A. Deskripsi Data
1. Sejarah Perkampungan Budaya Betawi di Setu
Betawi yang mengakibatkan tergesernya budaya Betawi di kota asalnya yaitu Jakarta. Hal ini yang membuat masyarakat Betawi mulai berpikir keras bagaimana cara melestarikan budayanya tersebut.
Tercetuslah cara untuk mendirikan Perkampungan Budaya Betawi yang di desak oleh keinginan arus bawah masyarakat Betawi dan lebih dari 62 organisasi-organisasi masyarakat di bawah Bamus Betawi, maka pada tahun 1998 Bamus Betawi mengajukan proposal kepada Pemda DKI Jakarta tentang Perkampungan Budaya Betawi dengan alternatif lokasi di Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah,
Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.1
Sebenarnya perencanaan penetapan Setu Babakan sebagai cagar budaya sudah ada sejak 1996, pemerintah juga pernah menetapkan kawasan Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi namun gagal karena kawasan tersebut sudah luntur dari nuansa Betawi. Pemerintah DKI Jakarta menetapkan kawasan baru sebagai pengganti
kawasan cagar budaya sebelumnya.2
Hal ini kemudian ditanggapi oleh Pemda DKI Jakarta dengan menyusun masterplan mengenai Perkampungan Budaya Betawi pada Februari 2000, dan diperkuat dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tanggal 18
1
Mutiara Khusnul Chotimah, “Partisipasi Warga Betawi Setempat dalam Rangka
Keberlanjutan Program Perkampungan Budaya Betawi”, Tesis pada Pascasarjana UI,Jakarta, 2007 h.4 tidak dipubliksikan
2
Agustus 2000 No. 92 tahun 2000 tentang “Penetapan Pekampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Kotamadya Jakarta Selatan”.3
Melalui SK Gubernur No.92tahun 2000
dipilihlahperkampunganSetuBabakansebagaikawasanCagarBudayaBet
awi.Diperkuatlagi dengankeluarnya“PeraturanDaerah Provinsi Daerah
KhususIbukota JakartaNo.3 tahun 2005 tentangPenetapan
Perkampungan Budaya Betawi di KelurahanSrengsengSawah,
KecamatanJagakarsa”.4 Kawasan tersebut meliputipermukiman,
fasilitas, hutankota, SetuBabakan, SetuManggaBolongdanmata air
yang merupakansatukesatuan yang dikelolasecaraterpadu”.5
Batas fisikkawasanPerkampunganBudayaBetawiadalah
sebagaiberikut :
a. Sebelahutara: JalanMochamadKahfi II sampaidenganJalanDesa
Putra (Jalan H. Pangkat).
b. Sebelahtimur: JalanDesa Putra (Jalan H. Pangkat), JalanPratama,
JalanWika, JalanManggaBolongTimurdanJalanLapanganMerah.
c. Sebelahselatan: Batas Wilayah Provinsi Daerah
KhususIbukotaJakarta dengan Kota Depok.
d. Sebelah barat: Jalan Mochamad Kahfi II.
Batas fisik kawasan Perkampungan Budaya Betawi adalah kecuali
komplek Yon Zikon dan komplek Yayasan Desa Putra.6
Keluarnya Perda No.3 Tahun
2005merupakanpenjelasanlebihlanjutmenegenai SK
Gubernursebelumnya.SetuBabakandipilihkarena dianggap
masyarakatnya masih mempertahankan keaslian budaya Betawi dan tempatnya yang masih asri.
3
Ibid.
4
Perda no. 3 Tahun 2005 tentang Penetapan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa
5
Ayat (2), Pasal 2, Bab II, ibid.
