• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2009

Nama : Fairuz Nafis

NRP : A351070101

Program Studi : Entomologi

Disetujui Komisi Pembimbing

Diketahui

Tanggal Ujian: Tanggal Lulus:

Dr. Ir. Dadang, M.Sc Ketua

Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si Anggota

Ketua Program Studi Entomologi

Dr. Ir. Pudjianto, M.Si

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

karunia-Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains di Program Studi Entomologi, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ayah dan Ibu yang tidak pernah berhenti berdo’a dan memberikan semangat serta dukungan kepada penulis.

2. Dr. Ir. Dadang, MSc selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, MSi selaku anggota komisi pembimbing yang telah mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk membimbing penulis.

3. Dr. Ir. Idham Sakti Harahap,MS selaku dosen penguji luar komisi yang telah memberikan banyak masukan untuk tesis ini.

4. Ir. Titik Siti Yuliani, SU yang telah memberikan banyak masukan, arahan dan semangat kepada penulis.

5. PT. Syngenta Indonesia yang telah memberikan bantuan finansial bagi penelitian ini.

6. Nenek, Tante, serta Kakakku yang telah memberikan semangat kepada penulis.

7. Pak Soban, Patmi, Pringgo, Wanto, Halidya, Johan, Eneng, Nendi, dan Zizah yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian.

8. Ikhsanudin atas bantuan, perhatian, dan motivasinya kepada penulis.

9. Sahabat-sahabatku tercinta Mbak Atin, Mbak Lindung, Mbak Wilna, Mbak Lidya, Mbak Ani, Pak Hendrival, Pak Nuriadi, Pak Yudi serta seluruh keluarga Entomologi 2007 atas semua bantuan dan perhatiannya. 10.Mbak Uci, Mbak Poe, Mbak Ajeng, Ine, Wulan, Uci, Ica, Ajeng, Nty,

Ninon, Mbak Sat, Shafa dan semua anak Maharlika terimakasih atas semangat dan dukungan kalian.

11.Abah, Mamak, Pak Guru dan Bu Guru yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.

12.Seluruh warga perumahan di Bogor, Depok, dan Jakarta Utara serta semua pihak yang telah bekerja sama membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

Semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan dunia pendidikan dalam bidang ilmu pengetahuan. Saran dan kritik sangat diharapkan dalam rangka perbaikan tesis ini.

Bogor, Agustus 2009

adalah anak kedua dari dua bersaudara, dari Bapak Mahsuni dan Ibu Izzun Nadlah. Penulis lulus dari SMU Negeri 1 Semarang pada tahun 2003 dan diterima di IPB pada Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun yang sama. Selama kuliah penulis aktif di beberapa organisasi yaitu sebagai Sie Humas DKM An-Naml 2004-2005, Biro Pengembangan Organisasi Badan Perwakilan Angkatan Departemen Proteksi Tanaman 2005-2006, dan Biro Pengembangan Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Perlindungan Tanaman Indonesia (HMPTI) 2006-2008. Selain itu, penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Vertebrata Hama (2006), Dasar – Dasar Proteksi Tanaman (2007), dan Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar (2007). Penulis berhasil memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada tahun 2007 dan melanjutkan pendidikan pascasarjana pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Entomologi pada tahun yang sama.

Halaman DAFTAR GAMBAR ... xi PENDAHULUAN ... Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 3 Manfaat penelitian ... 3 TINJAUAN PUSTAKA Hama Permukiman ... 4 Tikus Rumah (R. rattus) ... 5 Tikus Riul (R. norvegicus) ... 7 Cecurut (Suncus murinus) ... 8 Kecoa ... 9 Nyamuk ... 11 Lalat Rumah (Musca domestica) ... 13 Pestisida ... 14 Brodifakum ... 16 Bromadiolon ... 17 BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat ... 18 Metode ... 18

