pada musim kemarau.”
139Upaya ketiga adalah memanfaatkan limbah ternak untuk pupuk. Limbah
ternak berupa feses, urine, dan sisa-sisa pakan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk yang berkualitas. Pupuk organik tersebut mampu menyuburkan tanaman budidaya.
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan limbah ternak sebagai bahan pupuk adalah:
a. Terjadi efisiensi karena dengan penggunaan pupuk dari limbah maka akan mengurangi penggunaan pupuk buatan yang harganya lebih mahal.
b. Dengan memanfaatkan limbah ternak untuk pupuk pada tanaman tebu maka terjadi efisiensi karena tidak perlu diangkut terlalu jauh dari kebun.
9.5. Upaya Mitigasi yang Dilakukan Kementerian Kelautan dan
Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melakukan berbagai upaya mitigasi perubahan iklim. Mitigasi tersebut dapat dilakukan dengan mene-rapkan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (bio fuel) sebagai pengganti bahan bakar fosil (fossil fuel), pena-naman vegetasi pantai dan lain sebagainya.
1. Pengembangan bahan bakar ramah lingkungan untuk kapal.
Pengembangan bio fuel (energi dari nabati) sebagai pengganti minyak Bumi akan memberikan kesempatan lebih besar untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Bio fuel adalah energi yang bersumber dari berbagai tanaman seperti kelapa, jarak, jagung, ubi kayu, tebu, dan lain sebagainya.
Pemanfaatan bahan bakar nabati ini dapat menurunkan emisi GRK. Dengan demikian, semakin banyak bio fuel yang digunakan di kapal-kapal nelayan maka emisi GRK tidak bertambah.
Di sisin lain, pengembangan energi terbarukan semacam ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, pendapatan masyarakat juga dapat meningkat.
2. Penamanan vegetasi pantai.
Penanaman vegetasi pantai seperti mangrove, ketapang, cemara, dan waru laut selain merupakan upaya adaptasi juga sekaligus upaya mitigasi. Disebut upaya adaptasi karena vegetasi tersebut melindungi kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim, seperti rob, banjir, dan erosi.
140
Di sisi lain, vegetasi tersebut juga dapat menyerap emisi karbon sehingga merupakan upaya mitigasi perubahan iklim. Berdasarkan penelitian Nyoto Santoso (2007), mangrove dalam kondisi baik di Batu Ampar, Kalimantan Barat mampu menyerap karbon sebesar 10,68 ton/ha/tahun.
Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan OISCA Jepang dan instansi terkait sejak tahun 2003 telah menanam sekitar 50.000 bibit mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Setahun berikutnya juga ditanam 20.000 bibit mangrove. Terakhir pada tahun 2005 ditanam lagi 25.000 bibit mangrove (Subandono D, Budiman, dan Firdaus A, 2009).
Penamanan vegetasi pantai (cemara dan waru laut) juga dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan di kawasan pesisir Pacitan, Jawa Timur. Penanaman vegetasi semacam ini selain dapat menyerap karbon, juga dapat melindungi kawasan di sekitarnya dari angin kencang dan tsunami.
Gambar 9.3. Penanaman vegetasi pantai dengan cemara (gambar kiri) dan waru laut (kanan)
merupakan upaya adaptasi sekaligus mitigasi terhadap perubahan iklim di kawasan pesisir.
Fot
o-fot
Manajemen Perubahan Iklim
141
BAB 10.
MANAJEMEN
PERUBAHAN IKLIM
P
erubahan iklim dan pemanasan global telah menyadarkan masyarakat dunia untuk mengelola berbagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Badan-badan baru di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun dibentuk untuk mengakomodasi berbagai keputusan strategis guna menghadapi perubahan iklim yang telah, sedang, dan akan terjadi.Di dalam negeri, manajemen perubahan iklim juga terus digencarkan. Lembaga-lembaga penelitian nonkementerian --seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)-- Kementerian Lingkugan Hidup, Bappenas, serta beberapa universitas dikerahkan untuk memperkuat kapasitasnya dalam hal basis ilmiah, mitigasi, dan adaptasi.
Di luar itu, pemerintah juga membentuk Dewan Nasional Perubahan Iklim untuk memperkuat kelembagaan yang sudah ada. Berbagai kelembagaan tersebut memiliki tanggung jawab sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing.
Semua upaya itu dikerahkan agar para pengambil keputusan dapat menghasilkan kebijakan nasional yang kuat dan tepat berbasis ilmiah, mitigasi, dan adaptasi guna menghadapi perubahan iklim.
10.1. Tinjauan Internasional
Pada tataran internasional, PBB membentuk dua badan yang mengurusi masalah perubahan iklim. Kedua badan tersebut adalah Inter-governmental
142
Panel on Climate Change (IPCC atau Panel Antarpemerintah tentang Perubahan
Iklim) dan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC atau Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim).
Menurut sejarahnya, terbentuknya IPCC dan UNFCCC mengacu pada pelaksanaan Konferensi Pertama Iklim Dunia (World Climate Conference atau WCC-1) pada 1979 dan WCC-2 pada 1990. Seperti diketahui, jauh sebelum WCC-1 digelar, penelitian dan peramalan iklim masih sangat minim. Hal ini menjadi salah satu penghambat penyampaian (diseminasi) informasi iklim kepada masyarakat luas.
Di sisi lain, banyak fenomena iklim –perubahan iklim global-- yang berpengaruh terhadap berbagai sektor seperti pertanian, infrastruktur, kesehatan, perikanan, sumber daya air, energi, wisata, dan kehutanan. Sayangnya, masyarakat dunia tidak memiliki informasi iklim yang memadai untuk menjelaskan fenomena perubahan iklim yang telah, sedang, dan akan terjadi.
Berdasarkan hal inilah maka pada 1979 diselenggarakan WCC-1. Pertemuan ini mempengaruhi pembentukan beberapa inisiatif saintifik internasional yang penting. Atas inisiatif dua organisasi PBB --World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Program (UNEP)-- membidani lahirnya IPCC.
IPCC bertugas menghasilkan kerangka saintifik untuk perubahan iklim yang dituangkan dalam Laporan Kajian IPCC (IPCC Assessment Report). IPCC mencatat prestasi gemilang pada tahun 2007. Ketika itu Laporan Kajian ke-4 (Assessment Report atau AR-4) mendapatkan hadiah bergengsi, Nobel untuk kategori Perdamaian.
Sebelumnya, WMO, International Council for Science (ICSU), dan Inter-governmental Oceanic Commission (IOC-Unesco) juga memprakarsai lahirnya World Climate Research Program (WCRP).
Usaha-usaha bertaraf internasional tak hanya berhenti di situ. Sukses menggelar WCC-1, pada 1990 diadakan WCC-2. Pertemuan tersebut menghasilkan banyak hal. Di antaranya terbentuk UNFCCC dan Global Climate Observing System (GCOS). Di samping itu, WCC-2 juga menghasilkan berbagai rekomendasi lanjutan untuk aktivitas WCRP.
Dalam perjalanannya, UNFCCC telah menghasilkan beberapa kesepakatan yang penting. Di antaranya Protokol Kyoto (1997), Nairobi Work Program (2006), Bali Action Plan (2007), dan Copenhagen Protocol (2009).
Manajemen Perubahan Iklim
143