BOGOR 2009
Hutan Tidak Seumur dan Kontribusi Terhadap Ekonomi Daerah : Studi Kasus IUPHHK PT. Bina Balantak Utama Kabupaten Sarmi, Papua adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Januari 2009
Jonni Marwa E051060171
and its contribution toward regional economic : Case Study at Concession of PT.Bina Balantak Utama Sarmi Regency, Papua Province ).Under direction of Herry Purnomo and Dodik Ridho Nurrochmat
This research was aimed to obtain yield regulation method of uneven-aged forest, based on system dynamics model approach. Logged–over natural forest in the concession area of PT. Bina Balantak Utama (PT.BBU), Sarmi Regency of Papua Province was selected for study. Stand structure dynamic model was estimated from re-measured permanent sample plot. It consists of ingrowth, upgrowth and mortality functions. The model was constructed based on species group (dipterocarpaceae, non dipterocarpaceae, and non commercial). Then, prediction data were compared with the actual data. The economic criteria were net present value, benefit cost ratio, internal rate of return and land expectation value. The cutting simulation result shows that cutting cycle has negative correlation with the income government and income of customary communities. By using yield regulation method of uneven-aged forest PT.BBU contributed to 0,56% of local government revenue and 47,91% of customary communities.
Kontribusi Terhadap Ekonomi Daerah : Studi Kasus IUPHHK PT. Bina Balantak Utama Kabupaten Sarmi, Papua. Dibimbing oleh Herry Purnomo dan Dodik Ridho Nurrochmat.
Pengelolaan hutan di Papua (Propinsi Papua) sudah berjalan kurang lebih tiga dekade dan kini mengarah pada pengelolaan hutan bekas tebangan. Dengan tujuan mengejar laju pertumbuhan ekonomi pemerintah telah memberikan ijin hak pengusahaan hutan kepada kurang lebih 54 perusahaan untuk mengelola hutan Papua yang luasnya kira-kira mencapai 31 juta hektar. Sejalan dengan perkembangan pemanfaatan hutan tersebut, pemerintah maupun masyarakat sebagai pemilik sumberdaya hutan belum mendapatkan manfaat yang optimal. Kontribusi yang diberikan sektor kehutanan terhadap ekonomi Papua selama tahun 1993-2003 hanya mencapai 6,7% (Pawitno 2003).
Kebijakan-kebijakan baru pengelolaan hutan diharapkan mampu meningkatkan penerimaan daerah dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan aspek-aspek pengelolaan yang lestari. Salah satu bentuk pengelolaan hutan yang lestari adalah pengaturan hasil hutan melalui penentuan jatah produksi tahunan (AAC, Annual Allowable Cutting) yang ditetapkan pemerintah. Namun penetapan tersebut sering tidak sesuai dengan kondisi spesifik lokal, sehingga menimbulkan pengelolaan hutan yang tidak lestari.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan alternatif pengaturan hasil hutan tidak seumur berdasarkan intensitas penebangan dan siklus tebang yang lestari menggunakan pendekatan sistem dinamik, serta kontribusi metode pengaturan hasil hutan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan ekonomi daerah.
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah konsesi HPH PT. Bina Balantak Utama (BBU) Kabupaten Sarmi Propinsi Papua, pada Petak Ukur Permanen (PUP) RKT 2000/2001 petak 56 KK. Penelitian dilakukan selama tiga bulan sejak maret sampai dengan mei 2008.
Data yang dikumpulkan meliputi : data pertumbuhan tegakan dan data struktur tegakan hutan primer. Data pertumbuhan tegakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran PUP pada Blok RKT 1999/2000 petak 56 KK yang merupakan areal bekas tebangan 2 tahun. Pengukuran dilakukan pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Data struktur tegakan yang diperoleh dari PUP dan hutan primer dipresentasikan dalam beberapa Kelas Diameter (Phn_D) menurut kelompok jenis dengan interval 10 cm ke atas, diameter terkecil (Phn_D15) berukuran 10-20 cm. Pembagian menurut kelompok jenis dilakukan dengan mengelompokan ke dalam jenis dipterocarpaceae, non dipterocarpaceae dan non komersil.
