BAB IV. KEGIATAN OPERASIONAL
A. Seksi Karantina Hewan
Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin terus berupaya meningkatkan pelayanan sehingga mampu menghadirkan pelayanan yang prima (efektif, efisien dan profesional) untuk mencegah masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan karantina (HPHK) yang dibawa melalui media pembawa HPHK yang dilalulintaskan, termasuk peningkatan kualitas sertifikasi.
Pelayanan laboratorium berjalan dengan baik dan ouput-nya dapat dijadikan sebagai rekomendasi dari tahapan tindakan karantina selanjutnya. Pengembangan wilayah kerja secara signifikan telah berjalan dengan adanya pelayanan di wilayah kerja Batulicin dan Kotabaru. Pelaksanaan tindakan karantina di Pelabuhan Batulicin dan Kotabaru telah berjalan dengan baik. Wilker Pagatan untuk sementara masih ditangani secara rangkap oleh petugas dari Wilker Batulicin. 1. Kegiatan Impor
Selama tahun 2015 tidak ada kegiatan impor. Hal ini dikarenakan belum adanya jalur perdagangan internasional untuk komoditi karantina hewan baik di Wilker Trisakti, Bandara Syamsudin Noor, Batulicin maupun Kotabaru. Sebagian besar media pembawa HPHK impor yang datang ke Kalimantan Selatan merupakan media pembawa eks –impor yang masuk melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan menurut Permentan No. 44/Permentan/OT.140/3/2014, tentang Perubahan atas Permentan No. 94/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Tempat-Tempat Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, yang kemudian dilalulintaskan antar area.
Tempat-tempat pemasukan tersebut antara lain dari Surabaya, Tanjung Priok dan Makassar.
2. Kegiatan Ekspor
Seperti halnya kegiatan impor, pelayanan karantina hewan selama tahun 2015 tidak ada kegiatan ekspor. Hal ini dikarenakan belum adanya jalur perdagangan internasional untuk komoditi karantina hewan baik di Wilker Trisakti, Bandara Syamsudin Noor, Batulicin maupun Kotabaru.
3. Kegiatan Pemasukan Antar Area
Kegiatan pemasukan antar area komoditi wajib periksa karantina pada Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin yang dilakukan melalui Wilker Pelabuhan Trisakti, Bandara Syamsudin Noor, Batulicin dan Kotabaru telah berjalan dengan baik.
Gambar 4. Grafik Perbandingan Frekuensi Pemasukan Antar Area Karantina Hewan Tahun 2012-2015
Seperti yang terlihat pada gambar 4, pemasukan antar area media pembawa hama penyakit hewan karantina (MP HPHK) mengalami penurunan sebesar 0,97% dari tahun 2014. Hal ini menjadi tantangan bagi Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dalam mempertahankan status bebas HPHK tertentu
dan mengurangi penyebaran HPHK yang sudah ada di Kalimantan Selatan khususnya dan umumnya di Pulau Kalimantan.
Gambar 5. Grafik Perbandingan Frekwensi Pemasukan Antar Area Karantina Hewan per Wilayah Kerja Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin
Gambar 6. Grafik Frekwensi Pemasukan Antar Area Karantina Hewan Berdasarkan Kelompok Komoditi per wilayah kerja BKP Kelas I Banjarmasin Tahun 2015
Pada gambar 5. menunjukkan bahwa aktifitas pemasukan antar area MP HPHK menuju Balai Karantina Pertanian Kelas I
500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 HWN BAH HBAH BL 1,233 1,147 608 2,692 2,901 338 411 464 725 18 0 3 45 0 0 1 FRE K WE N SI (K al i)
