• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH HARGA, KURS, INFLASI DAN GDP TERHADAP EKSPOR INDUSTRI PULP DAN KERTAS DI INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENGARUH HARGA, KURS, INFLASI DAN GDP TERHADAP EKSPOR INDUSTRI PULP DAN KERTAS DI INDONESIA PERIODE"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH HARGA, KURS, INFLASI DAN GDP

TERHADAP EKSPOR INDUSTRI PULP DAN KERTAS DI

INDONESIA PERIODE 2006-2017

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Disusun oleh : Paracytha Gumilang NIM : 1113084000012

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ii

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Selasa, 9 Mei 2017 telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama mahasiswa :

1 Nama : Paracytha Gumilang

2 NIM : 1113084000012

3 Jurusan : Ekonomi Pembangunan

4 Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Harga, Kurs, Inflasi dan GDP Terhadap Ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia Periode 2006-2017

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan serta kemampuan yang bersangkutan selama proses Ujian Komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut di atas dinyatakan ―LULUS” dan diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Selasa 9 Mei 2017

1. Arief Fitrijanto, M.Si. NIP: 197111182005011003

2. Najwa Khairina, M.A.

NIP: 198711132018012001

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas Pribadi

Nama Lengkap : Paracytha Gumilang Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 23 Oktober 1995

Alamat : Jl. Masjid Al-Munir Gang Mawar RT 12 RW 02 No. 06 Kel. Makasar Kec. Makasar, Jakarta Timur Nomor Handphone : 085774791203

E-mail : [email protected]

Latar Belakang Keluarga

Anak Ke dan Dari : 2 dari 3 Bersaudara

Nama Ayah : Iwan Purnama, SE., M.M.

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 08 Agustus 1962 Nama Ibu : Verifiniwati, SE., M.M. Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 11 September 1964

Alamat : Jl. Masjid Al-Munir Gang Mawar RT 12 RW 02 No. 06 Kel. Makasar Kec. Makasar, Jakarta Timur

Pendidikan Formal

1. TK Islam PB Sudirman Jakarta Tahun 2000-2001

2. SD Negeri Makasar 09 Jakarta Tahun 2001-2002

2. SD Angkasa 3 Jakarta Tahun 2002-2007

3. SMP Pondok Pesantren Daarurrahmah Bogor Tahun 2007-2010

4. SMA Negeri 67 Jakarta Tahun 2010-2013

(7)

vii Pendidikan Non Formal

1. Madrasah Diniyah Takmiliyah AR-RIYADL Tahun 2005-2007 2. LBPP LIA Pengadegan English for Adult Tahun 2011-2012 3. Euro Management Program Beasiswa Bahasa Jerman Tahun 2017-2018

Pengalaman Organisasi

1. Anggota Muda KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Battuta) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Anggota LSO SEISDANCE (Saman Fakultas Ekonomi dan Bisnis) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Sekretaris Departemen Keagamaan HMJ Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2015)

4. Wakil Ketua Bidang Olahraga, Seni dan Kewirausahaan HMJ Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2016)

5. Bendahara Kelompok Kuliah Kerja Nyata di Desa Cikareo, Kabupaten Tangerang

6. Bendahara Konser Tahunan dan Pra Kompetisi 4th Asia Pacific Choir Games Paduan Suara Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7. Koordinator Acara Musyawarah Anggota Paduan Suara Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

8. Koordinator Kesekretariatan Pra TRAPARA (Training Paduan Suara) Paduan Suara Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Non Formal, Seminar dan Workshop

1. Pelatihan Karya Tulis Ilmiah HMJ Ekonomi Pembangunan, 2014 2. Company Visit Bank Indonesia, 2015

3. Company Visit Transparansi International, 2015

4. Seminar Anti Korupsi FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015 5. Seminar Badan Pemeriksa Keuangan, 2015

6. Microsoft Excel Training (Microsoft User Group Indonesia), 2015 7. Seminar Konvensi Diaspora, 2016

(8)

viii

ABSTRACT

The background of this research is motivated by the Pulp and Paper Industry which is one of Indonesia's leading industrial sectors. The problem of increasing competition in international trade, motivated this research to analyze the influence of several domestic and foreign factors on the export of the Indonesian Pulp and Paper Industry. The variables which was used in the model are export of Pulp and Paper Industry (Y), price (X1), exchange rate (X2), inflation (X3) and GDP (X4). The entire data which was used in this study is secondary data in the form of time series data from 2006-2017. Through multiple linear regression methods, it was found that price (X1) and exchange rate (X2) did not significantly affect the export of the Pulp and Paper Industry. While inflation (X3) and GDP (X4) positively and significantly affect the export of the Pulp and Paper Industry.

Keywords: Export of Pulp and Paper Industry, price, exchange rate, inflation and GDP

(9)

ix ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Industri Pulp dan Kertas yang menjadi salah satu sektor industri unggulan Indonesia. Masalah makin kerasnya persaingan pada perdagangan internasional, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beberapa faktor dari dalam maupun luar negeri, terhadap ekspor Industri Pulp Kertas Indonesia. Variabel yang digunakan dalam model penelitian ini adalah ekspor Industri Pulp dan Kertas (Y), harga (X1), kurs (X2), inflasi (X3) dan GDP (X4). Keseluruhan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data runtun waktu (time series) dari tahun 2006-2017. Melalui metode regresi linier berganda, ditemukan bahwa harga (X1) dan kurs (X2) tidak mempengaruhi ekspor Industri Pulp dan Kertas secara signifikan. Sementara inflasi (X3) dan GDP (X4) secara positif dan signifikan mempengaruhi ekspor Industri Pulp dan Kertas

(10)

x

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Segala puji dan syukur kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam atas seluruh nikmat, rahmat dan karunia-Nya yang tak pernah terputus, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan dan kebodohan menuju zaman yang terang benderang dan penuh ilmu pengetahuan. Penelitian yang berjudul Analisis Pengaruh Harga, Kurs, Inflasi dan GDP Terhadap Ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia Periode 2006-2017 ini ditujukan sebagai prasayarat untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di balik selesainya skripsi ini dengan baik, tentu tidak terlepas dari keterlibatan orang lain. Oleh karena itu, penulis hendak menyampaikan rasa terima kasih yang terdalam, atas segala bentuk bantuan dan dukungan berupa semangat dan doa selama proses studi penulis berlangsung. Secara khusus, penulis hendak berterima kasih kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Ayah Iwan Purnama dan Bunda Verifiniwati yang telah tulus dan ikhlas membimbing, mendidik dan memberikan segala yang terbaik demi anak-anaknya. Doa dan kasih sayang mereka selalu menjadi sumber kekuatan dan kelancaran penulis dalam menjalani kehidupan. Tidak ada alasan bagi penulis untuk tidak menghargai dan menghormati mereka. Tidak ada alasan untuk tidak berterima kasih dan mengabdi kepada mereka

2. Kedua saudara kandung penulis, Kakak Ginga Amirul Muizz dan Adik Nabila Mumtaz Gumintang yang selalu menjadi motivasi terbesar dalam hidup penulis. Not a day goes by that i don’t think of them and i wish the best for them like i wish for myself

(11)

xi

3. Bapak Dr. M. Arief Mufraini, Lc., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengenyam pendidikan di kampus kebanggaan ini

4. Bapak Arief Fitrijanto, M.Si selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekaligus dosen pembimbing akademik atas segala arahannya selama perjalanan studi sehingga seluruh kegiatan dapat penulis jalani dengan baik

5. Bapak Aizirman Djusan, Ph.D, M.Sc., Econ selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan keramahan dan kebaikan hatinya telah memberikan waktu serta ilmunya untuk membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga seluruh ilmu tersebut dapat bermanfaat kelak

6. Segenap jajaran Tenaga Pengajar di Jurusan Ekonomi Pembangunan yang telah menyampaikan banyak ilmu kepada penulis. Semoga ilmu tersebut dapat bermanfaat dengan baik di masa yang akan datang

7. Ciwi-ciwi Putri Indonesia; Anjeng Lestari, Rizki Oktaviani, Yunita Damayanti, Devina Aprilllia, Yunita, Retno Dea Gitawati, Mella Muliasari, Deya Ranita dan Indah Pertiwi Tanjung, yang telah mewarnai kehidupan penulis sejak awal menempuh perjalanan di masa perkuliahan. Canda tawa, juga berbagai pelajaran kehidupan, banyak penulis dapatkan dari lingkaran pertemanan yang serba unik dan ajaib ini. Semoga kelulusan tidak merenggangkan tali persahabatan kita