Komponen penyusun dinamika struktu r tegakan terdiri dari jumlah pohon pada berbagai kelas diameter dan kelompok jenis, dengan melibatkan unsur dinamika tegakan seperti alih tumbuh (ingrowth), tambah tumbuh (upgrowth), dan kematian (Mortality). Rumus Alometrik digunakan untuk menghitung biomassa tegakan dalam pembuatan model usaha karbon adalah rumus pendugaan
biomassa secara umum yang dikemukakan oleh Brown.Selain itu dilakukan pula analisisi sistem dengan tahap analisis sistem dan simulasi yang dilakukan adalah sebagai berikut (Purnomo 2004; Grantet al. : Identifikasi isu, tujuan dan batasan, perumusan model konseptual, spesifikasi model kuantitatif serta evaluasi model dan penggunaan model
Kelompok jenis non dipterocarpaceae merupakan penyusun utama struktur tegakan. Untuk mengetahui keterandalan model dilaukan uji Khi Kuadrat (x2) terhadap model dinamika tegakan. Berdasarkan statistik uji chi squarediperoleh nilai2hitung sebesar 12,98, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai2 tabel yaitu sebesar 27,59 pada derajat bebas 17 dan taraf nyata 5%. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan model simulasi dinamika struktur tegakan cukup handal, lebih mendekati kondisi aktual. Selain itu, dilakukan juga analisis sensivitas terhadap perubahan harga, standar kompensasi dan suku bunga untuk melihat perilaku yang diharapkan dengan terlebih dahulu dilakukan simulasi pada kondisibase line.
Secara ekonomi skenario siklus tebang memberikan hasil yang layak untuk pengelola hutan dengan kondisi NPV, LEV, BCR dan IRR positif. Sedangkan skenario perburuan kayu memberi gambaran bahwa telah terjadi over eksploitasi karena ”double AAC” yaitu AAC HPH ditambah dengan AAC perburuan kayu, sehingga tegakan menjadi kolaps. Dengan demikian jangka waktu yang diperlukan untuk melakukan penebangan ulang di lokasi yang sama semakin panjang. Secara ekonomi penerimaan mayarakat dari kegiatan perburuan kayu pada tahun-tahun awal menunjukan nilai penerimaan yang besar. Penerimaan tersebut didistribusikan kepada pemilik kayu sebesar 20% dan 80% untuk pemilik modal (penebang). Akibat penebangan secara intensif dalam rentang waktu yang terlalu dekat maka, penerimaan masyarakat pemilik kayu dan penebang kayu menjadi berkurang dan mengarah kepada hilangnya sumber pendapatan. Bagi penebang kayu walaupun penerimaannya makin berkurang, tetapi dapat memanfaatkan sumberdaya kayu di tempat lain karena menguasai teknologi dan modal kerja (rent seeking). Skenario REDD memberikan hasil yang terbaik pada siklus tebang 30 tahun. Pendapatan skema REDD adalah selisih pemasukan karbon dengan pengeluaran usaha karbon. Pemasukan usaha karbon didapat dari penjualan jasa penyerapan karbon dalam satuan ton (tC) per hektar
Kontribusi yang diberikan berdasarkan skenario siklus tebang sangatlah kecil hanya 0,56% terhadap penerimaan pemerintah daerah. Penerimaan tersebut berasal dari Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH), dana reboisasi (DR), serta pajak- pajak. Kontribusi tersebut berpeluang untuk terus meningkat karena belum termasuk sub-sektor industri pengolahan hasil hutan primer yang nantinya harus dibuka oleh setiap pemegang IUPHHK di Papua, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah Papua yang melarang penjualan log ke luar Papua dan mewajibkan setiap HPH/IUPHHK untuk membangun industri primer.
Disisi lain apabila pemerintah dan masyarakat terlibat dalam skema perdagangan karbon melalui REDD, maka kontribusi yang dapat diberikan terhadap rata-rata penerimaan daerah hanya sebesar 0.008% terhadap penerimaan daerah Kabupaten Sarmi. Walaupun kontribusi yang diberikan relatif kecil namun skema yang ditawarkan perlu menjadi pertimbangan.
penerimaan kompensasi pada setiap siklus tebang dengan kontribusi rata-rata sebesar 47,91%. Walaupun jumlah kompensasi yang diterima terlihat cukup besar, namun nilai tersebut relatif kecil apabila didistribusikan kepada penduduk/ kepala keluarga yang berada pada wilayah tersebut yakni Rp 617.848/ KK/tahun atau Rp 51.457/kk/bulan. Pilihan siklus tebang berkaitan erat dengan kontribusi terhadap tambahan penerimaan masyarakat adat dari kompensasi hak ulayat dan penerimaan pemerintah. Walaupun masyarakat dan pemerintah memperoleh nilai tambah akibat aktivitas pemanfaatan kayu, namun bagi perusahan hal tersebut merupakan biaya sehingga mempengaruhi kinerja finansial perusahaan. Hal ini dapat dijadikan instrumen ekonomi sehingga HPH akan lebih termotivasi untuk mengelola hutan yang berada dalam wilayah konsesi secara profesional dan efisien dengan tetap berpegang pada aspek kelestarian produksi, ekonomi dan lingkungan.
Secara keseluruhan dari simulasi yang dibangun hak-hak masyarakat adat terhadap kompensasi dari sumberdaya hutan dapat diakomodir, walaupun masih relatif kecil dari nilai yang seharusnya diterima.
Kata Kunci : Sistem dinamik, pengaturan hasil, hutan tidak seumur, masyarakat adat
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm dan sebagainya