• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONDISI DAN TANTANGAN IMAN KAUM MUDA BESERTA

A. Gambaran Umum Paroki St. Antonius Kotabaru

1. Sejarah singkat Paroki St. Antonius Kotabaru

a. Tahap perintisan

Kotabaru tempo dulu adalah kompleks orang-orang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Gereja Kotabaru bukan gereja Katolik pertama yang pertama adalah gereja Kidul Loji. Pelopor berdirinya Paroki Kotabaru adalah pastor J. Strater, SJ. Dia datang di Yogyakarta tahun 1918. Gereja dan Kolese belum ada, maka ia tinggal di depan Masjid Syuhada, di rumah keluarga Belanda. Langkah pertama pastor J. Strater, SJ mendirikan Kolese (Kolese Ignasius, Gereja, STKat, GKS) yang sebelumnya adalah tanah lapang dan kuburan. Tujuan pastor J. Stater, SJ adalah mendidik para gembala. Novisiat Kolsani (SJ) dibuka pada tanggal 18 Februari 1923 oleh Superior Misionaris SJ, pastor J. Hoeberechts, SJ ( PPDP- Gereja St. Antonius Kotabaru, 2006:V).

Karena perkembangan umat semakin banyak, maka didirikan Gereja (Gereja Kolese) dan diresmikan pemakaiannya 26 September 1926 oleh Mgr. A. Van Velsen SJ, Uskup Jakarta yang membawahi Jateng dan DIY. Gereja diberi nama St. Antonius atas permintaan pemberi dana dari Belanda. Rencana semula, Gereja tersebut punya sayap ke utara dan selatan. Tetapi realisasi sayap utara baru terlaksana pada waktu pastor FX. Wirjapranata, SJ sebagai parsor kepala ( PPDP- Gereja St. Antonius Kotabaru, 2006:V).

Pada mulanya Gereja St. Antonius Kotabaru adalah gereja Kolese, maka Rektor Kolese sekaligus menjabat pastor kepala. Di Gereja ini pula para frater (calon Iman SJ) dilatih berkotbah, membantu liturgi, melatih misdinar, dan melatih koor. Di Gereja ini pula dari tahun ke tahun, sampai sekarang menjadi tempat tahbisan Imam-imam Serikat Yesus ( PPDP- Gereja St. Antonius Kotabaru, 2006:V).

Umat yang mengikuti misa terbagi dalam dua tempat duduk: bangku dan lesehan dengan tikar. Orang-orang Belanda duduk di bangku-bangku, sedangkan orang-orang Jawa duduk lesehan di lantai. Waktu itu dimaksudkan agar masing-masing kelompok tidak tercabut dari kebiasaan hariannya. Deretan bagian orang Belanda, waktu itu, nama masing-masing orang sudah dicantumkan pada bangku, dan mereka harus membayar uang bangku. Hal demikian tidak dikenakan pada orang-orang Jawa yang duduk lesehan. Kebiasaan ini berakhir setelah Konsili Vatikan II ( PPDP- Gereja St. Antonius Kotabaru, 2006:V-VI).

Sampai 1933, Gereja St. Antonius Kotabaru masih berstatus sebagai Stasi Senopati, Loji Kecil. Baru 1 Januari 1934 terpisah dari Paroki Senopati, namun tetap milik Kolese.

b. Tahap Pertumbuhan

Menurut pastor J. Strater, SJ cara efektif mengembangkan iman adalah melalui sekolah-sekolah. Para wanita Belanda mendirikan sekolah Melania (kini SDK Gayam). Mereka yang masuk Katolik rata-rata dari kalangan menengah ke bawah. Jumlah umat Gereja St. Antonius Kotabaru makin berkembang, sehingga harus dibentuk stasi-stasi, antara lain: Mlati, Somohitan, Sedayu, Ganjuran, Gamping, Wonosari, Baciro dan Kalasan ( PPDP- Gereja St. Antonius Kotabaru, 2006:VI).