8. Seluruh teman-teman Jurusan Ekonomi Pembangunan angkatan 2013, terlebih kepada Dita Putri, Roro Atiqah, Oktaviani dan sisanya yang tidak dapat penulis cantumkan namanya satu persatu di sini, namun tidak mengurangi rasa sayang dan terima kasih penulis karena telah menjadi teman belajar dan bermain yang suportif dan menyenangkan

9. Didi Fardiansyah yang telah memberikan bantuan dalam berbagi ilmu dan sokongan penyemangat atas banyak hal

10. Sahabat terbaik penulis sejak masa putih abu-abu; Miftahul Hidayah Pratama, Dini Trijayati, Dian Meuthia Dini, Nur Ulfah Parassadita, Pramesratih Tri Prastiwi, dan Raden Anggin Marga yang menjadi sumber

(12)

xii

kebahagiaan penulis dengan segala kesederhanaan dan sifat rendah hati yang mereka miliki

11. Sahabat terbaik penulis sejak zaman perjuangan di pondok pesantren; Pramudhita Sulistyawati dan Tety Juwariyah yang tidak pernah jemu memantau perkembangan penulisan skripsi ini. Terima kasih telah menjadi tempat berbagi ternyaman untuk setiap fase perjalanan hidup penulis 12. Seluruh teman-teman anggota KKN AEROMOVEL yang telah

memberikan pengalaman tak ternilai selama tinggal bersama dan menjalankan berbagai aktivitas di desa

13. Segenap rekan kerja di Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan atas pengalaman berorganisasi yang begitu berharga

14. Seluruh kawan-kawan di Paduan Suara Mahasiswa UIN Jakarta, terutama kepada angkatan ANTARES yang telah mengajarkan arti perjuangan, kerja keras dan kebersamaan. Senang rasanya telah dipertemukan dan dapat menampilkan yang terbaik di setiap penampilan bersama kalian 15. Segenap kawan-kawan di SEISDANCE angkatan 2013 (Saman Fakultas

Ekonomi dan Bisnis) karena telah memberikan penulis kesempatan untuk bersama-sama belajar mengembangkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh penulis sebelumnya. Setiap penampilan dan lomba yang kita ikuti memberikan kenangan yang membekas di hati penulis

16. Seluruh kawan-kawan di KMPLHK RANITA, terutama kepada angkatan Brother in Arms yang kerap memberikan semangat di masa-masa sulit penulis. Tak lupa pula kepada Kak Fika Rakhmalinda, Kak Nurul Ulya, dan Kak Givela Nur Khaleda yang sempat menjadi teman satu kost yang seru dan meninggalkan banyak kenangan manis

17. Segenap pegawai di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam mengurus perihal administrasi, sehingga penulis mendapatkan kelancaran tanpa ada kendala yang berarti dalam menyelesaikan studi

18. Seluruh pegawai di bagian Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan Pusat Statistik dan

(13)

xiii

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, yang telah ramah dan kooperatif dalam memberikan berbagai akses data dan informasi kepada penulis

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan yang disebabkan terbatasnya pengalaman dan sumber daya dalam proses penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menghargai berbagai bentuk saran, masukan maupun kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan penelitian ini. Tak lupa penulis menyampaikan permohonan maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan, yang kiranya dapat menyinggung pihak tertentu. Akhir kata, penulis berharap agar penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 13 Januari 2019

(14)

xiv DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

ABSTRACT ... viii

ABSTRAK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR DIAGRAM ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 15

D. Manfaat Penelitian ... 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

A. Landasan Teori ... 17

1. Pengertian Perdagangan Internasional ... 17

2. Penyebab Perdagangan Internasional ... 17

a. Teori Pra Klasik (Merkantilisme) ... 18

b. Teori Klasik ... 19

c. Teori Modern Hecksher-Ohlin (H-O) ... 21

3. Ekspor ... 22

4. Sektor Industri di Indonesia ... 24

(15)

xv

a. Pengertian Industri Pulp dan Kertas ... 27

b. Perkembangan Industri Pulp dan Kertas ... 30

6. Harga ... 31 7. Kurs ... 31 8. Inflasi ... 33 9. GDP ... 34 B. Penelitian Terdahulu ... 37 C. Kerangka Berpikir ... 44 D. Hipotesis Penelitian ... 46

BAB III METODE PENELITIAN ... 47

A. Ruang Lingkup Penelitian ... 47

B. Metode Pengumpulan Data ... 48

C. Metode Analisis Data ... 48

1. Pemodelan Analisis ... 48

2. Uji Asumsi Klasik ... 49

a. Uji Normalitas... 49

b. Uji Heteroskedastisitas ... 51

c. Uji Multikolinearitas ... 52

d. Uji Autokorelasi ... 52

e. Uji Linearitas ... 54

D. Uji Statistik Model ... 54

1. Uji Koefisien Determinasi (R-Square) ... 55

2. Uji Signifikansi Individu (Uji Statistik t) ... 55

3. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ... 56

E. Operasional Variabel Penelitian ... 56

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 58

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 58

B. Penemuan dan Pembahasan ... 68

1. Deskriptif Perhitungan Data Mentah ... 68

a. Ekspor Industri Pulp dan Kertas ... 68

b. Harga ... 69

(16)

xvi

d. Inflasi ... 70

e. GDP ... 71

2. Uji Asumsi Klasik ... 71

a. Uji Autokorelasi ... 72 b. Uji Normalitas... 73 c. Uji Heteroskedastisitas ... 74 d. Uji Multikolinieritas ... 76 3. Uji R Square ... 76 4. Uji Hipotesis ... 77 a. Uji F ... 77 b. Uji t ... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 83

A. Kesimpulan ... 83

B. Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Nilai Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2006-2017

(Juta US$) ... 5

Tabel 1.2 Perkembangan Nilai (Juta US$) dan Kontribusi Terhadap Total Ekspor Nonmigas (%) Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2006-2017.... 6

Tabel 1.3 Sasaran Pembangunan Industri Tahun 2015-2035 ... 7

Tabel 2.1 Kategori Industri Pulp dan Kertas Berdasarkan KBLI 2015 ... 28

Tabel 2.2 Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 40

Tabel 3.1 Sumber Data Penelitian ... 47

Tabel 3.2 Pengambilan Keputusan Autokorelasi ... 53

Tabel 3.3 Ringkasan Definisi Operasional Variabel ... 57

Tabel 4.1 Pangsa Pasar Negara Tujuan Utama Ekspor Industri Pulp dan Kertas Kode HS 47 Tahun 2017 ... 67

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Data Ekspor Industri Pulp dan Kertas (US$) ... 69

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Data Harga (US$) ... 69

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Data Kurs (US$) ... 70

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Data Inflasi (%) ... 70

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Data GDP (US$) ... 71

Tabel 4.7 Hasil Run Test ... 72

Tabel 4.8 Hasil Uji Breusch-Godfrey... 73

Tabel 4.9 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov ... 73

Tabel 4.10 Hasil Uji Heteroskedastisitas Rank Order dari Spearman ... 74

Tabel 4.11 Hasil Uji Heteroskedastisitas Uji Glejser ... 75

Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolinieritas ... 76

Tabel 4.13 Hasil Kesesuaian Model... 77

Tabel 4.14 Hasil Uji F ... 77

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia ... 58 Gambar 4.2 Pohon Industri Pulp dan Kertas ... 62 Gambar 4.3 Potensi Ekspor Produk Kertas Sejumlah Negara Tahun 2017 ... 68

(19)

xix

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1.1 Tingkat Produksi dan Konsumsi Industri Kertas dan Papan Kertas

Dunia Tahun 2012-2017 ... 9

Diagram 1.2 Tingkat Permintaan Produk Kertas Dunia Tahun 2011-2017 ... 10

Diagram 1.3 Perkembangan Nilai Ekspor Pulp dan Kertas Indonesia ke Seluruh Dunia Tahun 2006-2017 (US$ Juta) ... 12

Diagram 2.1 Kerangka Berpikir ... 45

Diagram 3.1 Contoh Diagram Histogram ... 50

Diagram 3.2 Contoh Diagram Normal Probability P-P Plot ... 50

Diagram 4.1 Neraca Perdagangan Indonesia (US$ Miliar) ... 59

Diagram 4.2 Pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional (%) ... 60

Diagram 4.3 Distribusi Industri Terhadap Produk Domestik Bruto (%) ... 61

Diagram 4.4 Perkembangan Nilai Produksi Industri Pulp dan Kertas Indonesia (Rp Miliar) ... 63

Diagram 4.5 Perkembangan Nilai Investasi Pada Industri Pulp dan Kertas Indonesia (US$ Juta) ... 64

Diagram 4.6 Negara Tujuan Utama Ekspor Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2006-2017 (US$ Juta) ... 65

Diagram 4.7 Negara Eksportir Terbesar Dunia Dengan Kode HS 47 Tahun 2017 (US$ Juta) ... 66

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

HASIL UJI AUTOKORELASI MELALUI RUN TEST ... 91

HASIL UJI AUTOKORELASI MELALUI UJI BREUSCH-GODFREY ... 91

HASIL UJI NORMALITAS ... 92

HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS MELALUI RANK ORDER SPEARMAN ... 93

HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS MELALUI UJI GLEJSER ... 93

HASIL UJI MULTIKOLINIERITAS ... 94

HASIL UJI R SQUARE ... 95

HASIL UJI F ... 96

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Perdagangan internasional merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan dari suatu negara. Hal ini dikarenakan setiap negara mempunyai tingkat kebutuhan dan sumber daya yang berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa perdagangan internasional yang menggambarkan perdagangan antarnegara yang terjadi di dunia saat ini, merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap negara sebagai suatu kebijakan yang strategis dan solutif. Hal ini juga yang membuat berbagai negara saling terikat dan tergantung satu sama lain (interdependensi).

