• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR 2009

Kabupaten Sarmi, Papua) Nama : Jonni Marwa

N R P : E051060171

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc

K e t u a A n g g o t a

Diketahui

Ketua Program Studi

Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr.Ir. Imam Wahyudi, MS Prof. Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Ujian: 7 Januari 2009 Tanggal Lulus:

Hikmat dan Berkat-Nya, sehingga penulisan Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

Tesis yang berjudul “MODEL DINAMIK PENGATURAN HASIL HUTAN TIDAK SEUMUR DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP EKONOMI DAERAH : Studi Kasus IUPHHK PT. Bina Balantak Utama Kabupaten Sarmi, Papua” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (IPK) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Adapun lokasi yang menjadi obyek penelitian ini adalah areal Petak Ukur Permanen (PUP) di dalam wilayah konsesi IUPHHK PT. Bina Balantak Utama (PT.BBU) Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang penelitian ini, antara lain: telah banyak kawasan hutan berubah menjadi areal bekas tebangan dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan kondisi awal, sehingga diperlukan pengaturan hasil yang didasarkan atas kondisi hutan saat ini. Disisi lain hutan sebenarnya mengandung manfaat ganda yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, namun akibat pemanfaatn eksesif telah mengurangi peranannya terhadap perkembangan ekonomi daerah terutama kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar hutan dan kelestariannya. Karena kompleksitas masalah pengelolaan hutan maka pendekatan sistem dapat digunakan sebagai alat untuk mencari solusi dalam pengaturan hasil dengan tetap mempertahankan kelestarian hutan.

Banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis dan selama penyelesaian studi di IPB ini. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih kepada Dr. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc selaku pembimbing atas segala bimbingan, masukan dan saran selama penyusunan tesis ini, dan Dr. Ir. Budi Kuncahyo, MS selaku Penguji Luar Komisi yang ikut menyumbangkan pemikirannya untuk penyempurnaan tulisan ini. Terima kasih penulis sampaikan pula kepada seluruh pimpinan dan staf PT. Bina Balantak Utama yang telah memberi kesempatan, tempat dan waktu untuk melaksanakan penelitian serta tim survey (Pak Steve Sinon dan rekan-rekan) yang telah membantu dalam pengambilan data lapangan.

Terimakasih disampaikan juga kepada pemerintah pusat melalui departemen pendidikan nasional, pemerintah Provinsi Papua, serta pemerintah Kabupaten Sarmi yang telah memberikan beasiswa selama studi. Penghargaan yang tidak terucapkan kepada istri dan anak-anak yang telah mendorong, membantu dan memanjatkan doa serta mendampingi selama studi. Penghargaan juga disampaikan kepada orang tua, kakak dan adik yang telah memberikan dukungan moril maupun materil. Serta Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala doa, dorongan dan motivasinya.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian, sebagai tambahan literatur bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Ilmu Pengetahuan Kehutanan.

Bogor, Januari 2009 Penulis

bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh pada Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih (sekarang Univesitas Negeri Papua), lulus pada tahun 2000. Pada tahun 2006 penulis diterima di Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (IPK), Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada tahun 2001–sekarang penulis bekerja sebagai staf pegajar di Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Hutan Universitas Negeri Papua Manokwari. Adapun bidang kajian yang menjadi konsentrasi adalah manajemen hutan, serta ekonomi sumberdaya hutan.

DAFTAR ISI………... i DAFTAR TABEL……… iv DAFTAR GAMBAR………... v PENDAHULUAN………. 1 Latar Belakang ………. 1 Perumusan Masalah………..……… 2 Tujuan Penelitian... 3 Manfaat Penelitian……… 4 TINJAUAN PUSTAKA……… 5

