• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semua Negara Harus Berkontribusi Secara Adil dan Proporsional

K

ita tak perlu berdebat lagi mengenai ada-tidaknya perubahan iklim yang melanda dunia akhir-akhir ini. Berbagai fakta telah menunjukkan, suhu udara di berbagai penjuru Bumi mengalami kenaikan sebagai salah satu pertanda adanya perubahan iklim.

Menurut kajian Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) misalnya, dalam periode 1990-2005 terjadi kenaikan suhu udara di seluruh dunia sebesar 0,15 – 0,3 oC. Secara kuantitatif, kenaikan itu boleh saja dibilang kecil, namun dampak dari fenomena tersebut, dunia dihantui berbagai kecemasan.

Apalagi jika umat manusia di seluruh dunia tak berdaya mengerem kenaikan suhu udara, maka pada tahun 2040 lapisan es baik di Antartika maupun Artik bakal habis meleleh. Sekitar 10 tahun kemudian, bila kenaikan suhu udara itu terus saja terjadi, maka penduduk bakal menderita krisis air tawar sehingga kelaparan akan meluas ke seluruh penjuru dunia.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang ditaburi keragaman hayati (biodiversity) terumbu karang yang berlimpah ruah, tentu saja paling menderita terpapar dampak perubahan iklim. Betapa tidak, suhu udara yang hangat akan meningkatkan suhu air laut. Praktis, pemanasan semacam ini membuat terumbu karang (coral reef) pucat (bleaching) tak berdaya.

Padahal kita tahu, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di muka Bumi, yakni sekitar 51.000 km2 atau 20 % dari luas total terumbu karang di seluruh dunia. Termasuk di antaranya kawasan segitiga terumbu karang

60

(coral triangle) yang dimiliki enam negara; Indonesia, Malaysia, Kepulauan Solomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Filipina.

Jadi, bisa dibayangkan kalau terumbu karang tersebut sekarat. Ikan, udang, dan aneka biota laut yang selama ini hidup bersimbiosis mutualisme akan ikut menghilang. Berbagai biota laut itu menjauh karena terumbu karang tersebut tak lagi memberi sumber kehidupan (pakan) dan tempat berlindung.

Kalau sudah begitu, masyarakat lokal bakal lebih sengsara lagi. Mereka tak dapat menangkap ikan dan aneka biota laut lainnya dengan mudah. Bahkan, biaya operasional untuk melaut tidak sebanding dengan hasil tangkapannya.

Hal itu diperparah lagi dengan adanya abrasi yang terus mengikis da-ratan pesisir mereka. Terumbu karang yang hancur memudahkan arus laut menggerus daratan. Energi itu berkeliaran bebas hingga menabrak garis pantai. Kalau sekarang saja abrasi banyak terjadi di sepanjang pantai utara Jawa, Bali, Kepulauan Riau, dan lain-lain maka kelak di kemudian hari se-rangan abrasi semakin meluas dan bertambah parah.

Apalagi dampak perubahan iklim juga akan diikuti naiknya permukaan air laut (sea level rise). Berdasarkan kajian yang pernah saya lakukan di beberapa kota Jakarta, Pekalongan, dan Semarang, terjadi kenaikan muka air laut yang bervariasi. Di Tanjungpriok misalnya, kenaikan muka air laut itu berkisar 6-10 mm per tahun.

Akibatnya, garis pantainya mundur dan menenggelamkan sebagian da-ratan. Jika saja tak ada upaya serius dalam mengerem laju kenaikan suhu udara, air laut itu menggenangi permukiman, jalan, tambak, dan sarana infrastruktur yang telah dibangun di bibir pantai.

Kenaikan muka laut juga memicu cuaca ekstrim; La Nina dan El Nino. Berbagai kajian menunjukkan, frekuensi La Nina dan El Nino yang jauh sebelumnya hanya terjadi selama 3 – 7 tahun sekali, namun sejak tahun 1970 meningkat menjadi 2 – 4 tahun sekali. La Nina atau cuaca super basah itu mengakibatkan banjir di berbagai daerah. Sedangkan El Nino adalah musim kering yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan banyak petani gagal panen.

Dari berbagai uraian tersebut jelas bahwa Indonesia mengalami kerentanan tinggi sebagai dampak dari perubahan iklim. Karena itulah perlu diterapkan strategi adaptasi dan mitigasi untuk menghadapi fenomena

Indikasi Terjadinya Pemanasan Global di Indonesia

61 yang sudah di ambang pintu.

Hal itu hanya bisa dilakukan jika seluruh masyarakat di seluruh dunia bersatu padu, bahu-membahu, bekerja sama, dan bersinergi untuk mengatasi persoalan yang sangat kompleks. Berbagai pendekatan berbasis kearifan lokal dan Iptek wajib dikerahkan guna menjawab tantangan tersebut.

Negara maju dan berkembang harus saling berbagi (sharing) kontribusi secara adil dan proporsional. Bukan malah sebaliknya, saling menuding dan mencari kesalahan pihak lain. Negara maju misalnya, yang selama ini mengemisikan CO2 dalam jumlah besar, harus rela mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebagai biang keladi terjadinya pemanasan global.

Begitu juga negara berkembang. Kawasan mangrove yang telah gundul harus dihijaukan kembali. Hutan pantai yang masih tersisa harus dipertah-an-kan. Segala upaya yang merusak terumbu karang (seperti penggunaan bom dan racun) juga perlu dilibas habis-habisan. Melalui strategi bersama seperti ini, niscaya kerusakan Bumi akibat perubahan iklim dapat dimini-malisir atau bahkan dihentikan.

62

Foto: Alek Suban

Gambar 7.10. Terjadinya banjir di Jakarta selain mengganggu transportasi juga menimbulkan

Indikasi Terjadinya Perubahan Iklim di Indonesia

63

BAB 6.

P

erubahan iklim terjadi secara global tetapi dampak yang dirasakan bervariasi secara lokal. Indikator utama perubahan iklim terdiri dari perubahan pola dan intensitas berbagai parameter iklim yaitu suhu, curah hujan, angin, kelembaban, tutupan awan, dan penguapan (evaporasi). Semua indikator tersebut bisa ditemukan di Indonesia meskipun ada yang sangat pasti (seperti suhu dan hujan) dan ada pula yang sangat tidak pasti (misalnya, perubahan penguapan). Salah satu kesulitan utama terbesar adalah ketersediaan data untuk mengetahui sebuah gejala perubahan iklim dalam rentang waktu yang lama.

Mengacu pada definisi baku IPCC yang menyebutkan perubahan iklim didasarkan oleh perubahan di atas 30 tahun, maka data-data yang tersedia saat ini banyak yang belum dapat memberikan gambaran perubahan yang memadai. Selain itu, beberapa variabilitas iklim juga berlangsung dalam periode relatif lama, di atas 20 tahunan sehingga tidak mudah untuk menjelaskan adanya perubahan iklim.

Namun demikian, setidaknya ada empat indikator yang dapat digunakan untuk menjelaskan adanya perubahan iklim di Indonesia. Berikut ini penjelasan dari ke-4 indikator tersebut.

6.1. Perubahan Suhu Daratan

Berbeda dengan suhu laut yang dapat dipakai sebagai indikator global, maka perubahan suhu daratan lebih menggambarkan perubahan situasi lokal

INDIKASI TERJADINYA