• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN ANALISIS A.Paparan Data

1. Sejarah Pondok Pesantren Al Hasan

Pondok pesantren Al Hasan merupakan lembaga pendidikan yang berdiri sekitar tahun 1955. Pondok ini didirikan oleh KH. Isom yang berada di Bancaan, Salatiga. Beliau memiliki seorang istri bernama Nyai Zuhrotun. Selain sebagai seorang tokoh agama atau yang biasa disebut dengan sebutan kyai, beliau juga menjabat sebagai kepala bagian di KUA. Beliau adalah sosok yang memiliki kepribadian tegas, keras, dan disiplin demi kebenaran. Sifat-sifat tersebut beliau terapkan dalam mendidik putra-putri dan para santri agar memiliki akhlak yang baik serta mempunyai pengetahuan yang luas.

Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan dengan Nyai Zuhrotun, KH. Isom menikah lagi dengan seorang janda yang bernama Nyai Hj. „Atifah. Sebelumnya Nyai Hj. „Atifah telah mempunyai seorang putra yaitu KH. Ichsanudin. Nyai Hj. „Atifah memiliki kepribadian yang tak jauh beda dengan KH. Isom. Beliau adalah sosok yang supel, senang berkunjung menjenguk orang sakit, serta tidak suka memubadzirkan makanan. Kemudian bersama istri keduanya, KH. Isom mendirikan pondok pesantren yang kedua di Banyuputih Salatiga dengan nama yang sama dan sistem pembelajaran yang tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren yang berada di Bancaan yaitu santri

44

diajarkan dalam bidang ilmu tajwid (Al-Qur‟an) dan akhlak, dengan tetap menanamkan pembinaan iman dan taqwa kepada santri. Dari pernikahan yang kedua Beliau mempunyai tiga keturunan, yang pertama adalah M. Rofiq Isom, yang kedua meninggal dunia dan yang ketiga yaitu Nyai Kamalah Isom, S. E.

Walaupun menjadi pengasuh di dua pesantren yang jaraknya lumayan jauh jika dijalani dengan berjalan kaki, Beliau memperlakukan kedua pesantren tersebut secara adil. Hal tersebut terlihat dari cara pembagian waktu untuk kedua pesantren, santri dan keluarga beliau. Dalam waktu satu minggu, beliau sering menghabiskan siang hari di Bancaan dan malam harinya di Banyuputih.

Pada tahun 1975 istri pertama beliau, yang tinggal di Bancaan tutup usia. Kemudian pondok pesantren yang berada di Bancaan digabung menjadi satu di Banyuputih. Pengabungan pondok tersebut bertujuan supaya KH. Isom dapat lebih maksimal dalam mendidik dan megawasi para santri, selain beliau juga telah lanjut usia. Dengan usia 64 tahun, tidak memungkinkan beliau untuk terlalu banyak aktifitas di dua pondok yang berbeda lokasi yang cukup menguras tenaga.

Pada tahun 1979 keluarga besar pondok pesantren Al Hasan berduka karena pengasuh dan pendiri pondok pesantren Al Hasan atau KH. Isom telah meninggal dunia di usia sekitar 65 tahun. Kemudian pengasuhan pondok digantikan oleh istri yang kedua beliau, yaitu Nyai Hj. „Atifah. Beliau juga dibantu oleh putra dan putrinya. Namun tidak

45

lama kemudian, Nyai Hj. „Atifah dipanggil menghadap yang kuasa pada tahun 1997.

Kepemimpinan selanjutnya digantikan oleh putra dan putrinya yaitu, KH. Ichsanudin (KH. Tafrikhan) dan Nyai Kamalah Isom, S.E. Meskipun dipimpin putra-putrinya dalam sistem pembelajaran tidak jauh beda dengan semasa di pimpin oleh KH. Isom.

Awalnya pondok pesantren ini merupakan sebuah tempat pengajian yang para santrinya setiap hari pulang ke rumah, kemudian lambat laun tempat ini mempunyai santri yang berasal dari jauh sehingga di buatkan tempat tinggal. Di pesantren ini, santri diwajibkan untuk tinggal 24 jam dengan bimbingan pengasuh serta pengurus pondok untuk menjamin berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar.

Seiring bertambahnya waktu, jumlah santri pondok pesantren Al Hasan pun kian bertambah, sarana dan prasarana sedikit demi sedikit mulai dibangun. Pada tahun 2004, pondok pesantren Al Hasan baru dapat membangun asrama santri putra-putri dengan bangunan yang dikatakan layak dibanding sebelumnya. Meskipun bangunan sebelumnya sederhana para santri tetap semangat dalam pembelajarannya. Pondok pesantren Al Hasan adalah pondok pesantren Al-Qur‟an, yang mengajarkan ilmu Al-Qur‟an serta kitab-kitab kuning lainnya.

46

Pada tahun 2012, KH. Ichsanudin (KH. Tafrikhan) jatuh sakit dan harus dirawat intensif, serta tidak diperbolehkan terlalu banyak aktifitas, maka kepemimpinan pondok beralih ke putranya yaitu Bapak Ma‟arif. Selama menjalankan tugas untuk memimpin pondok pesantren beliau dibantu oleh Bapak Khusnul Kirom selaku menantu dari KH. Ichsanudin.

Setelah berjalan dengan penuh rintangan, pada bulan Desember 2016 Pondok Pesantren Al Hasan kembali berduka. KH. Ichsanudin kembali ke rahmatullah. Hampir semua merasa kehilangan, tak hanya keluarga ataupun santri bahkan warga sekitar sampai warga Salatiga ikut merasakan kepergian sang KH. Ichsanudin. Dimasa hidupnya beliau dikenal sebagai Kyai yang mempunyai kharismatik tinggi, pembelajaran Al-Qur‟an dengan tajwid menjadi prioritas beliau. Karena membaca Al-Qur‟an tidak sekedar membaca dengan terburu ataupun banyak lembar, akan tetapi bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Maha Kuasa dengan baik. Karena kepergian KH. Ichsanudin, kini Pondok Pesantren Al Hasan dipimpin putranya, yaitu Kyai Ma‟arif sampai sekarang.

Pada kepemimpinan bapak kyai Ma‟arif, perkembangannya cukup drastis baik dari perkembangan-perkembangan dalam pembelajaran, pembangunan sarana dan prasarana maupun jumlah santrinya. Perkembangan dalam pembelajaran, dulunya yang diutamakan hanya pembelajaran dalam Al-Qur‟an saja, sekarang sudah

47

mulai mempelajari kitab kuning. Terlebih lagi di pondok pesantren ini sekarang sudah menerapkan sistem kelas-kelasan. Dalam pembanguan sarana dan prasarana, sekarang juga lebih baik dan lebih memadai 2. Visi dan misi Pondok Pesantren Al Hasan

Adapun visi dan misi Pondok Pesantren Al Hasan, yaitu: Visi :

a. Kokoh dalam Iman dan Taqwa b. Mumpuni dalam Ilmu Agama (Islam)

c. Membentuk karakter santri yang berakhlakul karimah d. Maju dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Misi :

a. Menerapkan dan mengamalkan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk mental spiritual dan kepribadian yang kokoh.

b. Menjadikan ilmu agama Islam sebagai sarana dan prasarana tercapainya tujuan untuk keselamatan dan kemaslahatan dunia dan akhirat.

c. Membangun karakter Islami dan mengedepankan Aklaqul yang berasas Qur‟aniyah.

d. Melaksanakan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

48

Dokumen terkait