6
52
Hal ini juga dijelaskan oleh Mutiara, “pada tahun 2005 dikeluarkan Perda No. 3 Tentang Penetapan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan yang merupakan penjelasan lebih lanjut
mengenai Keputusan Gubernur sebelumnya”.7
Pada tahun penetapan Setu Babakan sebagai kawasan cagar budaya Betawi mayoritas penduduk Setu Babakan adalah masyarakat Betawi asli ataupun keturunan dan sebagian kecil lainnya adalah pendatang. Sejak tahun penetapannya kawasan Setu Babakan mulai merintis dan membangun kawasan tersebut mulai dari membangun pemukiman warga dengan corak Betawi, tempat-tempat umum seperti mushola, toilet umum dan rumah sesepuh kampung direnovasi dengan
memasukkan ornamaen-ornamen khas Betawi.8
Namun pada saat ini mayoritas penduduk di Setu Babakan
adalah masyarakat pendatang, seperti yang dituturkan oleh Pak Na’ali
selaku mantan ketua RT 012 di RW 008, Kelurahan Srengseng Sawah, sebagai berikut:
“sekarang kawasan Perkampungan Budaya Betawi lebih
banyak pendatang kalo dibandingin bisa 40:60. 40 orang pribumi Betawinye yang 60 orang pendatengnya”9
Seiring perubahan sosial akibat pertambahan penduduk dan perluasan hunian mengancam kepunahan ciri khas rumah tradisional Betawi. Jika hal ini tetap dibiarkan begitu saja dapat berakibat dengan keberlangsungan program Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan.
Dalam Perda DKI Jakarta no.3 tahun 2005 dijelaskan fungsi Perkampungan Budaya Betawi adalah :
7 Mutiara, op.cit., h.5 8 Ibid., 9
a. Sarana permukiman penduduk,
b. Sarana ibadah,
c. Sarana informasi dan penelitian,
d. Sarana seni dan budaya,
e. Sarana pendidikan,
f. Sarana pariwisata, pelestarian dan pengembangan.10
Perkampungan Budaya Betawi adalah suatu kawasan di Jakarta dengan komunitas yang menumbuhkembangkan budaya Betawi meliputi seluruh hasil gagasan dan karya baik fisik maupun non fisik yaitu kesenian, adat istiadat, folklor kesastraan dan kebahasaan,
kesejarahan serta bangunan yang bercirikan kebetawian.11
Program yang sedangdilaksanakandalampengembanganpembangunanwilayahkelurah anadalahpembangunancagarBudayaBetawi yang disebutPerkampunganBudayaBetawi di SetuBabakan RW 08 KelurahanSrengsengSawah.12 KawasanSetuBabakanmerupakankawasanhunian yang memilikinuansakhasBetawi, baikdarisisibudaya, senipertunjukanmaupunbentukarsitekturtradisionalrumahBetawidenga n luas + 289 ha (lebih kurang dua ratus delapan puluh sembilan hektar)
ditetapkan sebagai Perkampungan Budaya Betawi.13
TujuanpenetapanPerkampunganBudayaBetawiadalahuntuk:
a. membina dan melindungi secara sungguh-sungguh dan
terusmenerus tata kehidupansertanilai-nilaiBudayaBetawi;
b. menciptakan dan menumbuhkembangkan,
nilai-nilaisenibudayaBetawisesuaidenganakarbudayanya; c. menata dan memanfaatkanpotensilingkunganfisikbaikalamimaupunbuatan 10 Pasal 6, loc.cit 11
Ayat (6), Pasal 1, Bab 1 Ketentuan Umum, ibid.
12
Laporan bulanan Kelurahan Srengseng Sawah
13
54
yang bernuansaBetawi;
d. mengendalikanpemanfaatanlingkunganfisik dan non
fisiksehinggasalingbersinerjiuntukmempertahankancirikhasBet awi.14
2. Data Tempat Tinggal dan Bangunan
a.
Data bangunan di RT 0091) Jumlah bangunan yang dihuni oleh masyarakat Betawi
adalah 128 rumah dengan uraian sebagai berikut:
Rumah tinggal =70 rumah
Rumah kontrakan =41 rumah
Gedung golkar = 1 rumah
(Rumah yang bercirikan Betawi)
Rumah tinggal = 9 rumah
Gedung =4 rumah
Panggung = 1 rumah
Rumah irigasi = 1rumah
Butik = 1 rumah
Jumlah =128 rumah
2) Jumlah bangunanyang dihuni oleh masyarakat pendatang
adalah 41 rumah dengan penjelasan sebagai berikut: Rumah tinggal =6 rumah
Rumah kontrakan = 34 rumah
Rumah Betawi = 1 rumah
Jumlah = 41rumah15
b.