Kegiatan perdagangan internasional dapat berupa menjual barang ke negara lain (ekspor) atau membeli barang dari negara lain (impor) mulai dalam bentuk bahan baku hingga barang jadi. Selain memiliki implikasi penting sebagai penambah devisa negara, ekspor juga berfungsi sebagai pengenalan produk atau branding di pasar internasional, memperbesar ekspansi pasar, serta membuka lapangan kerja demi mengimbangi permintaan pasar luar negeri sebagai salah satu pemenuhan faktor dalam proses produksi. Begitu pula dengan impor yang juga memberikan manfaat berupa pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih belum dapat terpenuhi, baik dalam segi keterbatasan kuantitas maupun kualitas. Di samping itu, impor diperlukan pula demi menjaga kestabilan harga. Ketika ketersediaan barang dalam pasar domestik mengalami kelangkaan, yang selanjutnya akan menimbulkan potensi kenaikan harga, maka disinilah peran impor dibutuhkan untuk menurunkan dan mengimbangi harga dalam negeri. Kinerja kedua kegiatan perdagangan internasional ini dicerminkan dalam neraca pembayaran dari setiap negara. Neraca pembayaran ini merupakan salah satu indikator ekonomi penting dari suatu negara.

Perdagangan internasional mengarahkan setiap negara untuk bekerja sama dalam berbagai bentuk. Baik perdagangan internasional antara 2 negara (bilateral), lebih dari 2 negara (multilateral), negara-negara yang berada di

(22)

2 suatu wilayah yang sama (regional) maupun antarregional. Di era modern, bentuk-bentuk perdagangan internasional tersebut bertujuan untuk menghilangkan batas-batas wilayah negara secara geografis.

Selain dikarenakan perbedaan sumber daya yang dimiliki suatu negara, perdagangan internasional juga disebabkan oleh adanya perbedaan indikator ekonomi antarnegara. Seperti perbedaan harga, perbedaan produktivitas tenaga kerja antarnegara dan juga tingginya kebutuhan serta perbedaan selera masyarakat. Penyebab perdagangan internasional diungkapkan dalam teori absolute advantage dan comparative advantage. Absolute advantage menjelaskan penyebab perdagangan internasional dari sisi jumlah produksi yang dapat dibuat oleh suatu negara dalam kategori barang tertentu. Sementara comparative advantage menjelaskan penyebab perdagangan internasional dari sisi opportunity cost (Salvatore, 1994:3). Dalam teori tersebut, suatu negara berdagang dengan negara lain karena adanya perbedaan produktivitas dari tiap negara. Dalam teori ini juga perdagangan internasional mempertimbangkan berbagai jenis barang yang diproduksi oleh suatu negara dan efisiensi yang dihasilkan.

Selain dari sisi produksi, penyebab perdagangan internasional juga dikarenakan perbedaan factor endowment yang dimiliki sebuah negara, sebagaimana diungkapkan dalam teori modern Hecksher Ohlin. Hal tersebut mendorong negara untuk melakukan spesialisasi dan mengekspor barang yang telah memenuhi kebutuhan domestik, yang diproduksi dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan negara lain sehingga mampu mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi (Apridar, 2009:102). Factor endowment yang akan mempengaruhi tingkat produktivitas dapat berupa pasokan sumber daya alam, jumlah tenaga kerja usia produktif, tingkat penguasaan teknologi, hingga tingkat upah yang relatif rendah.

Selain factor endowment, perbedaan dalam biaya produksi di antaranya seperti perbedaan penggunaan tingkat teknologi, kurs valuta asing, hingga perbedaan dalam efisiensi penggunaan sumber daya turut menimbulkan adanya perdagangan (Ball, 2004:154). Negara dengan tingkat biaya produksi yang

(23)

3 relatif lebih rendah dibanding negara lain, akan berdaya saing tinggi sehingga mampu melakukan penetrasi ke dalam pangsa pasar internasional.

Dalam pelaksanaannya, sebagai negara berkembang yang telah membuka diri dan ikut andil dalam perdagangan internasional, kegiatan ekspor Indonesia dipengaruhi berbagai hal yang berasal dari eksternal maupun internal. Seperti tingkat harga dunia, nilai tukar (kurs), hingga indikator perekonomian suatu negara seperti inflasi dan GDP.

Gross Domestic Product (GDP) merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakatnya. Semakin meningkat kesejahteraan masyarakat, maka selanjutnya akan meningkatkan serta merangsang daya produksi masyarakatnya, sehingga akhirnya kemampuan untuk melakukan kegiatan ekspor pun semakin meningkat. Dapat dikatakan bahwa GDP mampu mempengaruhi ekspor secara positif.

Keadaan makro dalam negeri lainnya seperti inflasi, yang terjadi ketika tingginya harga-harga komoditi dalam perekonomian suatu negara, turut berpotensi memberikan pengaruh negatif. Ketika harga suatu komoditi yang ditawarkan di pasar internasional lebih tinggi dibandingkan komoditi dari negara lainnya, maka barang ataupun jasa tersebut akan mengalami penurunan daya saing serta sifat kompetitifnya sehingga ekspornya akan menurun. Selain itu, di sisi lain terdapat pula pengaruh positif dari inflasi yang tinggi. Kondisi ini terjadi ketika inflasi yang tinggi mendorong untuk dilakukannya pinjaman. Dengan pembayaran kembali utang pinjaman tersebut dengan nilai uang yang lebih rendah sebab tingginya inflasi, maka berarti jumlah modal yang dapat digunakan untuk melakukan ekspor pun bertambah. Hal ini akan meningkatkan ekspor pada akhirnya.

Dari segi eksternal, nilai tukar (kurs) dapat berpengaruh negatif saat nilai tukar mengalami pelemahan. Ketika terjadi depresiasi mata uang, maka ekspor cenderung akan bertambah sebab dalam pasar internasional nilai ekspor suatu negara menjadi lebih murah. Dari segi lainnya, kurs juga mampu memberikan pengaruh positif. Saat nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami penguatan, maka akan mendorong terjadinya peningkatan ekspor karena nilai jual yang tinggi sehingga akan semakin memberikan keuntungan bagi eksportir.

(24)

4 Faktor eksternal lainnya berupa tingkat harga. Jika permintaan kuantitas suatu komoditi melebihi tingkat penawarannya, maka harga komoditi tersebut akan naik, begitu pula sebaliknya. Sejalan dengan hukum permintaan, jika terjadi kenaikan harga, maka permintaan akan barang tersebut akan turun yang selanjutnya akan menyebabkan penurunan tingkat ekspor.

Perdagangan internasional tidak dapat dipisahkan dari kinerja sektor perindustrian di setiap negara. Industri yang dimaksud adalah berbagai aktivitas ekonomi yang diklasifikasikan ke dalam berbagai kategori International Standard of Industrial Classification (ISIC) yang dipublikasikan oleh United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) yang terdiri dari 99 kategori di antaranya manufaktur, pendidikan, akomodasi dan jasa makanan. Sementara berdasarkan ISIC dan SITC (Standard International Trade Classification) klasifikasi sektor manufaktur terbagi menjadi lima yaitu sumberdaya pertanian, sumber daya alam, karya, Padat-teknologi dan Padat-tenaga ahli (Arif dan Hill dalam Mari Pangestu dkk, 1996).

