BAB II TINJAUAN TEORITIS
D. Konsep Dinar
2. Sejarah Singkat Dinar
Emas dan perak telah dipergunakan sebagai alat tukar ketika manusia menemukan uang sebagai ukuran harga suatu barang dan jasa. Penemuan ini bukan tidak melalui proses, tetapi penemuan besar ini merupakan sebuah isyarat bahwa banyak kekurangan yang terjadi ketika pertukaran komoditi dan jasa dilakukan dengan sistem barter.53
Menurut Ahmad Hasan, kekurangan-kekurangan yang ada pada sistem barter adalah sebagai berikut:54
a. Kesulitan Dalam Mewujudkan Kesepakatan Mutual
Sulitnya mencari keinginan yang sesuai antara orang yang melakukan transaksi menjadi salah satu kekurangan dari sistem barter. Misalnya, seorang pemilik buah pepaya membutuhkan beras. Maka, pemilik buah pepaya tersebut harus mencari pemilik beras untuk memenuhi kebutuhannya. Namun dalam hal ini, pemilik beras belum tentu membutuhkan pepaya. Bisa jadi, malah membutuhkan komoditi yang lain.
b. Perbedaan ukuran komoditi dan jasa dan barang-barang yang tidak dapat dibagi atau dipecah. Orang yang memiliki sebuah televisi membutuhkan sehelai pakaian. Namun, ukuran televisi tidak sama
53
Barter adalah pertukaran barang dengan barang, atau barang dengan jasa secara langsung tanpa menggunakan uang sebagai perantara dalam proses pertukaran komoditi dan jasa tersebut
54
Ahmad Hasan, Mata Uang Islami (Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islam), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), h. 25.
dengan sehelai pakaian, dan tidak mungkin juga televisi tersebut dibagi-bagi.
c. Kesulitan Mengukur Standar Harga Barang dan Jasa
Dalam sistem barter, sangat sulit untuk mengetahui ukuran barang dan jasa ketika ditukarkan dengan barang dan jasa lainnya. Misalnya, di sebuah pasar terdapat barang-barang seperti: tepung terigu, minyak goreng, beras dan lain-lain. Berapa banyak ukuran minyak goreng untuk ditukarkan dengan beras atau berapa banyak ukuran tepung terigu untuk ditukarkan dengan minyak goreng, sulit diketahui.
Emas dan perak telah dipergunakan sebagai alat tukar oleh berbagai bangsa, seperti bangsa Lydia, Yunani, Romawi, Persia hingga pemerintahan Islam.
a. Bangsa Lydia
Bangsa Lydia bermukim di Asia Kecil. Bangsa ini adalah bangsa kerajaan kecil yang didirikan oleh Gyges yang kemudian terjadi pewarisan tahta hingga akhirnya tunduk dan jatuh di pangkuan Persia. Menurut sejarah bangsa ini, uang pertama kali muncul di tangan para pedagang yang merasa kesulitan dalam bertransaksi. Akhirnya, pada mas Croessus (570 – 546 SM), negaralah yang berkepentingan dalam mencetak mata uang.55
55
b. Bangsa Yunani
Pada awalnya, bangsa Yunani menggunakan koin-koin perunggu sebagai alat tukar, juga emas dan perak yang masih berupa batangan (belum dicetak), hingga terjadi pencetakan emas pada tahun 406 SM dengan mengukir bentuk berhala mereka atau pemimpin, dan juga negeri-negeri mereka. Adapun mata uang utama mereka adalah
Drachma, yaitu uang yang terbuat dari perak. c. Bangsa Romawi
Sebelum abad ke 3 SM, bangsa Romawi menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut aes. Selain itu, mereka juga menggunakan mata uang dari tembaga. Menurut sejarah Romawi, orang yang pertama kali mencetak mata uang tersebut adalah Servius Tullius pada tahun 269 SM. Kemudian mereka mencetak Denarrius
yang terbuat dari emas, dan dijadikan sebagai matu uang utama bangsa Romawi. Pada mata uang tersebut, diberikan ukiran-ukiran Tuhan dan pahlawan-pahlawan mereka hingga pada masa Julius Caesar mencetak gambar dirinya di atas mata uang tersebut. Mata uang ini terus berkembang sesuai dengan kepentingan politik yang berkuasa dan bahkan nilainya pun ikut berubah hingga pada akhirnya perputaran ekonomi masyarakat menjadi kacau balau dan pedagang tidak mau lagi menerima mata uang tersebut.
d. Bangsa Persia
Seperti yang dipaparkan di atas bahwa bangsa Persia pernah menaklukkan bangsa Lydia, maka pencetakan uang bangsa Lydia mengadopsi proses pencetakan uang bangsa Lydia. Mata uang yang beredar di bangsa ini adalah mata uang yang terbuat dari emas dan perak murni berbentuk persegi. Kemudian, mata uang tersebut dimodifikasi menjadi bundar dengan berbagai macam ukiran.
