• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sepintas Tentang Perwajahan Buku

BAB II PERBUKUAN KITA: DARI PENERBITAN KE PENERBITAN …

C. Sepintas Tentang Perwajahan Buku

C. Sepintas Tentang Perwajahan Buku

Menjawab pertanyaan di atas, tampaknya harus dipetakan kembali tentang

wajah perbukuan. Artinya, perbukuan mengalami kompleksitas, yang

menempatkan buku tidak semata sebagai medium bacaan, dengan konten tulisan

dan gagasan cuma pengetahuan yang terkandung di dalamnya, sehingga tampilan

atau perwajahan buku menjadi demikian penting dalam memasarkan buku

maupun menampilkan visualitas tertentu. Dalam fase inilah, sampul buku menjadi

suatu dunia tersendiri, yang alih-alih membantah jargon “Don‟t judge book from

46 Periksa Laman www.dpad.jogjaprov.go.id.

47

32

the cover”, malahan menciptakan kontestasi wacana dan estetika visual buku tersendiri.

Dalam singgungan sebelumnya telah disebutkan bahwa beberapa agensi

penting dalam penerbit Shalahuddin Press melahirkan gelombang baru dalam

desain sampul. Hal ini bukan berarti menafikkan buku-buku dan desain sampul

sebelumnya. Namun perwajahan sampul buku, mulai dipandang dengan semangat

estetik. Keindahan sampul disusul visualitas baik semotik maupun

simbolik/ikonografi yang ada, merujuk pada resepsi visual atas isi buku, yang

menawarkan ambiguitas atau liminalitas dalam sampul buku, yakni antara

mengilustrasikan isi buku, dengan menawarkan visualitas dan estetika tertentu;

kemudian menempatkan desainer sampul sebagai author/pengarang.

Kepengarangan sampul inilah yang dalam konteks Yogyakarta menjadi layak

dikaji khususnya semenjak maraknya wajah buku, baik dari Shalahuddin Press,

Bentang Budaya, hingga LKiS dan Pustaka Pelajar. Dari situ keagenan desainer

sampul, menjadi pengusung pesan-pesan yang melampaui isi buku itu sendiri.

Adapun nama-nama seperti Ari Widjaja, Ong Hari Wahyu, Buldanul Khuri,

Haitami el Jaid, Nurudien, dsb, menjadi kajian yang sangat menarik terkait

perbukuan jogja di akhir Orde Baru maupun Awal Reformasi.

Perkembangan sampul di Indonesia terbilang sangat menarik. Semenjak

masa Balai Pustaka di masa kolonial, hingga Balai Pustaka dinasionalisasi di masa

merdeka, hingga masa Pustaka Jaya, disusul berbagai penerbitan di Yogyakarta

seperti Bentang, memiliki kesinambungan dan perubahan. Di masa Kolonial,

buku-buku yang dipamerkan di Kolf & Co, terbitan Balai Pustaka, sampul lebih

33

isi buku. Demikian pula di masa terbitan Balai Pustaka di masa kolonial.

Beberapa terbitan pada masa Hindia-Belanda telah menampakkan ilustrasi yang

menarik. Pada masa Balai Pustaka juga demikian, sebagaimana Salah Asuhan

(1928) karya Abdul Muis, yang diterbitkan tanpa ilustrasi. Baru kemudian muncul

ilustrasinya pada periode 1950-an.48

Memang pada masa itu perkembangan ilustrasi gambar, tidak hanya pada

sampul buku, namun juga mewarnai perkembangan dunia komik hingga ilustrasi

di dalam majalah maupun harian surat kabar. Watak memang terus menguat di

masa merdeka, misalnya pada novel-novel roman di dekade 1950-an, terbukti

tampak seni rupa sampul buku, berkembang demikian ilustratif, semisal dalam

roman-roman yang terbit kala itu.49 Adapun jika menyangkut kisah cinta, maka

akan tampak ilustrasi realis sepasang lelaki dan perempuan. Namun menarik

bahwa di kala itu, sudah mulai muncul ilustrasi sampul roman yang menampilkan

unsur lokalitas, misalnya dalam sampul Roman “Perkawinan Penuh Rahasia”