Konsep Pengaturan Hasil Hutan ...……… 5 Sejarah Metode Pengaturan Hasil ... 5 Pengaturan Hasil Berdasarkan Model Simulasi ... 6 Tegakan dan Struktur Tegakan... 9 Dinamika Struktur Tegakan... 11 Model Pertumbuhan Hutan Tidak Seumur... 11 Perkembangan Penelitian Tentang Model Dinamika Struktur Tegakan.. 12 Model Pengelolaan Hutan Alam Secara Optimal... 15 Pendugaan Nilai Lahan Hutan ... 16 Pendekatan Nilai Kini Bersih (Net Present Value)... 16 Pendekatan Nilai Harapan Lahan... 17 Internal Rate of Return (IRR)... 18 Benefit Cost Ratio (BCR)... 18 Usaha Perdagangan Karbon pada Hutan Alam Produksi…………... 18 Biomassa... 19 Reduce Emission from Deforestation and Degradation (REDD).... 20 AnalisisFinansial dan Analisisi Ekonomi……….………... 20 Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Ekonomi Daerah……….... 21 Penerimaan Daerah dari Sektor Kehutanan………... 23 Model dan Simulasi... 25 Pendekatan Sistem Dinamik... 26

METODOLOGI PENELITIAN……… 29

Kerangka Pemikiran Penelitian………. 29

Lokasi dan Waktu Penelitian ……….. 32

Bahan dan Alat………. 32

Metode Penelitian………. 33

Pengumpulan Data………... 33

Teknik Pengumpulan Data……… 33

Analisis Data………... 34

Analisis Sistem dan Simulasi………... 35

Identifikasi isu, tujuan dan batasan………... 35 Perumusan Model Konseptual dan Spesifikasi Model Kuantitatif... 36 Evaluasi Model... 41 KEADAAN UMUM LOKASI... 42 Letak dan Luas... 42 Biofisik Kawasan... 43 Potensi Ekonomi Sumberdaya Hutan Kabupaten Sarmi... 43 Kondisi Ekonomi Daerah Penelitian... 45 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47 Risalah data Petak Ukur Permanen (PUP)... 47 Deskripsi Struktur Tegakan... 47 Perhitungan Dinamika Tegakan... 48 Pembangunan Model Pengaturan Hasil Hutan... 51 Identifikasi Isu, Tujuan dan Batasan……….. 52 Formulasi Model Konseptual... 54 Merepresentasekan Model Konseptual... 56 Sub Model Dinamika Struktur Tegakan... 56 Sub Model Pengembalian Ekonomi... 61 Sub Model Pengaturan Hasil... 64 Sub Model Penerimaan Masyarakat... 64 Sub Model REDD... 64 Evaluasi Model... 65 Mengevaluasi Kewajaran dan Kelogisan Model... 65

Mengevaluasi Hubungan Perilaku Model dengan Pola yang

diharapakan ... 69 Perubahan Harga... 70 Perubahan Suku Bunga... 72 Perubahan Standar Kompensasi Masyarakat Adat... 74 Penggunaan Model ... 75 Komparasi Skenario... 84 Kontribusi Terhadap Ekonomi Daerah... 85 Implikasi Kebijakan dari Simulasi... 87 KESIMPULAN DAN SARAN... 90 Kesimpulan... 90 Saran... 90

DAFTAR PUSTAKA………... 91

1. Potensi Hutan Kabupaten Sarmi………..…...……….. 43 2. Keberadaan HPH/IUPHHK di Kabupaten Sarmi Tahun 2008... 44 3. Kontribusi relatif sektor kehutanan terhadap PDRB Kabupaten

Sarmi atas dasar harga konstan 2000 selama tahun 2001-2006 ( %).. 45 4. Riap rata-rata tegakan masing-masing kelompok jenis... 47 5. Nilaiinratedari masing-masing kelompok jenis... 48 6. Lajuupgrowthpada IUPHHK PT. BBU………... 49 7. Lajumortality pada IUPHHK PT. BBU……… 50 8. Luas Blok RKT, Volume Produksi dan Jumlah Batang selam II

RKL pada IUPHHK PT.BBU Kabupaten Sarmi Papua……… 51 9. Kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan...……… 57 10. Hasil Simulasi pengembalian ekonomi pada berbagai perubahan

harga……… 69

11. Petubahan Suku bunga terhadap NPV, LEV, dan BCR……….. 72 12. Jumlah Pohon Masak Tebang berdasarkan hasil simulasi tanpa

penebangan ……… 75

13. Preskripsi intensitas penebangan, jumlah pohon yang ditebang, volume dan koefisien kelestarian hasil pada simulasi pengaturan hasil………..

