HAZARD POTENTIAL ANALYSIS FOR WORKERS USING HIARO (HAZARD IDENTIFICATION ASSESMENT OF RISK
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Frequency Rate Stasiun
4. Severity Rate Stasiun Boiler Data penting yang harus ada
untuk menghitung Saverity Rate, yaitu jumlah total hilangnya hari kerja per 1000 jam manusia pada bulan Januari-Desember 2018, diperoleh Hari yang hilang sebanyak 42 hari, Nilai Saverity Rate sebesar 1,5 dan Lost Day Cause Accident/Month sebanyak 12 kasus.
Perhitungan Severity Rate dilakukan untuk mengetahui total kecelakaan
kerja yang terjadi dalam setiap bulannya
5. Pengolahan Data Dengan Metode HIARO (Hazard Identification Assessment Of Risk and Opportunity)
Pengolahan Data Dengan
Metode HIARO (Hazard
Identification Assessment Of Risk and Opportunity) dilakukan melalui beberapa tahap yaitu :
1. Menentukan Detail Activity, yaitu merangkum setiap detail kegiatan yang ada pada stasiun sterilizer dan Boiler.
2. Menentukan potensi bahaya, yaitu menentukan bahaya-bahaya yang dapat terjadi di area lantai produksi di stasiun sterilizer dan Boiler.
3. Menentukan Risk Level dari Risk Matrix, yaitu menentukan dilevel manakah suatu potensi bahaya berada sesuai Risk matrix yang telah ditetapkan.
4. Menentukan pengendalian bahaya, yaitu proses antisipasi bahaya yang dilakukan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja.
106 5. Menentukan opportunity
mungkin dapat dilakukan dari jenis pekerjaan, yaitu untuk melihat seberapa besar peluang perbaikan untuk pengendalian risiko bahaya yang dapat ditimbuylkan dari jenis pekerjaan.
6. Hasil Asessment Risk Level, yaitu suatu penilaian untuk menentukan penilaian risiko K3 berada di level Low, medium, high dan extreme.
5.1 Stasiun Sterilizer
Stasiun Sterilizer digunakan untuk melakukan perebusan TBS (Tandan Buah Segar) dengan menggunakan uap (Steam) yang berkapasitas 5,5 Ton setiap Lori yang kemudian ditarik menggunakan sling. Setelah menentukan detail activity, menentukan potensi bahaya yang berada distasiun sterilizer diperoleh risk level dari risk matrix untuk setiap potensi bahaya yang pada umumnya di level medium yaitu dengan nilai rating 4-6 yang artinya status risiko dan tindak lanjut yang harus dilakukan adalah :
1. Melakukan tindakan dan program penurunan resiko hingga menjadi resiko yang harus dikurangi ketingkat yang wajar dan serendah mungkin tanpa memerlukan investasi yang
“berlebih”.
2. Atau dengan istilah as low reasonably practical (ALARP).
Penentuan ALARP oleh tim
management dengan
pertimbangan biaya investasi, tingkat risiko yang bisa diterima dan batasan maksimal upaya pengendalian risiko serta tingkat konsekuensi.
3. Pengelolaan risiko dilakukan melalui implementasi program budaya K3 seperti Safety Program.
Setelah itu barulah menentukan pengendalian risiko dengan menggunakan analisis evaluasi usulan perbaikan dengan determining control distasiun sterilizer. Yaitu eliminasi (Phisically Remove The Hazard), subtitusi (Replace The Hazard), Engineering Control (Isolate people From The Hazard), Administration Control (Change
107 The Way People Work), PPE
(Personal Protective Equidment) Protect The Worker With PPE.
Langkah selanjutnya yaitu menentukan Opportunity Mungkin Dapat dilakukan dari Jenis Pekerjaan, Tentukan Opportunity Levelnya, Menentukan seberapa besar tingkat kemungkinan dari peluang perbaikan yang telah diusulkan dapat diimplementasikan dengan mempertimbangkan dampaknya, setelah dilakukan pengolahan data untuk penilaian peluang perbaikan pada stasiun sterilizer terdapat opportunity rating yaitu berada di Low priority berada di nilai 36-48, Normal Priority berada di nilai 49-60, high priority berada di nilai 63-72 dan top priority berada di nilai 80-100. Kemudian untuk status opportunity priority dan tindak lanjut yang harus dilakukan sebagai berikut :
Kemudian untuk status opportunity priority dan tindak lanjut yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Low Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim
apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 18 bulan.
