BAB II: LATAR BELAKANG LAHIRNYA PANCASILA SEBAGAI
D. Sidang Pengesahan Dasar Falsafah Negara Dan UU
a. Peristiwa Sekitar Proklamasi
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada sekutu setelah kota pada tanggal 6 Agutus kota Hirosima dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Sehari setelah itu pada tanggal 7 Agustus, keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia baru dibentuk dan diumumkan di Jakarta. Kemudia pada tanggal 8 Agustus kota Nagasaki kembali dijatuhi bom atom oleh Amerika. Hal tersebut memaksa Jepang untuk benar-benar meyerah pada sekutu, kemudian yang terjadi adalah terjadinya kekosongan politik, di mana pihak Jepang masih berkuasa namun telah menyerah, dan tidak tampak pasukan sekutu yang menggatikan kehadiran mereka. Rencana-rencana bagi kemerdekaan yang disponsori oleh Jepang secara teratur tampaknya berhenti.87
Dengan demikian dapat diduga bahwa kekalahan Jepang akan terjadi dalam waktu yang singkat, sehingga proklamasi kemerdekaan harus segera dilaksanakan. Soekarno dan Hatta ingin memperbincangkan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan di dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan
86
Indonesia (PPKI), sehingga dengan demikian tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan muda, yang menganggap PPKI adalaah badan buatan Jepang. Mereka juga tidak menyetujui dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan seperti yang telah digariskan oleh pemerintah Jepang. Sebaliknya mereka menghendaki terlakasanya proklamasi kemerdekaan dengan kekuatan sendiri, lepas sama sekali dari Jepang.88
Adanya perbedaan paham tersebut mendorong golongan pemuda untuk membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke luar kota. Menjelang tanggal 16 Agustus 1945 mereka telah dibawa oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok dan ditempatkan di sebuah asrama Peta, dengan dalih melindungi mereka jika terjadi pemberontakan Peta dan Heiho. Ternyata tidak ada pemberontakan sama sekali, sehingga Soekarno-Hatta lekas menyadari, bahwa kejadian ini merupakan usaha mereka untuk memaksa mereka supaya lekas menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang.89
Akhirnya rombongan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dijemput oleh Soebardjo, Soebardjo adalah pembatu Muhammad Hatta sebagai tata usaha kantor panitia persiapan kemerdekaan. Pada malam harinya Soebardjo mengundang anggota PPKI ke rumah Laksamana Muda Maeda, dengan terlebih dahulu melakukan pemeberitahuan kepada Maeda melalui telepon. Meminjam rumah Laksamana Muda Maeda sebagai tempat diadakannya sidang PPKI,
88
yang dihadiri oleh segenap anggotanya beserta pemimpin-pemimpin pemuda
dan beberapa orang pemimpin pergerakan.90 Bersama tokoh pemuda, yakni
Soekarni dan Sayuti Melik, Soekarno, Mohammad Hatta dan Soebardjo membahas perumusan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang pun diantara mereka yang membawa teks Piagam Jakarta, lalu Soekarno berkata:
“Apa persilahkan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu, sebab bahasanya kuanggap yang terbaik, sesudah itu kita persoalkan bersama-sama, setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah. Hatta menjawab: apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik bung yang menuliskannya, aku mediktekannya. Semuanya setuju, kalau kalimat pertama diambil dari alenia ketiga rancangan UUD, yang mengenai proklamasi. Lalu kalimat pertama itu menjadi: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Tetapi, Hatta mengatakan, kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri sebab itu mesti ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu Hatta mendiktekan kalimat berikut : “Hal-2 yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”. Setelah bertukar pikiran sebentar, teks itu disetujui oleh mereka berlima yang menjadi panitia kecil”.91