Survei ... 18 Kuisioner ... 18 Analisis Hasil Survei ... 18 Perangkap ... 19 Pemasangan Perangkap ... 19 Analisis Hasil Pengamatan ... 20 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Survei ... 21 Jenis Hama yang Terdapat di Perumahan ... 21 Jenis Hama yang Umum Terdapat di Perumahan ... 22 Jenis Hama yang Umum Dikendalikan ... 23 Lokasi yang Umum Dijadikan Sarang Hama ... 24 Kriteria Penyebab Munculnya Hama ... 27 Formulasi Pestisida yang Sering Digunakan ... 28

Sumber Informasi Jenis Pestisida yang dapat Digunakan oleh Masyarakat ... 30

Waktu Aplikasi Pestisida ... 31 Kesesuaian Penggunaan Pestisida dengan Aturan Pakai ... 32 Jenis Perangkap Tikus yang Biasa Digunakan oleh Masyarakat 33

untuk Mengendalikan Hama Permukiman ... 35 Tempat Penyimpanan Pestisida oleh Masyarakat ... 37 Jumlah Biaya yang Dikeluarkan untuk Mengendalikan

Hama Permukiman ... 39 Survei Rumah Sakit Wilayah Bogor dan Jakarta Utara ... 40 Restoran Wilayah Bogor ... 42 Pengujian Perangkap dan Pestisida ... 43 Pengujian Perangkap Tikus di Wilayah Bogor dan Jakarta Utara 44 Pengujian Perangkap Kecoa di Wilayah Bogor ... 47 Pengujian Rodentisida di Perumahan Wilayah Bogor ... 48

Perlakuan Perangkap Tikus dan Rodentisida di Rumah Sakit

Daerah Bogor ... 48 Pengujian Rodentisida di Laboratorium ... 51 Pembahasan

Hasil Survei Hama Permukiman di Perumahan ... 51 Hasil Survei Hama Permukiman di Rumah Sakit ... 58 Hasil Survei Hama Permukiman di Restoran Wilayah Bogor ... 60 Hasil Perlakuan Perangkap dan Racun Tikus di Perumahan

Wilayah Bogor dan Jakarta Utara ... 61 Hasil Pemasangan Perangkap Kecoa dan Insektisida di

Perumahan Wilayah Bogor dan Jakarta Utara serta Rumah

Sakit di Bogor ... 64 Hasil Pemasangan Perangkap dan Racun Tikus di Rumah

Sakit Wilayah Bogor ... 65 Hasil Pengujian Rodentisida di Laboratorium ... 65 SIMPULAN DAN SARAN ... 67 DAFTAR PUSTAKA ... 68

Halaman 1. Tikus Rumah (R. rattus) ... 5 2. Tikus Riul (R. norvegicus) ... 7 3. Kecoa Amerika (Periplaneta americana) ... 9 4. Nyamuk Famili Culicidae ... 11 5. Lalat Rumah (Musca domestica) ... 13 6. (a) Perangkap konvensional, (b) Perangkap modifikasi ... 19 7. Jenis hama yang terdapat di perumahan wilayah a. Bogor, b. Depok,

c. Jakarta Utara ... 22 8. Jenis hama yang umum terdapat di perumahan wilayah a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 23 9. Jenis hama yang umum dikendalikan di perumahan wilayah a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 24 10.Lokasi yang umum dijadikan sarang hama di perumahan wilayah

a. Bogor, b. Depok, c. Jakarta Utara ... 25 11.Kriteria penyebab timbulnya hama di perumahan wilayah a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 27 12.Formulasi pestisida yang biasa digunakan oleh masyarakat di a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 29 13.Sumber informasi masyarakat mengenai jenis pestisida yang dapat

digunakan untuk mengendalikan hama permukiman di wilayah a. Bogor, b. Depok, c. Jakarta Utara ... 30 14.Waktu aplikasi pestisida yang biasa dilakukan oleh masyarakat di

wilayah a. Bogor, b. Depok, c. Jakarta Utara ... 31 15.Kesesuaian penggunaan pestisida oleh masyarakat dengan aturan

pakai yang dianjurkan di wilayah a. Bogor, b. Depok, c. Jakarta Utara . 33 16.Jenis perangkap tikus yang biasa digunakan oleh masyarakat di