Kependudukan RT 0101) Jumlah bangunan yang dihuni oleh masyarakat Betawi
adalah 110 rumah dengan uraian sebagai berikut:
Rumah tinggal = 103 rumah
14
Ayat (1), pasal 4, Bab III Tujuan, Sasaran Dan Fungsi, ibid.
15
Rumah kontrakan = -
Rumah Betawi = 7 rumah
Jumlah = 110 rumah
2) Jumlah bangunan yang dihuni oleh masyarakat pendatang
adalah 41 rumah dengan penjelasan sebagai berikut:
Rumah tinggal = 12 rumah
Rumah kontrakan = 29 rumah
Rumah Betawi = 1 rumah
Jumlah = 41 rumah16
Tabel 4.1
Narasumber dari RW 008 Kelurahan Srengseng Sawah
No Nama Usia Jabatan Lama Menjabat
1 Nur Syarif 42 Ketua RW 008 11 tahun
2 Rudi 53 Ketua RT 009 Baru 1 bulan
3 Namin 54 Ketua RT 010 21 tahun
4 Na’ali 45 Mantan Ketua
RT 012
2007-2010
5 Untung Jaya 39 Mantan Ketua
RT 012
2010-2013
Tabel 4.2
Masyarakat Pendatang di RT 009-010 RW 008
No Nama Usia Daerah Asal Status Rumah
1 Garry 63 Sorong Milik sendiri
2 Utta 33 Ciamis Milik sendiri
3 Wagino 48 Wates Ngontrak
4 Nur 52 Citayem Nyewa tanah
5 Sunarti 30 Salatiga Nyewa tanah
16
56
6 Ani 30 Medan Ngontrak
7 Ani 41 Majenang Ngontrak
8 Wawan 30 Gombong Milik sendiri
9 Sara 38 Majalengka Milik sendiri
10 Yeni 47 Medan Ngontrak
11 Zaenal 42 Ciamis Ngontrak
12 Kiki 27 Makasar Ngontrak
13 Tini 29 Solo Ngontrak
14 Gito 49 Pemalang Ngontrak
15 Titin 37 Serang Ngontrak
16 Ana 42 Lampung Ngontrak
17 Yati 33 Kuningan Ngontrak
18 Zaenal 20 Indramayu Ngontrak
19 Desi 21 Ciamis Ngontrak
20 Puji 34 Temanggung Ngontrak
Pertama, Garry merupakan warga pendatang asal Sorong, Papua alasan pindah ke Setu Babakan karena faktor kekeluargaan dan keharmonisan masyarakatnya. Lama tinggal di Setu Babakan adalah 32 tahun dan telah memiliki rumah sendiri dari hasil membeli langsung ke warga Betawi asli sehingga rumahnya sudah berciri khas Betawi sejak awal membeli. Alasannya tidak mengganti bentuk dan ornamen rumah karena rasa toleransi kepada adat budaya yang dijunjung pada daerah Setu Babakan.
Kedua, Utta merupakan warga pendatang asal Ciamis, Jawa Barat. Lama tinggal di Setu Babakan adalah tiga tahun dan alasan pindah karena membeli tanah untuk dijadikan tempat usaha bengkel las sekaligus tempat tinggal. Waktu membeli sudah ada
lisplank motif gigi balang karena alasan copot sehingga lisplank
terkena hujan dan panas sekarang lisplank sudah keropos dan tidak layak untuk pasang lagi.
Ketiga, Wagino merupakan warga pendatang asal Wates, Jawa Tengah. Lama tinggal di Setu Babakan sudah satu setengah tahun dan alasan pindah ke Setu Babakan adalahfaktor usaha, danuntuk mengirit biaya transportasi menuju setu tempat berjualan es potong. Hal tersebut yang menjadikan pak Wagino lebih memilih pindah dan mengontrak di kawasan Setu Babakan.
Kontrakannya sudah ada lisplank sejak awal mengontrak.