Dalam hal ekspor, Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir bahan mentah yang tinggi. Selama beberapa puluh tahun Indonesia mengekspor bahan mentah ke negara-negara maju, kemudian mengimpornya dalam keadaan sudah berbentuk barang jadi. Seiring dengan perbaikan ekonomi negara mitra dagang utama dan perbaikan harga komoditas, kinerja perdagangan internasional Indonesia pun terus menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan hasil publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2017 sebesar US$ 11,8 Miliar. Nilai tersebut bersumber dari surplus nonmigas sebesar US$ 20,4 Miliar dikurangi defisit migas US$ 8,5 Miliar. Kondisi neraca perdagangan ini jauh lebih baik dari tahun 2016 yang mencatat surplus sebesar US$ 9,5 Miliar. Surplus perdagangan 2017 meningkat 24,4% dari surplus tahun sebelumnya. Sementara surplus neraca perdagangan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan nilai sebesar US$ 39,7 Miliar. Sejak tahun 2006 hingga tahun 2017, neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami surplus, kecuali pada tahun 2012, 2013 dan 2014.

(25)

5 Jika dilihat peranannya, penyumbang total ekspor terbesar masih diperoleh dari ekspor nonmigas. Pada tahun 2017, ekspor nonmigas memegang peran hingga 90,7% dari total ekspor keseluruhan. Angka ini mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya, yang sekaligus menjadi kontribusi tertingginya yaitu sebesar 90,9% dari total ekspor keseluruhan pada tahun 2016. Pertumbuhan ekspor nonmigas di tahun 2017 tercatat sebesar 15,9%. Sedangkan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi terjadi pada tahun 2010 yakni hingga sebesar 33%. Rata-rata pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 5,6% per tahunnya pada periode 2006-2017. Hal ini menjadi indikasi bahwa sektor nonmigas masih menjadi sektor utama yang mendominasi total ekspor Indonesia. Ringkasan neraca perdagangan Indonesia disajikan pada Tabel 1.1 di bawah ini :

Tabel 1.1

Nilai Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2006-2017 (Juta US$)

Tahun Nonmigas Migas Jumlah

Ekspor Impor Ekspor Impor Ekspor Impor 2006 79.589,1 42.102,6 21.209,5 18.962,9 100.798,6 61.065,5 2007 92.012,3 52.540,6 22.088,6 21.932,8 114.100,9 74.473,4 2008 107.894,2 98.644,4 29.126,3 30.552,9 137.020,4 129.197,3 2009 97.491,7 77.848,5 19.018,3 18.980,7 116.510,0 96.829,2 2010 129.739,5 108.250,6 28.039,6 27.412,7 157.779,1 135.663,3 2011 162.019,6 136.734,1 41.477,0 40.701,5 203.496,6 177.435,6 2012 153.043,0 149.125,3 36.977,3 42.564,2 190.020,3 191.689,5 2013 149.918,8 141.362,3 32.633,0 45.266,4 182.551,8 186.628,7 2014 145.961,2 134.718,9 30.018,8 43.459,9 175.980,0 178.178,8 2015 131.791,9 118.081,6 18.574,4 24.613,2 150.366,3 142.694,8 2016 132.080,8 116.913,0 13.105,5 18.739,8 145.168,2 135.652,8 2017 153.083,9 132.669,5 15.744,3 24.316 168.828,2 156.985,6 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017 (diolah)

Jika dilihat lebih detail menurut sektor ekonomi, ekspor nonmigas dari hasil industri tercatat selalu memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan hasil sektor pertanian maupun hasil sektor tambang. Tahun 2017 menjadi tahun dengan nilai tertinggi hasil dari sektor industri selama periode 2006-2017. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 13,3% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan hasil dari sektor industri tertinggi tercatat pada tahun 2010 yang mencapai 33,4%. Rata-rata pertumbuhan nilai dari hasil sektor industri mencapai 5,4% per tahunnya.

(26)

6 Kontribusi hasil industri terhadap total ekspor nonmigas pada tahun 2017 adalah sebesar 80,24%. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang negatif dari kontribusi pada tahun sebelumnya sebesar 2,2%. Peran industri terhadap total ekspor nonmigas selama periode 2006-2017 cukup fluktuatif. Kendati demikian, peranannya terhadap total ekspor nonmigas selalu mendominasi jauh di atas peran hasil pertanian maupun hasil tambang. Peran dari hasil industri sempat mencapai titik tertingginya di tahun 2007 sebesar 83%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sektor industri masih menjadi sektor utama dari ekspor nonmigas dalam kurun waktu 12 tahun berturut-turut. Perkembangan berbagai sektor ekonomi dapat terlihat pada Tabel 1.2 berikut :

Tabel 1.2

Perkembangan Nilai (Juta US$) dan Kontribusi Terhadap Total Ekspor Nonmigas (%) Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2006-2017

Tahun Pertanian Industri Tambang

Hasil Peran Hasil Peran Hasil Peran 2006 3.364,9 4,23 65.023,9 81,70 11.191,5 14,06 2007 3.657,8 3,98 76.460,8 83,10 11.884,9 12,92 2008 4.584,6 4,25 88.393,5 81,93 14.906,2 13,82 2009 4.352,8 4,46 73.435,8 75,33 19.692,3 20,20 2010 5.001,9 3,86 98.015,1 75,55 26.712,6 20,59 2011 5.165,8 3,19 122.188,7 75,42 34.652,0 21,39 2012 5.569,2 3,64 116.125,1 75,88 31.329,9 20,47 2013 5.713,0 3,81 113.029,7 75,39 31.159,5 20,78 2014 5.770,6 3,95 117.329,6 80,38 22.850,3 15,66 2015 5.631,2 4,27 106.667,6 80,94 19.461,2 14,77 2016 5.465,8 4,14 108.373,3 82,05 18.171,5 13,76 2017 5.880,2 3,84 122.838,8 80,24 24.313,6 15,88 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017 (diolah)

Industri nasional diselenggarakan sebagai pilar dan penggerak perekonomian nasional (UU Nomor 3 Tahun 2014 dan PP No 14 Tahun 2015). Hal tersebut tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, yang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan merupakan pedoman bagi pemerintah serta pelaku industri dalam perencanaan dan pembangunan industri, dengan visi

(27)

7 Indonesia menjadi negara industri yang tangguh. Hal tersebut di antaranya bercirikan industri yang berdaya saing tinggi di tingkat global.

Sasaran Pembangunan Industri Nasional salah satunya yaitu meningkatnya penguasaan pasar dalam dan luar negeri dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal, serta meningkatkan ekspor produk industri. Jumlah serta persentase tenaga kerja dan nilai investasi pada sektor industri juga menjadi sasaran di tahun 2020 mendatang. Secara lebih rinci, sasaran pembangunan industri nasional tercantum dalam Tabel 1.3 di bawah ini :

Tabel 1.3

Sasaran Pembangunan Industri Tahun 2015-2035 No Indikator Pembangunan

Industri Satuan 2015 2020 2025 2035 1 Pertumbuhan sektor industri

nonmigas % 6,8 8,5 9,1 10,5

2 Kontribusi industri nonmigas

terhadap PDB % 21,2 24,9 27,4 30

3 Kontribusi ekspor produk industri

terhadap total ekspor % 67,3 69,8 73,5 78,4 4 Jumlah tenaga kerja di sektor

industri

Juta

Orang 15,5 18,5 21,7 29,2 5 Persentase tenaga kerja di sektor

industri terhadap total pekerja % 14,1 15,7 17,6 22 6

Rasio impor bahan baku sektor industri terhadap PDB sektor industri nonmigas

% 43,1 26,9 23 20 7 Nilai investasi sektor industri Rp

Triliun 270 618 1000 4150 8

Persentase nilai tambah sektor industri yang diciptakan di luar Pulau Jawa

% 27,7 29,9 33,9 40 Sumber : Kementerian Perindustrian, 2015

Pemerintah telah menetapkan kebijakan pembangunan industri nasional, yang ditujukan untuk memberikan arah baru bagi pengembangan industri nasional di masa datang dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghambat perkembangan industri saat ini (Depperin, 2005). Bangun industri masa depan tersebut adalah gambaran keadaan sektor industri yang sudah mapan. Sektor ini telah menjadi mesin penggerak utama (prime mover) perekonomian nasional, sekaligus tulang punggung ketahanan ekonomi

(28)

8 nasional. Sektor tersebut berbasis sumber daya nasional yang memiliki struktur keterkaitan dan kedalaman yang kuat, serta memiliki daya saing yang tangguh di pasar internasional.