17.Tindakan alternatif yang dilakukan oleh masyarakat untuk

mengendalikan hama permukiman di wilayah a. Bogor, b. Depok,

c. Jakarta Utara ... 36 18.Tempat penyimpanan pestisida oleh masyarakat di wilayah a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 38 19.Jumlah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk mengendalikan

hama permukiman di wilayah a. Bogor, b. Depok, c. Jakarta Utara ... 39 20.20.Jenis hama di restoran wilayah Bogor ... 42 21.Tindakan pengendalian yang dilakukan oleh restoran di wilayah Bogor 43 22.Jenis tikus yang terdapat di perumahan wilayah a. Bogor, b. Depok,

c. Jakarta Utara ... 44 23.Keefektifan dua jenis perangkap tikus di perumahan wilayah a. Bogor,

b. Jakarta Utara... 45 24.Lokasi pemasangan perangkap tikus di perumahan wilayah a. Bogor,

b. Depok, c. Jakarta Utara ... 46 25.Hasil pemasangan perangkap dan insektisida untuk kecoa di

perumahan wilayah Bogor ... 47 26.Hasil analisis ragam untuk tingkat konsumsi racun tikus selama tiga

hari di perumahan wilayah Bogor ... 48 27.Jenis tikus yang terperangkap di rumah sakit wilayah Bogor ... 49 28.Jenis perangkap hasil pemasangan perangkap di rumah sakit wilayah

Bogor ... 49 29.Lokasi pemasangan perangkap di rumah sakit wilayah Bogor ... 50 30.Konsumsi dua jenis racun tikus selama tiga hari di rumah sakit tipe B

wilayah Bogor ... 50 31.Hasil pemasangan perangkap tikus a. Perangkap konvensional,

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hama permukiman (urban pest) merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi masyarakat. Secara umum, hama permukiman dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: serangga dan tikus. Berbagai jenis hama seperti tikus, nyamuk, kecoa, rayap, lalat, dan sebagainya, bisa dijumpai di sebagian besar gedung perumahan, apartemen, perkantoran, maupun pabrik. Bila musim hujan tiba, keberadaan dan populasi hama tersebut jumlahnya semakin tinggi, namun masih sedikit orang yang peduli untuk mengendalikan hama tersebut. Ketika menjumpai nyamuk di rumah misalnya, umumnya pemilik rumah hanya membasmi dengan obat anti nyamuk cair ataupun bakar, yang sebenarnya hanya bersifat sementara. Epidemi demam berdarah yang kini melanda dan mengancam warga di berbagai wilayah Indonesia, adalah sebuah contoh masih lemahnya pengendalian hama lingkungan (Darandono 2004).

Kehadiran organisme pengganggu seperti nyamuk, tikus, kecoa, rayap, dan lalat mulai dirasakan menimbulkan masalah bila populasinya telah melampaui batas dan menimbulkan problematika kesehatan serta aspek kesehatan lingkungan, berbagai kerugian ekonomi dapat ditimbulkan, demikian pula berbagai penyakit tanaman, hewan ataupun manusia dapat ditularkan oleh hama tersebut, antara lain dengan timbulnya berbagai macam penyakit seperti typhus, cholera, pes, malaria, dan demam berdarah yang dibawa oleh hama-hama tersebut. Tindakan antisipatif untuk menekan akibat langsung ataupun tidak langsung perlu diupayakan agar tidak menimbulkan banyak kerugian (Anonim 2007). Banyaknya perumahan yang dibangun di atas lahan bekas rawa-rawa berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan hama permukiman seperti tikus. Oleh karena itu, sudah sepatutnya dicarikan solusi mengenai pencegahan hama-hama tersebut di permukiman (Ahmad 2003).

Berbagai permasalahan dapat ditimbulkan akibat kehadiran hama permukiman, diantaranya timbulnya berbagai penyakit dan merusak estetika. Beberapa penyakit yang ditimbulkan karena kehadiran tikus dan hama

permukiman yang lain diantaranya plague, murine typus, salmonellosis, rat-bite fever, leptospirosis, diare, thypoid, demam, dan kolera (Anonim 2007).