Pada masa sebelum Islam, bangsa Arab Hijaz masa Jahiliyah tidak memiliki mata uang mereka sendiri. Mereka menggunakan mata uang yang diperoleh dari perjalanan mereka berdagang ke negeri Syam dan Yaman. Mata uang yang dipergunakan adalah mata uang dinar emas Hercules, Byzantium dan dirham perak dinasti Sasanid dari Iraq dan juga sebagian mata uang bangsa Himyar, Yaman.
Ketika itu emas dan perak tidak diperjualbelikan dan tidak diterima kecuali sebagai emas dan perak yang tidak ditempa. Hal ini terjadi karena beragam bentuk dan ukuran juga penipuan atas mata uang emas dan perak yang beredarketika itu, seperti nilai yang tertera melebihi nilai yang sebenarnya.
Namun, ketika Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul, umat Islam kemudian memiliki mata uang resminya. Rasulullah memang tidak banyak melakukan perubahan terhadap penggunaan
mata uang dikarenakan kesibukannya dalam memperkuat tiang-tiang agama56.
Begitu pula pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar. Beliau hanya meneruskan apa yang telah menjadi ketetapan pada masa Rasulullah SAW. Pada masa Umar Bin Khathab, mata uang yang ditetapkan Rasulullah SAW dimodifikasi dengan menambah ukiran kalimat tauhid dan kalimat Muhammad Rasulullah selain juga meresmikan standar hubungan berat antara dinar dengan dirham. Sedangkan pada masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, hanya ada penambahan pada penulisan tanggal pembuatannya.
Sesudah masa khulafaurrasyidin, pencetakan uang pada masa Dinasti Umayyah masih meneruskan pencetakan mata uang. Baru ketika dinasti tersebut dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan pada tahun 76 H, beliau membuat mata uang model Islam tersendiri lepas dari ciri khas Byzantium dan Persia. Hal ini dilakukan atas berbagai pertimbangan politik dan ekonomi, hingga masa tampuk kepemimpinan dipegang oleh dinasti Abbasiyyah.
Pencetakan dinar dan dirham di awal masa pemerintahan ini, masih mengikuti model dinasti Umayyah. Pada masa dinasti Abbsiyyah ini, banyak terjadi pengurangan berat atas dinar dan dirham. Juga terjadi pencampuran dengan logam lain dalam
56
pembuatannya, hingga akhirnya banyak penipuan atas mata uang yang beredar. Keadaan ini sempat diperbaiki pada masa pemerintahan Ahmad bin Thulun dengan melakukan pengawasan yang ketat sehingga ukuran dan kadar mata uang tersebut kembali seperti semula.
Pada masa dinasti Fathimiyah, dinar dan dirham memiliki campuran sangat banyak dengan logam lain sehingga standar yang ada tidak berlaku.57 Selain dinar dan dirham, dikenal juga mata uang fulus, yaitu mata uang yang terbuat dari tembaga. Mata uang ini tersebar pada masa pemerintahan dinasti Mamluk, bahkan menjadi mata uang utama. Dirham yang beredar pun adalah dirham campuran, karena pada masa itu, bahan baku perak tidak mencukupi untuk pencetakan mata uang. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi perak untuk pembuatan pelana dan bejana.58 Dan nilai dirham campuran pun menjadi sama nilainya dengan nilai dirham perak murni.
Pada tahun 1839 tepatnya pada masa dinasti Ottoman, diterbutkan mata uang baru dalam bentuk kertas bank note yang diberi nama Gaima. Akan tetapi nilainya terus merosot dan hingga pada akhirnya, Turki memberlakukan penggunaan uang kertas dan membatalkan transaksi dengan dinar dan dirham.
57
Ibid., h. 38.
58
Setelah runtuhnya penggunaan dinar sebagai alat bertransaksi dan digantikan oleh uang kertas dalam jangka waktu yang sangat lama, dinar tampaknya ingin dibangkitkan kembali seperti ke zaman keemasannya dulu. Pada tanggal 18 Agustus 1991, untuk pertama kalinya pencetakan kembali dinar dilakukan di kota bersejarah umat Islam khususnya di Eropa, yakni Granada, Spanyol. Di Indonesia, dinar telah kembali dicetak oleh Persada Nusantara pada tahun 2000, kemudian PT. Aneka Tambang Tbk sebuah Badan Usaha Milik Negara juga telah memproduksi logam mulia ini. Di masa kini, penggunaan dinar sendiri lebih ditujukan sebagai instrumen investasi dari pada untuk bertransaksi. Secara fisik, dinar yang kini mulai kembali diedarkan, mengikuti standar yang telah ditentukan sejak zaman khulafaur rasyidin, yang pembakuannya di abad 21 ini dilakukan oleh WITO (World Islamic Trading Organization) yakni emas yang memiliki kadar 22 karat dan mempunyai berat sebesar 4,25 gram.