BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Selayang Pandang Desa Banti 1. Keaaadaan geografis
Desa Banti merupakan salah satu dari 15 desa di wilayah Kecamatan Baraka yang terletak ± 8 km kearah timur dari ibu kota Kecamatan Baraka ± 50 km dari kota Enrekang dan ± 470 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Dusun Ledan Desa Banti dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan darat ± 7-8 jam.
Untuk mengenal dan mengetahui dengan jelas wilayah Desa Banti, maka terlebih dahulu kita mempelajari keadaan geografis Desa Banti keadaan tersebut adalah kondisi yang meliputi tanah dan kekayaannya seperti, pegunungan, perkebunan, lahan sawah, tumbuh-tumbuhan, peternakan dan sebagainya.
Keadaan geografis Desa Banti adalah sebagai berikut: a. Luas wilayah
Luas wilayah desa banti adalah ± 7.5 km² membentang dari timur Kecamatan Baraka yang memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah seperti tanaman Padi, Bawang Merah, Lada, Tomat, Kol, Kopi, Cengkeh, Merica, Buah Salak dan sebagainya.
Desa Banti adalah daerah yang cukup subur sehingga tanaman apa saja dapat tumbuh subur dengan baik.
b. Batas wilayah.
Batas wilayah Desa Banti, dapat dilihat batas-batasnya sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Janggurara 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Perangian 3) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Parinding 4) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kadingeh 2. Keaadaan Demografis
a. Jumlah Penduduk
Penduduk merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan berhasil tidaknya pembangunan. Penduduk adalah sumber daya suatu daerah. menurut pengertian sehari-hari, penduduk adalah semua orang yang berdiam atau menetap pada suatu daerah misalnya di desa atau dikota. Jumlah penduduk Desa Banti 1.998 ribu jiwa dan 539 kk dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3 Rumah tangga (kk) Banyak penduduk (jiwa) Kepadatan (per km²) 539 1.998 200
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk Desa Banti Kecamatan Baraka Kab Enrekang sebanyak 1.998 orang yang terdiri dari 4 dusun yaitu Dusun Darrah, Tampaan, Ledan, dan Batu Sangbua.
b. Bahasa dan Agama
Bahasa sehari-hari penduduk Desa Banti adalah sebagian besar berbahasa duri, dimana bahasa duri ini termasuk dari salah satu bahasa daerah yang ada di Kabupaten Enrekang.
Mayoritas penduduk asli Desa Banti memeluk Agama Islam dan jika ada agama lain biasanya hanya kaum pendatang, untuk lebih jelasnya dapat lihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4
Keadaan Agama Masyarakat Desa Banti
No Agama Jumlah Jiwa Persentase
1 Islam 1.998 100% 2 Protestan 0 0% 3 Khatolik 0 0% 4 Hindu 0 0% 5 Budha 0 0% Jumlah 1.998 100%
Dari tabel tersebut pada 2 diatas, maka dapat diketahui bahwa semua penduduk Desa Banti Kec.Baraka Kab Enrekang adalah penganut Agama Islam.
Penduduk asli Enrekang seluruhnya beragama Islam. Penduduk wilayah ini menganut Agama Islam hingga sekarang dan belum dicampuri oleh penganut Agama lain, Seperti Protestan, Khatolik, Hindu atau Budha.
Hal ini di pahami bahwa sekalipun masyarakat Desa Banti pada umumnya menganut Agama Islam, namun penghayatan dan pengamalan syariat Islam masih dicampurkan dengan ajaran animisme atau kepercayaan leluhurnya yang telah diwarisi dari generasi kegenerasi. Hal tersebut tidak terlepas dari adat istiadat yang telah turun temurun dikalangan masyarakat.
c. Adat Istiadat Masyarakat Desa Banti
Tradisi atau adat istiadat adalah suatu nilai budaya yang sangat tinggi, yang merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam pikiran sebagai dari warga masyarakat dari apa yang mereka bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi terhadap kehidupan para warga masyarakat tersebut.
Dalam tiap masyarakat, baik kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan yang lain berkaitan hingga merupakan suatu system, dan system itu sebagai pedoman dari konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap kehidupan masyakat.
System nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dari adat istiadat. Hal tersebut disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep yang hidup dalam pikiran sebagian warga mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting
dalam hidup sebagai suatu pedoman yang memberi arah atau orientasi kepada kehidupan warganya.
System masyarakat mempunyai karakter tersendiri yang berbeda dengan karakter yang dimiliki masyarakat lain dalam hal nilai budaya yang merupakan pedoman atau pola tingkahlaku yang menuntun induvidu-individu yang bersangkutan dalam berbagai aktivitasnya sehari-hari. Perbedaan tersebut disebabkan oleh masyarakat dimana individu-individu tersebut bergaul dan berinteraksi.
Pada umumnya dalam suatu masyarakat apa bila ditemukan suatu tingkah laku yang efektif dalam menanggulangi suatu masalah hidup, maka tingkah laku tersebut cenderung diulangi setiap kali mengahadapi masaalah yang serupa. Kemudian orang mengkomunikasikan pola tingkah laku tersebut kepada individu-individu lain dalam kolektifnya, sehingga pola itu menjadi mantap, menjadi suatu adat yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat itu.
Masyarakat Desa Banti adalah selaku masyarakat yang memiliki nilai budaya yang tinggi, sehingga menjadi suatu tradisi yang turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya. Tradisi atau adat istiadat masyarakat Desa Banti sangat dihormati karena, ia dianggap bernilai, berharga, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi terhadap masyarakatnya. Kepatuhan dan ketekunan masyarakat Desa Banti terhadap adat istiadat, dapat dilihat dari beragam system adat istiadat yang sering dipraktekkan antar lain: adat istiadat
dalam perkawinan, adat istiadat dalam menyambut kelahiran bayi, adat istiadat menghadapi orang mati dan lain- lain.
d. Sarana dan Prasarana Pendidikan
Di Desa Banti hanya terdapat satu sekolah menengah atas yaitu Madrasah Aliyah Banti dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Banyak sekolah Sekolah Jumlah TK 2 buah SD (sederajat) 2 buah SMP (sederajat) 2 buah
SMA (sederajat) 1 buah
Untuk mengetahui keadaan tingkat pendidikan penduduk di Desa Banti, dapat diihat pada tabel berikut:
Tabel 6
Banyak penduduk, menurut tingkat pendidikan 2015
No Nomor Jumlah
1 Belum sekolah 213 orang
2 Usia 7-45 tahun tidak peranah sekolah 404 orang 3 Pernah sekolah SD tapi tidak tamat 286 orang
4 Tamat SD/ Sederajat 610 orang
6 SMA/ sederajat 191 orang 7 D2 21 Orang 8 D3 1 Orang 9 S1 30 Orang 10 S2 1 orang 11 S3 0 Orang Jumlah 1.998 Orang
Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Banti sudah tinggi. Rata-rata tingakat pendidikan mereka SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Namun bila kita perhatikan, jumlah lulusan SMP dan SMA lebih banyak menunjukkan adanya suatu indikasi bahwa para orang tua mulai menyadari pentingnya arti pendidikan untuk masa depan anak, sehingga mereka mulai berminat untuk menyekolahkan anaknya.
Paradigma yang berkembang dalam masyarakat Desa Banti adalah anak laki-laki harus ikut membantu ayahnya dikebun dan disawah. Sedangkan anak perempuan tugasnya hanya membantu ibu di dapur. Para remaja tidak perlu untuk sekolah tinggi- tinggi, asal sudah bisa baca tulis, itu telah cukup lebih lagi bila ia seorang perempuan, baginya mengasuh anak dan mengurus suami adalah hal yang paling utama tak perlu sekolah tinggi. para orang tua merasa malu jika anak gadisnya yang
sudah menginjak masa SMA belum menikah, mereka tidak pernah berfikir tentang masa depan anak mereka.
Paradigma tersebut diatas sudah mulai berubah dalam hal ini pola fikir orang tua sudah mulai berubah, bahwa pendidikan bagi anak sangat penting untuk masa depan anak.