karya Bachtiar Junus, sebagaimana ditampilkan dalam buku Koko Hendri Lubis,

tampak sosok laki-laki memakai peci, dan tampak pula wanita memakai

kerudung. Hal mana berkaitan dengan konteks pengarang yang Minangkabau,

juga cerita yang banyak mengambil muatan nilai-nilai Islam, berakibat pada

sampulnya yang menampakkan nilai-nilai lokal citra keislaman yang berkembang

48Umar Junus, “Novel Nasib: Suara Non-Kolonial dalam Penerbitan Kolonial”, dlm Jurnal Kalam No. 21, Tahun 2004, hlm. 43. Adapun Junus menyinggung di dalam catatan kakinya, bertolak dari artikelnya “Illustrasions and Malay Stories: A Preliminary Statement”, Malay Literature, 1, No. 1, 1988). Yakni mengenai fenomena novel Abdul Muis tersebut, tanpa ilustrasi, oleh sebab: “Bagaimana Hanafi dan Corrie mesti dilukiskan. Apa saja cara yang digunakan akan berdampak negatif terhadap wajah penjajah.” Dari sini dapat dicatat bahwa masalah ketiadaan ilustrasi menjadi persoalan politis tersendiri dalam konteks masa kolonial.

49Cermati foto-foto buku yang ditampilkan oleh Koko Hendri Lubis terkait Roman Medan, dalam Koko Hendri Lubis, Roman Medan: Sebuah Kota Membangun Harapan (Jakarta: Gramedia, 2018), hlm. 103; 114; 116; 118; 122; 124; 126; 130; 132; 134; 138; 140; 143; 146; 150; 152; 154; 156; 161; 164; 158, dst.

34

di masyarakat Minangkabau.50 Adapun roman-roman lain yang berkembang di

tahun 60-an, semisal terbitan Balai Pustaka, sebagai contoh buku Nur Sutan

Iskandar, Katak Hendak Menjadi Lembu, yang menampilkan ilustrasi realis katak

dan lembu, serta wajah seorang pria. Menarik pula bahwa perkembangan ilustrasi

sampul buku pada saat itu, selain bersifat realis yang berupa sketsa wajah

manusia, juga realisme dalam bentuk suasana atau pemandangan. Misalnya buku

Ia Sudah Bertualang karya W.S. Rendra, terbitan N.V. Nusantara, Bukittinggi-Jakarta,51 menampilkan lukisan Motinggo Boesje, yang juga seorang sastrawan.

Lukisan Motinggo Boesje, dalam buku karya Rendra tersebut tampak demikian

bernuansa pemandangan yang terbilang sederhana tetapi membangun kesan puitis.

Warna yang digunakan hanyalah dua warna yakni merah dan biru, adapun latar

putih didapat dari warna kertas sampulnya.

Pada masa buku-buku di era Indonesia Merdeka antara 1940an sampai

1960an buku-buku bersampul realis ilustratif baik sketsa maupun pemadangan

sangatlah tampak. Dan dari situlah, terbilang kerja-kerja seniman rupa dalam

dunia sampul buku mulai berkembang cepat. Hal ini menunjukkan bersatunya

kinerja seniman dengan kinerja dunia penerbitan buku. Pola semacam ini terus

berlanjut hampir di berbagai terbitan-terbitan sampai tahun 70-an dan 80-an.

Hanya saja variasi realis mengalami penambahan misalnya bentuk-bentuk abstrak.

Hal ini sendiri sejalan dengan perkembangan seni rupa di Indonesia yang pada

masa pasca 1965, perkembangan realisme mengalami surut, dan beralih pada

abstrak.52 Fenomena sampul buku semacam inilah yang menempatkan sampul

50 Lihat Koko Hendri Lubis, Ibid, hlm. 186.

51 W.S. rendra, Ia Sudah Bertualang (Djakarta-Bukittingi: N.V. Nusantara, 1963).

52Brita L. Miklouho-Maklai, Menguak Luka Masyarakat: beberapa Aspek Seni Rupa Kontemporer

35

buku, yang beralih dari sekedar ilustrasi atas buku, menuju kesenimanan sampul

buku.

