• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 sepanjang periode tahun pengamatanberada pada kisaran 30 persen. Dengan metode

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

III- 6 sepanjang periode tahun pengamatanberada pada kisaran 30 persen. Dengan metode

penghitungan ICOR, dapat ditunjukkan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan satu unit output dalam suatu sistem perekonomian. Secara umum, nilai ICOR Provinsi Lampung pada periode tahun 2012 hingga 2015 cenderung menurun, tetapi pada tahun 2016 meningkat menjadi 0,57. Hal tersebut dapat diartikan bahwa investasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi cenderung menjadi lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, selain faktor-faktor ekonomi, masih terdapat pula faktor-faktor non-ekonomi yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi, seperti: regulasi pemerintah, kondisi sosial, struktur sosial, situasi politik, dan budaya masyarakat.

Tabel III-4

Rasio PMTB terhadap PDRB dan ICOR Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2016

2012 2013 2014 2015 2016

Rasio PMTB terhadap PDRB 32,08 31,71 30,74 30,08 30,64

ICOR 0,45 0,28 0,23 0,23 0,57

(Sumber : BPS)

3.1.1.4 Pertumbuhan Ekonomi

Sejak tahun 2012 laju perekonomian Lampung relatif mengalami perlambatan. Pada tahun tersebut laju ekonomi Lampung tercatat 6,44 persen, padahal di tahun sebelumnya Lampung tumbuh 6,56 persen dan merupakan capaian tertinggi dalam periode pengamatan. Trend melambatnya pertumbuhan ekonomi Lampung tidak terlepas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan nasional.

Selama 3 (tiga) tahun terakhir, perekonomian Lampung memperlihatkan trendyangmeningkat yaitu : 5,08 persen ditahun 2014,menjadi 5,13 persen di tahun 2015 dan meningkat 5,15 persen padatahun 2016. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung masih di atas pertumbuhan ekonomi Nasional.

III-7 Grafik III-1

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2016

(Sumber : BPS)

3.1.1.5 Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha

Mengamati pertumbuhan rata-ratadan pertumbuhan tahunansektortradable selama kurun waktu tahun 2011 s.d tahun 2016, pertumbuhan ekonomi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan pada pada kurun waktu tersebut mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4,03 persen. Meskipun cukup dinamis, lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian tumbuh dengan rata 6,05; dan pertumbuhan rata-rata lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 6,32 persen. Sementara, pertumbuhan sektor nontradable seperti kelompok Transportasi dan Pergudangan;

Akomodasi; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan; Jasa Perusahaan; Jasa Pendidikan; dan Jasa Kesehatan; kesemuanya secara rerata pada kisaran 7 hingga 11 persen.

Meskipun tidak menyebabkan gangguan berarti terhadap perekonomian daerah karena sisi permintaan masih akan tetap tumbuh; namun ketimpangan struktur ekonomi pada sektor tradabledan nontradable tersebut dapat mengindikasikan adanya pertumbuhan ekonomi yang tidak riil. Secara singkat, fenomena tersebut memberi sinyal bahwa efisiensi dan produktivitas lebih dominan terjadi pada sektor sekunder dan tersier, sementara efisiensi dan produktivitas pada sektor primer bergerak lebih lambat.

Tabel III-5

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung menurut Lapangan Usaha (persen, ADHK 2010)

Tahun 2011 - 2016

LAPANGAN USAHA 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-Rata Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 5,38 3,93 4,63 3,39 3,66 3,16 4,03 Pertambangan dan Penggalian 9,75 5,61 11,47 0,93 4,20 4,36 6,05

Industri Pengolahan 4,97 9,32 7,74 4,51 7,48 3,89 6,32

III-8

LAPANGAN USAHA 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-Rata Pengadaan Listrik dan Gas 8,43 15,15 10,97 8,78 3,60 22,49 11,57 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 5,13 4,82 -1,57 7,49 2,47 3,57 3,65

Konstruksi 5,74 6,44 3,58 7,7 2,29 8,53 5,71

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 7,54 5,24 2,97 5,98 1,98 6,65 5,06

Transportasi dan Pergudangan 8,2 10,35 7,35 7,65 11,67 7,87 8,85 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 8,64 9,47 5,82 7,73 8,96 6,84 7,91

Informasi dan Komunikasi 12,34 13,38 9,37 8,84 10,84 10,63 10,90 Jasa Keuangan dan Asuransi 14,37 11,7 7,18 2,18 3,56 8,02 7,84

Real Estat 7,02 8,29 9,97 7,7 4,49 7,73 7,53

Jasa Perusahaan 15,73 13,9 11,99 8,05 7,97 4,19 10,31

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 1,17 6,16 2,49 8,23 9,79 0,52 4,73

Jasa Pendidikan 13,68 4,5 5,21 11,07 6,65 6,75 7,98

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,38 11,62 7,36 5,11 6,81 6,14 7,40

Jasa Lainnya 4,63 1,79 3,42 8,13 8,51 4,45 5,16

Pertumbuhan PDRB 6,56 6,44 5,78 5,08 5,13 5,15 (Sumber : BPS)

Mengamati pertumbuhan tahun 2106, laju pertumbuhan ekonomi terbesar yaitu sektor Pengadaan listrik dan gas merupakan lapangan usaha sebesar 22,49 persen, diikuti oleh Informasi dan Komunikasi sebesar 10,63 persen, serta Konstruksi sebesar 8,53 persen. Selain itu Jasa Keuangan pun tumbuh dengan laju 8,02 persen.