77

14. Hasil Simulasi nilai NPV, LEV, BCR dan IRR pada berbagai preskripsi penebangan dengan suku bungan 9%...

78 15. Proyeksi Penerimaan Pemerintah dan masyarakat pada berbagai

siklus tebang……… 79

16. Proyeksi Penerimaan REDD………... 83

17. Komparasi Skenario……… 84

18. Kontribusi Penerimaan Sektor Kehutan dari PT.BBU terhadap rata- rata Penerimaan Daerah Kabupaten Sarmi berdasarkan scenario siklus tebang………

85

19. Kontribusi Penerimaan sektor kehutanan dari PT.BBU terhadap rata-rata penerimaan daerah Kabupaten Sarmi berdasarkan skenario REDD………

85

20. Kontribusi penerimaan kompensasi masyarakat adapt berdasarkan

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Sumber Pendapatan Daerah Berdasarkan UU 33/2004…...……….. 22 2. Perbandingan Metode Pemecahan Masalah...………... 27 3. Kerangka Pemikiran Model Sistem Dinamik Pengelolaan Hutan

Alam ... 30 4. Lokasi Penelitian hutan alam produksi PT. BBU Kabupaten Sarmi,

Papua... 31 5. Diagramcausal loopantar komponen dalam model... 54 6. Hubungan LBD tegakan (BA) terhadap parameter pertumbuhan... 56 7. Representase model dinamik tegakan dipterocarpaceae... 58 8. Representase model dinamik tegakan non dipterocarpaceae... 58 9. Representase model dinamik tegakan non komersil... 59 10. Representase model pengembalian ekonomi... 60 11. Representase model penerimaan masyarakat adat... 63 12. Representase Penerimaan REDD... 64 13. BAU dan Baseline kredit... 65 14. Proyeksi Dinamika Tegakan Jangka Panjang... 66 15. Perbandingan Struktur Tegakan Hasil Pengamatan dengan

Simulasi setelah 5 tahun menurut kelompok jenis : (a) Dipterocarpaceae, (b) Non Diterocarpaceae, (c) Non Komersil...

67

16. Struktur Tegakan Hutan di Areal penelitian………. 68 17. Nilai harapan lahan pada berbagai siklus tebang dan harga……….. 70 18. Produksi Kayu Bulat IUPHHK PT. BBU tahun 2001-2007………. 70 19. Perubahan Suku Bunga terhadap NPV, LEV, dan BCR………… 72 20. Penerimaan Kompensasi pada kondisi terjadi perubahan standar

kompensasi yaitu 0%, 20%, 40% dan 60%... 74 21. Hasil Simulasi 70 tahun kondisi masak tebang jenis

Dipterocarpaceae, non dipterocarpaceae, dan non komrsil………... 74 22. Proyeksi jumlah pohon masak tebang (a), siklus tebang 30 tahun

(b), siklus 35 tahun (c) siklus 40 tahun, (d) Semua siklus………..

76 23. Proyeksi penebangan pohon stiap pohon masak tebang…………... 81 24. Keadaan Penerimaan masyarakat pemilik hak ulayat & penebang... 82

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1 Komposisi Jenis dalam tegakan di areal hutan primer...……….. 96 2. Komposisi jenis pohon dalam tegakan di areal bekas tebanan….. 98 3. Model Kuantitatif pengaturan hasil hutan tidak seumur…………. 99 4. Representasi Model dinamika tegakan total...…. 112 5. Haisl simulasi nilai NPV, LEV, BCR dan IRR pada berbagai

perubahan suku bunga...

117 6. Representase sub model biaya produksi………... 118

Ekosistem hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memberikan manfaat majemuk dalam pelaksanaan pembangunan baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi. Manfaat tersebut sangat kuat dalam menunjang pembangunan dan memberikan kontribusi sangat penting dalam menghasilkan devisa bagi negara. Namun peran tersebut kini dihadapkan pada permasalahan pengelolaan hutan yang tidak lestari karena kondisi hutan yang dikelola telah mengalami perubahan. Areal berhutan terutama hutan alam produksi sebagian besar merupakan areal hutan bekas tebangan (logged over area) yang kondisinya terus mengalami degradasi karena aktivitas pembalakan secara eksesif, sehingga diperlukan upaya-upaya pengelolaan hutan secara lestari.