Adanya perbedaan tingkatan ekonomi masyarakat, sedikit banyak berpengaruh terhadap tindakan masyarakat dalam mengatasi hama permukiman. Beberapa masyarakat ekonomi menengah ke atas banyak yang menggunakan jasa pembasmi hama (pest control). Selain itu, perumahan, apartemen, pertokoan, perkantoran, dan pergudangan juga sering menggunakan jasa pest control (Darandono 2004).

Permasalahan hama permukiman timbul tergantung dari tingkat bahaya, kerugian atau gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh hama tersebut, tingkat populasi hama di lingkungan perumahan, dan tingkat toleransi pemukim terhadap keberadaan hama di lingkungannya (Sigit 2006).

Menurut Sigit (2003) masyarakat di permukiman dapat mencegah timbulnya masalah hama yang mengganggu penghuninya, dengan cara menjaga dan mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga tidak kondusif bagi keberadaan hama, selain itu peniadaan tempat-tempat yang dapat menjadi habitat dan persembunyian serta pengelolaan limbah yang tertib dan teratur merupakan cara-cara yang pada dasarnya dapat dilaksanakan secara individual atau kolektif. Namun, pada kenyataannya kebanyakan dari masyarakat lebih memilih sikap dan akan bertindak ketika terjadi masalah. Sikap tersebut dilandasi kenyataan bahwa sarana antihama mudah diperoleh di pasaran, atau dapat menggunakan jasa pengendalian hama yang dewasa ini mulai banyak beroperasi.

Penggunaan pestisida baik oleh kalangan individu permukiman atau para pengusaha pengendalian hama dapat menimbulkan resiko. Resiko itu diantaranya kemungkinan bahaya keracunan langsung, pencemaran lingkungan yang berakibat keracunan kronis, serta timbulnya galur-galur hama resisten (Sigit 2003).

Sementara itu, pihak operator pengendalian hama mencoba mengatasinya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan, sedangkan pada tingkat pemerintahan sebagai pembina, melakukan penertiban regulator dan pengawas dengan peraturan perundangan (Sigit 2003).

Masalah hama di lingkungan perumahan sebenarnya merupakan akibat dari ulah manusia sendiri yang menyediakan tempat untuk berkembangbiak,

mencari makan, dan tempat berlindung bagi hama-hama permukiman. Cara pengendalian yang tepat adalah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan agar tidak menjadi sarang bagi hama (Sigit 2006).

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kehadiran dan pengendalian hama permukiman yang banyak merugikan masyarakat serta mengetahui peranan perangkap, pestisida serta pest control di masyarakat dalam mengendalikan hama permukiman.

Manfaat

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan agar tidak menjadi sarang bagi hama-hama permukiman serta mengetahui jenis- jenis hama permukiman yang merugikan masyarakat dan cara-cara pengendalian yang efektif.

Hama Permukiman (urban pest)

Hama permukiman (urban pest) adalah suatu organisme yang pada suatu tempat (permukiman) dan waktu, tidak dikehendaki karena secara langsung dapat mengancam kesehatan, harta-benda atau hanya sekedar gangguan kenyamanan atau estetika (Chalidraputra 2007). Kenyataan tersebut menyebabkan perlunya strategi atau taktik khusus menghadapi hama, dengan tetap memperhatikan tujuan utama dari pengendalian yaitu bukan untuk memusnahkan jenis-jenis hama yang hadir, tetapi menjaga keseimbangan ekologi sehingga interaksi antar komponen lingkungan mampu menghasilkan kestabilan kondisi internal. Filosofi pengendalian hama saat ini bukan lagi bertujuan untuk membersihkan atau memusnahkan organisme "pengganggu", melainkan melakukan usaha pengendalian yang harmonis dengan kehidupan ekologis lingkungan, tanpa harus mengalami kerugian secara ekonomi (Martono 2003), konsep tersebut berlaku untuk bidang pertanian tetapi untuk konsep hama permukiman sulit untuk diterapkan.