3.1.1.6 Pertumbuhan Ekonomi menurut Pengeluaran

Mengamati pertumbuhan rata-rata selama kurun waktu tahun 2011 s.d tahun 2016, pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) rata-rata tumbuhsebesar 7,21 persen, pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah rata-rata tumbuh sebesar 5,97 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi rumah tangga rata-rata tumbuh sebesar 5,75 persen, sedangkan pada komponen ekspor dan impor masing-masing tumbuh dengan rata-rata sebesar 6,83 persen dan 7,81 persen.

Mengamati pertumbuhan tahun 2016, pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran penyumbang terbesar dari sektor Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 8,61 persen, diikuti Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar 5,72 persen dan Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 5,56 persen. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) mengalami perlambatan pertumbuhan dikarenakan adanya penghematan anggaran yang lebih besar dari tahun lalu sehingga menyebabkan berkurangnya belanja pemerintah, sedangkan pertumbuhan pada ekspor dan impor masingmasing tumbuh sebesar, -2,65 persen dan 0,43 persen.

III-9 Tabel III-6

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pengeluaran (Persen, ADHK 2010) T

ahun 2011 -

2016

( S u m b e r : BPS)

Sepanjang periode pengamatan 2011 hingga 2016, terdapat beberapa data statistik yang patut menjadi pokok pengamatan, diantaranya:

➢ Ditengah kondisi ekonomi yang cenderung melambat selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan PMTB masih tumbuh secara positif.

➢ Kinerja ekspor dan impor yang cenderung terus menurun. Pada sisi ekspor, meskipun terdapat faktor eksternal yang berpengaruh, namun setidaknya keadaan tersebut dapat memberi sinyal kepada pemerintah daerah tentang pentingnya peningkatan daya saing produk lokal agarterus dapat berkompetisi dalam kancah global.Pada sisi impor, nilai positif pertumbuhan kegiatan impor dapat mengindikasikan bahwa terdapat beberapa kegiatan ekonomilokal yang kembali menggeliat, mengingat bahwa masih terdapat kegiatan ekonomi daerah yang menggunakan bahan baku ataupun peralatan yang diperoleh dari luar negeri.

3.1.1.7 Pendapatan per Kapita

Angka PDRB per kapita digunakan untuk melihat sejauh mana tingkat kemakmuran masyarakat secara umum dalam suatu wilayah tertentu. Indikator ini dapat menggambarkan tingkat kemampuan masyarakat mengkonsumsi barang dan jasa pada periode tertentu.

KOMPONEN PENGELUARAN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-rata

Konsumsi Rumah Tangga 4,87 6,32 5,81 6,16 5,59 5,72 5,75

Konsumsi LNPRT 5,66 5,84 3,88 6,57 7,05 5,56 5,76

Konsumsi Pemerintah 6,74 6,18 4,2 2,51 11,78 3,13 5,76

PMTB 11,68 9,35 3,81 5,66 5,43 8,61 7,42

Perubahan Inventori -26,51 -3,34 -49,93 -52,19 21,01 56,56 -9,07

Ekspor 12,46 25,71 6,75 2,41 -5,82 -2,65 6,48

Impor 13,12 27,83 4,57 3,34 -3,99 0,43 7,55

Pertumbuhan PDRB 6,56 6,44 5,78 5,08 5,13 5,15

III-10 Grafik III-2

PDRB per Kapita Indonesia dan Provinsi Lampung Tahun 2011- 2016 (ADHB, Juta Rupiah)

(Sumber : BPS)

Seiring dengan peningkatan PDRB Provinsi Lampung, maka PDRB per Kapita dari kurun waktu 2011 s.d 2016 juga mengalami peningkatan. Di tahun 2016 PDRB per Kapita penduduk Lampung sebesar 34,261 Juta Rupiah meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah rata-rata PDRB per Kapita secara nasional yang tercatat 47,957 Juta Rupiah.

3.1.1.8 Inflasi Daerah

Ditahun 2016, tercatat bahwa inflasi Lampung sebesar 2,75 persen. Sedangkan Inflasi Nasional tercatat sebesar 3,02 persen. Membandingkan tingkat inflasi daerah dan nasional pada dua tahun terakhir; tampak bahwa menurunnya tingkat inflasi daerah dari 4,65 persen di tahun 2015 menjadi 2,75 persen pada tahun 2016 sejalan dengan inflasi nasional yang menurun dari 3,35 persen di tahun 2015 menjadi 3,02 persen pada tahun 2016.

Rendahnya Tingkat Inflasi Provinsi Lampung disatu sisi dapat mendukung Stabilitas Perekonomian Regional namun disisi yang lain juga dapat mengindikasikan masih lemahnya daya beli masyarakat yang sekaligus mencerminkan lambatnya pertumbuhan ekonomi regional daerah.

III-11 Grafik III-3

Inflasi Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2016 (Persen)

(Sumber : BPS)

3.1.2 Kinerja Sosial Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan memiliki makna bila diikuti oleh pemerataan hasil-hasil pembangunan antarpenduduk dan antarwilayah.Beberapa indikator pokok yang perlu diperhatikan dalam mengukur tingkat keberhasilan pembangunan, antara lain terkait dengan tingkat kemiskinan, pengangguran, ketimpangan perekonomian wilayah serta ketimpangan antarkelompok pendapatan.

3.1.2.1 Persentase Penduduk Miskin

Memperhatikan Grafik III-4 penduduk miskin Provinsi Lampung meningkat dari 13,53 persen di tahun 2015 menjadi 13,86 persen di 2016, data statistik menunjukkan bahwa angka tersebut masih berada di atas persentase penduduk miskin secara nasional.

Grafik III-4

Persentase Penduduk Miskin Indonesia dan Lampung Tahun 2012 – 2016

(Sumber : BPS)

III-12