• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Headline Di Media Cetak 1. Pengertian Media Cetak

2. Semiotik Charles Sander Peirce

Peirce, ahli filsafat dan logika asal Amerika, memulai ketertarikannya pada tanda dengan kesadaran behwa logika harus mempelajari bagaimana orang lain bernalar, yaitu melalui tanda-tanda yang dapat dijadikan petunjuk.24

Sebuah tanda atau representamen, menurut Charles Sanders Peirce (1986: 5 & 6), adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu dinamakan sebagai interpretant dari tanda yang pertama pada gilirannya mengacu kepada objek. Dengan demikian, sebuah tanda atau representamen memiliki relasi triadik langsung dengan interpretant dan objeknya.25

Peirce membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu:

1. Ikon

Ikon adalah tanda yang mengandung kemiripan “rupa” (resemblance)

sebagaimana dapat dikenali oleh para pemakainya. Didalam ikon hubngan antara representamen dan objeknya terwujud sebagai “semaan dalam beberapa kualitas”.

Suatu peta atau lukisan misalnya, memiliki hubungan ikonik dengan objeknya sejauh antara keduanya terdapat keserupaan.26

24

Aart Van Zoest, Interpretasi dan Semiotika dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest, Serba-Serbi Semiotika (Jakarta: Gramedia, 1992), h. 1

25

Kris Budiman, Semiotika Visual,h. 17

26

2. Indeks

Berhubungan dengan kedekatan eksistensi. Misalnya, asap hitam tebal membubung menandai kebakaran, wajah yang muram menandai hati yang sedih, dan sebagainya.

3. Simbol

Proses pemaknaan tanda pada peirce mengikuti hubungan prosesual antara tiga titik, yaitu representamen [R] objek [O] interpretan [P]. [R] adalah bagian tanda yang dapat dipersepsi (secara fisik atau mental) yang merujuk pada sesuatu yang diwakili olehnya [O] . kemudian [I] adalah bagian dari proses yang menafsirkan hubungan [R] dengan [O]. Oleh karena itu, bagi Pierce tanda tidak hanya representatif tapi juga interpretatif. Pierce membedakan tiga jenis tanda, yakni, indeks, ikon, dan lambang.27

Dalam buku Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya karya Benny H. Hoed yang dikutip dari W. Noth, membedakan tiga jenis tanda dalam kaitannya dengan objek (hal yang dirujuk), yaitu indeks, ikon, dan lambang. Indeks adalah tanda yang hubungan representamen dengan objeknya bersifat langsung, bahkan didasari hubungan kontiguitas atau sebab akibat. Ikon adalah tanda yang representamennya berupa tiruan identitas objek yang dirujuknya. Lambang adalah tanda yang representamen dengan objeknya didasari konvensi.28

Pierce menandaskan bahwa kita hanya dapat berfikir dengan medium tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda. Peirce mengemukakan

27

Benny H Hoed, Semiotik dan Dinamika SosialBudaya (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), h. 46-47

28

teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (representament), object, dan interpretant. Yang dikupas teori segitiga adalah bagaimana muncul dari sebuah tanda digunakan orang pada waktu berkomunikasi.29

Menurut Peirce, tanda atau representament adalah “is something wich stands to

somebody for something in sone respect oe capacity”, atau sesuatu bagi seseorang yang mewakili „sesuatu yang lai‟ dalam beberapa hal. Sesuatu yang lain itu kemudian dinamakan sebagai objek. Mengacu disini dapat diartikan sebagai menggantikan atau mewakili. Tanda tersebut baru dapat berfungsi bila diinterpretasikan dalam benak penerima tanda melalui interpretan. Jadi interpretan adalan pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima makna. Ini beerarti sebuah tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahamannya terjadi berkat Graound,yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat.30

Dalam mengkaji tanda, model Peirce memiliki trikotomi atau elemen-elemen yang dapat dilihat sebagai berikut ini:

29

Rachmat Krisyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014, Analisis Semiotik Korupsi Terhadap Sampul Majalah Tempo Pada kasus Simulator SIM),h. 40

