• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sidang Sesi ke-58 UNCTAD Trade and Development Board

BAB I KINERJA

C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi

4. Sidang Sesi ke-58 UNCTAD Trade and Development Board

Pertemuan minggu pertama Sesi ke-58 Trade and

Development Board (TDB) United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dilaksanakan di Jenewa

pada tanggal 12-16 September 2011. Delegasi Indonesia, dipimpin oleh Watapri Jenewa.

Opening Session Dalam sambutannya, Sekjen UNCTAD menggarisbawahi: 1) Pentingnya penyelenggaraan UNCTAD XIII pada tahun

2012 sebagai forum yang dapat memberikan pencerahan dan menghasilkan road map dan rekomendasi solusi bagi ekonomi gobal untuk dapat mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan

inclusive growth;

2) Perlunya pergeseran paradigma dari

finance-led-globalization menuju development centered globalization untuk mencapai inclusive growth guna

mendukung rebalancing ekonomi global;

3) Perlunya perhatian untuk menyeimbangkan pasar domestik dan pasar eksternal, dengan usaha penciptaan

demand yang seimbang antara domestik dan eksternal,

sehingga negara defisit dan surplus dapat melakukan penyesuaian yang diperlukan;

4) Perlunya pemikiran ulang mengenai peran negara dan pasar dalam pengaturan ekonomi global, termasuk pemikiran ulang mengenai kebijakan fiskal, moneter, dan inflasi;

5) UNCTAD akan mengawasi implementasi Istanbul Plan of

Action (IPoA) dalam rangka menjaga inklusivitas

pembangunan global bagi Least Developed Countries (LDCs).

Dalam pernyataannya, Ketua Delri menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1) Krisis 1997-1998 telah memberi pelajaran yang baik sebagai modal menghadapi krisis ekonomi global tahun 2007-2009;

2) Kebijakan ekonomi Indonesia yang pro job, pro poor, pro

growth, dan pro environment telah berhasil mengurangi

angka kemiskinan dan mendukung pembangunan di Idnonesia secara keseluruhan;

3) Pentingnya menjaga momentum pemulihan ekonomi dengan tetap mewaspadai gejolak arus modal dan harga komoditas serta situasi ekonomi global yang kurang menguntungkan yang dapat menghambat proses pemulihan pasca krisis.

High Level Segment: Volatile Capital Flows and Development

Diskusi pada sesi High Level Segment: Volatile Capital

Flows and Development berfokus pada situasi ekonomi

global saat ini yang gejolaknya menyebabkan efek negatif bagi negara berkembang, karena distorsi pada nilai tukar menghambat pertumbuhan industri dan diversifikasi produksi domestik dan ekspor.

Interdependence: Addressing Trade and Development

Challenges and

Opportunities After The Global Economic and Financial Crisis

Diskusi pada sesi Interdependence: Addressing Trade and

Development Challenges and Opportunities After The Global Economic and Financial Crisis berfokus pada

perlunya koordinasi internasional untuk menstimulasi pertumbuhan pasca krisis ekonomi global, terutama terkait konsolidasi kebijakan fiskal sebagai exit-strategy dari krisis. UNCTAD melalui Trade and Development Report 2011 merekomendasikan pembentukan rezim managed-floating

rate untuk menghindari ketidakseimbangan. Rezim managed-floating rate memberikan kesempatan bagi tiap

negara untuk menyadari tingkat inflasi masing-masing untuk kemudian dapat menyesuaikan nilai tukar mata uangnya sesuai dengan tingkat infasi tersebut.

Development Strategic in a Globalized World

Diskusi pada sesi Development Strategic in a Globalized

World: A New Role for the Government and Fiscal Policy

berfokus pada efektivitas kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan

inklusif. Berbeda dengan situasi pada tiga tahun yang lalu, pada situasi ekonomi global saat ini diperlukan konsolidasi dan koordinasi kebijakan fiskal yang baru untuk menjawab pertanyaan seperti kebijakan fiskal apa yang harus diterapkan (dalam kaitannya dengan pendapatan dan belanja fiskal), serta mengenai bagaimana ruang kebijakan fiskal (fiscal space) dapat dimanfaatkan secara maksimum sekaligus dapat menciptakan tambahan fiscal space. Evolution of the International Trading System and of International Trade from a Development Perspective