Salah satu hal yang mempengaruhi tinggkat pendidikan, masyarakat Desa Banti adalah karena kurangnya sarana pendidikan di daerah tersebut. Madrasah Aliyah terdapat di Desa Banti hanya 1 buah. B. Persepsi masyarakat tentang Pesantren dan Madrasah
hubungannya dengan lapangan kerja di Dusun Ledan Desa Banti. Persepsi masyarakat tentang Pesantren dan Madrasah hubungannya dengan lapangan kerja menunjukkan perhatian masyarakat terhadap keberadaan lembaga tersebut. Dengan demikian berarti bahwa Pesantren dan Madrasah memiliki peran nilai strategis ditengah-tengah masyarakat. Sebagai bukti peneliti telah melakukan serangkaian penelusuran data-data ditengah masyarakat dari 26 responden dengan berbagai tingkatan yang berhasil diwawancarai terdapat diantaranya telah mengenyam pendidikan di Madrasah/ Pesantren. Lebih dari itu, dari hasil pengedaran angket dengan menggunakan teknik purposive sampel yakni pengambilan unsur sampel atau dasar tujuan tertentu, sehingga memenuhi keinginan dan kepentingan peneliti.
Sebagaimana dikemukakan oleh Marsani S Pd.I Salah seorang guru di MTSN Banti diwawancarai pada hari kamis, 2 Juli 2015 mengemukakan pendapatnya:
Ada kecenderungan masyarakat untuk memasukkan anaknya ke Pesantren dan Madrasah, karena alasan yang sederhana bahwa di Pesantren dan Madrasah disamping mengajarkan ilmu agama juga mengajarkan ilmu-ilmu umum, dengan kata lain masyarakat berharap bahwa dengan belajar di Pesantren dan Madrasah maka akan memiliki dua kemampuan pengetahuan yakni pengetahuan agama dan umum disamping keterampilan. Dan lebih dari itu alasannya sangat mendasar karena takut akan dampak negatif lingkungannya saat ini.
Sementara itu ada beberapa alasan mendatar dari masyarakat antara lain adalah karena adanya rasa simpatik dan penuh pengharapan, dimana biaya pendidikan yang cenderung murah, unggul dalam ilmu Agama dan senantiasa dapat menjanjikan lapangan kerja. Bahwa Pesantren dan Madrasah telah mendapat simpatik dari masyarakat dapat dilihat pada paparan data tabulasi angket dibawah ini:
Tabel 7
Frekuensi dan presentasi simpatik masyarakat tehadap Pesantren dan Madrasah hubungannya dengan lapangan kerja
No Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1 Sangat simpati 4 15,38%
3 Kurang Simpatik 0 0%
4 Tidak simpatik 0 0%
Jumlah 26 100%
Sumber data: hasil pengelola angket pada no 2
Berdasarkan hasil tabulasi data angket diatas dapat dipahami bahwa pada dasarnya masyarakat Desa Banti pada umumnya sangat simpati terhadap keberadaan Pesantren dan Madrasah. Rasa simpati inilah kemudian yang mendorong masyarakat untuk senantiasa memberikan perhatian dan dukungan yang mendalam terhadap keberadaan Pesantren dan Madrasah.
Berkaitan dengan tanggapan masyarakat terhadap jangkauan biaya di Pesantren dan Madrasah dari hasil penyebaran angket dan wawancara, masyarkat pada umumnya beranggapan bahwa biaya pendidikan pada Pesantren dan Madrasah biasa-biasa saja hanya sebagian kecil yang beranggapan bahwa biaya pendidikan pada Pesantren dan Madrasah itu mahal sebagai mana terungkap dalam wawancara peneliti berikut:
Sebagaimana pemaparan Ny. Hartia seorang ibu rumah tangga diwawancarai pada hari kamis, 2 Juli 2015 mengatakan bahwa:
saya telah mencoba memasukkan anak saya ke pondok pesantren, tapi hanya satu simester saja saya mimindahkan karena biaya pesantren mahal, saya tidak sanggup membayar biaya pendidikannya, lebih baik saya di sekolah negeri dekat rumah, lagian sekembalinya dari sekolah dapat membantu pakerjaan Ayahnya.