Wilker Pelabuhan Trisakti Wilker Bandara Syamsudin Noor Wilker Batulicin Wilker Kotabaru
Banjarmasin lebih sering melalui wilker Pelabuhan Trisakti yakni sebesar 53,88%. Pemasukan MP HPHK ini didominasi oleh kelompok komoditi benda lain berupa pakan ternak sebesar 47,39% dari semua MP HPHK yang masuk ke Wilker Trisakti, seperti yang tampak pada gambar 6. Sedangkan yang menuju Wilker Syamsudin Noor, Batulicin, dan Kotabaru, didominasi oleh kelompok komoditi hewan. Dominasi hewan yang masuk melalui wilker-wilker tersebut juga berbeda pula, seperti di Bandara Syamsudin Noor berupa unggas antara lain burung, ayam, dan day old chick (DOC) sedangkan di Wilker Batulicin dan Kotabaru berupa ruminansia besar (sapi) dan ruminasia kecil (kambing). Data operasinal pemasukan antar area karantina hewan berdasarkan daerah asal pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Data Operasional Pemasukan Antar Area Karantina Hewan Berdasarkan Daerah Asal Tahun 2015
Pada Tabel 13 menunjukkan kegiatan operasional pemasukan antar area MP HPHK berdasarkan daerah asal dengan tujuan Banjarmasin, lebih banyak berasal dari Balai Besar
Satuan Volume Frek. Satuan Volume Frek. Satuan Volume Frek. Satuan Volume Frek. 1 BBKP Surabaya Ekor 1,195,936 1,940 Kg 3,905,286 918 Kg 700,287 346 Kg 77,004,919 2,711
Kg Butir 15,948,689 330 Kms 2,813 137 Koloni 9 1 2 BBKP Soekarno Hatta Ekor 899,024 269 Kg 119 3 Kg 3,485 34 Kms 39,025 259 Ekor 10,000 1 3 BBKP Tanjung Priok 0 - - Kg 364,881 223 Kg 571,607 469 - - -4 BBKP Makassar Ekor 162,408 33 - - - Kg 3,579 125 Kg 6,463,000 7 Kms 3 2 5 BKP Kelas I Semarang Ekor 8,913 844 Kg 360 9 Kg 58 2 Kg 21 5 6 BKP Kelas I Jambi Ekor 3 1 - - - - - - - - -7 BKP Kelas I Balikpapan Ekor 5,038 20 - - - - - - - - -8 BKP Kelas I Bandar Lampung Ekor 3 2 - - - - - - - - -9 BKP Kelas I Denpasar - - - - - - Kg 102 6 - - -10 BKP Kelas I Batam Ekor 19 7 - - - - - - - - -11 BKP Kelas I Pekanbaru Ekor 1 1 - - - - - - - - -12 BKP Kelas I Padang Ekor 4 4 - - - - - - - - -13 BKP Kelas I Pontianak Ekor 1 1 - - - - - - Kms 1 1 14 BKP Kelas I Palembang Ekor 4 3 - - - - - - - - -15 BKP Kelas I Manado Ekor 20 6 - - - - - - Kms 1 1 16 BKP Kelas II Yogyakarta Ekor 139,719 222 Kg 77 1 Kg 99 3 Kg 45 5 Koloni 25 1 17 BKP Kelas II Tarakan Ekor 17 6 - - - - - - Kms 1 1 18 BKP Kelas II Palangkaraya Ekor 1 1 - - - - - - - - -19 BKP Kelas II Palu Ekor 8 5 - - - - - - - - -20 BKP Kelas II Medan Ekor 17 5 - - - - - - - - -21 SKP Kelas I Pare-Pare Ekor 21,912 495 Kg 9,400 18 - - - - - -22 SKP Kelas I Aceh Ekor 2 2 - - - - - - - - -23 SKP Kelas I Bandung Ekor 3,380 106 Kg 45 1 Kg 1,858 37 Kg 20 2 Kms 875 23 24 SKP Kelas I Sumbaw a Ekor 10,957 166 - - - - - - - -
-Besar
25 SKP Kelas II Bangkalan Ekor 44,846 223 - - - - - - - - -26 SKP Kelas II Mamuju Ekor 143 45 - - - - - - - - -NO NAMA UPT HEWAN BAHAN ASAL HEWAN
HASIL BAHAN
BENDA LAIN ASAL HEWAN
Karantina Pertanian Surabaya dengan persentase frekuensi sebanyak 70,39%. Baik melalui Wilker Trisakti, Wilker Bandara Syamsudin Noor, Wilker Batulicin, maupun Wilker Kotabaru. Adapun jenis komoditinya berupa : ternak ruminasia (ruminansia besar dan kecil), DOC, telur konsumsi, telur ayam tetas dan pakan ternak.