c. Tahap Pergumulan

Tahun 1942 Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Orang-orang Belanda, para rama, biarawan-biarawati dimasukan ke kamp interniran. STKat menjadi kantor Jepang, gereja dijadikan gudang. Patung-patung dalam gereja hampir semuanya dirusak Jepang. Dengan tidak berfungsinya Gereja Kotabaru, didirikanlah Gereja Kumetiran, dan tahun 1945 Gereja kumetiran menjadi paroki sendiri. Ketika Jepang menyerah pada sekutu, maka semua bangunan yang didudukinya diserahkan kepada pemilik semula. Kekurangan imam sangat terasa, tapi justru menjadi berkat tersendiri, karena akhirnya banyak kaum awam terlibat dalam pengembangan

lingkungan-lingkungan. Mereka sebagai Ketua Lingkungan, merangkap pemimpin ibadat dan Katekis.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Gedung seminari (STKat) yang semula menjadi kantor Pemerintah Jepang, beralih menjadi Kantor pemerintahan RI. Dan ketika pemerintah pusat pindah ke Yogyakarta, gedung STKat menjadi kantor Departemen Penerangan dan Pertahanan.

Ada perubahan suasana setelah Indonesia merdeka, pertama, orang-orang Katolik dicurigai sebagai agen pemerintah Belanda (NICA), karena seringnya umat Katolik bersama-sama dengan pastor-pastor Belanda. Kedua, pastor-pastor Belanda menyadari bahwa mereka tidak hidup di bawah Hindia Belanda, melainkan di tanah Indonesia yang merdeka. Ketiga, banyak umat Katolik tidak sanggup lagi ke Gereja karena tidak punya pakian lagi, walaupun mereka tidak murtad. Selama masa pendudukan Belanda, Gereja Kotabaru membuka misa dua kali. Pagi untuk orang Indonesia, siang jam 11.00, untuk orang-orang dan tentara Belanda Katolik. Selama Belanda dan Indonesia terlibat permusuhan, orang-orang Indonesia Katolik dengan orang-orang/tentara Belanda Katolik tidak saling tegur sapa. Tapi hari minggu mereka hormati sebagai hari Tuhan. Gereja mengalami perkembangan yang tenang dan perkembangan yang pesat sejak tahun 1950, setelah pengakuan kemerdekaan tahun 1949.

d. Tahap Perkembangan

Koor-koor yang biasanya diisi oleh frater-frater Kolsani, oleh pastor C. Carri SJ, diserahkan ke koor lingkungan (1958-1962). Oleh pastor A. Prajasuto, SJ (1969-1972) tikar-tikar diganti bangku. Sejak 1966 Paroki Kotabaru mempunyai pastoran di Jl I Dewa Nyoman Oka 18, dibeli dari asuransi Bumi Putera 1912. Tahun 1967 Kolese Ignasius menyerahkan Gereja kepada Paroki Kotabaru, tetapi pemisahan sepenuhnya baru awal tahun 1975, dimana pastor paroki tidak tinggal lagi di Kolese, melainkan di pastoran.

Tahun 1972, oleh pastor W. Van Heusden, SJ, tempat koor dipindah dari balkon ke samping altar seperti sekarang sewaku pastor C. Harsosuwito, SJ menjadi Pastor Kepala (1972-1976).

e. Tahap Pemantapan

Tahun 1980-1986 pastor FX. Wiryopranata, SJ menggantikan pastor. P.Kijm, SJ (1977-1980) sebagai Pastor Kepala. Tahun 1985 diadakan angket terhadap mereka yang datang misa di Gereja Kotabaru. Dari 6011 umat yang mengisi angket, 3296 (54,8%) berasal dari luar paroki, 2715 (45,2 %) berasal dari paroki Kotabaru. Ini mengindikasikan bahwa Gereja St. Antonius Kotabaru diminati oleh umat dari luar Paroki Kotabaru. Pastor FX. Wiryopranata, SJ mencanangkan Kotabaru sebagai Gereja Terbuka, artinya Paroki Kotabaru membuka lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin berperan aktif dalam semua kegiatan Gerejani.

Pastor FX. Wiryopranata, SJ diganti oleh pastor Theo Prayitna, SJ. Beliau memperkenalkan kelompok Marriage Encaounter (ME), dengan harapan dari keluarga-keluarga muncul panggilan menjadai imam, bruder, atau suster. Tetapi dengan dipindahkan pastor Theo Prayitna, SJ tahun 1988, gerakan ME pelan-pelan redup.