Dalam hal kesenimanan sampul buku inilah, nantinya bermunculan para

seniman penggarap sampul buku yang makin marak di dekade 1990an. Di satu

sisi, adanya perkembangan teknologi dari desain berbasis cetak manual menuju

era komputerisasi. Artinya mulai merebaknya era penggunaan aplikasi desain

grafis dalam komputer yang digunakan dalam penerbitan buku, termasuk desain

sampul buku. Di masa inilah, Ong Hari Wahyu muncul di dunia penerbitan

sebagai desainer sampul buku. Latar belakang pendidikannya dari seni grafis ISI

Yogyakarta membuat karya-karyanya menarik dan inovatif. Generasi Ong

berbeda dengan seniman sampul buku di masa tahun 40-an sampai 70/80-an yang

masih berbasis seniman rupa manual.

Ong Hari Wahyu dalam hal ini bersama beberapa seniman sampul yang

dilahirkan di generasi desainer grafis, mewarnai berbagai terbitan buku. Beberapa

penerbit di era 90-an yang mengedepankan desain sampul buku adalah Pustaka

Pelajar, LKiS, dan Bentang Budaya. Ketiga penerbit tersebut berasal dari

Yogyakarta. Adapun ketiga penerbit buku tersebut, pernah melibatkan Ong Hari

Wahyu sebagai perancang sampul atau cover. Ong Hari Wahyu memiliki

keunikan tersendiri, sebab ia dibesarkan tidak semata dari dunia desain grafis,

tetapi juga akrab dengan dunia seni rupa secara umum. Hal inilah yang membuat

penelitian ini menjadi unik, sebab Ong Hari Wahyu dan karya sampulnya

menghadirkan nuansa seni rupa yang dikemas dalam racikan desain sampul.

Melalui sampul-sampul seperti terbitan buku periode 1990-an hingga

36

mewakili wacana yang khas pascakolonial. Batasan periodik ini penulis tekankan,

terkait kenyataan bahwa karya-karya Ong Hari Wahyu pada periode itu memiliki

nuansa berbeda dari corak desain sampul sebelum masa Ong. Beberapa cover

buku tidak saja memperlihatkan kesesuaian tema, tetapi juga nilai estetika yang

tinggi. Hal tersebut dapat dicermati dari beberapa cover yang ia kerjakan, sebut

saja pada karya cover buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Bentang Budaya

dan Mata Bangsa.

Dalam rentang periode antara 2000-2002 itulah buku-buku terbitan

Bentang Budaya dan Mata Bangsa menghadirkan beberapa tema yang sangat

kontektual dengan sejarah Indonesia atau secara umum kajian Indonesia. Pada

masa itu kita bisa mendapatkan buku-buku seperti Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (2000) karangan Prof. Dr. Djoko Soekiman; Sex Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (2003)

karangan Otto Sukatno CR. Kita juga bisa mendapatkan karya-karya sejarah dan

politik oleh peneliti Indonesia maupun Indonesianis, seperti, Kuasa Kata: Jelajah

Budaya- budaya Politik di Indonesia (2000) karangan Benedict Anderson, Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910 (September, 2000) karangan James Rush, The Indonesian

Killings: pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (Desember, 2000) karangan Robert Cribb, Para Pengemban Amanah: Pergulatan Pemikiran Kiai

dan Ulama di Jawa Barat 1900-1950 (Februari, 2001), Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940 (November, 2002) karangan Prof. Dr. Kuntowijoyo, kelimanya dari penerbit Mata Bangsa.

37

Sangat jelas semua karya itu merupakan respon Ong Hari Wahyu atas

tema-besar yang ia tangkap dari konten bukunya, yang kemudian ia wujudkan

dalam karya cover dan bahasa visualnya. Sampai di sini pembatasan ini penulis

perkuat dengan adanya kedekatan Ong Hari Wahyu dengan Buldanul Khuri,

selaku pemilik atas dua penerbitan tersebut. Oleh sebab itu, menjadi penting

untuk memahami Ong Hari Wahyu sebagai bagian dari seniman sampul buku

yang berada di dalam arus perubahan pendekatan perwajahan isi buku di jelang

akhir dekade kekuasaan Orde Baru.

Dokumen terkait