Industri prioritas yang dicanangkan pemerintah dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional (KPIN) mencakup 32 industri prioritas. Salah satunya adalah Industri Pulp dan Kertas yang termasuk ke dalam kategori Basis Industri Manufaktur (Kuncoro, 2009:308). Industri Pulp dan Kertas menjadi salah satu prioritas pembangunan industri nasional, karena memegang peranan penting dalam kinerja perdagangan Indonesia. Hal ini patut diperhatikan, mengingat ekspor dari hasil Industri Pulp dan Kertas turut menyumbang devisa pada Indonesia.

Industri Pulp dan Kertas merupakan salah satu industri hasil hutan yang utama. Komoditi industri ini dimanfaatkan pada aktivitas kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari rumah tangga, pendidikan, perkantoran, industri, perdagangan dan lain-lain. Industri ini dihasilkan dari kekayaan alam Indonesia yang tidak banyak dimiliki negara lain pada umumnya, terutama hutan (sebagai sumber utama bahan baku) yang masih merupakan penggerak utama berkembangnya industri ini. Iklim tropis di Indonesia turut memungkinkan tanaman pada Hutan Tanaman Industri (HTI) tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan negara-negara subtropis.

Berbagai isu lingkungan tentang penggunaan kertas dan produk yang berbahan dasar kertas, disinyalir tidak memberikan dampak negatif terhadap produksi maupun konsumsi warga dunia akan komoditi ini. Kemajuan perkembangan teknologi dengan maraknya media alternatif yang memunculkan fenomena paperless dan berbagai inovasi terbaru untuk menggantikan posisi fungsional kertas, juga tidak berdampak signifikan. Hal ini disebabkan karena tanpa disadari, penggunaan kertas dan bahan dari kertas sudah menjadi gaya hidup masyarakat sehari-hari, dan masih banyak terdapat fungsi produk berbahan dasar pulp dan kertas yang masih tidak dapat digantikan oleh media digital secara utuh (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, 2014).

(29)

9 Sebagai contoh yaitu seperti penggunaan kertas dibandingkan dengan media elektronik, sebagai media yang lebih dianjurkan untuk membaca dan menulis bagi anak dengan umur di bawah tiga tahun. Selain itu, akses data tanpa harus memperhatikan kehadiran listrik dan virus dari penyakit teknologi, juga menyebabkan sejumlah dokumen penting seperti ijazah dan piagam masih dicetak di atas selembar kertas. Gelas sekali pakai yang terbuat dari kertas sebagai ganti dari gelas plastik, kertas tisu sebagai pembersih yang lebih efisien dibanding sapu tangan ataupun kain, serta penggunaan kardus sebagai media penyimpanan dan pengiriman barang juga tidak dapat tergantikan kehadirannya.

Semakin hari teknologi memang mengambil alih peran kertas pada beberapa aspek dalam kehidupan manusia. Kendati demikian, barang berbahan kertas masih mempunyai keunggulan yang belum tentu dimiliki oleh material lain. Harganya yang murah, akses yang mudah didapat, penggunaannya yang mudah dibentuk, serta dapat diuraikan oleh alam dengan lebih mudah, menjadikan hasil Industri Pulp dan Kertas masih terus dibutuhkan oleh masyarakat. Tingkat produksi sejak tahun 2013 dan tingkat konsumsi masyarakat dunia sejak tahun 2015 menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dan diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun-tahun mendatang. Hal ini dapat diamati pada Diagram 1.1 berikut ini :

Diagram 1.1

Tingkat Produksi dan Konsumsi Industri Kertas dan Papan Kertas Dunia Tahun 2012-2017

(30)

10 Industri Pulp dan Kertas merupakan salah satu industri besar dan menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi dunia. Jumlah permintaan beberapa produk kertas dunia di tahun 2011-2017, seperti wadah atau kemasan dari papan, sedikit demi sedikit menunjukkan peningkatan. Hal ini seiring dengan semakin mudahnya masyarakat mengakses internet, yang kemudian menjadikan penggunaan kertas kemasan untuk e-commerce dengan pengiriman ekspres pun meningkat. Hal tersebut dapat terlihat pada Diagram 1.2.

Tercatat pula bahwa permintaan kertas untuk mencetak dan menulis mengalami tren penyusutan meski tidak begitu drastis. Hal ini diakibatkan oleh semakin maraknya digitalisasi media di era modern ini. Sedangkan permintaan produk kertas berupa kertas koran menunjukkan pergerakan yang positif. Permintaan akan beberapa produk dari pulp dan kertas untuk jenis-jenis tertentu ada yang terus mengalami peningkatan dan tidak terpengaruh oleh pertumbuhan teknologi yang semakin berkembang.

Diagram 1.2

Tingkat Permintaan Produk Kertas Dunia Tahun 2011-2017

Sumber: PG Paper Company Ltd, 2018

Memiliki keunggulan komparatif, serta penguasaan bahan baku dan teknologi merupakan karakteristik dari Industri Pulp dan Kertas Indonesia. Di samping itu, Industri Pulp dan Kertas Indonesia berdaya saing tinggi yang ditunjukkan dari pertumbuhan ekspor dan kontribusi ekspor terhadap total ekspor dunia. Berbagai hal tersebut mengantarkan Industri Pulp dan Kertas masuk ke dalam salah satu pembangunan industri prioritas yang terpilih dari Industri Hulu Agro, untuk mencapai sasaran pembangunan industri nasional.

(31)

11 Berbagai kesepakatan dan kebijakan pemerintah, dalam rangka pengurangan hambatan perdagangan internasional, demi kelancaran bertransaksi pun telah dilakukan. Industri domestik pun berusaha untuk semakin kompetitif, tidak terkecuali Industri Pulp dan Kertas. Peningkatan penggunaan media online sebagai tanda memasuki era digital atau paperless, pada kenyataannya tidak menjadikan Industri Pulp dan Kertas mengalami pergantian peran yang berarti, dan juga tidak menghambat perkembangan industri ini.

Tingginya permintaan masyarakat dunia terhadap hasil Industri Pulp dan Kertas, serta kemampuan produksi industri domestik yang terus meningkat, mampu merangsang produsen untuk berekspansi dan menembus pasar global. Industri ini menempati urutan kesembilan untuk produsen pulp terbesar di dunia dan peringkat keenam untuk produsen kertas terbesar di dunia, dengan jumlah produksi pulp sebesar 4,55 Juta ton dan kertas sebesar 7,98 Juta ton (Kemenperin 2016).

Mengutip data dari BPS yang diolah oleh Kementerian Perdagangan, di tahun 2017 kinerja ekspor hasil Industri Pulp dan Kertas Indonesia tercatat sebesar US$ 6,2 Miliar dengan 150 negara tujuan ekspor. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 19,4% dari tahun sebelumnya.

Sejak tahun 2006 hingga 2008, ekspor Industri Pulp dan Kertas Indonesia terus mengalami peningkatan, sebelum akhirnya mengalami pertumbuhan terendahnya hingga mencapai -18% di tahun 2009. Namun di tahun berikutnya, kinerja ekspor langsung menunjukkan perbaikan dengan mencatat pertumbuhan tertingginya sebesar 31,9% pada tahun 2010.

Ekspor Industri Pulp dan Kertas mengalami penurunan secara berturut-turut sejak tahun 2013-2016, sebelum akhirnya menguat kembali di tahun 2017. Selama periode 2006-2017 total ekspor hasil Industri Pulp dan Kertas secara kumulatif telah mencapai US$ 66 Miliar, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,5% per tahunnya. Pada diagram juga terlihat bahwa pertumbuhan nilai ekspor Industri Pulp dan Kertas menunjukkan tren yang cukup fluktuatif. Kinerja perdagangan Industri Pulp dan Kertas dapat digambarkan melalui Diagram 1.3 di bawah ini :

(32)

12 Diagram 1.3

Perkembangan Nilai Ekspor Pulp dan Kertas Indonesia ke Seluruh Dunia Tahun 2006-2017 (US$ Juta)

Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah Kementeri Perdagangan), 2018 Kinerja produksi dan ekspor tersebut, turut serta melibatkan usaha produsen yang melakukan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi, agar mengejar tingkat efisiensi, demi mencapai tujuan sebagai produsen utama Industri Pulp dan Kertas dunia. Temuan dari survey Creative Data Make Investigation & Research (CDMI) pada tahun 2016 mengungkapkan, bahwa sejumlah produsen berinvestasi dengan jumlah yang tidak sedikit. Seperti APRIL Group yang menginvestasikan Paper Machine 3, sebesar Rp 4 Triliun demi meningkatkan kapasitas produksi sebanyak 250.000 ton per tahun. PT. Fajar Surya Wisesa mengalokasikan US$ 165 Juta untuk pembangunan pabrik kertas kedelapan di Bekasi yang memiliki kapasitas produksi sebesar 350.000 ton tiap tahunnya. PT. Kertas Basuki Rachmat kini telah merampungkan pembangunan Paper Machine 3 berkapasitas produksi sebesar 260.000 ton per tahun. Tidak dapat diabaikan pula, sebuah pabrik kertas yang sering disebut sebagai pabrik terbesar di Asia, PT. Asia Pulp and Paper (APP) yang mendirikan pabrik kertas baru di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan yang menyerap investasi sejumlah US$ 2,63 Miliar.

