BAB V: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah singkat Sekatul
Pencarian, perburuan dan penelitian dilakukan sejak 1997. Pada tahun 1998 ditemukan lahan ini yang bernama Sekatul. Tanah Sekatul atau bumi Sekatul ini dinamakan tanah Sabuk banyu atau tanah Pusaka. Sejarahnya cukup panjang dan tua, bermula dari jaman Mataram Hindu. Abad ke 6-7 masehi sebelum jaman Candi Borobudur yang pada waktu itu berada di "Dieng". Raja yang terkenal saat itu "Wangsa Sanjaya" yang berpindah tempat sebelumnya dari kerajaan Kalingga di daerah Keling (Jepara) dengan ratunya yang terkenal bernama Ratu Shima, dimana kerajaan Kalingga mengalami masa surut setelah diserang kerajaan Padjajaran.
Wangsa Sanjaya memerintahkan kepada para Empu untuk membangun Candi Prumasan di daerah Medini dan dilanjutkan pembangunannya hingga Candi Gedong Songo, tanah Sekatul sangat strategis untuk tempat persinggahannya. Pada abad ke 16 masehi, raja Mataram Islam yang bernama Sultan Agung Hanyokro Kusumo menyerang Belanda di Batavia, dalam perjalanannya, para senopati dan prajuritnya berkumpul di tanah ini. Untuk merancang strategi bersama dengan Pangeran Djuminah, putra Raja Mataram I Kadipaten Kendal. Nah karena disini dulunya digunakan untuk merancang strategi dan pertimbangan maka daerah kawasan ini dinamakan "Limbangan". tanah Sekatul juga dinamakan tanah "Sabuk Banyu"/ "tanah Kendit", karena
secara alamiah dikelilingi aliran air, menurut kepercayaan orang Jawa, dahulu tanah demikian disebut tanah Pusaka. Dikala jaman Jepang, penduduk disini sangat menderita dan makanan sangat sulit, dengan segala keterbatasannya penduduk harus menyambung hidup dengan memakan apa saja yang dapat dimakan, termasuk makanan sejenis "Katul". Untuk mengenang penderitaan tersebut dan mengingatkan anakcucu kelak supaya ingat sejarah maka tanah ini dinamakan "Sekatul". Sekatul juga dapat diartikan sari-sarinya padi, karena padi yang telah ditumbuk, segala gizi dan vitaminnya terkandung disini.
Hasil penelusuran tanah Sekatul setelah dicermati dalam bentuk peta, tanah sekatul membentuk sebuah keris luk tiga, atau disebut tanah Jangkung yang artinya tanah yang dilindungi. Secara alamiah tanah disekatul dikelilingi oleh sungai yang mengalir dan berbatasan dengan empat Desa yaitu disebelah selatan namanya Desa Tanggul Angin, disebelah timur Desa Pager Ruyung, di sebelah utara Desa Pagerwojo dan disebelah barat namanya Desa Pagertoya. Pembangunan rumah atau joglo Jawa Mulai tahun 1999 didirikan bangunan yang pertama sebagai rumah lanang.
Adapun sejarah rumah lanang dulunya adalah pendopo Kadipaten Bagan dengan Adipatinya Pangeran Sekar (Sedolepen) Sorowiyoto, letaknya di dekat Lasem, wilayahnya mencakup Lasem, Rembang dan sekitarnya. Kemudian pada tahun 2000 rumah Wadon (Limasan) disambung dibagian belakang rumah ini, ditemukan ditengah hutan perbatasan Blora Ngawi, letaknya didekat Tlogo
Tuwung Desa Getas Dukuh Lemah Tulis. Kendati rumahnya relatif baru, rumah tersebuit diambil dari rumah yang dimana dulunya tempat tinggal Mpu Barada Kala jaman Kahuripan abad X, sehingga rumah wadon ini dinamakan Dhalem Barada. Konon keris Kyai Nogososro dibuat olehnya. EmpuBarada adalah Putra Indriyana atau Patih Empuh Pancapana jaman Borobudur abad delapan.