3) Update dalam objective dan management program (OMP) 4) Susun laporan dan komunikasi
kepada pihak yang relevan.
2. Normal Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 12 bulan.
3) Update dalam objective dan management program (OMP) 4) Susun laporan dan komunikasi
kepada pihak yang relevan 3. High Priority
1) Susun rencana implementasi
108 dengan segera lalu bentuk tim
apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi komunikasi kepada pihak yang relevan.
4. Top Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target
komunikasi kepada pihak yang relevan.
5.2 Stasiun Boiler
Stasiun Boiler digunakan untuk memasukan uap atau steam dari air yang dipanas didalam pipa-pipa dengan tekanan dan temperature yang sesuai dengan kapasitas boiler dan bertujuan untuk memaksimalkan pemakaian steam turbin sehingga dapat mengurangi penggunaan mesin diesel (genset). Setelah menentukan detail activity, menentukan potensi bahaya yang berada distasiun Boiler diperoleh risk level dari risk matrix untuk setiap potensi bahaya yang berada di level medium dengan nilai rating 4-6 dan dilevel High dengan nilai rating 8-12, artinya status risiko dan tindak lanjut yang harus dilakukan adalah :
1. Medium
1) Melakukan tindakan dan program penurunan resiko hingga menjadi resiko yang harus dikurangi ketingkat yang wajar dan serendah mungkin tanpa memerlukan investasi yang “berlebih”.
109 2) Atau dengan istilah as low
reasonably practical (ALARP). Penentuan ALARP oleh tim managementdengan pertimbangan biaya investasi, tingkat risiko yang bisa diterima dan batasan maksimal upaya pengendalian risiko serta tingkat konsekuensi.
3) Pengelolaan risiko dilakukan melalui implementasi program budaya K3 seperti Safety Program.
2. High
1) Melakukan tindakan dan program penurunan resiko hingga menjadi resiko yang harus dikurangi ketingkat yang wajar dan serendah mungkin tanpa memerlukan investasi yang “berlebih”.
2) Atau dengan istilah as low reasonably practical (ALARP). Penentuan ALARP oleh tim managementdengan pertimbangan biaya investasi, tingkat risiko yang bisa diterima dan batasan maksimal upaya pengendalian risiko serta tingkat konsekuensi.
3) Program jangka pendek untuk menurunkan risiko harus segera dilakukan sesuai hirarki control.
Setelah itu barulah menentukan pengendalian risiko dengan menggunakan analisis evaluasi usulan perbaikan dengan determining control distasiun Boiler. Yaitu eliminasi (Phisically Remove The Hazard), subtitusi (Replace The Hazard), Engineering Control (Isolate people From The Hazard), Administration Control (Change The Way People Work), PPE (Personal Protective Equidment) Protect The Worker With PPE.
Langkah selanjutnya yaitu menentukan Opportunity Mungkin Dapat dilakukan dari Jenis Pekerjaan, Tentukan Opportunity Levelnya, Menentukan seberapa besar tingkat kemungkinan dari peluang perbaikan yang telah diusulkan dapat diimplementasikan dengan mempertimbangkan dampaknya, setelah dilakukan pengolahan data untuk penilaian peluang perbaikan pada stasiun sterilizer terdapat opportunity rating yaitu berada di Low priority berada
110 di nilai 36-48, Normal Priority
berada di nilai 49-60, high priority berada di nilai 63-72 dan top priority berada di nilai 80-100. Kemudian untuk status opportunity priority dan tindak lanjut yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Low Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 18 bulan.
3) Update dalam objective dan management program (OMP) 4) Susun laporan dan komunikasi
kepada pihak yang relevan.
2. Normal Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang
relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 12 komunikasi kepada pihak yang relevan
1. High Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan lakukan proses management of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 3 bulan.
3) Update dalam objective dan management program (OMP) 4) Susun laporan dan komunikasi kepada pihak yang relevan.