Dengan melihat gambaran peta lalu lintas pemasukan MP HPHK di atas, maka kita bisa memperkirakan jenis HPHK yang harus diawasi penyebarannya. Terutama untuk HPHK yang statusnya bebas di Kalimantan misalnya brucellosis dan anthrax.
Tindakan Pemeriksaan terhadap Media Pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina dilakukan secara intensif terutama di Wilayah Kerja Pelabuhan Trisakti yang merupakan Pusat Perekonomian Kalimantan Selatan saat ini, sama halnya di Bandara Syamsudin Noor yang saat ini berkembang menjadi bandara dengan penerbangan yang semakin padat. Wilayah Kerja Batulicin dan Kotabaru menunjukan perkembangan cukup signifikan pula, terutama pemasukan dan pengeluaran dari dan ke Pulau Sulawesi.
Dengan adanya modernisasi sistem informasi di Pelabuhan Banjarmasin, aktivitas bongkar muat kapal yang sandar di pelabuahan, selain dilakukan pengawasan langsung di pelabuhan, juga dapat diakses melalui internet, dengan mengakses hompage Pelabuhan Banjarmasin.
Gambar 7. Pengawasan Lalulintas MP HPHK dapat dimonitor secara
on line melalui EQVET dan IQVDS
secara on line, dengan menggunakan program aplikasi internal Badan Karantina Pertaniaan yaitu EQVET. Dengan menggunakan fasilitas e-Cert, maka kita dapat mengetahui MP HPHK yang akan ditujukan ke wilker-wilker di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Program aflikasi tersebut tentunya akan kurang bermanfaat apabila dari Karantina daerah asal tidak mengirimkan datanya secara real time dan alat angkut yang digunakan tidak ditulis secara lengkap. Data yang masuk dapat dianalisis secara on line menggunakan IQVDS.
Pemeriksaan dokumen dan fisik hewan, bahan asal hewan serta hasil bahan asal hewan dilakukan secara ketat oleh petugas dalam setiap pemeriksaan di atas alat angkut sebelum tindakan karantina yang lain dilakukan.
Data operasional pemasukan antar area Karantina Hewan pada Tahun 2015 berdasarkan jenis media pembawa HPHK dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Data Operasional Pemasukan Antar Area Karantina Hewan berdasarkan jenis media pembawa HPHK Tahun 2015
NO NAMA MEDIA PEMBAWA SATUAN VOLUME FREKWENSI NO NAMA MEDIA PEMBAWA SATUAN VOLUME FREKWENSI
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Kambing Potong Ekor 45,736 206 35 Cacing tanah Kg 20 2 2 Domba Potong Ekor 32 2 36 Jangkrik Kg 10 2 3 Kambing Bibit Ekor 240 5 37 SemutJepang Kg 1 1 4 Sapi Potong Ekor 31,497 962 38 Kroto Kg 10 2 5 Sapi Bibit Ekor 535 12 39 Lebah Madu Koloni 10,034 3 6 Kerbau Potong Ekor 1,071 145 40 Daging Ayam Beku Kg 366,729 106 7 Kerbau Bibit Ekor 151 2 41 Daging Sapi Beku Kg 304,840 148 8 Kuda Ekor 9 5 42 Daging Kambing Beku Kg 12,529 39 9 DOC PS Ekor 715,257 103 43 Daging Domba Beku Kg 300 1 10 DOC FS Ekor 1,356,510 258 44 Daging Bebek Beku Kg 14,001 17 11 DOC layer Ekor 124,880 20 45 Daging Burung dara Kg 360 9 12 DOQ Ekor 130,100 30 46 Jeroan Sapi Kg 6,070 12 13 DOD Ekor 12,700 8 47 Jeroan Ayam Kg 34,354 15 14 Ayam Ekor 3,457 1,093 48 Telur Konsumsi Kg 3,540,965 825 15 Itik Bibit Ekor 6,000 3 49 Telur Tetas Butir 15,948,689 330 16 Itik Potong Ekor 16,100 27 50 Sarang Burung Walet Kg 20 1 17 Burung Ekor 19,513 1,446 51 Daging Sapi Olah Kg 353,175 396 18 Anjing Ekor 231 165 52 Daging Ayam Olah Kg 940,361 484 19 Kucing Ekor 192 122 53 Daging Bebek Olah Kg 5,066 40 20 Musang Ekor 2 2 54 Daging