Salah satu prasyarat utama tercapainya pengelolaan hutan lestari pada unit pengelolaan hutan adalah tersedianya rencana pengelolaan hutan jangka panjang, dimana pengaturan hasil merupakan komponen utamanya. Pengaturan hasil melalui penentuan jatah tebang sangat berperan dalam pengelolaan hutan secara lestari dan harus dilakukan secara spesifik karena kondisi dan potensi hutan bervariasi pada berbagai areal. Pengaturan hasil tersebut harus ditetapkan secara lebih cermat dan obyektif melalui mekanisme perencanaan yang baik.

Sementara diketahui bahwa preskrispi kunci perencanaan untuk hutan tidak seumur seperti panjang siklus tebang, intensitas penebangan optimal, limit diameter tebang dan proporsi jumlah batang yang ditebang memiliki fungsi penting dalam pelestarian hutan. Penetapan preskripsi tersebut salah satunya didasarkan pada pertimbangan kondisi dinamika struktur tegakan. Untuk pertimbangan faktor ekonomi, struktur tegakan dapat menunjukkan potensi tegakan minimal yang harus tersedia, sedangkan untuk pertimbangan ekologis dari struktur tegakan akan diperoleh gambaran mengenai kemampuan regenerasi dari tegakan (Suhendang 1993).

Dinamika struktur tegakan berkaitan erat dengan aspek ekonomi dalam kegiatan produksi kayu karena memiliki korelasi dengan berapa lama modal hendak ditanamkan untuk produksi kayu tersebut (Davis et al. 2001).

Memaksimumkan pendapatan yang didiskonto bermanfaat dalam mencapai keadaan intensitas penebangan dan siklus tebang yang optimal. Strategi ini memerlukan evaluasi finansial sebagai alat untuk menilai kinerja finansial perusahaan.

Bertumpuh pada pertimbangan dinamika tegakan saja tidak cukup untuk menjelaskan ekosistem hutan karena hutan memiliki kompleksitas dan ketidakpastian, dinamis, non linear sehingga diperlukan pengukuran secara terpadu dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain seperti ekonomi dan sosial (Lowet al. 1999; Ness et al. 2007). Sifat kompleksitas dapat didekati dengan pendekatan sistem dinamik dengan pembangunan model-model menggunakan perangkat komputer terhadap suatu situasi yang kompleks dan kemudian melakukan eksperimen serta studi perilaku terhadap model tersebut dalam jangka waktu tertentu (Caulfield and Maj 2001 dalamNesset al.2007).

Menurut Vanclay (1988), beberapa model telah dibangun untuk menguji suksesi ekologi pada tipe hutan yang berbeda, tetapi model-model tersebut tidak cocok untuk diterapkan dalam pengaturan hasil. Pendekatan matriks transisi yang dikembangkan Usher pada tahun 1966 juga kecil kontribusinya untuk memahami proses-proses pertumbuhan di dalam tegakan hutan. Dengan model sistem dinamik diharapkan dapat menentukan preskripsi pengaturan hasil pada hutan tidak seumur yang optimal dipandang dari aspek kelestarian produksi, dan aspek sosial ekonomi serta kontribusi yang diberikan oleh metode pengaturan hasil terhadap masyarakat dan penerimaan pemerintah daerah.

Perumusan Masalah

Pengelolaan hutan di Papua (Provinsi Papua) sudah berjalan kurang lebih tiga dekade dan kini mengarah pada pengelolaan hutan bekas tebangan. Dengan tujuan mengejar laju pertumbuhan ekonomi pemerintah telah memberikan ijin hak pengusahaan hutan kepada kurang lebih 54 perusahaan untuk mengelola hutan Papua yang luasnya kira-kira mencapai 31 juta hektar. Sejalan dengan perkembangan pemanfaatan hutan tersebut, pemerintah maupun masyarakat sebagai pemilik sumberdaya hutan belum mendapatkan manfaat yang optimal. Kontribusi yang diberikan sektor kehutanan terhadap ekonomi Papua selama

tahun 1993-2003 hanya mencapai 6,7% (Pawitno 2003).