Dalam diskusi pada sesi Evolution of the International

Trading System and of International Trade from a Development Perspective Dirjen WTO menjelaskan bahwa

WTO telah melakukan pendataan dan pengamatan terhadap trade measures di seluruh Negara-negara anggota WTO sebagai reaksi dari ekonomi global. Dijelaskan bahwa perdagangan internasional bukanlah sebab dari food crisis, sebaliknya sistem perdagangan internasional membantu menurunkan harga komoditas dan membawa efisiensi perdagangan komoditas, digarisbawahi pula bahwa pembahasan agriculture

package dalam Putaran Doha telah mengalami kemajuan

signifikan, tetapi masih belum dapat diluncurkan mengingat prinsip single undertaking dalam negosiasi Putaran Doha. Hal yang masih diperdebatkan antara lain adalah apakah produk pertanian harus bersaing dalam pasar bebas seperti halnya pakaian, sepatu, dan ban. Lebih lanjut, UN-SG Special Representative on High Level

Task Force on Food Security, menjelaskan pentingnya

untuk memulai pembahasan tingkat tinggi mengenai food

security di berbagai forum untuk meningkatkan koherensi

kebijakan. Dijelaskan bahwa food security adalah cross

sectoral issue yang harusnya melibatkan sektor pertanian,

kesejahteraan rakyat, industri, dan perdagangan.

Pada sesi ini, Ketua Delri menyampaikan pandangan-pandangan sebagai berikut:

1) Indonesia mendorong penyelesaian negosiasi Putaran Doha untuk menciptakan sistem perdagangan yang lebih adil dan berimbang.

2) Peningkatan kapasitas melalui kerja sama teknis pada sektor pertanian di Negara-negara berkembang bisa jadi merupakan kunci untuk memecahkan stagnasi negosiasi Putaran Doha.

3) Sektor pertanian merupakan sektor kunci pembangunan dan penciptaan lapangan kerja. Di Indonesia, hal ini terlihat dari meningkatnya proporsi sektor pertanian Indonesia dalam total GDP.

4) Indonesia menjadi koordinator kelompok G-33 di WTO untuk memastikan adanya keseimbangan dan keadilan dalam pembahasan mengenai pertanian dan ketahanan pangan bagi negara berkembang.

Sessional Committee I - Implementation of the Outcome from LDC-IV: UNCTAD’s Contribution

Diskusi pada sesi Sessional Committee I - Implementation

of the Outcome from LDC-IV: UNCTAD’s Contribution

berfokus pada implementasi Istanbul Plan of Action (IPoA) yang merupakan hasil dari UN Conference on Least

Developed Countries IV (LDC-IV). Hal-hal yang menjadi

pembahasan diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Pentingnya peran dan kontribusi UNCTAD dalam memastikan tercapainya tujuan-tujuan ambisius IPoA, seperti peningkatan status setengah dari jumlah Negara LDCs menjadi Negara berkembang dan penggandaan

trade share LDCs dari 1% menjadi 2% dari total

perdagangan dunia.

2) Perlunya realisasi komitmen Official Development

Assistance (ODA) dari Negara-negara donor dengan

alokasi yang lebih proporsional bagi LDCs sesuai dengan situasi dan kebutuhannya.

3) Perlunya dukungan bagi LDCs untuk dapat semakin terintegrasi dalam sistem perdagangan internasional. Untuk itu, perlu dipastikan international trading system yang rules-based and non-discriminatory.

4) Pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan untuk pencapaian tujuan IPoA dan perhatian lebih untuk menciptakan kebijakan sosial yang efektif di LDCs. Sessional Committee II -

Economic Development in Africa: Fostering Industrial Development in Africa in the Global Environment

Diskusi pada sesi Sessional Committee II membahas masalah dan tantangan yang dihadapi Afrika, terutama terkait dengan pembangunan ekonomi melalui kebijakan perindustrian. Digarisbawahi bahwa tidak terdapat kebijakan tunggal yang cocok untuk Afrika secara keseluruhan (no one-size fits all policy), masing-masing Negara harus mendapat tailor made policy sesuai dengan situasi dan sumber daya domestik yang dapat dimobilisasi. Delri dalam pernyataannya mewakili Kelompok Asia, menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1) Menyatakan komitmennya terhadap pembangunan ekonomi di Afrika. Hubungan ekonomi berkaitan dengan investasi dan perdagangan terus mengalami peningkatan yang signifikan di antara kedua kawasan. 2) Merekomendasikan kepada Afrika untuk mengurangi

ketergantungan terhadap pertanian dan mulai melakukan diversifikasi ekonomi.

3) Kerja sama antar kawasan New Asia-Africa

Strategic-Partnership (NAASP) yang sebagai kerja sama

Selatan-Selatan yang valid dapat menjadi pendukung bagi upaya diversifikasi ekonomi Afrika.

Investment for Development: Implications of No-equity forms of Transnational Corporations’ Operations

Hal-hal yang mengemuka dalam diskusi dan pembahasan pada sesi Investment for Development: Implications of

No-equity forms of Transnational Corporations’ Operations

adalah:

1) Arus Foreign Direct Investment (FDI) saat ini menggambarkan proses pemulihan dari krisis ekonomi global yang tidak merata (uneven). Kepemilikan modal

Transnational Corporations (TNCs) di Negara-negara

berkembang mulai meningkat dan diiringi dengan meningkatnya proteksionisme yang paralel dengan menurunnya promosi dan liberalisasi perdagangan. 2) Pentingnya perhatian terhadap proses non-equity

modalities yang terdiri dari: contract manufacturing and services outsourcing, franchising, licensing, dan management contracts untuk meningkatkan artikulasi

kebijakan investasi yang mendukung pembangunan secara keseluruhan.

3) Pentingnya perhatian terhadap conventional license

agreement antara TNC dengan perusahaan lokal yang

perlu diatur dengan regulasi dari pemerintah untuk menjamin transfer teknologi dari TNCs kepada perusahaan lokal.

4) Perlu ditingkatkan pemberdayaan UKM dalam negeri untuk dapat bekerja sama secara langsung dengan TNCs demi tercapainya struktur ekonomi yang adil dan berimbang.

Joint Advisory Group on International Trade Centre (ITC), UNCTAD,

dan WTO

Presiden Joint Advisory Group (Watap Mesir) menyampaikan pandangan dan laporan Joint Advisory

Group on International Trade Centre (ITC), UNCTAD, dan

WTO sebagai berikut:

1) Tantangan utama yang dihadapi wilayah Timur Tengah dalam proses transisi (Arab Spring) adalah menstimulasi ekonomi serta menarik investasi dalam rangka penciptaan lapangan kerja. ITC diharapkan dapat berperan aktif membantu Negara-negara tersebut untuk membangun perekonomiannya.

2) ITC telah memusatkan bantuannya kepada LDCs khususnya pada sector: Women and Trade; Poor

Communities and Trade; serta Trade, Climate Change, and Environment. Pelaksanaan program ini disesuaikan

pada saat 4th UN Conference on LDCs di Istanbul, bulan

Mei 2011.

Sementara itu, delegasi Peru menyampaikan rencana penyelenggaraan Regional Meeting on Trade Farmers pada tahun 2012, sebagai upaya meningkatkan produk-produk pertanian di kawasan tersebut. Disampaikan juga agar ITC dapat memperluas sektor kerja sama yang meliputi upaya untuk peningkatan ekspor.

Kegiatan Working Party

UNCTAD

Ketua Working Party on the Strategic Framework and the

Programme Budget (China) melaporkan kegiatan Working Party UNCTAD yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

1) Pendanaan kerja sama teknik UNCTAD pada tahun 2010 meningkat 3% dibandingkan tahun sebelumnya serta menyambut baik bantuan donor dalam pelaksanaan program-program pembangunan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun demikian, Working

Party mendorong agar donor dapat terus berkontribusi

kepada Least developed country (LDCs) Trust Fund. 2) Perlunya pendekatan dua arah dalam pelaksanaan

program peningkatan kapasitas untuk menyelaraskan antara kebutuhan negara penerima bantuan serta kapasitas dari negara pelaksana program.

Sesi Kontribusi UNCTAD Deputi Sekjen UNCTAD, pada sesi Kontribusi UNCTAD

terhadap implementasi dan tindak lanjut konferensi-konferensi PBB di bidang ekonomi dan sosial menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1) UNCTAD melalui berbagai media yang dimiliki telah berkontribusi dalam implementasi berbagai hasil-hasil dari Konferensi PBB melalui pembahasan isu-isu ekonomi dan sosial pada berbagai forum seperti World

Investments Forum di China (September 2010), Intergovernmental Forum on Mining, