BAB II MUSIK, TEORI KRITIS DAN SEMIOTIKA
A. Sejarah Singkat Industri Musik dan Rekaman
Jauh sebelum adanya teknologi rekaman, komersialisasi musik sudah dilakukan dengan cara menjual lembaran (sheet) musik yang berisi notasi sebuah lagu. selama masa Renaissance, para komposer musik klasik biasanya tidak hanya dibayar ketika memimpin sebuah konser, namun juga mereka memiliki pekerjaan sampingan yakni menuliskan dan menjual musik yang mereka ciptakan. Di tahun 1800, ketika musik folk dan mesin cetak mulai populer di Amerika Serikat, sheet
musik menjadi bisnis yang sangat menjanjikan.24 Orang-orang ketika itu rela membeli berbagai sheet musik supaya bisa dipraktekan dengan piano di rumahnya masing-masing.
Dunia rekaman mulai lahir ketika di tahun 1877, Thomas Alva Edison menciptakan alat perekam suara yang bernama fonograf. Cara kerja dari alat yang terbuat dari silinder berbungkus kertas timah itu adalah dengan merubah getaran udara menjadi alur udara yang meliputi sebuah rotasi silindris timah.25 Fonograf memakai prinsip dasar dari teknik rekaman digital, sebuah teknik yang ternyata masih bertahan hingga saat ini. Penemuan Edison tersebut kemudian menginspirasi berbagai penemuan-penemuan lainnya terkait dengan teknologi rekaman.
1
George Rodman, Mass Media in Changing World: History, Industry, Controversy (New York: McGraw-Hill, 2008), h. 216.
2
22
Pada 1887, Emile Berliner menciptakan alat baru yang diberi nama
gramofon. Berbeda dengan fonograf yang memanfaatkan silinder, maka gramofon menggunakan piringan hitam untuk merekam suara. Kelebihan dari alat ini adalah, piringan hitam lebih murah dan lebih mudah diproduksi ketimbang silinder Edison.26 Berliner bersama dengan Eldridge Johnson kemudian mendirikan perusahaan Victor Talking Machine Company dan menjual rekaman bintang opera Enrico Caruso. Jejak mereka ini kemudian diikuti oleh para pengusaha yang menjadikan dunia rekaman sebagai lahan bisnisnya.
Menjelang abad ke-20, perusahaan-perusahaan penyedia alat rekaman tumbuh dan bersaing satu sama lain. Alat-alat seperti fonograf dan gramofon tersebar ke tempat-tempat hiburan dan rumah-rumah penduduk. Era baru mendengarkan musik pun muncul. Kini masyarakat tidak perlu lagi datang ke aula-aula konser untuk mendengarkan musik. Hiburan musik bisa dengan mudah diperoleh dalam setiap rumah.
Sebelum Perang Dunia II, dunia rekaman belum mengenal istilah “album musik”. Dahulu setiap satu piringan hitam hanya berisi satu lagu dan berdurasi rata-rata 3 menit. Album musik baru muncul sekitar tahun 1940. Seperti album foto, saat itu satu album masih terdiri dari beberapa piringan hitam, tergantung berapa jumlah lagunya. Tetapi semua itu berubah ketika Peter Goldmark, seorang insinyur dan pekerja dari Colombia Records, berhasil menciptakan alat perekam panjang (long playing–LP record) yang dapat memutar musik selama 23 menit).
3
23
Sehingga dengan demikian, satu piringan hitam (vinyl) bisa menyimpan beberapa lagu.
Berkembangnya teknologi radio di Amerika Serikat pada awal 1920an, turut mempengaruhi industri musik dan rekaman. Musik menjadi sajian utama pada awal perkembangan radio.27 Saat itu bahkan siaran musik mendominasi isi radio, disamping siaran berita. Karena kualitas rekaman yang masih kurang bagus, biasanya siaran musik pada waktu itu menampilkan musisi yang tampil secara langsung (live) di studio. Namun siaran musik di radio ini kemudian sempat membuat was-was pelaku rekaman yang takut tersaingi. Terutama di masa Great Depression, di mana banyak orang yang tidak bisa membeli musik rekaman karena lebih mahal ketimbang mendengar di radio.
Walau industri rekaman sempat pesimis atas berkembangnya teknologi radio, namun justru ini semakin mendorong perusahaan rekaman untuk semakin memperbaiki kualitas rekamannya. Maka kemudian lahirlah rekaman elektrik pada tahun 1925, yang jelas semakin baik kualitasnya dibandingkan dengan yang terdahulu. Dengan cepat, teknologi rekaman elektrik ini dimanfaatkan secara baik oleh para perusahaan rekaman major.
Sadar dengan potensi bisnis yang besar, pada 1926 industri rekaman mulai bekerja sama dengan radio dan sekaligus memasarkan suatu alat yang merupakan kombinasi dari fonograf dan radio.28 Hal ini kemudian mendorong perusahaan-perusahaan rekaman lainnya untuk bergabung dengan stasiun radio, contohnya seperti The Radio Corporation of America (RCA) yang kemudian bergabung dengan The Victor Talking Machine Company pada tahun 1928.
4
Idhar Rez, Music Records Indie Label, h. 74.
5
24
Ditemukannya teknologi radio FM, semakin meramaikan dunia musik di tahun 1950-1960an. Jika radio AM jangkauannya terlalu luas sehingga cenderung „main aman‟ dengan hanya menyiarkan musik-musik mainstream, maka radio FM yang jangkauannya lebih kecil bisa memberikan tempat pada studio-studio rekaman independen yang berskala kecil untuk memasarkan produknya. Dengan kata lain, tidak seperti radio AM, radio FM lebih menawarkan beragam genre
seperti blues, jazz dan rock n‟ roll yang ternyata lebih menarik perhatian para penikmat musik dari kalangan muda.29
Seperti stasiun radio AM, label-label rekaman besar saat itu, seperti Columbia, Victor, Capitol, MGM atau Mercury, lebih suka bermain aman, yaitu dengan hanya memasarkan musik-musik yang mainstream. Sampai awal tahun 1950, musik di Amerika cenderung homogen. Musik pop bertempo lambat mendominasi isi siaran musik di radio-radio besar. Hal ini membuat kalangan remaja –yang memang selalu ingin mencari hal baru, mencoba untuk menciptakan musik baru yang lebih enerjik.
Di pertengahan tahun 1950an, label-label kecil (independen) mulai merilis lagu-lagu yang berirama atau bertempo lebih cepat. Jenis musik yang kemudian dikenal dengan nama rock and roll ini, sebenarnya adalah campuran dari berbagai elemen seperti rhythm and blues, gospel dan musik country.30 Kalangan kulit hitam punya andil besar dalam munculnya genre musik ini. Elvis Presley yang dikenal sebagai “raja rock and roll” pun terinspirasi dan banyak mengadaptasi gaya bermusik dari para musisi kulit hitam.
6
Roger Fidler, Mediamorfosis (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), h. 31.
7
25
Tidak hanya di Amerika Serikat, musik rock juga mendapatkan tempat yang sangat besar di kalangan remaja di Inggris. Bahkan perkembangannya jauh lebih pesat ketimbang di AS. Band-band seperti The Beatles, The Rolling Stones atau The Who menjadi magnet besar bagi munculnya para pelaku bisnis musik. Terutama ketika band-band Inggris ini menginvasi tanah Amerika. Musik rock menjadi bisnis yang sangat menggiurkan dan menarik banyak penggemar dari berbagai kalangan. Musik rock juga melahirkan banyak genre lainnya seperti punk,
metal dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, rock menjadi jenis musik yang paling banyak berkembang dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan berbagai genre musik populer, sama pesatnya dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan para pendengarnya. Mulai dari ditemukannya teknologi stereo, tape recorder, Compact Disc, sampai munculnya situs-situs yang menyediakan fitur untuk mengunduh (download) lagu-lagu secara bebas. Jika kita petakan, maka pertumbuhan industri musik dan rekaman dapat disederhanakan dan dicirikan dengan beberapa peristiwa penting berikut ini:
1. Penemuan alat-alat seperti fonograf oleh Thomas Edison, dan gramofon oleh Emile Berliner, yang menjadi cikal bakal munculnya industri rekaman.
2. Ampex menciptakan tape recorder berkualitas tinggi, dan Minnesota Mining and Manufacturing (3M) mengembangkan pita plastik. Penggunaan kaset membuat suara dapat diedit dan disempurnakan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada piringan cakram.31
8
Shirley Biagi, Media/Impact: Pengantar Media Massa (Terj. Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h. 121.
26
3. Peter Goldmark menciptakan alat perekam panjang (long playing –LP record) yang dapat memutar musik selama 23 menit).
4. Pada tahun 1956, teknologi suara stereo mulai dikenal.
5. Perusahaan rekaman Motown mempopulerkan jenis musik blues dan
rock and roll.
6. Pada 1979, Sony memperkenalkan alat musik stereo pribadi yang diberi nama Walkman.
7. Munculnya compact disc (CD) yang dapat memberikan suara yang jernih dan mengubah dunia musik dengan suara yang direkam pada plastik alumunium berukuran 4,7 inchi, serta diputar menggunakan laser.32 Sejak kemunculannya, CD secara otomatis menggantikan peran piringan hitam (vinyl) dan kaset (tape) sejak pertengahan 1980an. Keuntungan CD selain kualitasnya yang lebih baik dari kaset adalah: CD lebih praktis dan mudah dibawa kemana saja.
8. Adanya teknologi MP3 di tahun 1999, yang membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan musik dari internet.
9. Pada tahun 2003, Apple meluncurkan iTunes, sebuah toko musik online, dengan harga 99 sen per lagu.33
Munculnya teknologi radio FM, saluran televisi MTV, sampai adanya situs
Napster, membuat musik semakin bisa dijangkau kemana saja. Baik musisi dan perusahaan rekaman semakin kreatif pula dalam mempromosikan album atau
single yang mereka ciptakan. Dewasa ini, industri musik populer dikuasai oleh beberapa perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan besar terus berlomba-lomba
9
Ibid., h. 121.
10
27
dalam menciptakan “bintang populer” yang digandrungi oleh masyarakat umum. Layaknya perusahaan besar pada umumnya, orientasinya hanya satu, yakni keuntungan yang besar.