30

Tabel 2.1

Trikotomi Model Semiotik Peirce Kategoti/ Trikotomi Representamen/ Tanda Objek Interpretan Firstness Otonom atau Berdiri Sendiri Qualisign Suatu Kualitas Yang menampilkan Tanda Ikon

Suatu Tanda yang memiliki

kesamaan dengan objeknya

Rheme

Sebuah huruf yang berdiri sendiri yang tidak memperhatikan benar atau salah. Kata ya, tidak, benaratau salah tidak termasuk rema. Secondness Dihubungkan dengan realitas Sinsign

Sin: “hanya sekali”

peristiwa yang merupakan sebuah tanda Indeks Tanda yang mempunyai hubungan langsung (kausalitas) dengan objek Dicent Tanda eksistensi aktual, suatu tanda faktual (a sign of fact), yang biasanya berupa sebuah proporsi Thirdness Dihubungkan dengan aturan, konvensi atau kode Legisign Setiap tanda konvensional adalah legisign Simbol Terbentuk melalui konvensi atau kaidah Argument Tanda hukum yang memunculkan kecimpulan yang cendrung benar a. Trikotomi Pertama: Qualisign, Sinsign, Legisign

Dilihat dari sudut pandang representamen, Peirce membedakan tanda-tanda menjadi qualisign, sinsign, legisig. Bperbedaan ini berdasarkan hakikat tanda itu sendiri, entah sebagai sekedar kualitas, sebagai suatu eksistensi aktual, atau sebagai kaidah umum.

Pertama, qualisign, tanda yang berkaitan dengan kualitas, walaupun pada dasarnya tanda tersebut belum dapat menjadi tanda sebelum mewujud. Tanda ini biasanya berdiri sendiri dalam artian belum dikaitkan dengan tanda lainnya.

Kedua, sinsign, adalah suatu hal yang ada secara aktual yang berupa tanda tunggal. Ia hanya dapat menjadi tanda melalui kualitas-kualitannya sebagai melibatkat sebuah atau beberapa qualisign. Sinsign pada umumnya merupakan perwujudan dari qualisign.

Ketiga, legisign, adalah suatu hukum atau kaidah yang merupakan tanda. Setiap tanda konvensional kebahasaan adalah legisign. 31

b. Trikotomi Kedua: Ikon, Indeks, dan Simbol

Dipandang dari sisi hubungan representamen dengan objeknya, yakni

hubungan “menggantikan”, atau “the standing for” relation, tanda-tanda

diklasifikasikan menjadi ikon, indeks, simbol.

Pertama, ikon. Ikon adalah tanda yang didasarkan pada “keserupaan” atau “kemiripan” diantara representamen dengan objeknya. Ikon merupakan bentuk

tanda yang menyerupai objek dari tanda tersebut. 32

31

Kris Budiman, Semiotik Visual: Semiotika Visual: kKonsep,Isu, Dalam Problem Ikonisita, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta, 2013, Analisis Semiotik Kritik Sosial Dalam Kartun Bung Sentil Di Harian Umum Media Indonesia Edisi “Disapu Banjir),h. 20

32

Rachmat Krisyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014, Analisis Semiotik Kritik Sosial Dalam Kartun Bung Sentil Di Harian Umum Media Indonesia Edisi “Disapu Banjir),h. 20

Kedua, indeks. Indeks adalah yang memiliki keterkaitan fisik., eksistensial atau kausal di antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan. Indeks merupakan tanda yang mempunyai hubungan langsung dengan objeknya.33

Ketiga, simbol. Adalah tanda yang representamennya merujuk kepada objek tertentu tanpa motivasi. Simbol terbentuk melalui konvensi atau kaidah, tanpa adanya kaitan langsung antara representamen dan objeknya. Kebanyakan unsur leksikal di dalam kosakata suatu bahasa adalah simbol.34

c. Trikotomi Ketiga: Rema, Disen, Argumen

Pembagian terakhir yakni menurut hakikat interpretannya, Peirce membedakan tanda-tanda menjadi rema (rheme), tanda disen (dicent sign) dan argumen (argument).