Secara rinci demikian naskah Proklamasi berdasarkan tulisan tangan Soekarno92:
90
Setelah kelompok perumus naskah proklamasi selesai, segera menuju ke serambi muka. Sidang itu bukan lagi sidang PPKI, karena sudah bertambah pemimpin-pemimpin muda. Soekarno membuka sidang dan membacakan rumus pernyataan kemerdekaan yang telah dibuat perlahan-lahan dan berulang-ulang. Sesudah itu ia bertanya apakah saudara-saudara setuju dengan rancangan teks proklamasi ini, dan semua menjawab setuju diiringi dengan gemuruh suara mengatakan setuju.93 Kepada semua anggota yang hadir Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah Proklamasi Indonesia merdeka sebagai suatu dokumen bersejarah dan sebagai warisan bagi anak cucu kita. Ia mengambil contoh naskah kemerdekaan Amerika Serikat dulu, yang memutuskan bahwa semua anggota ikut menandatangani keputusan mereka bersama. Soekarni kemudian mengusulkan bahwa bukan kita semua yang hadir
di sini harus menandatangani naskah itu, cukuplah dua orang saja yang menandatanganinya atas nama rakyat Indonesia yaitu Soekarno- Hatta.94
Dengan disetujinya usul Soekarni oleh seluruh anggota sidang, maka Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah itu berdasarkan naskah tulisan Soekarno, disertai dengan perubahan-perubahan yang telah disetujui. Sayuti Melik segera mengetik naskah daripada rumusan Proklamasi. Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah itu, yakni kata-kata “tempoh” diganti menjadi “tempo” sedangkan “wakil-wakil bangsa Indonesia”. Demikian pula perubahan terjadi pada cara penulisan tanggal, yaitu “Jakarta 17-805” menjadi “Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05”. Dengan perubahan tersebut maka naskah yang sudah diketik segera ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. pada bagian akhir diganti dengan “Atas nama Bangsa Indonesia”. 95
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, Soekarno membacakan Proklamasi. Upacara Proklamasi dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Setelah Proklamasi dibacakan dan bendera nasional Sang Merah Putih dinaikkan sebagai tanda bangsa Indonesia sudah merdeka, benegara, berdaulat, serta lagu Indonesia Raya dinyanyikan, rakyat bersorak dan gembira.96
b. Menjelang Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
Sehari sebelum pelaksanaan sidang PPKI, tepatnya pada sore hari setelah Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Mohammad Hatta menerima
telepon dari tuan Nijyijima, pembatu Admiral Maeda menayakan dapatkah
menerima seorang opsir kaigun (angkatan laut), karena ia mau mengungkapkan suatu hal yang penting bagi Indonesia. Demikian pernyataan Hatta:
“……..Nijyijima sendiri akan menjadi juru bahasanya. Saya persilahkan mereka datang. Opsir itu saya lupa namanya datang sebagai utusan kaigun untuk memberitahukan dengan sungguk-sungguh, bahwa wakil Protestan dan Katolik dalam daerah yang dikuasai oleh angkatan laut Jepang, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam pembukaan Undang-undang Dasar, yang berbunyi “Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Mereka mengakui, bahwa kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Tetapi tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi pokok Undang-undang Dasar berarti mengadakan diskriminasi terhadap mereka golongan minoritas. Jika “diskriminasi” itu dtetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia. Saya katakana bahwa bukan itu suatu diskriminasi, sebab penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang-undang Dasar itu, Maramis yang ikut serta dalam panitia Sembilan, tidak mempunyai keberatan
apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menandatanganinya. Opsir tadi mengatakan bahwa itu adalah pendirian dan perasaan pemimpin-pemimpin Protestan dan Katolik dalam daerah pendudukan kaigun. Mungkin waktu itu Maramis Cuma memikirkan bahwa kalimat tersebut berlaku hanya untuk rakyat Islam yang 90% jumlahnya dan tidak mengikat rakyat Indonesia yang beragama lain…….setelah terdiam sebentar, sayaa katakana kepada opsir itu, bahwa esok hari dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan akan saya kemukakan masalah yang sangat penting itu”.97
Begitu seriusnya hal tersebut, maka pada tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan dimulai. Mohammad Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimejo dan Teuku Hasan mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu.98
“Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin-pemimipin tersebut di waktu itu benar-benar mementingkan nasib dan persatuan negara”.99
Mohammad Hatta menyatakan bahwa, semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan “Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan menggantinya
dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”.100 Perubahan tersebut, tentu saja
menimbulkan reaksi penolakan terutama dari golongan Islam, seperti A. Kahar
97
Mohammad Hatta, op.cit., 1982. hlm. 58-59. 98
Muzakkir101 dan Ki Bagus Hadikusumo,102 yang telah memberikan jasa pengorbanan begitu besar, baik dalam memperjuangkan maupun dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jasa para nasionalis Islam dalam merumuskan formula resmi pertama Pancasila dalam bentuk Piagam Jakarta.103 Letak pengorbanan nasionalis Islam adalah tidak mengadakan perlawanan dan tantangan, karena jiwa toleransi mereka.104 Reaksi positif ditunjukkakan oleh Teuku .M. Hasan, hal tersebut dapat dipahami karena dia tidak tergolong kelompok nasionalis Islam. Sedangkan pihak yang menyepakati perubahan sila pertama tersebut, adalah golongan pihak kebangsaan, seperti Soekarno, Ahmad Subardjo dan Mohammad Hatta.
101
N.N., Tentang Dasar Negara Republik Indonesia Dalam Konstituante Jilid III, 1958, Bandung, hlm. 38. Dalam sidang Konstituante A. Kahar Muzakkir mengatakan “Bahwa Pancasila telah dikebiri, Pancasila itu telah dirusak. Sebab prinsip-prinsip yang mendatangkan moral yang luhur dengan adanya Pancasila, yang tadinya merupakan agreement itu dicederai dengan sengaja. Itu berarti pula bahwa perjanjian itu telah dibatalkan dengan kehendak eenzijdig. Saya katakanatas kehendak satu pihak, yaitu pihak kebangsaan. Maka dengan ini, dengan tegas saya menyatakan, bahwa jikalau orang berbicara tentang penghianatan terhadap suatu perjanjian yang disebut “ Gentlemen Agreement”, maka pihak yang menghianati itu bukanlah pihak kami, pihak Islam, akan tetapi, pihak yang merubah itulah, yakni yang menghapuskan rumusan-rumusan yang esensiil yang mengenai Islam”.
102
Menurut kesaksian sejarah Mr. Kasman Singodimedjo, seorang anggota PPKI dalam sidang Konstituante mengatakan bahwa saat proses perubahan sila pertama sebelum sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dimulai Soekarno dan Mohammad Hatta, menyuruh Teuku .M.Hasan sebagai putera Aceh menyantuni Ki Bagus Hadikusumo guna menentramkannya. Hanya dengan kepastian dan jaminan bahwa 6 bulan lagi sesudah bulan Agustus tahun 1945 akan dibentuk sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Majelis Pembuat Undang-undang Dasara Negara guna memasukkan materi Islam itu kedalam Undang-undang Dasar yang tetap, maka bersabarlah Ki Bagus Hadikusumo itu untuk menanti.