Keempat, Nur merupakan warga pendatang asal Citayam, Depok. Alasan pindah ke Setu Babakan karena faktor menemani anak sekolah di daerah Srengseng Sawah. Bu Nur menyewa tanah untuk dijadikan sebagaitempat tinggal, karena letaknya di pinggir jalan dimanfaat juga untuk berjualan nasi. Lama tinggal di Setu Babakan baru enam bulan. Warungnya belum bercirikan Betawi, karena membangun dengan modal seadanya, yang penting aman dan nyaman.
Kelima, Sunarti merupakan warga pendatang asal Salatiga, Jawa Tengah. Alasan pindah karena mencari lahan yang luas untuk tempat usaha barang bekas. Bangunan yang ia dirikan masih sangat ala kadarnya dan belum bercirikan Betawi.
Keenam, Ani merupakan warga pendatang asal Medan, Sumatra Utara. Alasan pindah ke Setu Babakan adalah ikut saudara saat pertama kali merantau. Karena merasa sudah betah dan nyaman dengan masyarakat Setu Babakan sekarang Ani mengontrak sendiri dengan keluarga kecilnya. Kontrakan yang ia
sewa sudah menggunakan lispank motif gigi balang, ornamen
58
kontrakannya sempit dan tidak memungkinkan untuk diberikan
teras dan langkan maka hanya diberikan lispank saja.
Ketujuh, Ani merupakan warga pendatang asal Majenang, Jawa Tengah. Alasannya pindah ke Setu Babakan karena faktor usaha berjualan cilok di dekat Setu. Sudah empat tahun tinggal di Setu Babakan. Letak kontrakannya tidak di pinggir jalan sehingga tidak mendapatkan bantuan ornamen dari Dinas Perumahan. Lama tinggal di Setu Babakan sudah empat tahun.
Kedelapan, Wawan warga pendatang asal Gombong, Jawa Tengah. Alasan pindah ke Setu Babakan karena menikahi perempuan Betawi dan ikut dengan mertua. Sudah empat tahun tinggal di Setu Babakan. Rumahnya sudah tidak lagi bercirikan Betawi, karena keropos dan rusak sehingga ornamennya dilepas. Rumahnya merupakan salah satu yang mendapatkan bantuan ornamen dari Dinas Perumahan.
Kesembilan,Sara merupakan warga pendatang asal
Majalengka. Alasannya pindah ke Setu Babakan karena mendapatkan tanah warisan. Tanah tersebut dimanfaatkan sebagai tempat tinggal dan beberapa kontrakan. Rumah dan sebagian kontrakannya sudah bercirikan Betawi. Rumahnya sudah menggunakan gigi balang, jendala dan pintu berbentuk ram yang
merupakan bantuan dari Dinas. Awalnya terdapatlangkan karena
rusak ia memilih untuk melepasnya daripada memperbaikinya. Ia menganggap jika yang memasang pemerintah maka yang berkewajiban merawat adalah pemerintah, karena warga hanya sebagai fasilitator untuk menunjang berjalannya program.
Kesepuluh, Yeni merupakan warga pendatang asal Medan. Alasannya pindah ke Setu Babakan karena faktor usaha. Ia berjualan minuman di pinggir Setu. Lama tinggal di Setu Babakan
sudah 10 tahun. Ia mengontrak dan rumahnya belum bercirikan Betawi. Namun Yeni sudah memiliki niatan jika membeli tanah dan bisa membangun rumah di kawasan Setu Babakan maka ia akan membangun rumah tradisional Betawi dengan alasan melestarikan budaya agar banyak pengunjung ke Setu Babakan.
Kesebelas, Zaenal merupakan warga pendatang asal Ciamis, Jawa Barat. Alasan pindah ke Setu Babakan karena berjualan mie ayam di pinggir Setu. Lamanya tinggal di Setu Babakan sudah 15 tahun. Rumahnya masih mengontrak dan belum bercirikan Betawi, alasannya karena pemilik rumah tidak memberikan ornamen. Tetapi kecintaanya akan kebudayaan Betawi sudah tergolong tinggi karena rumah di kampung halamannya sudah dibuat mirip dengan rumah tradisional Betawi.
