• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

4. Sektor Industri di Indonesia

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 menyebutkan bahwa industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.

Sejalan dengan itu pemerintah juga mencantumkan masih dalam undang-undang yang sama Pasal 91 bahwa kerja sama internasional di bidang industri ditujukan untuk:

a. Pembukaan akses dan pengembangan pasar internasional b. Pembukaan akses pada sumber daya industri

c. Pemanfaatan jaringan rantai suplai global sebagai sumber peningkatan produktivitas industri

d. Peningkatan investasi

Mengacu pada Lipczynski, et al. (2005), istilah ‗industri‘ mengacu pada sejumlah perusahaan yang memproduksi dan menjual sejumlah produk yang serupa, memanfaatkan teknologi yang serupa dan mungkin juga mengakses faktor produksi (input) dari pasar faktor produksi yang sama (Arsyad, 2014:4).

Kesulitan untuk menentukan batasan industri seringkali muncul dalam hal penentuan jenis perusahaan yang menghasilkan produk sejenis. Mengacu pada Clarkson dan Miller (1982), Gwin (2000) dan Lipczynski (2005), dalam praktiknya, permasalahan tersebut diatasi dengan pemanfaatan standar pengklasifikasian industri, seperti International Standard Industrial Classification (ISIC) yang dikenalkan di Inggris pada tahun 1948 (diperbaharui pada tahun 1980 dan 1982), Nomenclature Géneralé des Activités économiques dans les Communautés Européennes (NACE) yang diperkenalkan di Uni Eropa pada tahun 1992 atau North American Industrial Classification System (NAICS) yang awalnya diperkenalkan di negara-negara Amerika Utara.

25 Standar pengklasifikasian industri (Industri dalam konteks ini sebaiknya tidak diartikan secara sempit sebagai aktivitas mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi, namun lebih dilihat sebagai kumpulan produsen dengan aktivitas ekonomi yang relatif sama) di Indonesia didasarkan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), atau yang pada awal perkembangannya disebut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI). KBLI mengklasifikasikan seluruh kegiatan ekonomi menjadi beberapa lapangan usaha. Pendekatan KBLI menekankan pada pendekatan kegiatan, yaitu dengan melihat proses dari kegiatan ekonomi dalam menciptakan barang atau jasa dan pendekatan fungsi, yaitu dengan melihat fungsi pelaku ekonomi dalam menciptakan barang atau jasa (BPS, 2009). KBLI yang terkini adalah KBLI 2015. KBLI 2015 merupakan pembaharuan terkini dari kelima sistem klasifikasi lapangan usaha Indonesia sebelumnya (KLUI 1968, KLUI 1983, KLUI 1990, KLUI 1997, KBLI 2005 dan KBLI 2009 (Arsyad, 2014:4).

Menurut Pujialwanto (2014:225), terdapat dua sisi yang perlu diperhatikan dalam mengkaji sektor industri secara utuh yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Sisi penawaran diukur dari dua unsur:

a. Kondisi kemampuan ekonomi Indonesia atau Modal Dasar (Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, teknologi dan infrastruktur fisik)

b. Kondisi saat ini struktur industri manufaktur Indonesia (kemampuan organisasi, kontribusi sektor, produktivitas, internasionalisasi dan faktor klasifikasi)

Sedangkan sisi permintaan diukur dari dua unsur yaitu:

a. Tingkat pengembangan daya saing (posisi daya saing Indonesia dalam perdagangan dunia, struktur ekspor, spesialisasi ekspor dan penetrasi impor)

b. Lingkungan daya saing internasional (dinamisme ekspor, struktur persaingan di negara tujuan ekspor dan struktur pasar impor dunia)

Industri pengolahan adalah sebuah aktivitas ekonomi yang mengubah suatu barang dasar menjadi barang jadi ataupun barang setengah jadi dengan proses kimia, mekanis ataupun dengan tangan sehingga barang tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi. Jika dilihat hanya berdasarkan banyaknya

26 jumlah tenaga kerja tanpa memperhatikan apakah prosesnya melibatkan mesin tenaga atau tidak, dan tanpa melihat seberapa besar modal perusahaan, maka Badan Pusat Statistik (BPS) membagi industri pengolahan menjadi 4 golongan yaitu:

a. Industri Rumah Tangga (1-4 Orang) b. Industri Kecil (5-19 Orang)

c. Industri Sedang (20-99 Orang) d. Industri Besar (100 Orang atau lebih)

Masih mengutip dari BPS, bahwa kode baku lapangan usaha suatu perusahaan industri ditentukan berdasarkan produk utama yang dihasilkannya, yaitu komoditi yang dihasilkan dengan nilai terbesar. Adapun jika perusahaan tersebut memproduksi lebih dari 2 jenis komoditi dengan nilai yang sama besar, maka produksi utamanya dilihat dari komoditas dengan kuantitas terbesar yang dihasilkan.

Data ekspor penyusunannya menggunakan Klasifikasi Tarif Indonesia 2012 yang didasarkan atas Harmonized System (HS) merupakan pembaruan dari tahun 2007. Versi yang terakhir ini mengalami perubahan yang relatif besar dibanding sistem pengkodean versi sebelumnya. HS adalah standar internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan untuk pengklasifikasian produk perdagangan dan turunannya yang disusun oleh World Customs Organization (WCO). Tata penamaan pada HS terdiri atas enam digit, empat digit pertama yang disebut sebagai Pos WCO, yang berarti bahwa secara global semua HS di dunia memiliki barang yang sama pada pos ini. Kemudian 2 digit (digit kelima dan keenam) berikutnya disebut subpos WCO. Masing-masing negara-negara dapat memperluas penambahan penomoran HS untuk keperluannya. Untuk negara-negara di kawasan ASEAN, dikenal dengan subpos ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN), yaitu digit ketujuh dan kedelapan, sedangkan untuk kebijakan atas penambahan nomenklatur barang masing-masing negara ada pada digit kesembilan dan kesepuluh. HS 10 digit berdasarkan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012 (BTKI 2012) yang memuat 10.028 HS, kolom pertama memuat kode HS 10 digit dan deskripsinya, kolom kedua memuat nomor urut eksportir berdasarkan

27 alfabet, dan kolom ketiga memuat nama dan alamat 10 ekspotir dengan nilai ekspor terbesar selama tahun 2014, kolom keempat memuat alamat website atau e-mail dan telepon eksportir.

Penggolongan barang di dalam publikasi periode September 2017 ini menggunakan Klasifikasi Tarif Indonesia 2017 (BTKI-2017) yang didasarkan atas HS merupakan pembaruan dari tahun 2012. Versi yang terakhir ini mengalami perubahan yang relatif besar dibanding sistem pengkodean versi sebelumnya yaitu penggolongan barang dari 10 digit menjadi 8 digit serta perubahan pada penggolongan atau pengelompokan barang maupun pendefinisiannya.

Demi mengklasifikasikan segala aktivitas ekonomi yang begitu rinci dan semakin beragam agar memiliki keseragaman definisi dan konsep, maka dibuatlah suatu pengelompokan berupa Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015 yang diterbitkan dalam Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nomor 95 Tahun 2015. KBLI 2015 mengacu kepada Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) Rev. 4 yang diterbitkan oleh United Nations of Statistical Division (UNSD) Tahun 2008 hingga tingkatan 4 digit. Sedangkan pada tingkatan 5 digit, KBLI 2015 disesuaikan dengan kondisi aktivitas ekonomi di Indonesia.

Dokumen terkait