Adaptasi Perubahan Iklim
123 Tabel 8.1. Daftar penyakit ternak yang diperkirakan berkaitan dengan
perubahan iklim dan perubahan lingkungan.
No. Nama Penyakit Perubahan Iklim
Perubahan Lingkungan
1.
Penyakit yang ditularkan melalui vector:
a. Bluetongue b. West Nile c. Rift Valley Fever d. African Horse Sickness e. Lumpy Skin Disease f. Leishmaniasis
g. Epizootic Hameorraghic Diseases
√ √ √ √ √ √ √ √ X X X X √ X
2. Penyakit yang ditularkan melalui caplak √ √
3. Penyakit parasit, yang tidak
ditularkan melalui caplak √ √
4. Pasteurellosis √ X 5. Avian inluenza √ √ 6. Anthrax √ √ 7. Blackleg √ X 8. Rabies √ √ 9. Tubercullosis X √
Terkait dengan kondisi tersebut, adaptasi di sektor peternakan yang dilakukan Kementerian Pertanian sebagai upaya mengurangi dampak perubahan iklim dilakukan dengan antara lain:
a. Membenahi sistem perkandangan.
Perkandangan adalah salah satu upaya untuk melindungi ternak dari pengaruh iklim yang negatif serta menciptakan kondisi iklim mikro yang optimal. Ketika suhu udara meningkat, mekanisme fisiologis mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi dan reproduksi dipakai guna mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Hal ini akan berdampak buruk, yakni produktivitas ternak menurun. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah dengan mengendalikan panas yang diterima dan meningkatkan panas yang terbuang oleh ternak. Caranya, dengan memberi naungan atau atap kandang yang lebih
124
efektif. Dengan kata lain, kita harus menciptakan kondisi iklim mikro yang terdapat dalam kandang secara kondusif bagi ternak untuk berproduksi.
b. Memperbaiki mutu pakan ternak.
Perubahan iklim juga dapat memicu selera ternak dalam mengonsumsi pakan. Karena itu, pakan ternak selayaknya diperbaiki mutunya sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak.
c. Menyesuaikan suhu.
Agar produksi yang dihasilkan optimal maka hewan yang akan diternakkan di suatu daerah harus disesuaikan dengan iklim (suhu) yang ada. Artinya, carilah tempat yang memiliki parameter iklim (suhu) yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan hewan yang akan diternakkan. Jangan sebaliknya, memaksakan beternak pada daerah yang tidak sesuai berdasarkan parameter iklim tersebut. Di luar ketiga upaya adaptasi tersebut, kita juga dapat menerapkan
communal livestock sheltering dan integrated crop livestock management. Artinya, peternak dapat menerapkan berbagai integrasi
seperti ternak dengan kelapa sawit, ternak dengan padi, serta ternak dengan komoditas lainnya. Melalui integrasi semacam ini, dapat diperoleh hasil optimal tanpa menyisakan limbah (zero waste).
8.5. Beberapa Upaya Adaptasi yang Dilakukan Kementerian
Kelautan dan Perikanan
Bagi masyarakat yang bermukim di pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan tiga pilihan adaptasi terhadap perubahan iklim (lihat Gambar 8.1), yakni proteksi (protect), mundur (retreat), dan akomodasi (accomodate).
1. Strategi proteksi.
Strategi proteksi dapat dilakukan dengan membuat bangunan pantai yang mampu mencegah banjir air laut (rob) agar tidak merangsek ke darat. Pola ini bertujuan melindungi permukiman, industri wisata, jalan raya, daerah pertanian, tambak, dan lain-lain dari genangan air laut.
Tangggul dan bangunan pantai tidak hanya dirancang berdasarkan muka air pasang tinggi dan gelombang laut pada saat ini, tetapi juga harus memperhitungkan amblesan tanah, kenaikan muka air laut, dan gelombang laut akibat angin pada kondisi ekstrem.
Adaptasi Perubahan Iklim
125 Upaya proteksi lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan
restorasi peremajaan pantai (beach nourishment) dan rehabilitasi mangrove. Proses ini meliputi pengambilan material dari tempat yang tidak membaha-yakan dan diisikan ke tempat yang membutuhkan.
Lahan hasil timbunan ini kemudian ditanami mangrove sehingga dapat meredam banjir rob yang merangsek ke darat. Fungsi lain dari hutan mangrove adalah sebagai penyerap karbon sehingga tanaman ini dapat mengurangi pemanasan global.
Gambar 8.1. Strategi adaptasi perubahan iklim untuk masyarakat yang bermukim di pesisir
2. Strategi mundur.
Strategi mundur bertujuan menghindari genangan air laut dengan cara merelokasi permukiman, industri, daerah pertanian, dan lain-lain ke arah daratan yang jauh dari laut. Dengan demikian kawasan tersebut tidak terjangkau air laut sebagai akibat kenaikan paras muka air laut.