Kemudian didirikan lagi joglo Bonokeling, tempat ini semula digunakan untuk beristirahat dan menenagkan diri jauh dari hiruk pikuk dan kesibukan hidup di kota. Griyo Bonokeling ditemukan di Desa Tubanan kecamatan Keeling Kabupaten Jepara. Adapun ciri griyo ini adalah metode pemgerjaannya tanpa mengunakan pasha, hanya mengunakan pethel (sejenis kapak kecil) dan termasuk unik. Cara pembuatannya membutuhkan ketekunan dan kesabaran, sehingga sangat cocok untuk tempat berdoa. Berdasarkan sejarah, rumah tersebut dulunya milik Retno Djenoli, kakaknya sultan Agung Anyokrokosumo yang menjadi istri Sjeh Jangkung. Kemudian oleh Saridin rumah joglo tersebut diboyong ke Kabupaten Pati, baru pada tahun 2007 Herry Setyanto menemukannya dalam kondisi lengkap kemudian diboyong ke sekatul untuk dilestarikannya. Bangunan rumah joglo lain yang didirikan adalah joglo Lawu. Disebut joglo Lawu karena rumah joglo tersebut dibangun dipuncak gunung Lawu diketinggian lebih dari 3000 meter diatas permukaan laut.
Rumah joglo Lawu bentuk keempat soko gurunya dinamakan ae” Satrio Kinayunganae karena bentuk tiangnya dari atas kebawah mengecil dan jumlah
tumpang sarinya lima. Rumah yang didirikan di puncak gunung Lawu tersebut dulunya adalah milik Ki Ageng Bedander didaerah Bojonegoro. Joglo lawu merupakan rumah joglo yang bersejarah karena pernah digunakan menyembunyikan Patih Gajah Mada, Raja Majapahit Jayanegara Tribuwana Tungga Dewi pada saat pemberontakan rakuti dan rasemi.
Sayang jika rumah ae“ rumah bersejarah tersebut terlantar. Cepat atau lambat rumah-rumah adat Jawa ini akan punah sebab masyarakat sekarang sudah berorientasi untuk mengganti dengan rumah yang modern bertembok dan hal itu sangat kita sesalkan.
1. Pendiri
Herry Setianto, seorang pengusaha ekspor mebel dari kota Semarang Jawa Tengah terpanggil nguriae“ uri atau tumbuh kecintaannya untuk melestarikan adat istiadat, tradisi dan budaya Jawa yang adi luhur. Selama 12 tahun menggeluti laku Jawa ternyata Herry Setianto memperoleh pengalaman yang sangat menakjubkan dan sungguh lengkap.
Sementara ini, dalam budaya Jawa, utamanya dalam hal ngelmu sebagian besar masyarakat salah memahaminya ngelmu lebih diartikan ke hal-hal yang negatif tetapi sebetulnya itu sangat mulia. Ngelmu hakikatnya olah roso, olah hati, salah satu produknya lebih mengarah kepada kejujuran, ketulusan, andap asor, (rendah hati), wani ngalah
luhur wekasane (bukan mengalah jika ingin menang pada akhirnya). Hal tersebut dapat menjadi modal dasar atau tekad hidup orang di Jawa, maknanya ngerti dedalaning guno lawan sekti (mengerti caranya melakukan sesuatu yang lebih berguna dan bermartabat) dalam budaya Jawa sebenarnya berisikan hikmah dan kunci keberhasilan hidup didunia dan akhirat. Hal itu tercermin dalam tembang dan gulo pada syair ngerti dedalaning guno lawan sekti kudu andap asor wani ngalah luhur wekasane.
Demikian juga dalam hal ngelmu ada juga tembang pucung, bawa ngelmu iku kalokoning kanti laku. Pengertian segala sesuatu itu harus laksanakan tidak cukup jika hanya kita bicarakan, kandungan nilai ae“ nilai dari budaya Jawa yang adiluhung itu umumnya memang sudah ditinggalkan sebagian besar orang di Jawa saat ini. Justru yang banyak mengambil hikmah sekarang ini adalah orang di Negara maju seperti Jepang, Eropa dan Amerika, yang lebih mempunyai roso dibandingkan orang Jawa yang sebenarnya lebih mengetahui teori roso. Hal seperti itu yang sangat disesalkan oleh Herry Setianto.
