonesia

BAB III PASAR MODAL SYARIAH

B. Sejarah Pasar Modal Syariah di Indonesia

Pasar modal merupakan lembaga yang berfungsi sebagai perantara

(intermediaries) antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang

membutuhkan dana dengan cara memperjualkan sekuritas. Kemunculan pasar modal di Indonesia dimulai tanggal 14 Desember 1912 saat itu pemerintah Hindia Belanda mendirikan Vereniging voor de Effectenhandel di Batavia (sekarang Jakarta) sebagai cikal bakal Pasar Modal di Indonesia200. Perkembangan Bursa Efek Indonesia tidak terlepas dari pasang surutnya iklim politik, ekonomi, dan keuangan negara ini. Aktivitas bursa efek indonesia (BEI) mengalami kemunduran di tahun 1940, ketika belanda diserang dan diduduki oleh bangsa jerman. Setelah itu, BEI kembali muncul pada tahun1952, namun sejak tahun 1958 seolah kembali menghilang BEI mulai bangkit kembali pada tanggal 10 agustus 1977. Sejak dibuka kembali pada tahun 1977 pasar modal diawasi dan dilaksanakan oleh BAPEPAM, pelaku pasar modal adalah perusahaan-perusahaan efek, yang menjadi perantara antara perusahaan yang membutuhkan dana (dikenal dengan istilah emiten), dan para pemilik dana (investor), akuntan, notaris, penasihat hukum serta para penilai yang menduduki posisi vital dalam konfigurasi pasar modal201. Perkembangan pasar modal selama tahun 1977 hingga 1987 mengalami kelesuan meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas kepada perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan dana

198 Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, dan Ahim Abdurrahim, Akuntansi Perbankan Syariah, Teori dan Praktik Kontemporer ..., h.23.

199 Muhamad, Manajemen Keuangan Syari’ah, Analisis Fiqh dan Keuangan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014), h.547.

200 Fransiskus Paulus Paskalis Abi, Semakin Dekat dengan Pasar Modal Indonesia, (Yogyakarta: Deepublish Publisher, 2016), h.1.

54 dari bursa efek. Tersendatnya perkembangan pasar modal selama periode tersebut disebabkan oleh beberapa masalah antara lain mengenai prosedur emisi saham dan obligasi yang terlalu ketat dan adanya batasan fluktuasi harga saham dan lain sebagainya. PT Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yang tercatat pada saham Bursa Efek Jakarta (BEJ).202

Tahun awal 1987 pemerintah melakukan deregulasi pasar modal, saat itu gairah pasar modal indonesia kembali meningkat. Paket kebijaksanaan Desember 1987 (Pakdes 1987), Paket Kebijaksanaan Oktober (Pakto 1988), dan paket kebijaksanaan Desember 1998 (Pakdes 1988).203 Tiga momentum kebijakan tersebut yang mengubah aktivitas pasar modal dari lesu dan stagnasi pada periode 1977 hingga 1987 menjadi aktif untuk periode 1987 hingga terjadinya krisis moneter pada tahun 1997. Mulai tahun 1992 pengelolaan BAPEPAM diserahkan kepada pihak swasta, seperti yang telah terjadi di seluruh belahan dunia. perkembangan pasar begitu cepat menghendaki adanya efesiensi kerja serta bursa yang harus diotomisasi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut kemudian melahirkan Jakarta Automated Trading System (JATS), yang diperkuat dengan UU di tahun 1995204

Pada saat era reformasi ada empat peristiwa penting yang patut dicatat dalam sejarah pasar modal indonesia, yaitu krisis moneter, indeks menembus angka tiga digit, mergernya Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, dan berganti nama menjadi Bursa Efek indonesia. Pada pertengahan 1997, indonesia tertular krisis moneter dari Thailand. Kondisi indonesia bahkan lebih buruk dibanding Thailand, anjloknya mata uang Rupiah terhadap Dollar AS dari Rp.

202 Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Seri 3, diaskes dari https://sikapiuangmu.ojk.go.id.