3. Strategi akomodatif.
Strategi ini dilakukan dengan menyesuaikan kenaikan paras muka air laut. Salah satu contohnya adalah dengan membuat rumah panggung di tepi pantai
126
agar aman dari genangan air laut, terutama pada waktu banjir air pasang. Bagi daerah pertanian yang tergenang air laut akibat kenaikan paras muka air laut, kawasan tersebut dapat diubah peruntukannya menjadi lahan budidaya perikanan.
Berbagai pilihan teknologi adaptasi terhadap kenaikan paras muka laut sebagai dampak dari perubahan iklim dapat dilihat pada Tabel 8.2.
Upaya adaptasi lainnya yang tidak kalah penting adalah rehabilitasi dan konservasi. Rehabilitasi bertujuan untuk memulihkan dan memperbaiki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil guna menjamin keberlanjutan fungsi ekosistem, mewujudkan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dan jasa lingkungan secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pasal 32 UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil mengatur mengenai rehabilitasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Menurut UU tersebut, rehabilitasi wajib dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem dan/atau keanekaragaman hayati setempat.
Rehabilitasi dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya pengayaan sumber daya hayati, perbaikan habitat, perlindungan spesies biota laut agar tumbuh dan berkembang secara alami, serta dilakukan dengan ramah lingkungan.
Sementara itu, pengertian konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, menurut UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wikayah Pesisir adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman hayatinya.
Gambar 8.2. Rumah panggung di kawasan pesisir
Padang Pariaman ini merupakan salah satu strategi akomodatif dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Fot
o: Subandono D
Adaptasi Perubahan Iklim
127 Tabel 8.2. Pilihan teknologi adaptasi kenaikan paras muka air laut.
Aplikasi Teknologi
A. Protektif
- Dengan struktur keras u Dam, tanggul, penahan banjir (floodwalls)
u Seawall, revetment
u Groin
u Pemecah gelombang terpisah dari pantai
u Pintu air dan penahan pasut (tidal barriers)
u Penahan intrusi air laut
- Dengan struktur lunak u Pemeliharaan pantai (beach nourishment) secara periodik
u Perbaikan dan pembuatan sand dunes
u Perbaikan dan pembuatan wetland - Dengan cara alami
(indigenous)
u Penghutanan kembali
u Penanaman kelapa, waru, dan mangrove
u Dinding penahan dari kayu
u Dinding penahan dari batu B. Mundur
- Meningkatkan atau
menetapkan kawasan mundur (set back)
Membutuhkan sedikit teknologi
- Memindahkan
bangunan-bangunan yang terancam Membutuhkan banyak teknologi - Menghilangkan atau
meniadakan pembangunan di kawasan berisiko
Membutuhkan sedikit teknologi
- Memperkirakan pergerakan Membutuhkan sedikit teknologi
- Mengatur realignment Membutuhkan berbagai teknologi sesuai dengan lokasi
- Menciptakan penyangga di
kawasan upland Membutuhkan sedikit teknologi C. Akomodatif
- Perencanaan emergensi u Sistem peringatan dini
u Sistem evakuasi
- Perlindungan bencana u Membutuhkan sedikit teknologi - Perubahan tata guna lahan
dan praktik pertanian
u Membutuhkan berbagai teknologi (akuakultur)
- Pengaturan yang ketat untuk kawasan bencana
u Membutuhkan sedikit teknologi - Meningkatkan sistim drainase u Meningkatkan diameter pipa
128
Kawasan konservasi dapat berada di lokasi yang telah ditetapkan statusnya dalam tata ruang sebagai kawasan lindung atau kawasan budidaya, dimana aktivitas perikanan sudah berlangsung sebelumnya dan habitat terumbu karangnya mungkin sudah rusak oleh aktivitas manusia. Dengan ditutupnnya suatu kawasan terumbu karang dari kegiatan penangkapan ikan dan aktivitas manusia, diharapkan terumbu karang dan biota laut lainnya yang sudah rusak itu dapat hidup dan berkembang biak secara baik dan berkesinambungan.
Tujuan penetapan kawasan kawasan konservasi ini antara lain adalah: - Mengusahakan terwujudnya pelestarian sumber daya alam hayati
pesisir dan lautan serta ekosistemnya dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar daerah perlindungan. - Menjaga, melindungi, mengelola, dan memperbaiki keanekaragaman
hayati pesisir dan lautan, seperti keanekaragaman terumbu karang, ikan, tumbuhan, dan biota laut lainnya.
- Mendidik masyarakat dalam hal perlindungan atau konservasi sehingga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kewajiban masyarakat untuk ikut berperan dalam menjaga dan mengelola sumber daya mereka secara lestari.
Selain upaya adaptasi yang bersifat fisik, perlu juga dilakukan upaya nonfisik seperti pembuatan peta risiko kenaikan paras muka air laut, penyuluhan, dan penyadaran masyarakat. Masyarakat, baik yang bermukim di daerah rawan banjir air laut (rob) akibat kenaikan paras muka air laut maupun di luar kawasan tersebut sangat besar perannya. Ketika kita memiliki kesadaran, kepedulian, dan kecintaan terhadap lingkungan serta disiplin terhadap peraturan dan norma-norma yang ada, niscaya kita akan senantiasa hidup nyaman di tengah-tengah kondisi perubahan iklim.