Beberapa jenis hama permukiman diantaranya kecoa, lalat, nyamuk, dan tikus yang telah menyebar luas dan banyak dijumpai di daerah tropis sebagai hama pembawa berbagai penyakit pada manusia. Jenis hama ini sangat menyenangi lingkungan hidup manusia terutama yang mempunyai kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memadai (Anonim 2007).

Akibat yang ditimbulkan oleh hama permukiman mulai dirasakan khususnya pada tempat-tempat yang mengutamakan kebersihan lingkungan sebagai syarat utama sanitasi, antara lain pabrik, restoran, plaza, hotel, industri- industri makanan, rumah sakit, sanatorium, pusat perbelanjaan/swalayan, dan sebagainya. Apabila kondisi yang mengutamakan kebersihan ini tidak dikelola dengan baik, kemungkinan dapat menyebabkan munculnya hama sehingga mengganggu produktivitas kerja (Anonim 2007).

Kecoa, lalat, dan tikus lebih menyenangi ruangan atau suasana yang statis, dengan perubahan suasana ruangan/kamar secara periodik akan membuat hama

tersebut menjadi tidak menyukai tempat tersebut sehingga akan mengurangi pertumbuhan populasi.

Upaya pengendalian hama serangga, tikus, dan rayap baik di lingkungan perumahan (residential) maupun komersial (commercial), seperti kantor, gedung bertingkat, rumah sakit, restoran, swalayan, museum, hotel, maupun lingkungan industri telah dilakukan dalam beberapa tahun. Pengendalian hama yang dilakukan selama ini lebih banyak mengandalkan penggunaan senyawa kimia sintetik saja dan sangat jarang dilakukan secara komprehensif (Anonim 2007).

Hama tikus atau serangga bagi industri makanan berskala besar tidak menjadi persoalan besar, karena mereka mampu menyewa jasa pemberantas hama meskipun dengan biaya yang relatif mahal. Namun, bagi pengusaha berskala menengah ke bawah sebaliknya.

Tikus Rumah (Rattus rattus)

Tikus rumah (Rattus rattus) adalah hewan pengerat yang mudah dijumpai di rumah-rumah. Tikus mempunyai ekor yang panjang dan mempunyai kepandaian memanjat serta melompat. Hewan ini berasal dari Asia yang termasuk subsuku Murinae, kemudian menyebar ke Eropa melalui perdagangan sejak awal penanggalan modern dan menyebar secara luas pada abad ke-6 ke seluruh penjuru dunia. Tikus rumah pada masa sekarang cenderung menyebar ke daerah yang lebih hangat karena di daerah dingin kalah bersaing dengan tikus got (Anonim

2008).

Sumber: www.naturfoto.cz Gambar 1 Tikus rumah (Rattus rattus)

Klasifikasi tikus rumah Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Famili : Muridae Genus : Rattus Spesies : Rattus rattus Sumber: Anonim 2008

Tikus rumah tidak dapat berenang dibandingkan dengan tikus got, tetapi gerakan tikus rumah lebih gesit dan mampu memanjat dengan baik. Warna badan biasanya hitam atau coklat terang, meskipun sekarang sudah dapat dibiakkan dengan warna putih atau loreng. Ukuran kepala dan badan 150 sampai 200 mm dengan panjang ekor 200 mm (Anonim 2008). Tikus rumah bersifat nokturnal dan pemakan segala (omnivora), namun lebih menyukai biji-bijian (serealia) seperti jagung, padi, dan gandum (Priyambodo 2003). Hewan betina mampu bereproduksi tanpa memperhatikan musim dan menghasilkan anak 3 sampai 10 ekor per kelahiran. Umurnya mencapai 2-3 tahun dan menyukai hidup berkelompok (Anonim 2008).