203 Pakdes 1987 secara umum merupakan penyederhanaan persyaratab proses emisi saham dan obligasi, dihapuskannya beberapa biaya yang sebelumnya dipungut oleh BAPEPAM, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka pula kesempatan untuk membeli efek bagi pemodal asing maksimal 49% dari total emisi. Pakdes 1987 juga menghapuskan batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel, sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek. Pakto 1998, pada hakikatnya ditujukan pada sektor perbankan namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Secara garis besar Pakto 1998 berisikan tentang ketentuan legal lending limit (LLL), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini mempunyai dampak positif terhadap pasar modal. Sebab dengan adanya ketentuan ini, berarti pemerintah memberikan perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal. Pakdes 1988, pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh terhadap pasar modal, sehingga pemanfaatan dana dari pasar modal sama mudahnya dan murahnya dengan sumber dana lainnya. Dan yang palng penting, Pakdes memberikan peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa. Sawidji Widoatmodjo, Pengetahuan Pasar Modal Untuk Konteks Indonesia, (Jakarta: PT Elex Media Computindo, 2015), h. 32, Musdalifah., dkk, Manajemen Investasi Fundamental, Teknikal, Perilaku Investor dan Return Saham, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h.15, Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Seri 3, diaskes dari https://sikapiuangmu.ojk.go.id.

55 2000 menjadi Rp. 10.000, menjadikan pasar modal tidak menarik lagi. Sebab perusahaan terdaftar di bursa menjadi merosot kinerjanya, bahkan modalnya menjadi negatif. Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) pada saat itu sudah mencapai angka di atas 700-an, anjlok dan bertengger di angka 200-an. Periode masa reformasi dikatakan juga sebagai masa berkabung, bagi dunia pasar modal. Sebab terjadinya penurunan baik dari kapitalisasi pasar, jumlah investor yang turun drastis. Upaya yang dilakukan adalah melepas batasan kepemilikan perusahaan dair 49% menjadi 100%, kecuali saham perbankan. Akan tetapi pada akhirnya saham perbankan boleh dimiliki asing secara full 100%.205

Setelah peristiwa krisis moneter dan mengubah kepemilikan saham, pasar modal menjadi lebih realistis. Harga perdana yang ditawarkan tidak terlalu jauh dengan harga nominalnya, bahkan dari nilai buku. Demikian pula perusahaan pialang menjadi lebih aktif melakukan pemasaran dalam menjaring investor. Sementara perusahaan reksa dana mejadi semakin kreatif. Segala upaya yang dilakukan membuahkan hasil, IHSG kembali ke angka setelah krisis yaitu 700-an bahkan mencapai 5.000 menembus 3 digit. Pada tahun 2008 realisasi rencana penggabungan Bursa Efek Jakarta dengan Bursa Efek Surabaya. Penggabungan dua nama bursa tersebut menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI), nama ini bukanlah nama yang baru. Sebelum adanya swastanisasi nama bursa efek yang ada hanyalah Bursa Efek Indonesia. Karena adanya swastanisasi diganti menjadi BEJ dan BES.206

Pada tahun 2011, terjadi pengalihan pengawasan dari kementerian keuangan ke Otoritas Jasa Keuangan sesuai dengan UU tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengawasi sektor perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non Bank (INBK). Pada 22 November 2011, UU No.21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi disahkan dan menjadi cikal bakal lahirnya lembaga OJK. OJK dinyatakan sebagai lembaga independen yang mengawasi lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank, seperti perusahaan sekuritas, modal ventura, perusahaan pembiayaan, reksa dana, asuransi, dan dana pensiun serta lembaga lain yang berkegiatan mengumpulkan dana masyarakat. Pengalihan pengawasan dilakukan secara bertahap. Pada 31 Desember 2012, pengawasan Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank yang sebelumnya dilakukan oleh Kementerian Keuangan melalui BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) resmi beralih ke OJK207. Secara garis besar, perkembangan pasar modal Syariah di Indonesia dibagi menjadi dua bagian, pertama tonggak sejarah kelahiran pasar modal Islam di Indonesia di mulai pada tahun 1997 dan tonggak kedua adalah kebangkitan

205 Sawidji Widoatmodjo, Pengetahuan Pasar Modal Untuk Konteks Indonesia ..., h. 36.

206 Sawidji Widoatmodjo, Pengetahuan Pasar Modal Untuk Konteks Indonesia ..., h. 37.

207 Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Seri 3, h.9, diaskes dari https://sikapiuangmu.ojk.go.id.

