• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Hewan Coba

B. Sel Darah Putih (Leukosit)

Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh yang cepat bereaksi terhadap infeksi dan benda asing yang masuk dalah tubuh (Anonimus 2003). Leukosit terbagi atas dua golongan besar yaitu granuler (neutrofil, eosinofil, dan basofil) dan agranuler (limfosit dan monosit), dimana pembagiannya didasarkan pada ada atau tidaknya butiran dalam sitoplasma (Frandson 1992). Sebagian besar sel darah putih (granulosit, monosit) dibentuk di sumsum tulang dan sebagian lagi di jaringan limpa (limfosit) (Guyton 1996).

Leukosit mempunyai dua fungsi, yaitu menghancurkan agen penyerang dengan proses fagositosis dan membentuk antibodi (Guyton 1996). Ganong (2002) menyatakan bahwa dalam sistem fagosistosis dilakukan oleh sel fagosit mononuklear yang terdiri dari monosit dan makrofag dan sel-sel fagosit polimorfonuklear yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, dan basofil.

13

Menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) sel darah putih pada tikus normal adalah sebanyak 5,0-13,0 x 103 / mm3 dengan komposisi neutrofil 9-34%, limfosit 63-84%, eosinofil 0-6%, dan monosit 0-5%. Sementara menurut Malole dan Pramono (1989) sel darah putih pada tikus normal adalah 6-17 x 103 / mm3 dengan komposisi neutrofil 9-34%, eosinofil 0-6%, basofil 0-1,5%, limfosit 65-85%, dan monosit 0-5%.

1. Granulosit

Seperti namanya, granulosit merupakan sel darah putih yang mengandung granula di dalam sitoplasmanya dan memberikan warna dengan pewarnaan eosin (Frandson 1992). Terdapat tiga tipe granulosit yang diberi nama berdasarkan sifat reaksinya terhadap zat warna tertentu yaitu eosinofil (bersifat asidofil dan akan berwarna merah bila dilakukan pewarnaan eosin), basofil (bersifat basofil dan akan berwarna ungu atau biru bila dilakukan pewarnaan eosin) dan neutrofil (tidak bersifat asidofil maupun basofil, sehingga memberikan warna indiferen bila dilakukan pewarnaan eosin) (Dellmann dan Brown 1992).

a. Neutrofil

Neutrofil mempunyai diameter antara 10-15 µm dan mempunyai gelambir inti berjumlah 3-5 buah yang dihubungkan dengan kromatin. Jumlah gelambir akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur neutrofil tersebut (Gambar 5) (Hartono 1989). Neutrofil merupakan sel bulat yang berdiameter sekitar 12 µm dan memiliki sitoplasma yang bergranula halus serta pada bagian tengahnya terdapat nukleus bersegmen (Tizard 1988).

Gambar 5 Neutrofil (Doohan 1999).

Neutrofil merupakan sistem pertahanan seluler yang utama dalam tubuh untuk melawan bakteri, protozoa, dan jamur (Dellmann dan Brown 1992).

14

Neutrofil juga membantu penyembuhan luka dan memakan sisa-sisa benda asing. Pematangan neutrofil dalam sumsum tulang memerlukan waktu selama 2 minggu (Tizard, 1988). Setelah memasuki aliran darah, neutrofil mengikuti sirkulasi selama kurang lebih 6 jam, mencari organisme penyebab infeksi dan benda asing lainnya. Neutrofil akan pindah ke dalam jaringan, menempelkan dirinya kepada benda asing tersebut dan menghasilkan bahan racun yang membunuh dan mencerna benda asing tersebut (Frandson 1992).

Neutrofil memiliki gerakan amuboid dan aktif dalam memfagosit mikroorganisme serta aktif mempertahankan tubuh melawan infeksi seperti virus, bakteri dan parasit. Sel neutrofil memiliki sejumlah besar enzim lisosom yang berisi enzim proteolitik untuk mencerna bakteri dan bahan-bahan protein asing (Guyton 1996). Neutrofil memiliki fungsi fagositosis dan merupakan garis pertahanan pertama, bekerja secara cepat menyerang target (Tizard 1988). Neutrofil tertarik ke daerah invansi karena adanya berbagai faktor kemotaktik dari sel yang rusak (Swenson 1993). Jumlah neutrofil di dalam darah dipengaruhi oleh tingkat granulopoiesis (proses pembentukan granulosit), laju aliran sel darah dari sumsum tulang, masa hidupnya dalam sirkulasi darah, dan laju aliran sirkulasi darah menuju jaringan (Jain, 1993).

b. Eosinofil

Eosinofil dikenal dengan nama asidofil karena granula yang berwarna merah di dalam sitoplasma. Sel ini memiliki jumlah yang tidak banyak (Frandson 1992). Eosinofil memiliki jumlah sekitar 1-3 % dari total leukosit dan akan meningkat bila terjadi reaksi alergi, shock anafilaksis, infeksi parasit dan benda-benda asing (Ganong 2002) dan (Swenson 1993). Diameter eosinofil berkisar antara 10-15 µm dan memiliki gelambir inti dua sampai tiga. Gelambir inti bersifat asidofil dan berdiameter 0,5-1 µm (Gambar6) (Hartono 1989). Eosinofil berperan dalam pengaturan infeksi parasit, mengatur respon alergi dan inflamasi akut yang dapat memicu kerusakan jaringan, berperan dalam proses koagulasi dan fibrinolisis, dan dapat memfagosit benda asing (bakteri, antigen-antibodi komplek dan mikoplasma) (Hartono 1989) dan (Jain 1993).