Tikus rumah termasuk dalam hewan arboreal yang mempunyai ciri yaitu ekor yang panjang dan terdapat tonjolan pada telapak kaki yang besar dan kasar. Selain tikus rumah, jenis tikus lain yang termasuk dalam hewan arboreal antara lain tikus pohon, tikus ladang, dan mencit rumah. Salah satu cara untuk mendeteksi kehadiran tikus rumah dapat dilihat dari fesesnya, tikus rumah mempunyai feses yang berbentuk mirip sosis dan letaknya agak berpencar (Priyambodo 2003).

Diperkirakan setiap tahun tikus menghancurkan makanan yang cukup untuk dikonsumsi hingga 200 juta orang. Tikus juga merusak fasilitas/konstruksi gedung, mengerat pintu, melubangi plafond, memakan sabun, dan merusak kabel sehingga memberikan resiko hubungan pendek listrik hingga menyebabkan kebakaran. Selain kerugian tersebut biaya pengendalian hama tikus cukup mahal,

di Amerika Serikat dana yang digunakan untuk mengendalikan tikus lebih dari U$ 120 juta per tahun (Anonim 2008).

Tikus berperan penting dalam penyebaran penyakit, baik pada manusia dan hewan, beberapa penyakit yang ditularkan lewat tikus adalah: plague, penyakit ini telah menewaskan 25 juta orang di Eropa, murine typus, salmonellosis, penyakit yang disebarkan oleh keracunan makanan. Proses peracunan disebabkan oleh bakteri yang terbawa oleh tikus yang berasal dari septik tank dan tempat kotor lainnya. Rat-bite fever yaitu demam gigitan tikus. Penyakit weils atau leptospirosis, penyebaran dilakukan melalui urine tikus, thypoid dan disentri serta beberapa penyakit perut lainnya.

Tikus Riul (Rattus norvegicus)

Tikus riul adalah salah satu spesies tikus yang umum dijumpai di perkotaan. Tikus ini mempunyai ciri morfologi berukuran besar, warna badan bagian atas dan bawah serupa, coklat tua keabu-abuan, rambut pendek dan jarang, ekor pendek (Suyanto 2006). Tekstur rambut kasar, bentuk hidung kerucut terpotong, bentuk badan silindris, membesar ke belakang. Bobot tubuh 150-600 g, panjang kepala dan badan 150-250 mm, panjang ekor 160-210 mm, panjang total 310-460 mm, lebar daun telinga 18-24 mm, panjang telapak kaki 40-47 mm, lebar gigi pengerat 3,5 mm, dan jumlah puting susu 6 pasang (Priyambodo 2003).

Tikus riul termasuk hewan nokturnal tetapi kadangkala dijumpai pada siang hari untuk mencari makan. Seekor betina bisa dikawini oleh jantan sebanyak 200-500 kali dalam sekali masa subur yang lamanya hanya enam jam. Siklus estrus terjadi setiap empat hari sekali. Jika dipelihara di laboratorium dengan jumlah makanan yang terbatas, sepasang tikus bisa menghasilkan keturunan 800 ekor setahun. Habitat tikus ini di perumahan, gedung perkantoran, gudang, pasar, saluran air, sawah, dan pelabuhan (Suyanto 2006).

Klasifikasi tikus riul Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Famili : Muridae Genus : Rattus Spesies : Rattus norvegicus Sumber: Anonim 2008

Tikus riul/tikus got termasuk hewan terrestrial yaitu hewan yang memiliki kemampuan menggali tanah yang dicirikan dengan tonjolan pada telapak kaki yang relatif kecil dan halus (Priyambodo 2003). Selain itu, tikus riul menyukai tempat yang dekat dengan sumber air seperti selokan (Aplin, Brown, Jacob, Krebs, dan Singleton 2003).

Cecurut Rumah (Suncus murinus)

Cecurut (shrew) termasuk dalam insectivora yaitu kelompok hewan yang makanan utamanya adalah serangga. Berbeda dengan tikus yang termasuk dalam omnivora. Cecurut jika dilihat sepintas mirip dengan tikus kecil atau mencit. Beberapa perbedaan yang dapat dilihat antara lain bentuk moncong, panjang ekor, kecepatan berjalan, kotoran (feses), dan bau (Priyambodo 2003).