Kedua belas, Kiki merupakan warga pendatang asal Makasar, Sulawesi Selatan. Alasannya pinah ke Setu Babakan karena ingin merantau dan merasakan tinggal di Ibukota. Lamanya tinggal sudah 10 tahun. Rumah masih mengontrak dengan Bu Sara, karena kontrakannya berada di dalam tidak terlihat dari jalan sehingga tidak termasuk kontrakan yang mendapatkan bantuan ornamen dari Dinas.
Ketiga belas, Tini merupakan warga pendatang asal Solo, Jawa Tengah. Alasannya pindah ke Setu Babakan karena ikut Suami. Lamanya tinggal di Setu Babakan baru dua tahun. Ia mengontrak dengan Bu Sara, namun berbeda dengan Kiki. Rumahnya sudah bercirikan Betawi dari jendela, pintu, dan gigi balang. Awalnya ada langkan, namun kayunya copot karena usia. Karena pemilik kontrakan lebih memilih mengganti dnegan pagar semen tanpa merenovasi. Dengan alasan pagar semen lebih bermanfaat bisa untuk duduk dan kontrakan terkesan luas.
60
Keempat belas, Gito merupakan warga pendatang asal Pemalang, Jawa Tengah. Alasannya pindah karena menganggap di daerah Setu Babakan aman dari penggusuran. Lamanya tinggal di Setu Babakan adalah 22 tahun. Kontrakannya yang berada dekat dengan panggung utama sehingga mendapatkan bantuan dari
pemerintah berupa gigi balang dan langkan. Namun lankannya
sudah terlihat keropos pada bagian kayu.
Kelima belas, Ana merupakan warga pendatang asal Lampung. Lamanya tinggal di Setu Babakan adalah 14 tahun. Alasan pidah ke Setu Babakan karena ikut suami. Rumah mengontrak dan sudah bercirikan Betawi karena sudah ada gigi
balang dan langkan. Namun langkan rusak dan ditutup
menggunakan banner agar tidak tampias dan teras becek.
Keenam belas, Yati merupakan warga asal Kuningan, Jawa Barat. Lamanya tinggal di Setu Babakan adalah 15 tahun. Alasannya pindah karena ikut suami yang bekerja di daerah Cilandak. Rumahnya mengontrak dan sudah bercirikan rumah tradisional Betawi, cat berwarna hijau, jendela, pintu, ukiran besi dan gigi balang sudah menghiasai rumahnya. Namun sehari
sebelum diwawancarai ornamen langkan baru aja roboh.
Kedelapan belas, Zaenal merupakan warga pendatang asal Indramayu, Jawa Barat. Lama tinggal di Setu Babakan sudah tiga tahun. Alasannya pindah adalah untuk berjualan sate keliling. Rumah masing mengontrak dan belum bercirikan Betawi karena letaknya jauh dari jalan.
Kesembilan belas, Desi merupakan warga pendatang asal Ciamis, Jawa Barat. Lama tinggal di Setu Babakan baru enam bulan. Alasan pindah karena mencari kontrakan yang agak luas. Kontrakannya belum bercirikan Betawi.
Kedua puluh, Puji merupakan warga asal Majalengka, Jawa Barat. Lama tinggal di Setu Babakan adalah 10 tahun. Alasan pindah karena usaha berjualan minuman dan rokok di pinggir setu.
B. Hasil Temuandan Pembahasan Hasil Penelitian
Saat kita memasuki gerbang utama Perkampungan Budaya Betawi yang disebut dengan Gerbang Si Pitung yang terletak pada jalan Moh. Kahfi II maka kita akan disuguhkan oleh deretan rumah bernuansakan Betawi di sebelah kanan jalan yang berjumlah lima rumah. Tetapi pada lima rumah pertama di sebelah kiri tidak semuanya bercirikan Betawi. Inilah gambaran awal yang dapat dilihat dari gerbang utama Perkampungan Budaya Betawi.
Memang sangat miris, disebut sebagai cagar budaya namun tidak semua bangunan memiliki ciri Betawi yang menandakan keserasian. Banyakpula rumah yang hanya menggunakan gigi balang saja tanpa menggunakan ornamen lain. Ada beberapa rumah yang catnya sudah mulai kusam, ornamen sudah mulai rusak dan keropos. Tidak hanya itu jika melihat semakin kedalam akan terlihat pula rumah-rumah model
minimalis atau modern yang mendominasi. Bisa dikatakan rumah
tradisional Betawi tidak lagi menjadi primadona di kawasan pelestariannya. Itu sangat ironis, karena rumah tradisional Betawi merupakan program dalam membangun Perkampungan Budaya Betawi dengan tujuan menyerasikan rumah dan bangunan. Inilah beberapa fakta yang dapat ditemukan di kawasan Perkampungan Budaya Betawi:
1. Cat hijau kuning tidak lagi mendominasi perkampungan. Padahal, cat
hijau dan kuning adalah ciri khas bangunan Betawi seperti yang sering dijumpai pada rumah, gerobak, kandang, dan lain-lain. Bagi masyarakat Betawi cat hijau memiliki arti kesejukan, sedangkan warna kuning memiliki arti keceriaan. Bisa diartikan jika masyarakat Betawi memiliki sifat sejuk yang membawa keceriaan. Banguan di
62
dalam kawasan Setu Babakan tidak memiliki warna khusus, warna hanya disesuaikan oleh warna kesukaan sang pemilik rumah tanpa ada warna khusus.
2. Tidak lengkapnya ornnamen pada bangunan di Perkampungan Budaya
Betawi. Mayoritas ornamen yang paling sering digunakan adalah lis
plank dan langkan. Namun bisa dipastikan rumah yang menggunakan
list plang belum tentu menggunakan langkan namun rumah yang
menggunakan langkan sudah pasti menggukan list plank. Hal ini
terjadi karena bantuan langkan dari Dinas cepat mengalami kerusakan
karena dimakan usia ataupun karena terkena panas dan hujan secara
langsung. Kualitas kayu juga akan berpegaruh pada umur langkan¸
jika kayu kualitas bagus maka akan semakin awet dan sebaliknya jika
kualitas kayu rendah maka langkan akan mudah rusak.
Ada juga warga yang mengganti langkan yang sudah rusak dengan
pagar semen setinggi lutut. Karena anggapan mereka langkan tidak
ada manfaatnya. Jika pagar semen bisa dimanfaatkan untuk duduk dan ngobrol dengan tetangga ataupun duduk para tamu yang datang ke rumah. Seperti yang dituturkan oleh Bu Tini sebagai berikut:
“...dulunya ada langkan tapi keropos di lepas deh. Diganti sama yang punya kontrakan pake semen. Lebih enak ini pake semen bisa buat duduk kalo sore ama ibu-ibu yang lain. kalo ada tamu juga enak, bisa duduk di sini. Yah namanya aja rumah kontrakan, ga punya ruang tamu. Kalo dulu pake kayu mana bisa duduk, ribet deh kalo ada tamu”17
Mutu kayu yang semakin menurun juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Saat periode awal pemberian bantuan yang dilakukan oleh Dinas Perumahan menggunakan kayu yang bagus. Setelah beberapa periode kualitas kayu semakin jelek. Rumah yang mendapatkan bantuan pada periode empat atau lima, ornamennya hanya bertahan dalam hitungan bulan saja.
17
Hal tersebut yang menjadikan pihak kelurahan terutama RW memutuskan kerjamasa dengan Dinas Perumahan secara sepihak. Kekecewaan masyarakat dengan Dinas Perumahan berdampak langsung pada pembangunan rumah Betawi. Sudah hampir lima tahun tidak ada lagi penembahan rumah tradisional secara signifikan.