15

Gambar 6 Eosinofil (Doohan 1999).

Eosinofil memiliki dua fungsi istimewa bila tubuh terinvasi parasit. Pertama, menyerang dan menghancurkan kutikula larva cacing. Kedua, dapat menetralkan faktor radang yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil dalam reaksi hipersensititas tipe 1 (Tizard 1988). Eosinofil dibentuk dalam sumsum tulang, bersifat sangat motil tetapi kurang fagositik. Eosinofil mempunyai sifat amoboid dan fagositik. Fungsi utamanya adalah untuk mentoksifikasi protein asing yang masuk ke dalam tubuh dan menetralisir racun yang dihasilkan oleh bakteri dan parasit (Frandson 1992).

Jumlah eosinofil sangat sedikit bahkan tidak ada pada beberapa hewan. Jumlahnya cenderung rendah pada saat stress, saat pelepasan kortikosteroid dan saat terjadi infeksi akut (Jain 1993).

c. Basofil

Basofil merupakan granulosit yang berdiameter 10-12 µ m, intinya bergelambir dua dan tidak teratur (Gambar7), jumlahnya basofil sekitar 0,5-1,5 % dari seluruh leukosit dalam aliran darah (Dellmann dan Brown 1992). Basofil dibentuk dalam sumsum tulang. Basofil dapat membangkitkan reaksi hipersensitifitas dengan sekresi mediator vasoaktif, sehingga dapat menyebabkan peradangan akut pada tempat antigen berada (Tizard 1988). Pada saat terjadi peradangan, basofil akan melepaskan histamin, bradikinin dan serotonin sehingga menyebabkan reaksi alergi pada jaringan (Rapaport 1987).

Sel basofil memiliki daya fagositik sangat rendah atau tidak ada sama sekali dan secara normal jumlah sel ini sangat sedikit dalam sirkulasi darah (Swenson 1993). Basofil melepaskan mediator untuk aktivitas perdarahan dan alergi (Dellmann dan Brown 1992). Butir-butiran mengandung heparin, histamin, asam hialuron, kondroitin sulfat, serotonin dan beberapa faktor kemotaktik. Heparin

16

berfungsi untuk mencegah pembekuan darah, sedangkan histamin berfungsi untuk menarik eosinofil (Tizard 1988).

Gambar 7 Basofil (Doohan 1999).

2. Agranulosit

Agranulosit adalah sel darah putih yang tidak memiliki granul sitoplasmik spesifik di dalam sitoplasmanya. Terdapat dua tipe agranulosit, yaitu limfosit dan monosit (Dellmann dan Brown 1992).

a. Limfosit

Limfosit adalah suatu jenis sel darah putih yang terlibat dalam sistem kekebalan pada vertebrata. Ada dua kategori limfosit, limfosit besar (limfosit yang belum matang) dan limfosit kecil. Diameter limfosit besar pada hewan berkisar antara 12-15 µm, mempunyai inti yang besar dan pucat sedangkan limfosit kecil berdiameter antara 6-9 µm, mempunyai inti yang besar dan berwarna kuat (Gambar 8) (Hartono 1989). Limfosit memiliki peran penting dan terpadu dalam sistem pertahanan tubuh. Limfosit dibentukdi sumsum tulang dan pada saat fetus dibentuk di hati dan limpa (Jain 1993). Sebagian limfosit dibentuk di dalam sumsum tulang dan sebagaian lagi dibentuk di dalam limphonodus, timus, dan limfa (Ganong 2002).

17

Limfosit dapat menghasilkan antibodi pada saat anak-anak dan jumlah antibodi tersebut akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Limfosit memiliki ukuran dan penampilan yang bervariasi dan mempunyai nukleus yang relatif besar yang dikelilingi oleh sejumlah sitoplasma agranulosit (Frandson 1992).

Populasi limfosit di dalam darah meliputi tiga tipe limfosit yaitu limfosit B (bergantung pada bursa), limfosit T (bergantung pada timus), dan non T, non-B atau disebut limfosit null (Ganong 2002). Limfosit T dan limfosit B mempunyai kemiripan antara satu sama lain dibawah mikroskop cahaya dan tidak mungkin untuk membedakannya berdasarkan morfologinya. Cara untuk membedakan antara limfosit B dan limfosit T yaitu dengan cara mengidentifikasi antigen permukaan selnya (Tizard 1988).