103
Endang Saifuddin Anshari.,op.cit.,hlm. 60-611. 104
Dalam bukunya yang berjudul Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Endang Saifuddin Anshari mengutip pernyataan Mentri agama H. Alamsjah, bahwa : “Hal ini ditempuh tidak lain karena keinginan umat Islam membentuk persatuan dalam kemerdekaan. Sehingga lahirnya Pancasila seperti yang dikenal
c. Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membentuk Dokurisu Junbi Linkai
atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang beranggotakan 21 orang. PPKI dipimpin oleh Soekarno sebagai ketua dan Mohammad Hatta sebagai wakil ketua.105 Tugas dari PPKI, ialah menetapkan UUD dan hal-hal yang perlu untuk negara Indonesia yang kemerdekaannya akan “dihadiahkan” oleh pemerintah Jepang pada tanggal 24 Agustus 1945.106
a) Agenda Sidang PPKI
Sidang PPKI dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus, atau sehari
setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia. 107Agenda yang akan dibahas
dalam sidang tersebut adalah pengesahan Undang-undang dasar. Sidang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagi wakilnya. Dalam pidato pembukaannya Soekarno meminta agar rapat berjalan dengan cepat dan tidak bertele-tele, mengingat bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 telah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan harus segera disusul dengan penyusunan undang-undang dasar dengan mengikuti garis-garis besar yang telah dirancang oleh Dokuritu Zyunbi Tyoosakai. Perubahan-perubahan yang penting saja yang akan dibicarakan dalam sidang ini, urusan kecil-kecil hendaknya dikesampingkan dan juga pemilihan presiden dan wakil
105
St. Sularto dan D. Rini Yunarti., op.cit., hlm 41; Endang Saifuddin Anshari., op.cit., hlm. 49-50. 106
J.C.T Simorangkir dan B. Mang Reng Say, Tentang dan Sekitar Undang-Undang Dasar 1945, Jakarta: Penerbit Djambatan,1986, hlm. 115.
107
presiden.108 Perubahan-perubahan daripada perkataan yang diusulkan dan disetujui oleh beberapa anggota mengenai pembukaan Undang-undang Dasar serta pasal Undang-undang Dasar.109
b)Proses Pengubahan Sila Pertama
Setelah sidang dibuka oleh Soekarno dan memberikan pidato singkat, maka Mohammad Hatta dipersilahkan menyampaikan laporannya, mengenai perubahan-perubahan pokok yang penting.
1) Menghilangkan pernyataan Indonesia merdeka serta pembukaan yang
lama diganti dengan pembukaan yang semula dirancang oleh panitia kecil (panitia Sembilan). Dalam mukadimah kembali pada prembule yang lama, dahulu panitia kecil telah merancang prembule untuk
Undang-undang Dasar. Tetapi kemudian pada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai
merubah prembule itu dan memecah menjadi dua, ialah pernyataan Indonesia merdeka dan Pembukaan (yang singkat). Kemudian Mohammad Hatta membacakan dasar falsafah negara yang telah mengalami perubahan mendasar.
Pembukaan
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka,bersatu,berdaulatan, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah –darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.110
2) Pasal 6 alinea 1 menjadi: ”Presiden ialah orang Indonesia asli yang
beragama Islam dicoret”, menjadi “Presiden ialah orang Indonesia asli”. Hal ini terkait jika Presiden republik orang Islam, agaknya menyinggung perasaan dan pun tidak berguna.
3) Pasal 29 ayat 1: “Negara berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Sebagai pengganti “Negara berdasarkan atas ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.111
Inilah perubahan yang dapat mempersatukan segala bangsa.
Setelah direvisi oleh Mohammad Hatta, Pancasila dalam pembukaan Undang-undang Dasar mengalami perubahan. Jika sebelumnya isi dan urutan Pancasila dalam Piagam Jakarta sebagai berikut:
1) Ke-Tuhanan- kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi
pemeluk-pemeluknya.