Kebijakan-kebijakan baru pengelolaan hutan diharapkan mampu meningkatkan penerimaan daerah dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan aspek-aspek pengelolaan yang lestari. Salah satu bentuk pengelolaan hutan yang lestari adalah pengaturan hasil hutan melalui penentuan jatah tebang tahunan (AAC) yang ditetapkan pemerintah.

Penetapan AAC memiliki konsekuensi baik secara ekologis, ekonomi maupun sosial. Metode pengaturan hasil yang selama ini digunakan untuk menetapkan jatah tebang tahunan (AAC) lebih bersifat umum untuk semua kondisi hutan, sehingga hampir dipraktekan pada sebagian besar HPH. Sementara kondisi spesifik setiap HPH tidak selalu sama baik aspek klimatis maupun edafis, sehingga diperlukan pengaturan hasil yang spesifik Salah satu HPH/IUPHHK yang penetapan AACnya berdasarkan metode pengaturan konvensional adalah IUPHHK PT. Bina Balantak Utama(BBU) Kabupaten Sarmi yang mengelola hutan seluas 325.300 ha. Dengan pengetahuan dan teknik silvikultur hutan alam produksi yang berkembang saat ini serta perubahan-perubahan kebijakan pemerintah apakah pengelolaan hutan oleh IUPHHK melalui mekanisme pengaturan hasil yang diterapkan akan memberikan hasil yang lestari? apakah hutan yang dikelola akan mampu memberikan kontribusi optimal dalam menopang perekonomian daerah? dan apakah layak untuk tetap diserahkan kepada pemegang IUPHHK? Jika jawabannya tidak, maka perlu ditemukan alternatif pengaturan hasil yang lestari.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji :

1. Alternatif pengaturan hasil hutan tidak seumur berdasarkan intensitas penebangan dan siklus tebang yang lestari menggunakan pendekatan sistem dinamik

2. Keterkaitan metode pengaturan hasil hutan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan ekonomi daerah

Manfaat Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian dapat dijadikan sebagai masukan bagi para pembuat kebijakan dalam strategi pengelolaan hutan alam produksi secara lestari. Alternatif pengaturan hasil yang dikembangkan dapat dijadikan sebagai teknik pemanfaatan hutan yang optimal dan berkesimbungan sehingga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

Konsep Pengaturan Hasil dalam Pengelolaan Hutan

Hasil tegakan adalah banyaknya dimensi tegakan yang dapat dipanen dan dikeluarkan pada waktu tertentu atau jumlah kumulatif sampai pada waktu tertentu (Davis & Johnson 1987). Kelestarian hasil tegakan akan dicapai apabila pertumbuhan dan panen berlangsung secara seimbang.

Kelestarian hasil dipakai sebagai prinsip dasar dalam pemanenan dan sangat bergantung pada sistem pengaturan hasil yang digunakan. Pengaturan hasil merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengontrol jumlah, jenis atau volume kayu sehingga dapat digunakan pada pemanenan berikutnya (McLeish & Susanty 2000).

Pengaturan hasil memberikan pengaruh terhadap kelestarian sumberdaya hutan secara ekologi, ekonomi maupun sosial. Tidak hanya itu saja, kelestarian hasil yang banyak diterapkan di hutan tropis atau subtropis menempatkan pemanfaatan hutan alam untuk jangka panjang apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jasa lingkungan (seperti perlindungan tata air dan tanah) maupun kualitas biologinya (seperti keanekaragaman hayati).

Kelestarian pemanenan berarti jumlah dan tipe produk yang sama (dimensi, kualitas, dan jenis) dapat diambil secara terus menerus dalam periode jangka panjang. Hal ini berarti bahwa pemanenan harus mempertimbangkan resiliensi sumberdaya hutan.