2. Visi dan Misi
Visi : Mengangkat kearifan lokal kususnya budaya Jawa tidak hanya dari tempat tetapi juga dari semua segi.
alam. Semua tempat yang disediakan dapat mencakup keinginan pengunjung dan tetap tidak meninggalkan budaya Jawa.
3. Fasislitas:
a) Mushola & Joglo Singgah b) Penginapan Rombongan c) Wisata Out Bound& Edukasi d) Kolam Renang & Pondok Dhahar e) Pesta Kebun & Pesta Pernikahan f) Play Ground&Camping Ground
g) Tanaman Hias & Kebun Buah h) Selamatan & Ruwatan
i) Sanggar Seni Djajanagoro
j) Hotspot area
4. Daftar harga yang ditawarkan a) Paket meeting:
1) Jokus: @Rp. 150.000 (min. 30 orang) fas: 1x coffee break, 1x makan akomodasi meeting.
2) Rrunting: @Rp. 300.000 (min. 30 orang) fas: 2x coofee break, 3x makan akomodasi meeting, akomodasi penginapan (dalem bagan).
3) Saridin: @Rp. 350.000 (min. 30 orang) fas: 2x coofee break, 3x makan akomodasi meeting, akomodasi penginapan (ndalem gethuk).
b) Paket kegiatan:
1) Paket outbond one day: @Rp. 125.000/ anak 2) Paket outbond one day: @Rp. 200.000/ orang
3) Paket outbond + menginap joglo: @Rp. 350.000/ orang 4) Paket outbond + menginap kamar: @Rp. 400.000/ orang 5) Paket outbond + menginap cottage: @Rp. 500.000/ orang 6) Paket outbond + meeting + menginap getuk: @Rp. 600.000/
orang
7) Paket outbond + menginap getuk + bakaran: @Rp. 600.000/ orang
c) Permainan pada kegiatan outbound:
1) Permainan kering : bendera terbanyak, balon building, human leader, broken brigde, pipe line, estafet tongkat, telur dinosaurus, hindar ranjau, gajah semut, kata saprol, pengusaha jemun, top holahop, kaki tangan, titanice.
2) Permainan basah : bajak sawah, kaki seribu, limbah beracun, menara tertinggi, titian bambu, pipa bocor, pukul guling, naga air, missing ball, estafet air, walking ball.
3) Permainan tali : flying fox 150 meter, flying fox 75 meter, jembatan roll, wot gonjang ganjing, spiderwed, jumpingball. 4) Permainan edukasi: memandikan kerbau, bertanam padi,
bertanam strawberry, membuat gerabah, melukis kendi/caping, membatik.
5) Wisata edukasi : pembuatan gula Jawa, proses pembuatan tea, proses pembuatan tahu.
6) Permainan Jawa :bakiak, egrang, balap karung. d) Daftar harga penginapan :
1) Harga Rp. 100.000/ orang fasilitas: penginapan joglo, AC, TV dan 1x sarapan pagi.
2) Harga Rp. 600.000/ kamar/ max 4 orang fasilitas: penginapan kamar, AC, TV, 1 kali sarapan, dispensir, kamar mandi dalam. 3) Harga Rp. 800.000/ kamar/ max 6 orang fasilitas: penginapan
kamar, AC, TV, 1 kali sarapan, dispensir, kamar mandi dalam. 4) Harga Rp. 2000.000/ cottage/ max 8 orang fasilitas: penginapan
cottage, AC, TV, ruang santai, kitchen, kamar mandi atas bawah, shower, lantai, 2, 1x sarapan.
56 BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 50 karyawan tetap di Kampoeng Djowo Sekatul Kendal Jawa Tengah.Kuesioner dibagikan dan diisi pada bulan Maret 2016. Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara memberi tanda ceklist (√) pada pernyataan yang sudah penulis susun, masing -masing pernyataan yang telah dicantumkan 5 pilihan yaitu “STS” Sangat Tidak Setuju, “TS” Tidak Setuju, “N” Netral, “S” Setuju dan“SS” Sangat Setuju, sehingga responden hanya perlu memilih salah satu pernyataan yang menurut mereka sesuai dengan apa yang mereka alami dan rasakan. Peneliti memberikan kuesioner kepada 50 karyawan tetap di Kampoeng Djowo Sekatul, Kendal, Jawa Tengah.