Bentuk moncong cecurut sangat runcing, ekor sangat pendek, jalannya relatif lambat, kotorannya basah, dan mengeluarkan bau bila melintas. Gigi cecurut tidak tumbuh memanjang seperti tikus karena cecurut bukan hewan pengerat. Cecurut memiliki gigi taring dan gigi gerahamnya lengkap. Susunan gigi cecurut adalah sebagai berikut:

3 1 3 3

x 2 = 32 1 1 1 3

Cecurut adalah hewan yang tidak pandai memanjat dan menggali tanah. Kotoran yang basah menandakan bahwa makanan hewan tersebut adalah serangga

yang kaya akan protein hewani. Bau yang dikeluarkan merupakan sarana untuk pertahanan diri (Priyambodo 2003).

Kecoa

Kecoa adalah serangga dari ordo Blattodea yang mempunyai anggota mencapai 3.500 spesies dalam 6 famili. Kecoa terdapat hampir di seluruh belahan bumi, kecuali di wilayah kutub. Beberapa spesies yang cukup dikenal adalah

kecoa Amerika, Periplaneta americana, yang memiliki panjang 3 cm, kecoa Jerman, Blattella germanica, dengan panjang ±1½ cm, dan kecoa Asia, Blattella asahinai, dengan panjang sekitar 1½ cm (Anonim 2007). Selain itu terdapat juga Oriental cockroach (Blatta orientalis), Brown-banded cockroach (Supella longipalpa), Australian cockroach (Periplaneta fuliginosa), dan Brown cockroach (Periplaneta brunnea) (Aryatie 2008). Kecoa sering dianggap sebagai hama

dalam bangunan, walaupun hanya sedikit dari ribuan spesies kecoa yang termasuk dalam kategori tersebut (Anonim 2008).

Sumber: www.cockroach-3.com Gambar 3 Kecoa Amerika (Periplaneta americana)

Daur hidup kecoa terdiri dari tiga fase yaitu telur, nimfa, dan imago. Untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya (5-13 instar), kecoa memerlukan waktu kurang lebih tujuh bulan. Untuk fase telur, kecoa membutuhkan waktu 30 – 40 hari sampai telur menetas. Telur kecoa diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur kecoa dilindungi oleh selaput keras yang disebut kapsul telur atau ootheca (Prasetyowati 2007). Kecoa meletakkan telur dalam satu kelompok telur (ooteka) yang berisi 16-50 butir telur. Ooteka diletakkan pada sudut

barang/perabotan yang gelap dan lembab. Pada beberapa spesies, ooteka menempel di bagian ujung abdomen induknya sampai menetas (Hadi 2006).

Kecoa merupakan binatang malam yang sangat senang tempat-tempat lembab, kotor, dan banyak terdapat sisa-sisa makanan. Tempat hidup kecoa antara lain celah-celah di sekitar pembuangan air limbah, dapur, tempat pembuangan sampah, gudang makanan, lemari makan, dan toilet (Anonim 2007). Kecoa sangat cepat perkembangbiakannya, karena pertahun seekor kecoa betina dapat menghasilkan 4-90 ooteka dan satu ooteka mampu menempung 16-50 butir telur, sehingga dalam satu tahun dapat menghasilkan lebih dari 800 ekor (Hadi 2006).

Sebuah kapsul telur yang telah dibuahi oleh kecoa jantan akan menghasilkan nimfa. Nimfa hidup bebas dan bergerak aktif. Nimfa yang baru keluar dari kapsul telur biasanya berwarna putih. Seiring bertambahnya umur, warna nimfa akan berubah menjadi cokelat. Seekor nimfa akan mengalami pergantian kulit beberapa kali sampai nimfa menjadi dewasa dengan adanya sayap dan menjadikan kecoa lebih bebas bergerak dan berpindah tempat (Aryatie 2008).

Kecoa merupakan serangga pengganggu kesehatan manusia karena kedekatannya dengan manusia. Kecoa umumnya berkembangbiak dan mencari makan di tempat-tempat kotor. Makanan serangga ini adalah makanan yang

Dokumen terkait