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan
permusyawaratan perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Maka perubahan yang disetujui secara bulat pada sidang PPKI isi dan urutan Pancasila dalam pembukaan Undang-undang adalah sebagai berikut:
1) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia 111
Soeripto, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 cetakan ke-1,Surabaya: Penerbit Grip, 1962, hlm. 110-111; Endang Saifuddin Anshari., op.cit., hlm. 51; Lembaga Soekarno-Hatta., op.cit., hlm. 42-43;
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perubahan juga terjadi pada pembukaan Undang-undang Dasar itu sendiri, atas usul I Gusti Ketut Pudja alinea ketiga yang berbunyi: “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” diganti menjadi “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa”. Kemudian Ki Bagoes Hadikoesomo mengusulkan perkataan “menurut dasar” dicoret saja dan lebih baik diganti dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan dan seterusnya”. Hasil dari keputusan yang diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota pada sidang PPKI, adalah:
Pembukaan
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka,bersatu,berdaulatan, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah –darah Indonesia, dan untuk
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu Undang-undang Dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.112
Alenia I, mengandung makna: Suatu anti-these yang mengandung pertentangan antara kemerdekaan bangsa dan kolonialisme diseluruh
dunia.113Kemerdekaan mutlak menjadi hak segala bangsa, Indonesia
menentang penjajahan di atas dunia.114
Alenia II dan III, mengandung makna: Karena rahmat Tuhan, bangsa Indonesia telah sampai pada tujuannya untuk merdeka dan melaksanakan tugas, agar masyarakatnya bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tugas-tugas tersebut dilaksanakan dengan berpegang teguh kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar. Kemerdekaan yang didapat adalah anugerah dari Tuhan, karena rakyat Indonesia telah berjuang dan berkorban untuk mencapai cita-cita luhur, yaitu kemerdekaan Indonesia.
112
Alenia IV, mengandung makna: Suatu sintese negara republik Indonesia yang dibentuk atas kemerdekaan yang telah diproklamirkan dan disusun menurut tinjauan bangsa Indonesia yang bernama ajaran Pancasila.115
Setelah mengalami berbagai perubahan melalui perdebatan-perdebatan yang panjang, maka dapat dicapai suatu keputusan yang bulat. Dengan demikian Pancasila disahkan menjadi dasar Falsafah Negara Indonesia.
BAB III
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN SOEKARNO TENTANG DASAR NEGARA PANCASILA
Bangsa Indonesia telah memiliki akar kebudayaan yang beragam. Sosio kultural budaya yang begitu beraneka ragam telah menjadikan bangsa ini kaya akan kebudayaan dan nilai-nilai tradisi. Kemajemukan rakyatnya menjadikan bangsa Indonesia, bangsa yang unik dengan tradisi dan kebudayaan yang berbeda-beda. Pancasila sebagai bentuk pencapaian terbaik bangsa, ditengah-tengah kemajemukan masyarakat itulah Pancasila digali oleh Soekarno. Berdasarkan atas tradisi-tradisi dan nilai-nilai kemanusiaan yang telah ada jauh sebelum bangsa ini lahir. Keanekaragaman bahasa, adat-istiadat, suku, budaya, ras/etnik dan agama memampukan rakyat Indonesia menyadari kesatuan bangsa untuk lepas dari para penjajah. Cita-cita luhur rakyat Indonesia untuk merdeka dan lepas dari para penjajah pada akhirnya memunculkan tokoh-tokoh dan para pemimpin yang memiliki pemikiran kritis, diantaranya adalah Soekarno sendiri. Bersama-sama berjuang meraih kebebasan dan kemerdekaan bangsa.
Soekarno cukup menyadari situasi dan tradisi Indonesia, yakni menyepi sebelum kembali ke masyarakat. Seperti Arjuna pahlawan dalam perang Mahabarata yang telah melewati masa hukuman dan meyepi untuk membina kekuatan spiritual. Seperti Airlangga yang telah menarik diri dari masyarakat
sebelum pada akhirnya ia muncul untuk membangun kerajaan Jawa Timur. Pemikiran Soekarno begitu tajam. Ia pun menyadari bahwa ia harus terpinggirkan dari dunia yang ramai dalam kurun waktu yang lama dalam penahanannya. Pada waktunya ia akan kembali dengan membawa kekuatan baru ke dalam masyarakat. Perjuangan Soekarno dalam dunia politik, adalah menuju gelanggang utama tempat Soekarno memainkan kegiatan politiknya pada saat-saat akhir kekuasaan pendudukan Jepang di Indonesia dan menyampaikan pemikirannya dalam sidang BPUPKI, yang dinamakan dengan Pancasila.