Menurut ringkasan kasar konsep industrialisasi Hartarto (2008), kebijakan industrialisasi menjelang 2020 di antaranya adalah industri berorientasi ekspor. Kemudian diperjelas dalam bukunya, Sutrisno (2008:212) menjelaskan bahwa Industri Pulp dan Kertas termasuk dalam 10 kelompok industri inti yang ada

(33)

13 dalam Kebijakan Industri Prioritas menurut Kebijakan Industri Indonesia tahun 2005.

Indonesia dianggap mampu bersaing di pasar internasional untuk sektor Industri Pulp (bubur kayu) dan Kertas. Keyakinan tersebut didasari karena Indonesia cukup memiliki keunggulan komparatif dari segi ketersediaan bahan baku yang melimpah berupa Hutan Tanaman Industri (HTI). Ditambah pula dengan proses produksi yang mampu dilakukan secara efisien dan pengelolaan hutan secara optimal dan berkesinambungan yang dapat turut mendukung daya saing Indonesia.

Paparan dari Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan (Dirjen BUK) dalam Workshop Satellite Account, yang dilansir dari Draft Buletin Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Edisi Mei-Agustus 2014, menjabarkan alokasi penggunaan hutan di Indonesia. Dari total luas hutan Indonesia yang mencapai 127,4 Juta hektar, 57% digunakan untuk hutan produksi (75,4 Juta hektar), 23% dialokasikan sebagai hutan lindung (30,3 Juta hektar), dan sisanya sebanyak 20% berupa hutan konservasi (21,7 Juta hektar). Sementara itu lokasi HTI sampai dengan tahun 2020 sebesar 1/10 dari total luas hutan produksi yaitu sebesar 8 Juta hektar.

Struktur biaya produksi pulp dan kertas di Indonesia yang termasuk ke dalam kategori bertarif rendah di dunia juga turut menunjang potensi ekspor komoditi ini. Hal ini karena biaya bahan baku, energi, input tambahan, Hak Pengusahaan Hutan (HPH), sanksi ekonomis lingkungan, hingga biaya tenaga kerja yang murah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, maupun negara produsen kertas lainnya di dunia (Laporan World Bank No.11737-IND, 25 Mei 1993).

Dengan pertumbuhan permintaan dunia yang tinggi tersebut, dan tingginya produksi pulp dan kertas di dalam negeri dengan biaya produksi yang relatif lebih murah, maka akan menarik manfaat dari economies of scale (Pangestu, 1996:275). Dengan semakin terbukanya persaingan di perdagangan internasional, maka penting bagi Indonesia untuk mempertahankan kinerja ekspor dengan memperhatikan berbagai faktor, baik dari eksternal maupun dalam negeri.

(34)

14 B. Rumusan Masalah

Perkembangan ekspor nonmigas dari hasil industri, tercatat terus mengalami peningkatan dan selalu memberikan kontribusi terbesar terhadap total ekspor keseluruhan selama beberapa tahun terakhir. Jika dikerucutkan lebih rinci, Indonesia memiliki Industri Pulp dan Kertas sebagai salah satu industri unggulan yang mampu bersaing dalam pasar global. Comparative advantage yang dimiliki oleh Industri Pulp dan Kertas, seperti ketersediaan bahan baku yang melimpah, proses produksi yang mampu dikelola dengan efisien, pengelolaan hutan yang optimal dan berkesinambungan, serta biaya produksinya yang relatif rendah, menunjukkan prospek cerah sebagai salah satu industri yang mampu menopang perekonomian negara.

Masalah makin kerasnya persaingan Industri Pulp dan Kertas dan perdagangan internasional pada umumnya, memberikan tantangan tersendiri yang membuat setiap negara harus mempertimbangkan faktor-faktor pendukung dari kinerja ekspor. Maka dari itu, penting untuk melihat sejauh mana kondisi makro ekonomi Indonesia, seperti inflasi dan GDP, dalam mempengaruhi kinerja ekspor pulp dan kertas. Serta melihat variabel perdagangan internasional, seperti harga dan kurs, sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan daya saing pulp dan kertas Indonesia di mata dunia.

Berdasarkan uraian di atas, oleh karena kinerja ekspor tidak dapat dilepaskan dari indikator-indikator perekonomian yang ada, seperti harga, kurs, inflasi dan GDP, maka penulis mengambil sejumlah indikator tersebut sebagai variabel independen (bebas) untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas sebagai variabel dependen (terikat). Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diutarakan, maka penulis terlebih dahulu mengemukakan permasalahan yang menjadi objek analisis penelitian. Rumusan masalah di atas kemudian penulis identifikasikan dengan kalimat di bawah ini:

(35)

15 1. Seberapa besar pengaruh harga terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas

di Indonesia?

2. Seberapa besar pengaruh kurs terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia?

3. Seberapa besar pengaruh inflasi terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia?

4. Seberapa besar pengaruh GDP terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia?

5. Seberapa besar pengaruh harga, kurs, inflasi dan GDP terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh harga terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia

2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh kurs terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia

3. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh inflasi terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia

4. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh GDP terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia

5. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh harga, kurs, inflasi dan GDP terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas di Indonesia

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Pemerintah

Penelitian ini merupakan syarat yang wajib bagi penulis dalam menyelesaikan studi, maka penulis mengadakan penelitian ini dan hasilnya diharapkan mampu memberikan informasi dan menambah wawasan bagi pihak-pihak terkait dengan permasalahan ekonomi dan pengambilan

(36)

kebijakan-16 kebijakan yang berkenaan mengenai kebijakan yang berpengaruh terhadap ekspor Industri Pulp dan Kertas.

2. Bagi Dunia Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan pemikiran atau studi banding bagi mahasiswa atau pihak yang akan melakukan penelitian yang sejenisnya.

3. Bagi Penulis

Sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menambah pengetahuan dan pengalaman penulis agar dapat mengembangkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(37)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Perdagangan Internasional

Ekonomi Internasional membahas hubungan ekonomi antarnegara di dunia. Hubungan tersebut menimbulkan saling ketergantungan (interdependensi) antarnegara satu dengan negara lainnya, dan merupakan hal yang sangat penting terhadap peningkatan kesejahteraan hidup hampir semua negara di dunia. (Salvatore, 1994:1).

Serupa dengan pengertian dari Purwito dan Indriani (2015:1), yang menyebutkan bahwa perdagangan internasional ialah sebuah perdagangan yang dilakukan antarwilayah, yang melintasi berbagai batasan negara. Perdagangan internasional juga bersifat interdependensi, dengan menerapkan sejumlah prinsip kerja sama yang telah disepakati, baik secara bilateral, regional, maupun perjanjian dalam sebuah organisasi global selaku anggotanya.

Sementara itu definisi menurut Samuelson (2003:350), mengartikan perdagangan internasional sebagai sebuah sistem yang melibatkan negara-negara dalam melakukan kegiatan ekspor impor barang ataupun jasa, untuk mengembangkan spesialisasi dan meningkatkan produktivitas. Perdagangan barang-barang dari suatu negeri, ke lain negeri di luar batas negara itulah yang kita maksudkan dengan perdagangan luar negeri (Amir, 2000:2).