Babi Olah Kg 40 1 21 Luw ak Ekor 1 1 55 Hasil Susu Olahan Kg 10,742 1 22 Kelinci Ekor 8,508 176 56 Keju Kg 49,867 58 23 Marmut Ekor 49 5 57 Youghurt Kg 24,594 67 24 Hamster Ekor 2,970 22 58 Mentega Kg 3,550 7 25 Tikus Putih Ekor 651 13 59 Butter Kg 7,093 25 26 Mencit Ekor 996 9 60 Es Krim Kg 67 2 27 Tupai Ekor 2 1 61 Cream Kg 10,544 4 28 Kadal Ekor 2 2 62 Semen Beku Kemasan 60 2 29 Ular Ekor 6 1 63 Vaksin Hew an Kemasan 42,645 406 30 Landak Mini Ekor 16 5 64 Obat Hew an Kemasan 80 16 31 Biaw ak Ekor 2 1 65 Serum Kemasan 4 4 32 Iguana Ekor 11 5 66 Pakan Hew an Kg 230 7 33 Ulat Hongkong Kg 5,270 89 Kesayangan
Pada Tabel 14. menunjukkan bahwa unggas merupakan MP HPHK yang frekwensinya paling banyak yang dimaksukkan ke Kalimantan Selatan sebesar 32,92%. Jenis unggas tersebut adalah burung (15,95%), ayam (12,05%) dan DOC (4,20%). Selain itu, pakan ternak merupakan media pembawa HKPHK yang frekwensinya paling banyak kedua yang dilalulintaskan ke wilayah kerja BKP Kelas I Banjarmasin, yakni sebesar 23,58%. Media pembawa HPHK ini seluruhnya dimasukkan ke Kalimantan Selatan melalui Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, dan daerah pengirimnya adalah BBKP Surabaya (99,67%) dan BBKP Makassar (0,33%). Pemasukan ruminansia besar menempati posisi ketiga yakni sebesar 12,36% yang terdiri dari sapi (10,74%) dan Kerbau (1,62%), dan daerah pengirimnya adalah SKP Kelas I Pare-Pare (38,53%), SKP Kelas I Sumbawa Besar (14,63%), BBKP Surabaya (9,72%), SKP Kelas II Bangkalan (7,76%), SKP Kelas II Mamuju (0,80%), dan BKP Kelas I Semarang (0,45%). Apabila didasarkan pada jumlah volume, pemasukan ruminansia besar paling banyak berasal dari SKP Kelas II Bangkalan (10.936 ekor dari 33.254 ekor total ruminansia besar yang masuk).
Pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap media pembawa HPHK baik hewan maupun produk hewan seperti daging ayam beku, daging sapi beku yang berasal dari dalam negeri dan eks-impor yang diantar-areakan. Tindakan pemeriksaan terhadap produk hewan ini merupakan salah satu bentuk pengawasan keamanan hayati hewani dan hasil pemeriksaannya masih merupakan data monitoring. Tindakan pemeriksaan terhadap hama penyakit hewan karantina dijelaskan pada kegiatan laboratorium karantina hewan.
Tindakan Pengasingan terhadap Media Pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina difokuskan pada Media Pembawa highly pathogenic avian influenza (HPAI), rabies, brucellosis, anthrax. Kegiatan pengasingan selain dilakukan di instalasi karantina hewan
(IKH) Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, juga dilakukan di tempat pemilik yang telah ditetapkan sebagai instalasi karantina hewan sementara (IKHS) baik untuk hewan maupun produk hewan. Komoditi hewan seperti ruminansia besar, unggas, telur tetas dan day old chick, sedangkan untuk anjing dan kucing yang merupakan Hewan Penular Rabies (HPR), pengasingan masih dilakukan di tempat pemilik dikarenakan frekuensi kedatangan yang meningkat, sehingga IKH yang dimiliki tidak dapat menampung HPR yang datang. Pertimbangan lain adalah bahwa HPR tersebut berasal dari daerah bebas rabies serta sudah dilengkapi dengan persyaratan tambahan lainnya seperti rekomendasi pemasukan/pengeluaran dari dinas peternakan atau yang membidangi kesehatan hewan dan sertifikat vaksinasi dari dokter hewan dari daerah asal.