Konsep kelestarian hasil di atas sejalan dengan konsep pengelolaan hutan yang lestari, yang oleh ITTO (1998) didefinisikan sebagai suatu proses dalam mengelola hutan untuk mencapai satu atau beberapa tujuan yang secara jelas telah ditentukan, menyangkut keberlanjutan produksi hasil dan manfaat lain yang diinginkan tanpa menimbulkan kemunduran nilai produktifitas hutan dan efek pada lingkungan fisik dan sosial untuk masa yang akan datang. Ada defenisi lain yang menyatakan bahwa pengaturan hasil adalah penentuan hasil kayu dan produksi lainnya dalam preskripsi rencana pengelolaan, termasuk dimana dan kapan serta bagaimana hasil seharusnya diekstraksi (FAO 1998). Kedua defenisi

di atas secara bersama-sama menyertakan aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya dalam pengelolaan hutan. Masuknya aspek sosial dalam pengelolaan hutan lestari berarti bahwa manusia juga diperhitungkan sebagai bagian dari ekosistem hutan. Secara teoritis kelestarian hasil tidaklah bersifat mutlak, terdapat unsur kenisbian di dalamnya. Sumber kenisbian tersebut salah satunya adalah ukuran yang dipakai untuk menyatakan hasilnya, apakah luas, volume kayu, nilai uang, atau jumlah batang pohon. Tidak ada jaminan bahwa pemakaian salah satu ukuran hasil memberikan tingkat kelestarian yang sama apabila diukur oleh ukuran yang lain. Apabila terdapat tingkat kelestarian yang sama untuk semua ukuran hasil, maka kejadian tersebut haruslah sangat istimewa dan hal tersebut bukan merupakan fenomena alam yang biasa (Suhendang 1995).

Pengaturan Hasil Berdasarkan Model Simulasi

Pengaturan hasil berdasarkan model simulasi tidak dapat dipisahkan dari model pertumbuhan dan hasil. Model simulasi berguna dalam menjelaskan pemahaman dan prediksi. Selain itu model simulasi juga berguna untuk menganalisis data, sintesis dan mengkomunikasikan pengetahuan yang ada, serta mengidentifikasigapdalam pemahaman (Vanclay 2002).

Model simulasi dapat diterapkan terhadap hutan yang bervariasi dari satu ke lain tempat karena kompleksitas ekosistem hutan, sehingga asumsi tentang kehomogenitas tegakan tidak begitu penting. Model ini dapat pula digunakan untuk menguji berbagai rejim manajemen, dimana realisasi hasil tergantung pada keakuratan dan kelengkapan model. Model-model tersebut memerlukan pengetahuan tentang laju pertumbuhan dan dinamika tegakan (Alder 1999 dalam Krisnawaty 2001).

Saat ini telah dikembangkan beberapa perangkat lunak simulasi untuk memprediksi AAC atau pengaturan hasil. Beberapa penelitian tentang metode pengaturan hasil untuk hutan bekas tebangan pada hutan alam produksi telah dilakukan berdasarkan kombinasi tegakan persediaan hutan, riap volume tegakan dan dinamika struktur tegakan hutan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan.

a. Dipterocarp Forest Growth Simulation Model (DIPSIM).

DIPSIM (Dipterocarp Simulation Model) adalah suatu perangkat lunak komputer yang dikembangkan oleh Promosi Sistem Pengelolaan Hutan Lestari (Promotion of Sustainable Forest Management Systems, SFMP) melalui kerjasama antara Pemerintah Indonesia (Menteri Kehutanan dan Perkebunan) dan Jerman (Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit, GTZ). DIPSIM adalah model pertumbuhan individu pohon yang dikembangkan dari data pertumbuhan dan hasil melalui pengukuran secara berulang pada PUP di Kalimantan Timur. DIPSIM digunakan untuk menentukan Jatah Tebang Tahunan (JTT) berdasarkan simulasi pertumbuhan hutan (riap diameter pohon, perubahan kualitas pohon,mortality, recruitment)dan simulasi pemanenan (Kleine & Hinrich 1999 dalam Suhendang 2002).

b. Sustainable and Yield Management for Tropical Forests (SYMFOR).