2. Penyebab Perdagangan Internasional

Menurut Apridar (2009:75), terdapat sejumlah faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional di antaranya yaitu:

a. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri

b. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara

c. Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi

d. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlunya pasar baru untuk menjual produk tersebut

(38)

18 e. Adanya keterbatasan produksi dan perbedaan dengan negara lain seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk

f. Adanya kesamaan selera penduduk terhadap suatu barang

g. Keinginan menjalin kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.

h. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu pun negara di dunia ini yang dapat hidup sendiri (interdependensi)

Dalam pelaksanaannya, beberapa ekonom terkemuka mengkaji peranan perdagangan internasional yang dipraktikkan pada berbagai negara di dunia. Kemudian terciptalah sejumlah teori yang memberikan gambaran tentang aktivitas perdagangan internasional tersebut :

a. Teori Pra Klasik (Merkantilisme)

Menurut pandangan merkantilisme yang berkembang pada abad keenam belas sampai pertengahan abad kedelapan belas, kekayaan dan kekuasaan suatu negara dapat dilihat dari banyaknya surplus ekspor yang dimiliki. Mereka berpendapat bahwa seharusnya pemerintah lebih merangsang ekspor serta membatasi impor, yang ditambah pula dengan kepemilikan logam mulia berupa emas. Namun bukanlah suatu hal yang memungkinkan bahwa seluruh negara memiliki surplus ekspor di waktu yang bersamaan. Selain itu, jumlah emas yang ada pada suatu waktu adalah tetap. Sehingga negara hanya akan memperoleh keuntungan dari pengorbanan negara lain (Salvatore, 1994:2).

Aliran ini belum mengetahui konsep keunggulan komparatif. Terlihat dari konsep kesejahteraan yang dianut mazhab ini, yang berdasarkan kepada kekayaan dari banyaknya jumlah emas yang dimiliki suatu negara. Ide pokok Merkantilisme secara lebih rinci dalam Hady (2001:24) dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Suatu negara atau raja dianggap kuat dan makmur apabila nilai kegiatan ekspornya melebihi impor

2) Surplus perdagangan yang positif atau ekspor neto yang didapat dari selisih (X-M) tergambar pada pemasukan logam mulia (LM). Oleh

(39)

19 karena itu, semakin besar ekspor neto yang diperoleh suatu negara, maka LM yang didapat pun menjadi semakin banyak

3) Alat pembayaran di kala itu adalah berupa LM yang kemudian kerap digunakan untuk pembiayaan armada perang demi memperluas perdagangan luar negeri

Seiring perjalanannya, paham ini tidak terlepas dari kritikan sejumlah tokoh ekonomi, di antaranya adalah David Hume yang dikenal dengan ―Mekanisme Otomatis‖ dari Price Specie Flow Mechanism (PSFM) (Hady, 2001:25-26). Hume memiliki anggapan bahwa apabila LM yang digunakan sebagai alat pembayaran (uang) yang banyak beredar, maka artinya Money Supply (Ms) atau jumlah uang yang beredar banyak. Sedangkan jumlah emas sangatlah terbatas dan produksinya tidak berubah atau tetap. Dengan demikian, yang akan terjadi selanjutnya adalah inflasi dan kenaikan harga di dalam negeri, yang pada gilirannya akan menurunkan kuantitas ekspor dan menaikkan harga ekspor. Di sisi lain, hal ini akan menyebabkan peningkatan kuantitas impor dan harga barang impor menjadi lebih rendah. Maka, dapat diprediksi bahwa ekspor akan menjadi lebih kecil daripada impor. Sehingga akhirnya LM akan menurun atau berkurang. Berarti suatu negara atau raja akan menjadi miskin sebab LM diidentikkan dengan kesejahteraan dan kekayaan.

Berdasarkan Price Specie Flow Mechanism (PSFM), Adam Smith pun turut melontarkan kritikannya terhadap mazhab ini. Smith berpendapat bahwa ukuran kekayaan suatu negara bukan dilihat dari banyaknya LM yang dimiliki. Kritik inilah yang kemudian menjadi pelopor dari teori klasik, yang dikenal juga dengan Teori Keunggulan Absolut (Absolute Advantages).

b. Teori Klasik

Sejak beberapa abad yang lalu, sejumlah ahli ekonomi telah meneliti mengenai kontribusi perdagangan luar negeri dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi. Beberapa di antaranya yaitu Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill (Sukirno, 2006:120).

(40)

20 1) Adam Smith (Teori Absolute Advantage)

Menurut salah satu pandangan klasik, Adam Smith berpendapat bahwa perdagangan internasional merupakan kebijaksanaan yang baik karena setiap negara yang memiliki keunggulan absolut atau mutlak dapat memproduksi komoditinya hingga memperoleh tingkat efisiensi yang maksimal. Dengan begitu, dunia akan mengalami pertambahan produksi dari spesialisasi melalui perdagangan antarnegara (Salvatore, 1994:2).

Keunggulan mutlak atau absolut, dikenalkan oleh Smith sebagai suatu potensi negara dalam menghasilkan barang ataupun jasa per unit, dengan jumlah faktor input yang lebih sedikit dibanding negara lain. Dengan begitu barang atau jasa dapat dihasilkan dengan biaya yang lebih murah dan produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi, atau dengan kata lain lebih efisien dibanding di negara lainnya.

Keunggulan dari teori ini adalah dapat meningkatkan potensi kemakmuran suatu negara, dengan melakukan perdagangan bebas antar dua negara yang keduanya mempunyai keunggulan absolut yang berbeda, sehingga akan membangun interaksi ekspor impor. Di sisi lain, kekurangannya yakni ketika hanya terdapat satu negara yang memiliki keunggulan absolut, maka kegiatan interaksi tersebut tidak dapat terjadi. Hal ini karena tidak adanya potensi keuntungan yang akan didapatkan. Oleh karena itu, David Ricardo kemudian menyempurnakan teori ini.

2) David Ricardo (Teori Comparative Advantage)

Sementara menurut pandangan klasik lainnya, setelah melihat kelemahan pada teori Absolute Advantage oleh Adam Smith, maka David Ricardo mengutarakan teori Comparative Advantage yang membahas Cost Comparative Advantage (Labour Efficiency) dan Production Comparative (Labour Productivity). Smith berpendapat bahwa sekalipun suatu negara memiliki keunggulan absolut yang lebih kecil dibandingkan negara lain dalam memproduksi suatu komoditi tertentu, namun negara tersebut masih memiliki kesempatan untuk

(41)

21 melakukan perdagangan yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Hal itu dapat diperoleh jika negara yang kurang efisien tersebut berspesialisasi dengan cara memproduksi dan mengekspor komoditi yang mengalami kerugian absolut paling kecil (keunggulan komparatif) dan menukarkan sebagian dari outputnya untuk komoditi lain (Salvatore, 1994:3).

c. Teori Modern Hecksher-Ohlin (H-O)

Menurut teori modern dari ekonom Swedia, Eli Hecksher (1919) dan Bertil Ohlin (1933), perdagangan internasional disebabkan oleh adanya perbedaan opportunity cost antarnegara, yang dapat terjadi karena perbedaan produktivitas. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara (factor endowment). Maka selanjutnya yang akan terjadi adalah akan terjadi perbedaan harga barang yang dihasilkan. Nama lain teori tersebut juga dikenal dengan The Proportional Factor Theory. Negara-negara yang memiliki faktor produksi lebih melimpah maupun lebih murah, dapat melakukan spesialisasi dan mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang yang memiliki faktor produksi lebih langka ataupun relatif lebih mahal dalam memproduksinya di negara pengimpor (Apridar, 2009:102).

Sekalipun Teori H-O ini telah mampu menjelaskan mengenai perdagangan internasional yang belum terdapat pada teori-teori pendahulunya, namun Hady (2001:43) memaparkan beberapa kelemahan dalam asumsi-asumsi yang mendasari teori tersebut. Di antaranya yaitu apabila jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki tiap negara relatif sama, maka harga barang yang sejenis akan sama, sehingga tidak akan terjadi perdagangan internasional. Asumsi lainnya bahwa kedua negara memanfaatkan teknologi yang serupa dalam memproduksi, dapat dikatakan tidak valid. Pada kenyataannya, masing-masing negara kerap kali menggunakan teknologi yang tidak sama.

Perdagangan internasional yang ditambahkan menurut Ball (2004:154), timbul karena perbedaan harga-harga relatif di antara negara.

(42)

Perbedaan-22 perbedaan ini berasal dari perbedaan dalam biaya produksi, yang diakibatkan oleh:

1) Perbedaan-perbedaan dalam perolehan atas faktor produksi

2) Perbedaan-perbedaan dalam tingkat teknologi yang menentukan intensitas faktor yang digunakan

3) Perbedaan-perbedaan dalam efisiensi pemanfaatan faktor-faktor ini 4) Kurs valuta asing

3. Ekspor

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor No.13 Tahun 2012 Pasal 1 disebutkan bahwa “ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean. Sedangkan daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang mengenai kepabeanan”.