Pandangan tersebut diatas senantiasa terlontar dari kalangan masyrakat yang nota bene memiliki keterbatasan penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah. Dari pandangan mereka itulah kemudian, peneliti memahami bahwa latar belakang pendidikan, tingkat pendidikan dan latar belakang ekonomi seseorang turut mempengaruhi pikiran dan pandangan mereka terhadap Pesantren dan Madrasah.
Lebih dari itu, dapat dipahami pula bahwa ternyata kemudian sebagian masyarakat masih menjadikan biaya pendidikan sebagai pertimbangan utama dalam dalam menyekolahkan anak-anaknya pada suatu lembaga pendidikan. Ini dapat dilihat pada tabel tabulasi berikut ini:
Tabel 8
Frekuensi dan presentase tentang pertimbangan biaya pendidikan dalam melanjutkan pendidikan
No Jawaban Responden frekuensi Persentase
1 Sangat dipertimbangkan 3 11,53%
2 Kurang mempertimbangkan 3 11,53%
3 Tidak dipertimbangan 20 76,92%
Jumlah 26 100%
Sumber data: hasil pengelolaan angket, pada item no.6 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa masih terdapat 3 responden atau 11,53% yang menjadikan biaya pendidikan sebagai pertimbangan utama dan terdapat 3 responden atau 11,53% dari
responden yang kurang mempertimbangkan sedangkan 20 responden yang terakhir atau 76,92% dari responden yang ada tidak mempertimbangkannya.
Disamping biaya pendidikan yang menjadi salah satu indakator dalam mengukur pandangan masyarakat terhadap Pesantren dan Madrasah, juga masalah latar belakang pendidikan menjadi salah satu indikator sebagai mana terungkap dalam wawancara peneliti berikut:
“Saya pikir biaya pada sekolah Pesantren dan Madrasah tidak mahal karena saya juga alumni dari sekolah Pesantren dan Madrasah, biaya pendidikannya sama dengan sekolah-sekolah lain, yang terpenting adalah Pesantren dan Madrasah itu dapat memenuhi minat dan kebutuhan perkembangan zaman”.
Adapun peneliti dapatkan mengenai pertimbangan masyarakat menyekolahkan putra-putrinya di Pesantren dan Madrasah yakni sebagaimana pemaparan Sekertaris Desa Banti Sahril 2 Juli 2015 mengatakan bahwa:
Yang menjadi pertimbangan saya memasukkan anak-anak ke Pesantren dan Madrasah yaitu karena saat ini masih ada madrasah yang sekedar jalan tanpa memabawa bekal pengembang pribadi pada jenjang yang lebih tinggi atau bahkan dimasyarakat, selain dari itu biasanya kurang menjanjikan lapangan kerja.
Dari pernyataan diatas bahwa masalah biaya tidak menjadi pertimbangan utama dalam memasukkan putra-putrinya ke Pesantren dan Madrasah dan nampaknya mengedepankan kemampuan Pesantren dan Madrasah tersebut dalam menghasilkan alumni yang berkualitas dan mampu mewujudkan harapan peserta didik dan orang tuanya.
Adapun Tutur Wiraswasta Ny.Sri diwawancarai pada hari kamis, 2 Juli 2015yang beranggapan bahwa:
Pesantren dan Madrasah itu bagus karena dapat menghasilkan generasi-generasi yang beraklak baik maka dari itu” saya menyekolahkan anak saya di Pesantren dan Madrasah karena sebagaimana melihat di zaman sekarang ini moral pemuda kita sangat memprihatinkan, mengenai dalam hubungannya lapangan kerja saya fikir tidak terlalu saya pertimbangkan walaupun kelak anak saya menjadi pengusaha saya sudah sangat puas walaupun tidak ditakdirkan menjadi seorang PNS yang sangat diidam-idamkan banyak orang.
Menurut analisis peneliti, bahwa pendapat ini tampak lebih rasional dan lebih dipengaruhi oleh profesi orang tua. Orang tua yang lebih menginginkan anak-anaknya dapat menekuni pekerjaan yang menghasilkan imbalan.