2. Top Priority
1) Susun rencana implementasi dengan segera lalu bentuk tim apabila diperlukan dan
111 lakukan proses management
of change (MOC)
2) Eksekusi / implementasi dengan melibatkan tim yang relevan sesuai dengan proses MOC dalam target waktu implementasi maksimal 1 bulan.
3) Update dalam objective dan management program (OMP)
4) Susun laporan dan komunikasi kepada pihak yang relevan.
SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah di PT. XYZ, dapat disimpulkan bahwa tingkat frekuensi kecelakaan kerja dan angka keparahan kecelakaan kerja di Stasiun Sterilizer dan Boiler terbilang cukup tinggi, hal tersebut
menunjukan pengelolaan
management K3 yang kurang baik sehingga penulis memberika usulan yaitu, Training K3 yaitu dengan mengadakan Job Training K3 yang terjadwal untuk para pekerja agar mengetahui pentingnya keselamatan dan kesehatan dalam bekerja,
Melakukan Five minute for safety merupakan lima menit sebelum memulai aktivitas produksi terlebih dahulu dilakukan pengarahan oleh Safety head, Memberikan APD terkhusus distasiun Sterilizer seperti, earplug, Handy Talkie, Heat Resistant Glove, Coverall nomex DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, M. I. Kusumawardani , M 2018, ‘Analisis Penganggaran Modal dan Analisis Resiko dalam Proyek Ekspansi Pasar pada Usaha Kecil Menengah (Studi Kasus pada Toko Barkha’, Jurnal Indonesia Membangun, vol. 17, no. 3.
Darmawan, R. dkk, 2017,
‘Identifikasi Risiko Kecelakaan Kerja dengan Metode Hazard Identification And Risk Assesment (HIRA) di Area Batching Plant PT XYZ’, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Levi, A, 2017, ‘Usulan perbaikan Keselamatan Kerja Dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis (JSA0 Dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)’, Spektrum Industri, vol. 15, no. 2.
Masir, Abidin, S, 2018, ‘Analisis Pengawasan Ketenagakerjaan Jasa Konstruksi Terhadap Keselamatan Jasa Konstruksi (Studi Kasus pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan
112 Utara)’, Borneo Engineering:
Jurnal Teknik Sipil, vol. 2, no. 1.
Pertiwi, W. Apriyani, A, 2019,
‘Pengaruh Program K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 3 Cirebon’, ExChall, vol. 1, no. 1.
Purnitasari Intan. D, 2018, ‘Analisa potensi Bahaya Kerja Produksi Gula Dengan Metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) dan Fault Tree Analysis
(FTA)’, Universitas
Muhammadiyah Malang.
Rausand, M, D 2011, Risk Assessment Theory, Methods, and Applications, Canada.
Santoso. G, 2004, Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja, Jakarta.
Soputan, M. E. G, dkk, 2014,
‘Manajemen Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) (Study Kasus pada Pembangunan Gedung SMA Eben Haezar)’, Jurnal Ilmiah Media Engineering, vol. 4, no. 4.
Suma’mur, 1981, Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, Jakarta.
Waruwu, S. Yuamita, F, dkk, 2014,
‘Analisis Faktor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang Signifikan Mempengaruhi Kecelakaan Kerja pada Proyek Pembangunan Apartement Student Castle’, Spektrum Industri, vol. 14, no. 1.
Lampiran D
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Yoga Darmawan, lahir di Pekanbaru, 29 Agustus 1997, sebagai anak kedua dari bapak Darlius dan Ibu Elmiati.
email : [email protected] HP : 08238973xxx
Pengalaman pendidikan yang dilalui dimulai pada Tahun 2004 Sekolah Dasar di SDN 011 Tualang, Perawang dan menyelesaikan pada tahun 2010, dan lanjut ke SMPIT Alihsan dan menyelesaikan pada tahun 2013. Tahun 2013 Memasuki SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru. dan menyelesaikan pendidikan SMA pada Tahun 2016. Kemudian kuliah di Jurusan Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUSKA Riau dan lulus tahun 2020.
Penelitian tugas akhir berjudul” Analisa Potensi Bahaya Pada Pekerja
Menggunakan Medote HIARO (Hazard Identification Asessment of Risk and Opportunities) di PT. XYZ”