Cara mengidentifikasi antigen permukaan sel adalah dengan menginokulasikan sel timus pada suatu individu yang nantinya tubuh individu tersebut akan membuat antibodi anti-sel T. Kemudian antibodi tersebut diberi zat warna fluoresen. Setelah itu limfosit direndam dalam antibodi fluoresen tersebut lalu dibilas dan dilihat di mikroskop ultraviolet. Pada saat perendaman limfosit T akan mengikat antibodi fluoresen dan akan berbendar bila dilihat pada mikroskop ultraviolet (Tizard 1988).

Limfosit B lebih sedikit jumlahnya, hanya sekitar 10 sampai 12 % dan berperan pada kekebalan humoral. Limfosit T dan turunannya berperan pada kekebalan selular dan diperkirakan berjumlah 70-75 % dari seluruh limfosit di dalam darah (Ganong 2002). Pembentukan limfosit spesifik menjadi sel T terjadi di dalam timus, sel B diproduksi di sumsum tulang, limpa, dan limfonoduli dan dipengaruhi oleh interfon-Y (Jain 1993).

Fungsi utama limfosit adalah memproduksi antibodi atau sebagai sel efektor khusus dalam menanggapi antigen yang dibawa makrofag (Tizard 1988). Limfosit merupakan kunci utama sistem kekebalan yang mampu melawan agen asing. Limfosit mengahasilkan berbagai limfokin, salah satunya adalah migration inhibitor (faktor yang mencegah perpindahan makrofag). Zat lain yang dihasilkan oleh limfosit terstimulasi adalah faktor kemotaktik untuk makrofag, lymphocyte transforming substance, dan faktor penyebab peradangan (Delmmann dan Brown

18

1992). Limfosit dalam darah dipengaruhi oleh jumlah produksi, resirkulasi dan proses penghancuran limfosit (Jain 1993).

b. Monosit

Monosit merupakan leukosit agranulosit yang diproduksi oleh sumsum tulang, memiliki jumlah antara 3-8 % dari jumlah leukosit di dalam darah (Ganong 2002). Guyton (1996) menyatakan bahwa sel ini mempunyai jumlah sekitar 5 % dari total leukosit di dalam darah. Monosit memiliki sitoplasma lebih banyak dari limfosit, memiliki warna abu-abu pucat dan memiliki inti berbentuk lonjong seperti ginjal atau tapal kuda (Gambar 9) (Jain 1993).

Gambar 9 Monosit (Doohan 1999).

Monosit akan masuk ke dalam jaringan dan akan berubah menjadi makrofag (Tizard 1988). Monosit mempunyai sifat fagositik terhadap infeksi yang tidak terlalu akut seperti tuberkulosis (Frandson 1992). Monosit bersifat motil dan berpindah dengan pergerakan amoboid ke daerah yang mengalami infeksi kronis untuk terjadinya respon fagosit (Ganong 2002)

Monosit berperan penting dalam reaksi immunologi dengan cara membentuk protein dari suatu sistem komplemen dan mengeluarkan substansi yang mempengaruhi terjadinya proses peradangan kronik (Swenson 1993). Kontak yang dekat antara limfosit dan monosit diaktifkan oleh limfokin dari limfosit T (Ganong 2002). Monosit memiliki masa beredar yang singkat dalam sirkulasi darah, dengan sedikit kemampuan melawan bahan infeksius kemudian masuk ke dalam jaringan untuk menjadi makrofag jaringan (Guyton 1996).

C. Trombosit

Trombosit adalah bagian terkecil dari unsur selular sumsum tulang dan berperan penting dalam hemostasis dan pembekuan darah. Trombosit berasal dari sel multipotensial yang akan berubah menjadi megakarioblas bila terdapat

19

rangsangan trombosit (Mk-CSF [Megakaryocyte Colony Stimulating Faktor] ). Megakarioblas ini akan berubah menjadi megakariosit. Kemudian inti megakariosit mengalami pembelahan tetapi sel itu sendiri tidak mengalami pembelahan (endomitosis), kemudian sitoplasma sel akhirnya memisahkan diri menjadi sejumlah trombosit (Wilson dan Price 1995) proses tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 10 Trombosit (Doohan 1999).

Trombosit mempunyai diameter 1-4 µm dan berumur kira-kira sampai 10 hari. Sekitar sepertiga trombosit tubuh berada di dalam limpa dan sisanya berada di dalam sistem sirkulasi, berjumlah antara 150.000-400.000/mm3. Jika dilakukan pewarnaan eosin pada ulas darah, membran sel trombosit akan berwarna biru dan bagian granula akan berwarna ungu (Gambar 10) (Wilson dan Price 1995). Trombosit berperan penting dalam mengontrol pendarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler, trombosit akan mengumpul pada tempat cedera (Smeltzer dan Bare 2002).

Jumlah normal trombosit tikus adalah berkisar 500-1300 x 103/mm3 (Malole dan Pramono 1989). Menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) jumlah normal trombosit tikus adalah sekitar150-450 x 103/mm3.

Dokumen terkait