Pertama¸ rema adalah suatu tanda kemungkinan kualitatif, yakni tanda apapun yang tidak betul dan tidak salah. Sebuah huruf atau fonem yang berdiri sendiri adalah rema, bahkan nyaris semua kata tunggal dari kelas kata apapun, entah kata kerja, kata benda, kata sifat dan lain sebagainya adalah rema.kecuali kaa ya dan tidak atau benar dan salah.

33

Kris Budiman, Semiotik Visual: Semiotika Visual: kKonsep,Isu, Dalam Problem Ikonisita, (Hidayatullah Jakarta, 2013, Analisis Semiotik Kritik Sosial Dalam Kartun Bung Sentil Di Harian Umum Media Indonesia Edisi “Disapu Banjir),h. 21

34

Rachmat Krisyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, ( Analisis Semiotik Kritik Sosial Dalam Kartun Bung Sentil Di Harian Umum Media Indonesia Edisi “Disapu Banjir),h. 22

Kedua, tanda disen atau dicentsign adalah tanda eksistensi aktual, suatu tanda faktual, yang biasanya berupa ungkapan yang dapat dipercaya, disangka, atau dibuktikan kebenarannya. Jadi tanda ini telah berupa pernyataan atau sesuatu sudah nyata maknanya.

Ketiga, argumen adalah tanda hukum atau kaidah yang didasari oleh prinsip yang mengarah kepada kesimpulan tertentu yang cenderung benar. Apabila tanda disen hanya menegaskan eksistensi sebuah objek, maka argumen mampu membuktikan kebenarannya.35

Dalam buku Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya karya Benny H. Hoed yang dikutip dari W. Noth, membedakan tiga jenis tanda dalam kaitannya dengan objek (hal yang dirujuk), yaitu indeks, ikon, dan lambang. Indeks adalah tanda yang hubungan representamen dengan objeknya bersifat langsung, bahkan didasari hubungan kontiguitas atau sebab akibat. Ikon adalah tanda yang representamennya berupa tiruan identitas objek yang dirujuknya. Lambang adalah tanda yang representamen dengan objeknya didasari konvensi.36

Peirce muncul dengan skeatik triadik, yakni graound, objek, dan iterpretan. Atas dasar hubungan ini, menggandakan klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan graound dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya, kata-kata kasar, keras, lembut, merdu.

35

Kris Budiman, Semiotik Visual: Semiotika Visual: Konsep,Isu, Dalam Problem Ikonisita, (Analisis Semiotik Kritik Sosial Dalam Kartun Bung Sentil Di Harian Umum Media Indonesia Edisi “Disapu Banjir),h. 23

36

Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristwa yang ada pada tanda, misalnya, kata kabur atau kerus yang ada pada kata urutan kata air, sungan keruh yang menandakan adanya hujan di hulu sungai. Legisign adalah norma yang terkandung oleh tanda, misalnya, rambu-rambu lalulintas yang menandakan adanya hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh manusia.37

Teori dari Peirce menjadi grand theory dalam semiotik. Gagasannya bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari semua sistem penandaan. Peirce ingin mengidentifikasi partikel dasar dari tanda dan menggabungkan kembali semua komponen dalam struktur tunggal.38

Inti dari pemikiran Peirce ini adalah semua yang ada di bumi ini terdiri atas tanda-tanda (sign). Ini merupakan pandangan dari pansemiotik tentang jagat raya kita. Berdasarkan objeknya, pierce membagi tanda atas ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah atau objeknya bersifat kemiripan. Misalnya, potret pada peta. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Misalnya, asam menandanya bahwa adanya api. Simbol adalah tanda

37

Christomy. T dan Untung Yuwono (ed), Semiotika Budaya, (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2004), h. 83-84

38

yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dengan petndanya. Hubungan ini berdasarkan perjanjian masyarakat.39