Tindakan Pengamatan terhadap Media Pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina difokuskan pada Media Pembawa HPAI, HPR dan brucellosis. Tindakan pengamatan dilakukan di Instalasi Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dan di IKHS yang telah ditetapkan, terutama untuk pemasukan media pembawa brucellosis. Tindakan pengamatan terhadap komoditi eks-pemasukan/pemantuan daerah sebar HPHK telah dilakukan dengan baik setiap tahunnya sesuai instruksi Badan Karantina Pertanian.
Tindakan Pembebasan dilakukan pada komoditi wajib periksa karantina yang telah melalui tindakan pemerikasaan dan/atau pengasingan, pengamatan dan perlakuan, yang secara administratif, teknis dan ilmiah dapat diberikan sertifikat pembebasan, dalam hal teknis pasca pembebasan menjadi tanggung jawab instansi terkait yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan yang selama ini telah terjalin hubungan sangat baik terutama dengan Dinas Peternakan Propinsi Kalimanatan Selatan dan Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Wilayah V Banjarbaru.
3. Kegiatan Pengeluaran Antar Area
Kegiatan pengeluaran antar area komoditi wajib periksa karantina pada Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin yang dilakukan melalui Wilker Pelabuhan Trisakti, Bandara Syamsudin Noor, Batulicin dan Kotabaru telah berjalan dengan baik bahkan setiap tahunnya mengalami peningkatan, seperti yang terlihat pada gambar 8.
Gambar 8. Grafik Perbandingan Frekuensi Pengeluaran Antar Area Karantina Hewan Tahun 2012-2015
Berbeda dengan kegiatan pemasukan antar area, pengeluaran antar area MP HPHK lebih banyak melalui Wilker Bandara Syamsudin Noor, yakni sebesar 72,81 %, seperti terlihat pada gambar 9.
Gambar 9. Grafik Perbandingan Frekuensi Pengeluaran Antar Area Karantina Hewan per Wilayah Kerja Balai Karantina Pertanian
Pengeluaran MP HPHK antar area didominasi oleh kelompok jenis hewan dan kelompok bahan asal hewan seperti yang terlihat pada gambar 10 di bawah.
Gambar 10. Grafik Frekwensi Pengeluaran Antar Area Karantina Hewan Berdasarkan Kelompok Komoditi per Wilayah Kerja Tahun 2015
Data operasional pegeluaran antar area dapat dilihat pada Tabel. 11 di bawah, yang menunjukan bahwa Propinsi Kalimantan Selatan selain sebagai tujuan utama pemasukan hampir semua jenis komoditi, juga telah menjadi produsen beberapa komoditi, walaupun masih dalam jumlah yang sedikit.
Tabel 15. Data Operasional Pengeluaran Antar Area Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin Tahun 2015
500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 4,500 5,000 HWN BAH HBAH BL 644 248 0 0 4,749 1,730 0 94 1,390 1 0 0 149 21 0 1 FRE K WE N SI (K al i) BULAN
Wilker Pelabuhan Trisakti Wilker Bandara Syamsudin Noor Wilker Batulicin Wilker Kotabaru
Keterangan: HWN : Hewan, BAH: Bahan Asal Hewan, HBAH: Hasil Bahan Asal Hewan, BL: Benda Lain
NO NAMA MEDIA
PEMBAWA SATUAN VOLUME FREKWENSI NO
NAMA MEDIA
PEMBAWA SATUAN VOLUME FREKWENSI
1 Burung Ekor 40,551 5,126 20 Semut Jepang Kg 29 19
2 Ayam Ekor 2,253 1,050 21 Semut Rangrang Kg 10 2
3 Itik Ekor 1,030 16 22 Daging Itik Beku Kg 165 4
4 DOC Ekor 1,059,400 211 23 Daging Sapi Beku Kg 2 1
