BAB II DAFTAR PUSTAKA
2.1.4 Sejarah Peringatan Hari Buruh
Peringatan Hari Buruh sudah mulai dilakukan tanggal 1 Mei tahun 1920 di Indonesia. Bahkan tercatat sebagai negara Asia pertama yang merayakan 1 Mei sebagai hari buruh. Melalui UU Tenaga Kerja No. 12 Tahun 1948 pada pasal 15 ayat 2, dinyatakan bahwa “Pada tanggal 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban kerja”.
Berdasarkan peraturan tersebut, kaum buruh di Indonesia, selalu memperingati MayDay setiap tahunnya. Ini berarti sudah sejak lebih dari 90 tahun yang lalu MayDay telah diakui sebagai harinya kaum buruh di Indonesia.
Namun, sejak masa pemerintahan Orde Baru, hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia. Dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Hal ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak terjadinya G30 SPKI pada 1965 yang ditabukan di Indonesia.
Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan MayDay masuk kategori aktivitas subversif atau upaya pemberontakan dalam merobohkan struktur kekuasaan termasuk negara, karena MayDay selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak tepat, karena mayoritas negara-negara di dunia ini (yang sebagian besar menganut ideologi nonkomunis, bahkan juga yang menganut prinsip antikomunis), menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya sebagai hari libur nasional.
Orde Baru kemudian melarang buruh untuk memperingati MayDay, karena Orde Baru memiliki ketakutan tersendiri terhadap kesolidan buruh di Indonesia, terutama perayaan MayDay yang bisa mengkonsolidasikan ribuan buruh.Namun pada tanggal 1 Mei 1994, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) kembali merayakan MayDaydi Medan, walaupun di bawah represifitas pemerintahan Orde Baru. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) dalam merayakan MayDay pada tahun 1995.Aksi yang digalang oleh SMID dan PPBI ini ditujukan ke Kantor Departemen Tenaga Kerja dan kantor Gubernur Jawa Tengah, sebagai simbol pusat kekuasaan.
Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan MayDay tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori "membahayakan ketertiban umum".
Yang terjadi justru, tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena mereka masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan MayDay adalah subversif dan didalangi gerakan komunis.
Sepanjang tahun 1998-2012, aksi-aksi peringatan MayDay banyak di lakukan di pusat-pusat kekuasaan, seperti Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kantor Gubernur, Istana Negara, Depnaker, Disnaker, Gedung DPR/MPR, dan lain-lain.
Namun menariknya, direntang waktu tersebut terjadi perubahan tujuan aksi dari pusat kekuasaan ke kawasan industri, yakni pada rentang tahun 1997-2000.Pada rentang waktu tersebut, aksi-aksi MayDay banyak dilakukan di kawasan-kawasan industri, seperti kawasan industri Tandes Surabaya, kawasan Industri di Sidoarjo, Gresik, Ungaran Jawa Tengah, dan Sukoharjo.
Perubahan pola aksi ke kawasan industri ini dilakukan karena kawasan industri merupakan jantung kapitalisme. Dengan dilakukannya aksi di kawasan industri, maka produksi di pabrik akan berhenti dan pemilik modal akan mengalami kerugian besar.Perubahan pola aksi ke pusat kekuasaan kembali marak terjadi pada kurun waktu 2001-2007. Namun isu MayDay yang diangkat pada rentang waktu ini mulai menjadi sangat politis karena mengusung lawan neoliberalisme dan kapitalisme.
Isu MayDay pada tahun-tahun ini pun bukan hanya mengangkat isu normatif saja. Isu tersebut masih didominasi dengan isu MayDay sebagai hari libur nasional dan kenaikan upah 100 persen.
Sementara walaupun direntang waktu 2008-2012 masih diwarnai aksi-aksi ke pusat kekuasaan, namun yang berbeda dikurun waktu ini ialah serikat buruh kuning
mulai ikut aksi memperingati MayDay. Pada tahun-tahun ini, isu yang mendominasi adalah isu upah, tolak PHK, hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing.
Perubahan pola aksi ke pusat kekuasaan ini, pada awalnya ditanggapi sangat keras oleh rezim penguasa. Upaya untuk melarang kaum buruh untuk aksi ke pusat kekuasaan sangat gencar dilakukan oleh rezim penguasa melalui aparat keamanan. Bahkan sempat muncul pelarangan dan intimidasi terhadap pengemudi truk agar tidak mengangkut buruh aksi ke pusat-pusat kekuasaan.
Namun seiring dengan waktu, respons dari rezim penguasa semakin melunak terhadap aksi-aksi buruh ke pusat kekuasaan. Dalam akhir-akhir tahun ini, pihak penguasa hanya mengimbau agar aksi buruh tidak rusuh serta mengawal secara ketat aksi-aksi yang dilakukan oleh buruh ke pusat kekuasaan.
Selama tahun 2012, selain peringatan MayDay, buruh kembali banyak melakukan aksi di kawasan industri. Pada periode Oktober-November saja, aksi yang dilakukan di berbagai kawasan industri ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi pengusaha
(https://helmysyamza.wordpress.com/2014/03/31/ironis-menelusuri-sejarah-may-day-di-indonesia-01/ diakses pada 03 Maret 2015 pukul 10:35 WIB).
Sementara pada tahun 2013, Hari Buruh kembali dijadikan hari libur nasional yang akan dimulai pada tahun 2014. Rencana tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika bertemu para pimpinan konfederasi dan serikat pekerja di Istana Negara, Jakarta, Senin (29/4/2013). Walaupun demikian, para buruh tetap melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut haknya seperti yang dilakukan selama ini, dan sekitar 600.000 buruh yang berunjuk rasa di seluruh Indonesia pada saat itu (http://nasional.kompas.com/read/2013/04/29/18432615/Hari.Buruh.1.Mei.Akan.Jadi .Libur.Nasional diakses pada 4 Maret 2015 pukul 8:53 WIB).
Dan yang lebih menarik pada tahun 2014, dimana tahun ini dijuluki dengan istilah tahun politik. Karena semua moment bisa dikaitkan dengan politik, diantaranya pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR yang akan menempati 560 kursi jabatan, dan tak luput juga adalah hari buruh. Yang istimewa dari demo buruh yang dikoordinir KSPI (Konfederasi Serikat pekerja Indonesia) kali ini, adalah agenda diumumkannya calon presiden RI pilihan kaum buruh. ada 10 kriteria Presiden RI pilihan buruh, diantaranya : mampu membangkitkan ekonomi Indonesia, mampu menjadikan Indonesia sebagai negara mandiri yang bebas dari tekanan dan dominasi asing, serta berani menghapus sistem kerja alih daya.
Yang jelas, kaum pekerja mencoba merilis pesan untuk disampaikan pada para calon penghuni Senayan yang baru dan calon pemimpin negeri ini. Siapapun nanti yang akan diumumkan KPU pada 9 Mei 2014 menjadi pemilik sah 560 kursi DPR, siapapun nanti yang dipilih rakyat pada 9 Juli 2014, mereka hendaknya mulai memikirkan mana dari 10 tuntutan itu yang kira-kira akan jadi program kerjanya, sehingga tak melulu hanya memberi janji namun gagal mewujudkan bukti (http://metro.kompasiana.com/2014/05/01/yang-istimewa-pada-peringatan-hari-buruh-2014-hari-ini-652950.html diakses pada 4 Maret 2015 pukul 8:42 WIB).