Dari pandangan tersebut, dapat di pahmi bahwa ternyata kemudian bahwa pekerjaan dapat menjadi faktor yang cukup mempengaruhi pandangan seseorang tentang idealnya sebuah Pesantren dan Madrasah. Betapa tidak, bahwa seseorang yang bekerja sebagai pegawai, tentunya mengharapkan anak-anaknya kelak akan mengikuti jejak mereka.karena juga, akan mendorong untuk masuk di Pesantren yang cenderung menjanjikan lapangan kerja. Oleh karena itu, persepsi masyarakat yang perlu dikaji adalah bahwa ternyata hampir sebagian besar responden dalam dalam hal ini adalah masyarakat desa banti mengangap bahwa penyelenggara pendidikan yang dapat menjanjikan
lapangan pekerjaan.sebagaiman dibuktiakan oleh tabulasi angket berikut ini:
Tabel 9
Frekuensi dan persentasi Pesantren dan Madrasah menjanjikan lapangan kerja
No Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1 Sangat menjanjikan 20 76,92%
2 Kurang menjanjikan 6 23,07%
3 Tidak menjanjikan 0 0%
Jumlah 26 100%
Sumber data: hasil pengelolaan angket, pada item no 5
Dari hasil tabulasi diatas adalah, terdapat 20 responden atau 76,92% yang menganggap Pesantren dan Madrasah sangat menjanjikan lapangan pekerjaan, dan terdapat 6 responden atau 23,07% yang menganggap Pesantren dan Madrasah kurang menjanjikan pekerjaan. Pekerjaan kemudian adalah dari aspek atau indikator mana masyarakat menilai bahwa Pesantren dan Madrasah dapat menjanjikan pekerjaan? Ternyata jawaban dari pertanyaan ini cukup simpel dan sederhana untuk dipahami, sebagaimana uraian beberapa responden yang sempat diwawancarai peneliti sebagai berikut ini:
Sampai saat ini, tidak banyak alumni Pesantren dan Madrasah pada tingkatan Madrasah yang tidak memiliki pekerjaan, yang sepengetahuan saya hampir semua alumni Pesantren dan Madrasah
yang saya kenal memiliki pekerjaan minimal sebagai guru mengaji dikampung, dan alumni Pesantren dan Madrasah yang memiliki pekerjaan memiliki akhlak dan etika yang relatif dijadikan sebagai panutan di tengah masyarakat.
Senada dengan itu ridwan salah seorang anggota masyarakat Dusun Ledan diwawancarai pada hari kamis, 2 Juli 2015 memiliki pendapat yang sama bahwa:
Sangat banyak alumni dari Pesantren dan Madrasah cukup sukses sebagai pegawai, kontraktor, politikus, pengusaha sukses yang memang dari latar belakang Pesantren dan Madrasah.
Dari informasi yang terungkap diatas, Peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa, sebagian besar masyarakat masih menaruh perhatian dan simpati yang mendalam terhadap Pesantren dan Madrasah. Namun lebih dari itu, sebagian masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda dalam hal peran dan pentingnya Pesantren dan Madrasah. Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa pentingnya Pesantren dan Madrasah sangat ditentukan oleh kemampuan Pesantren dan Madrasah itu dalam mengelola dan memenuhi harapan akan ilmu pengetahuan dan pekerjaan.
Paling tidak faktor yang menyebabkan adanya perbedaan persepsi masyarakat tentang Pesantren dan Madrasah hubungannya dengan lapangan kerja adalah tingkat pendidikan, latar belakang pendidikan, ekonomi, dan pekerjaan. Keempat faktor itu, adalah latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang cukup menonjol. Sementara
faktor ekonomi meski selalu menjadi pertimbangan masyarakat, tetapi tidak dinilai sebagai pertimbangan mendasar, yang terpenting bagi mereka Pesantren dan Madrasah mampu mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang bermoral dan berguna bagi masyarakat.
C. Minat orang tua menyekolahkan anaknya di Pesantren dan