5 DOD Ekor 30,665 26 24 Daging Ayam Beku Kg 140,000 20
6 Kerbau Potong Ekor 44 15 25 Sarang Burung Kg 96,916 1,733
7 Sapi Potong Ekor 4 1 26 Telur Tetas Butir 5,181,230 65
8 Kucing Ekor 42 29 27 Madu Kg 10 1
9 Anjing Ekor 5 4 28 Kulit Sapi Lembar 33,224 51
10 Kelinci Ekor 3 1 29 Kulit Kerbau Lembar 412 5
11 Ular Ekor 628 357 30 Kulit Hew an Kecil Lembar 15,069 13
12 Lebah Madu Koloni 2 1 31 Tanduk Sapi Kg 2,234 6
13 Biaw ak Ekor 70 56 32 Tulang Sapi Kg 88,500 18
14 Landak Mini Ekor 18 3 33 Bulu Ayam Kg 198,610 83
15 Tokek Ekor 3 2 34 Obat Hew an Kemasan 4 4
16 Iguana Ekor 23 20 35 Serum Kemasan 34 16
17 Kadal Ekor 105 84 36 Vaksin Hew an Kemasan 864 39
18 Serangga Koloni 1 1 37 Semen Beku Kemasan 4 3
Berdasarkan Tabel 15, kelompok komoditi hewan berupa unggas merupakan MP HPHK yang paling banyak dikeluarkan (70,68%). Adapun jenis unggas tersebut adalah burung (56,35%), ayam (11,54%), DOC (2,32%), dan DOD (0,29%). Sedangkan dari kelompok bahan asal hewan adalah berupa sarang burung walet (19,05%). Peningkatan jumlah pengeluaran unggas yang signifikan ini, salah satunya disebabkan oleh adanya penerbitan Permentan No. 37/Permentan/OT.140/3/2014 tentang Tindakan Karantina Hewan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Unggas.
Tabel 16. Data Operasional Pengeluaran Antar Area Karantina Hewan Berdasarkan Daerah Tujuan Tahun 2015
Volume
(Ekor) Frek. Satuan Volume Frek. Satuan Volume Frek.
1 BBKP Soekarno Hatta 1,066,738 1,188 Kg 31,267 428 Kemasan 384 36
Butir 239,030 13 Koloni 2 1 Kg 18 7 2 BBKP Surabaya 7,164 1,048 Kg 355,409 1,131 Kemasan 67 4 Lembar 45,485 64 Kg 1 1 Butir 4,942,200 52 3 BBKP Tanjung Priok 8 4 Kg 119,000 17 Lembar 3,220 5 4 BBKP Makassar 4,098 319 Kg 1 1 Kemasan 379 12 Koloni 1 1 Kg 6 6
5 BKP Kelas I Semarang 2,366 1,401 Kg 13,429 184 Kemasan 1 1
Kg 68 11
6 BKP Kelas I Kupang 12 5
7 BKP Kelas I Jambi 6 5
8 BKP Kelas I Balikpapan 60 40 Kg 349 15 Kemasan 69 4
9 BKP Kelas I Bandar 25 21 Kg 7 1 Lampung 10 BKP Kelas I Batam 20 13 11 BKP Kelas I Pekanbaru 2,511 12 Kg 20 1 12 BKP Kelas I Pontianak 1,105 34 Kg 256 3 13 BKP Kelas I Manado 8,007 11 14 BKP Kelas I Palembang 21 16 Kg 697 7 15 BKP Kelas I Mataram 13,407 16 16 BKP Kelas I Padang 516 14 Kg 1 1 17 BKP Kelas I Batam Kg 168 11 18 BKP Kelas I Denpasar 32 19 19 BKP Kelas I Jayapura 1 1 20 BKP Kelas II Yogyakarta 24,305 1,716 Kg 417 15 21 BKP Kelas II Tarakan 58 27
22 BKP Kelas II Palangkaraya 4 3 Kemasan 1 1
23 BKP Kelas II Tarakan
24 BKP Kelas II Medan 551 21 Kg 5,337 48 Kemasan 1 1
25 BKP Kelas II Kendari 26 BKP Kelas II Palu 2 1 27 BKP Kelas II Gorontalo 1 1 28 BKP Kelas II Kendari 1 1 29 BKP Kelas II Pangkal Pinang 6 4 30 SKP Kelas I Pare-Pare 1,827 799
31 SKP Kelas I Bandung 1,839 155 Kg 30 3 Kemasan 4 3
Kg 1 1
32 SKP Kelas I Bengkulu 2 2
33 SKP Kelas I Samarinda
34 SKP Kelas I Banda Aceh 3 2 Kg 50 1
35 SKP Kelas I Ambon 2 1 36 SKP Kelas I Timika 5 4 37 SKP Kelas I Sumbawa Besarimika 45 23 38 SKP Kelas II Bangkalan 10 4 39 SKP Kelas II Ende 2 1 NO NAMA UPT
Seperti yang terlihat pada Tabel 16, pengeluaran antar area MP HPHK didominasi menuju Pulau Jawa terutama menuju BBKP Surabaya (25,49%), BBKP Soekarno Hatta (18,54%) dan BKP Kelas I Semarang (17, 70%).