Pastor M. Windyatmaka, SJ (1988-1990) mengantikan pastor Theo Prayitna, SJ. Gedung Paroki Widyamandala dibongkar dan dibangun dan tetap diberi nama semula, yaitu Gedung Karya Sosial Widyamandala. Dengan selesainya pembangunan gedung, para donatur pembangunan GKS, membentuk kelompok yang dinamai Komunitas Penyegaran hidup (KPH) yang bergerak di bidang sosial dan tetap hidup sampai sekarang.

Pastor H. Gundhart Gunarto, SJ (1990-1995) mengantikan Pastor M. Windyatmaka, SJ. Ekaristi dengan iringan gamelan mulai digalakkan dan dibelilah seperangkat gamelan pelog. Di samping itu pelukisan dinding-dinding Gereja dengan nuansa inkulturasi.

Pastor YR. Widadaprayitna, SJ (1995-1002) mengantikan pastor H. Gundhart Gunarto, SJ. Bersamaan dengan itu diadakan gebrakan-gebrakan baru, antara lain: Gereja Terbuka mendapat penekanan baru, yaitu bahwa Gereja tidak dibatasi lagi oleh lingkungan-lingkungan teritorial. Siapa saja, dari mana saja bebas terlibat di Kotabaru. Sehubungan dengan Gereja Terbuka ini semua istilah lingkungan, wilayah, paroki, ibu-ibu paroki dihapus. Istilah misa diganti dengan istilah Ekaristi,

karena Misa dipahami sebagai ritus yang kaku, sedangkan Ekaristi sebagai perayaan syukur. Status lingkungan sejajar dan setara dengan komunitas-komunitas lainnya.

Gebrakan lainnya adalah memunculkan istilah Gereja Kaum Muda. Hal ini karena memang sebagian besar yang mengikuti Ekaristi di Gereja Kotabaru adalah Kaum Muda. Bagaikan jamur di musim hujan, munculah serentak banyak komunitas yang beranggotakan Kaum Muda, mulai liturgi sampai hobi, misalnya Komunitas penggemar ikan hias. Juga didirikan komunitas peduli kesehatan yang dinamai POSKES dan relawan peduli pengasuhan anak-anak balita yang orang tuannya bekerja yang dinamai Taman Penitipan anaka Grha asih anak. Permasalahan Pokok adalah tidak adanya pendampingan terhadap komunitas-komunitas tersebut. Maka satu persatu mulai tidak aktif dan bubar.

Kotabaru dikenal dengan nyanyian-nyanyiannya yang berbeda dengan Madah Bakti dan Puji Syukur. Umat diajak untuk berkarya menciptakan lagu-lagu baru untuk Ekaristi. Buku kumpulan lagu-lagu tersebut diterbitkan dengan nama Kidung Ekaristi. Liturgi Ekaristi dibuat kontekstual oleh tim kerja liturgi sehingga tidak terasa membosankan.

Pastor YR.Widadaprayitna, SJ digantikan oleh pastor Maximianus Sriyanto, SJ ( 2002-2006). Tugas pastor Maximianus Sriyanto, SJ adalah mengembalikan suasana dan keadaan Kotabaru menjadi tenang, damai dan rukun. Lingkungan mendapat perhatian khusus supaya bangkit kembali. Mudika, dewan paroki dihidupkan kembali. Dan pada pastor ini banyak sekali membuat renovasi dengan tim renovasi diantaranya mempaving halaman pastoran, renovasi pastoran, dan

merenovasi gereja paska gempa 27 Mei 2006 dimana terjadi gempa Yogya dengan sekala 5,9 sekala richter. Liturgi ekaristi meneruskan apa yang sudah ada, dan memberi penekanan pada kualitas isinya. Sakramen tobat mendapat perhatian khusus. Setiap hari jumat sepanjang tahun mulai jam 16.00 sampai selesai umat diberi kesempatan menerima sakramen tobat di gereja. Pastor Maximianus Sriyanto, SJ digantikan oleh pastor Murtrisunu Wisnumurti, SJ tahun 2006 sampai sekarang.