• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJ IAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teor i

2.1.8 Semiotika dan Semiologi Komunikasi

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusikan sistem terstruktur dari tanda (Sobur, 2003:15).

Kata “semiotika” itu sendiri berasala dari bahasa Yunani, semeion

yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsiran tanda”. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api. Semiotika modern mempunyai tokoh, yakni Ferdinand de Saussure dimana melalui tokoh tersebut muncullah cikal bakal linguistik umum. Ferdinand de Saussure memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda.

Menurut Littlejohn (1996:64) dalam Sobur (2001:15) tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan tanda-tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah

perangkat yang dipakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.

Pada dasarnya semiosis dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lima istilah:

Gambar 2.1, Semiotika (Sobur, 2003:17)

S adalah untuk semiotic relation (hubungan semiotik); s untuk sign

(tanda); i untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh (misalnya, suatu disposisi dalam i akan bereaksi dengan cara tertentu terhadap r pada kondisi-kondisi tertentu c karena s); r untuk reference

(rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi) dalam Sobur (2003:17). Saat ini dikenal tiga jenis semiotik, yaitu:

1. Semiotika komunikasi yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce lebih menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu di antaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi dan acuan.

2. Semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri

S ( s, i, e ,r , c )

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda.

3. Semiotika konotasi yang dikembangkan oleh Roland Barthes lebih menekankan lima kode yang ditinjau dan dieksplisitkan untuk menilai suatu naskah realitas. Lima kode yang ditinjau Barthes adalah kode

hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode

simbolik, kode proaretik (logika tindakan), dan kode gnomik yang membangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu.

2.1.9. Teor i Tanda Fer dinand de Saussur e

“Jika ada seseorang yang layak disebut sebagai pendiri linguistik modern, dialah sarjana dan tokoh besar asal Swiss: Ferdinand de Saussure”, kata John Lyons (1995:38) dalam Sobur (2003:43). Semiotika didefinisikan oleh Ferdinand de Saussure di dalam Course in General Linguistic sebagai “ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial” (Saussure, 1990:15 dalam Piliang, 2003:256). Implisit dalam definisi Saussure adalah prinsip, bahwa semiotika sangat menyadarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social code) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif (Piliang, 2003:256).

Sedikitnya ada lima pandangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme, yaitu pandangan tentang:

1. Signifiant (penanda) dan Signifie (petanda)

Yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni

signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). (Panuti Sudjiman, 1991:59)

Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda dari sebuah ide atau petanda. Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180) dalam Sobur (2003:46).

2. Form (bentuk) dan Content (isi)

Istilah form (bentuk) dan content (materi, isi) ini oleh Gleason (Pateda, 1994:35) diistilahkan dengan expression dan content, satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. Memang demikianlah wujudnya. Saussure membandingkan form dan content atau substance

itu dengan permainan catur. Dalam permainan catur, papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi, aturan-aturan permainannya. Jadi, bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan perbedaannya (Sobur, 2003:47).

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

3. Langue (bahasa) dan Parole (tuturan, ujar an)

Saussure membedakan tiga istilah dalam bahasa Prancis: langage,

langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran). Langange adalah suatu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan, namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. Singkatnya, langage

adalah bahasa pada umumnya. Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan

parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat, 1996:23).

Langue ini ada dalam benak orang, bukan hanya abstraksi-abstraksi saja. Langue adalah sesuatu yang berkadar individual dan juga sosial universal. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code) bahasa (Kleden-Probonegoro, 1998:107) dalam Sobur (2003:49-50).

Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode, maka parole adalah living speech, yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya “tidak disadari” oleh pengguna bahasa yang bersangkutan, maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Kalau unit dasar langue adalah kata, maka unit dasar

parole adalah kalimat. Kalau langue bersifat sinkronik dalam arti tanda

atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem, maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu pada saat terjadi pembicaraan (Sobur, 2003:51).

4. Synchronic (sinkr onik) dan Diachronic (diakr onik)

Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani khronos (waktu) dan dua awalan syn- dan dia- masing-masing berarti “bersama” dan “melalui”. Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalam linguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dan diakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarkan dengan membandingkan “deskriptif” dan “historis”).

Yang dimaksud dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang “keadaan tertentu bahasa tersebut (pada suatu “masa”) (Lyons, 1995:46). Bertens (2001:184) menyebut “sinkronis” sebagai “bertepatan menurut waktu”. Dengan demikian, linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Sedangkan, yang dimaksud dengan diakronis adalah “menelusuri waktu” (Bertens, 2001:184). Jadi, studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan sejarah (“melalui waktu”). Atau dengan kata lain, linguistik diakronis ialah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa (Sobur, 2003:53).

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

5. Syntagmatic (sintagmatik) dan Associative (par adigmatik)

Satu lagi struktur bahasa yang dibahas dalam konsepsi dasar Saussure tentang sistem pembedaan di antara tanda-tanda adalah mengenai syntagmatic dan associative (paradigmatic), atau antara sintagmatik dan paradigmatik. Hubungan-hubungan ini terdapat pada kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Sobur, 2003:54).

Sintagma menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah kumpulan tanda yang berurutan secara logis. Menunjuk hubungan suatu tanda dengan tanda-tanda lainnya, baik yang mendahului atau mengikutinya. Hubungan sintagmatik mengajak kita untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian. Kesadaran ini meliputi kedasaran logis, kausalitas atau sebab-akibat.

Sedangkan, paradigmatik bisa dikatakan memiliki hubungan yang saling menggantikan. Hubungan eksternal suatu tanda dengan tanda lain. Tanda lain yang bisa berhubungan secara paradigmatik adalah tanda-tanda satu kelas sistem.

Gambar 2.2, Diagram Semiotik Saussure

(http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori-semiotika-sebuah-pengantar/68/

Gambar 2.3 Model tanda linguistic Saussure (Atas) dengan contoh Saussure (Kanan). Konsep digambarkan oleh citra sebuah “pohon”; pencitraan

bunyi (“akuistik pencitraan”) oleh kata latin arbor (dalam buku Semiotik Winfried Noth (2006:60)

Dokumen terkait