Mankiw (2006:25) menyebutkan bahwa ekspor merupakan barang serta jasa yang diproduksi di dalam negeri, yang kemudian dijual ke luar negeri. Menurut Pujialwanto (2014:188), ekspor terjadi karena sudah terpenuhinya kebutuhan barang dan jasa dalam negeri, atau karena barang dan jasa tersebut memiliki daya saing yang baik di pasar internasional. Kegiatan ekspor membawa banyak manfaat bagi masyarakat di antaranya:

a. Memperluas Pasar

Kegiatan ekspor dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk dalam negeri agar permintaan produk tersebut semakin meningkat yang akan diikuti dengan peningkatan pendapatan produsen.

b. Menambah Devisa Negara

Perdagangan internasional akan memungkinkan eksportir untuk menjual barangnya ke luar negeri yang kemudian hasil transaksinya akan menambah penerimaan devisa negara.

c. Memperluas Lapangan Kerja

Kegiatan ekspor akan meningkatkan kegiatan produksi dalam negeri yang membutuhkan tambahan tenaga kerja karena semakin luasnya pasar.

(43)

23 Sehingga lapangan kerja akan terbuka lebih luas dengan adanya perdagangan antarnegara.

Instrumen kebijakan perdagangan internasional di bidang ekspor menurut Apridar (2009:111), adalah sejumlah peraturan maupun tindakan pemerintah yang akan mempengaruhi komposisi, struktur, arah transaksi dan kelancaran usaha dalam rangka peningkatan devisa ekspor suatu negara. Kebijakan di bidang ekspor dikelompokkan sebagai berikut:

a. Kebijakan Ekspor di dalam Negeri

1) Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan, keringanan, pengembalian ataupun pengenaan pajak ekspor atau Pajak Ekspor Tambahan (PET) untuk barang-barang ekspor tertentu. Contoh: Pajak ekspor atas CPO

2) Fasilitas kredit perbankan yang murah untuk mendorong peningkatan ekspor barang-barang tertentu

3) Penetapan prosedur atau tata laksana ekspor yang relatif mudah 4) Pemberian subsidi ekspor, seperti pemberian sertifikat ekspor 5) Pembentukan asosiasi eksportir

6) Pembentukan kelembagaan seperti Bounded Warehouse (Kawasan Berikat Nusantara), Bounded Island Batam, Export Processing Zone, dan lain-lain

7) Larangan atau pembatasan ekspor, misalnya larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan b. Kebijakan Ekspor di luar Negeri

1) Pembentukan International Trade Promotion Centre (ITPC) di berbagai negara seperti Jepang (Tokyo), Eropa, AS, dan lain-lain 2) Pemanfaatan General System of Preferency (GSP), yaitu fasilitas

keringanan bea masuk yang diberikan negara-negara industri untuk barang manufaktur yang berasal dari negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sebagai salah satu hasil United Nation Conference on Trade Development (UNCTAD)

3) Menjadi anggota Commodity Association of Producer, seperti OPEC dan lain-lain

(44)

24 4) Menjadi anggota Commodity Agreement between Produce and Consumer, seperti International Coffee Organization (ICO), Multifibre Agreement (MFA), dan lain-lain

4. Sektor Industri di Indonesia

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 menyebutkan bahwa industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.

Sejalan dengan itu pemerintah juga mencantumkan masih dalam undang-undang yang sama Pasal 91 bahwa kerja sama internasional di bidang industri ditujukan untuk:

a. Pembukaan akses dan pengembangan pasar internasional b. Pembukaan akses pada sumber daya industri

c. Pemanfaatan jaringan rantai suplai global sebagai sumber peningkatan produktivitas industri

d. Peningkatan investasi

Mengacu pada Lipczynski, et al. (2005), istilah ‗industri‘ mengacu pada sejumlah perusahaan yang memproduksi dan menjual sejumlah produk yang serupa, memanfaatkan teknologi yang serupa dan mungkin juga mengakses faktor produksi (input) dari pasar faktor produksi yang sama (Arsyad, 2014:4).

Kesulitan untuk menentukan batasan industri seringkali muncul dalam hal penentuan jenis perusahaan yang menghasilkan produk sejenis. Mengacu pada Clarkson dan Miller (1982), Gwin (2000) dan Lipczynski (2005), dalam praktiknya, permasalahan tersebut diatasi dengan pemanfaatan standar pengklasifikasian industri, seperti International Standard Industrial Classification (ISIC) yang dikenalkan di Inggris pada tahun 1948 (diperbaharui pada tahun 1980 dan 1982), Nomenclature Géneralé des Activités économiques dans les Communautés Européennes (NACE) yang diperkenalkan di Uni Eropa pada tahun 1992 atau North American Industrial Classification System (NAICS) yang awalnya diperkenalkan di negara-negara Amerika Utara.

(45)

25 Standar pengklasifikasian industri (Industri dalam konteks ini sebaiknya tidak diartikan secara sempit sebagai aktivitas mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi, namun lebih dilihat sebagai kumpulan produsen dengan aktivitas ekonomi yang relatif sama) di Indonesia didasarkan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), atau yang pada awal perkembangannya disebut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI). KBLI mengklasifikasikan seluruh kegiatan ekonomi menjadi beberapa lapangan usaha. Pendekatan KBLI menekankan pada pendekatan kegiatan, yaitu dengan melihat proses dari kegiatan ekonomi dalam menciptakan barang atau jasa dan pendekatan fungsi, yaitu dengan melihat fungsi pelaku ekonomi dalam menciptakan barang atau jasa (BPS, 2009). KBLI yang terkini adalah KBLI 2015. KBLI 2015 merupakan pembaharuan terkini dari kelima sistem klasifikasi lapangan usaha Indonesia sebelumnya (KLUI 1968, KLUI 1983, KLUI 1990, KLUI 1997, KBLI 2005 dan KBLI 2009 (Arsyad, 2014:4).

Menurut Pujialwanto (2014:225), terdapat dua sisi yang perlu diperhatikan dalam mengkaji sektor industri secara utuh yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Sisi penawaran diukur dari dua unsur:

a. Kondisi kemampuan ekonomi Indonesia atau Modal Dasar (Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, teknologi dan infrastruktur fisik)

b. Kondisi saat ini struktur industri manufaktur Indonesia (kemampuan organisasi, kontribusi sektor, produktivitas, internasionalisasi dan faktor klasifikasi)

Sedangkan sisi permintaan diukur dari dua unsur yaitu:

a. Tingkat pengembangan daya saing (posisi daya saing Indonesia dalam perdagangan dunia, struktur ekspor, spesialisasi ekspor dan penetrasi impor)

b. Lingkungan daya saing internasional (dinamisme ekspor, struktur persaingan di negara tujuan ekspor dan struktur pasar impor dunia)

Industri pengolahan adalah sebuah aktivitas ekonomi yang mengubah suatu barang dasar menjadi barang jadi ataupun barang setengah jadi dengan proses kimia, mekanis ataupun dengan tangan sehingga barang tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi. Jika dilihat hanya berdasarkan banyaknya

Gambar

Gambar 4.1 Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia ......................................
Diagram 2.1  Kerangka Berpikir
Tabel 3.1  Sumber Data Penelitian
Tabel 4.7  Hasil Run Test
+4

Referensi

Dokumen terkait

MARSELLA PRISILIA. Bea Keluar Ekspor Kayu Log Indonesia untuk Optimalisasi Industri Pulp Indonesia. Dibimbing oleh SRI MULATSIH. Indonesia merupakan salah satu negara

Kinerja industri pulp dan kertas di Indonesia yang dicirikan dari tingkat keuntungan (PCM) dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan produksi, efisiensi internal, hambatan masuk pasar

Angka ini memenuhi kriteria yaitu 0 < ECT < 1 dengan kata lain Model ECM dalam penelitian ini dapat dipakai untuk menganalisis pengaruh variabel independen yaitu kurs,

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis daya saing dari komoditi pinang, minyak nabati, karet dan kertas Provinsi Jambi dan juga untuk menganalisis pengaruh Kurs dan harga

Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa secara simultan, kurs dan inflasi berpengaruh secara singnifikan terhadap nilai ekspor dan secara parsial kurs serta

Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. Eksplanasi hal ini adalah variabel Kurs Rupiah terhadap Dolar AS mempunyai hubungan negatif terhadap volume ekspor biji kakao

Pengaruh Inflasi, Kurs, dan Produk Domestik Bruto Secara Simultan Terhadap Ekspor Tembakau Di Indonesia Berdasarkan data sebelumnya, Variabel Inflasi X1, Kurs X2, dan PDB X3 secara

ANALISIS PENGARUH PRODUK DOMESTIK BRUTO DUNIA DAN TINGKAT KURS TERHADAP EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DI INDONESIA PERIODE 2007-2021 Monica Priskila Palumpun1, Tri Oldy Rontisulu2, Dennij