SYMFOR merupakan model pertumbuhan dan hasil yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi sistem manajemen secara ekologi, bukan merupakan model konsesi hutan secara ekonomi. Aplikasi model SYMFOR dapat dipergunakan untuk memprediksi pertumbuhan pohon, hasil tebangan dan tegakan tinggal pada setiap periode sehingga dapat menentukan jangka waktu optimal pemanenan tegakan. Salah satu studi kasus dalam uji coba metode SYMFOR menunjukan bahwa sistem Reduce Impact Logging (RIL) 70 m3/ha dengan pengaturan hasil (yield regulation) memberikan bentuk kelestarian hasil yang lebih baik dibandingkan sistem TPTI dan RIL 8 batang/ha berdasarkan besarnya potensi produksi terutama untuk areal dengan potensi tinggi (Susanty & Sarjono 2001).

c. Yield Simulation System (YSS)

YSS adalah perangkat lunak komputer yang terdiri dari beberapa modul program yang digunakan untuk menduga kondisi tegakan pada waktu yang akan datang melalui teknik simulasi dengan menggunakan matriks transisi. YSS dikembangkan pada tahun 1999 oleh Rombouts.

d. Model Prototipe The Forest Land Oriented Resource Envisioning System (pFLORES)

Model pFLORES merupakan suatu protipe model FLORES yang dibangun oleh Muetzelfeldt dkk pada tahun 1997. Model pFLORES yang dibangun menggunakan software modeling milik AME yang pada dasarnya menjelaskan interaksi antara faktor-faktor sosiologi, ekologi, lingkungan dan ekonomi yang berhubungan dengan penggunaan lahan (Muetzelfeldtet al.1997).

e. Model The Forest Land Oriented Resource Envisioning System (FLORES) Model FLORES merupakan model yang dikembangkan berdasarkan model prototype FLORES selama kegiatan workshop di Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tahun 1999. Model ini dibangun selama kurang lebih tiga tahun berdasarkan ide yang dimunculkan Vanclay pada tahun 1995 dengan menggunakan perangkat komputer. Materi-materi yang disajikan dan dikirim dalam kegiatan workshop di Bukit Tinggi tersebut dikompilasi dan dibangun model FLORES. Model FLORES menggunakan perangkat lunak Simile sebagai tool (alat) dalam mengolah data. Model ini dikembangkan dalam rangka memahami interaksi antara manusia dan sumberdaya alam pada hutan-hutan marginal di negara- negara sedang berkembang seperti Indonesia, Zimbabwe dan Cameroon (Muetzelfedt dan Massheder 2003).

f. MYRLIN (Methods of Yield Regulations with Limited Information)

Metode ini dibangun oleh Alder bersama rekan-rekannya untuk memprediksi hasil pertumbuhan tegakan pada hutan hujan tropika. Metode ini menjelaskan pola-pola pertambahan diameter pohon untuk spesis tumbuhan pada hutan hujan tropika yang memiliki kesamaan secara luas antara satu wilayah dengan wilayah lainnya berdasarkan asumsi-asumsi umum yang dibuat terhadap hasil pertumbuhan. Model ini menggunakan persamaan untuk memprediksi pertambahan diameter, kematian pohon, dan perubahan lainnya dalam hutan secara statistik. (Alder 2002 diacu dalam Vanclay 2003).

g. The Simile Visual Modeling Environmental

Bahasa program Simile merupakan suatu wadah yang menyediakan kemampuan dan kemudahan relatif untuk membangun model-model dan simulasi

proses-proses biologi dalam hutan, pertumbuhan tegakan, proses pemasaran, termasuk manusia dan sistem-sistem di dalam hutan (Vanclay 2003). Simile pada awalnya dikenal sebagai AME (Agroforestry Modelling Environment) yang telah dibangun oleh peneliti dari Universitas Edinburgh dan selama lima tahun terakhir ini lebih fokus pada permasalahan bidang kehutanan. Bahasa program lain yang sama dengan Simile adalah Vensim, Powersim dan Stella.

Tegakan dan Struktur Tegakan

Buongiorno dan Gilless (1987) mendefinisikan tegakan (stand) sebagai

Dokumen terkait