56 pasar modal Syariah di Indonesia ditandai dengan peluncuran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada tahun 2011.208 Awal mula pemikiran untuk mendirikan pasar modal dimulai sejak munculnya instrumen pasar modal yang menggunakan prinsip Syariah yang berbentuk reksa dana Syariah209 oleh PT. Danareksa Investment Management pada 3 Juli 1997. Selanjutnya pada tanggal 3 Juli 2000 diluncurkan Jakarta Islamic Index yang bertujuan untuk memandu investor yang ingin berinvestasi pada saham-saham Syariah. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pertama kalinya mengeluarkan fatwa tentang pasar modal Syariah khususnya pada produk reksa dana, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa dana Syariah. Pada awal September 2002, instrumen investasi Syariah di pasar modal bertambah dengan adanya Obligasi Syariah PT Indosat Tbk, obligasi Syariah pertama ini menggunakan akad mudha>rabah.210

Pada tanggal 14 Maret 2013 dilakukan MoU antara BAPEPAM dan DSN-MUI untuk mengembangkan pasar modal berbasis Syariah di Indonesia211

dalam perjalanannya perkembangan dan pertumbuhan transaksi efek Syariah di pasar modal indonesia terus meningkat. Perkembangan pasar modal Syariah mencapai tonggak sejarah baru dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah (SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-Undang ini diperlukan sebaga landasan hukum untuk penerbitan surat berharga Syariah negara atau sukuk negara. Pada tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.212

Selanjutnya, tonggak kebangkitan pasar modal Syariah di awali dengan penerbitan Indeks Saham Syariah di Indonesia (ISSI) pada Mei 2011. Penerbitan ISSI oleh Bursa Efek Indonesia adalah sebagai pemenuhan kebutuhan investor tentang indeks pembanding yang menggambarkan kinerja seluruh saham-saham Syariah. Dalam hal ini, DSN MUI menerbitkan Fatwa No. 80 tahun 2011 sebagai respon dari permintaan Bursa Efek Indonesia untuk landasan bertransaksi saham Syariah di BEI yang sesuai dengan perinsip Islam.213

208 Irwan Abdalloh, Pasar Modal Syariah, (Jakarta: PT Elex Media Kompuindo, 2018), h.xix.

209 Mardani, Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia ..., h. 139.

210 Darsono, Ali Sakti, dkk., Masa Depan Keuangan Syariah Indonesia, (Jakarta: Tazkia Publishing, 2017), h. 146.

211 Peresmian Pasar Modal Syariah dibuka secara resmi Oleh Menteri Keuangan Boediono dan didampingi oleh Ketua BAPEPAM Herdiwayatmo, wakil dari Majelis Ulama Indonesia dan wakil dari Dewan Syariah Nasional serta direksi SRO, direksi perusahaan efek, pengurus organisasi, pelaku dan asosiasi profesi di pasar Indonesia. Mardani, Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia ..., h. 139.

212 Mardani, Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia ..., h. 141.

213 Irwan Abdalloh, Pasar Modal Syariah, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2018), h. xxviii.

57 Pertumbuhan saham Syariah hingga Juni 2019 mencatatkan proporsi saham Syariah yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia sebanyak 400 saham dengan rincian proporsi jumlah saham Syariah mencapai 62,79% dan 37,21% non-Syariah, dan jumlah kapitalisasi saham Syariah dibandingkan dengan saham non Syariah adalah 51,08 kapitalisasi saham Syariah dan 48,92% untuk kapitalisasi non-Syariah.214 Pertumbuhan pasar modal Syariah cukup menarik perhatian dibandingkan dengan perbankan Syariah.215 Kontribusi perbankan Syariah terhadap perbankan indonesia secara keseluruhan hanya mencapai 5,94%.216

Pasar modal Syariah dikembangkan dalam rangka mengakomodir kebutuhan umat Islam Indonesia yang ingin melakukan investasi di produk-produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip dasar Syariah. Perbedaan mendasar antara pasar modal konvensional dengan pasar modal Syariah dapat dilihat dari instrumen dan mekanisme transaksinya, sedangkan perbedaan nilai indeks saham Syariah dengan nilai indeks saham konvensional terletak pada kriteria saham emiten yang harus memenuhi prinsip-prinsip dasar Syariah. Secara umum konsep dasar pasar modal Syariah tidak terlalu berbeda dengan pasar saham konvensional meskipun dalam konsep pasar modal Syariah disebutkan bahwa saham yang diperdagangkan harus berasal dari perusahaan yang bergerak dalam sektor yang memenuhi kriteria Syariah dan terbebas dari unsur ribawi, serta transaksi saham dilakukan dengan menghindarkan praktik spekulasi.217

Dokumen terkait