3. Salah pemanfaatan pada list plank juga banyak dijumpai, seprti
memaanfaatkan gigi balang sebagai tempat gantungan baju saat menjemur. Hal tersebut dilakukan karena adanya lubang pada motif gigi balang sehingga memudahkan mereka untuk memasukkan pengait gantungan baju. Penempatan gigi balang yang berada di depan rumah bagian atas, menjadi daya tarik mereka untuk menjemur di sana. Seperti yang dituturkan oleh Bu Titin sebagai berikut:
“itu gigi balang saya jadiin buat gantungan jemuran, abisnya kita ga punya halaman buat jemur. Liat ada begituan depan rumah ya lumayan, bisa ngirit tempat. Cepet kering kalo jemur di situ karena di atas ga kalingan apa-apa”18
Ada salah satu toko juga memanfaatkan lisplank sebagai gantungan
jualannya seperti jajanan sahcetanyang dikaitkan menggunakan tali.
Jika beban yang digantung pada lisplank terlalu berat maka kayu akan
patah dan lisplank akan terlihat ompong. Pemanfaatan seperti itu
hanya akan mempercepat gigi balang rusak karena menahan beban gantungan yang terlalu berat.
4. Tidak adanya penyuluhan dari pihak Pemerintah kepada masyarakat
untuk mendirikan rumah-rumah tradisional Betawi mengakibatnya
lambannya pertambahan rumah tradisional Betawi. Bahkan
kuantitasnya semakin berkurang, padahal sosialisasi atau penyuluhan sangatlah penting karena sosialisasi yang dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan akan meningkatkan tingkat partisipasi warga. Hal tersebut yang menyebabkan masyarakat pendatang tidak
18
64
mengetahui adanya arahan untuk menjaga keserasian bangunan dan lingkungan yang mencerminkan ciri khas Budaya Betawi. Fasilitator pendekatan yang dinggap paling ampuh adalah ketua RT atau RW karena dianggap paling mengetahui kondisi warga secara langsung. Sebagian narasumber mengatakan tidak ada penyuluhan dari pihak RT ataupun yang lainnya untuk mendirikan rumah bercirikan Betawi. Sehingga warga baru yang membeli rumah di kawasan Perkampungan Budaya Betawi ada yang merubah rumah sesuai dengan keinginannya hingga menghilangkan kekhasan budaya Betawi di dalamnya, seperti yang dituturkan oleh pak Namin selaku RT 010, sebagai berikut:
“...pendatang yang termasuk kaya. Mereka membeli rumah- Betawi terus dibangun jadi bertingkat. Namanya orang punya duit pasti pingin membuat rumah yang bagus. Bukannya mereka tidak suka rumah Betawi, tapi memang ornamennya agak kurang cocok kalo dipasang”.19
Jika hal ini berkelanjutan maka rumah-rumah Betawi di Setu Babakan akan semakin berkurang dan lama kelamaan hilang.
1. Partisipasi Masyarakat Dalam Melestarikan Rumah
Tradisional Betawi
“Pesatnya pembangunan kota Jakarta harus diimbangi dengan
penguatan tata nilai budaya, penataan lingkungan dan pengembangan sarana prasarananya dalam suatu manajemen yang baik, guna menjaga adat istiadat tradisional budaya warganya terutama masyarakat Betawi,
dalam rangka memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia”.20
Maka kawasan Setu Babakan mempunyai tugas membangun kampungnya agar mencerminkan kekhasan masyarakat Betawi.
Berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2005 pembangunan Perkampungan Budaya Betawi diarahkan untuk menjaga kelestarian
19
Wawancara pribadi dengan pak Namin tanggal, loc. cit
20
Perda no. 3 Tahun 2005 tentang Penetapan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa
Budaya Betawi, keserasian bangunan dan lingkungan yang mencerminkan ciri khas Betawi. Pembanguan fisik yang dimaksud adalah pembangunan fasilitas sarana dan prasarana penunjang seperti bangunan-bangunan, rumah penduduk, rumah adat, tempat ibadah, museum, pasar tradisional harus sesuai dengan ciri khas budaya
Betawi.21
Pelestarian rumah tradisional Betawi sangatlah membutuhkan partisipasi dari semua elemen masyarakat, baik masyarakat pribumi maupun pendatang. Namun jika dilihat dari partisipasi masyarakat pendatang dalam meslestarikan rumah tradisional Betawi belum bisa dirasakan secara nyata, karena masyarakat belum secara sukarela