4. Kegiatan Penahanan
Kegiatan penahanan pada tahun 2015 dilakukan pada media pembawa Highly Pathogenik avian Influenza (HPAI) yaitu Ayam (52 ekor, frekwensi 17 kali), burung (621 ekor, frekwensi 8 kali), telur ayam konsumsi (11.368 kg, frekwensi 1 kali). Selain itu juga terhadap media pembawa hewan penular rabies yaitu kucing (5 ekor, frekwensi 2 kali). Hewan percobaan yaitu kelinci (1 ekor, frekwensi 1 kali) dan marmut (2 ekor, frekwensi 1 kali), serta media pembawa lain yaitu pakan hewan kesayangan berupa ulat bambu (39 koli, frekwensi 3 kali).
5. Kegiatan Penolakan
Kegiatan penolakan dilakukan pada media pembawa Highly Pathogenik avian Influenza (HPAI) yaitu ayam (8 ekor, frekwensi 5 kali) dan burung (102 ekor, frekwensi 4 kali). Selain itu juga terhadap hewan penular rabies yaitu kucing (5 ekor, frekwensi 2 kali) dan media pembawa lain yaitu pakan hewan kesayangan berupa ulat bambu (31 koli, frekwensi 1 kali).
6. Kegiatan Pemusnahan
Kegiatan pemusnahan dilakukan pada media pembawa Highly Pathogenik avian Influenza (HPAI) yaitu ayam (44 ekor, frekwensi 12 kali), burung (7 ekor, frekwensi 3 kali) dan telur konsumsi (11.368 Kg, frekwensi 1 kali). Hewan percobaan yaitu kelinci (1 ekor, frekwensi 1 kali) dan marmut (2 ekor, frekwensi 1 kali)
7. Kegiatan Pemantauan dan Koleksi
Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK pada tahun 2015 didasarkan pada Surat Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 207/Kpts/OT.160/L/02/2015 tentang Pedoman Pemantauan Daerah Sebar Hama Penyakit Hewan Karantina Tahun 2015, pengumpulan informasi menggunakan kuisioner yang mencakup informasi data temuan gejala klinik, data hasil uji lab pasif, dan data surveillance dengan durasi waktu tahun 2014.
Pengambilan data dilakukan pada beberapa Kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tapin, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kota Baru, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan dan Balai Veteriner Banjarbaru.
Gambar 11. Peta Status dan Situasi HPHK Di Seluruh Kabupaten Tahun 2015
Banjarbaru dan dinas yang membawahi fungsi kesehatan hewan di kabupaten, maka untuk Wilayah Kalimantan Selatan teridentifikasi 11 penyakit HPHK Golongan II yaitu AI, ND, Brucellosis, BVD, IBR, Rabies, Scabies, Babesiosis, Theilerisosis, Trypanosomiasis, dan ORF.
8. Penggunaan Formulir
Formulir Dokumen Utama (KH-9 s/d KH-12) memperoleh distribusi dari Badan Karantina Pertanian, sedangkan untuk dokumen penunjang (KH-1 s.d. KH-8c) pengadaannya dilaksanakan oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sesuai kebutuhan terutama untuk kegiatan Antar area Masuk/Keluar.
Tabel 17. Rekapitulasi penggunaan formulir utama Karantina Hewan Tahun 2015
No. Jenis Form Saldo Awal Jumlah
Pemakaian Saldo Akhir 1 KH-9 10.418 6.439 3.979 2 KH-10 5.379 1.967 3.412 3 KH-11 1.330 81 1.249 4 KH-12 12.797 9.598 3.199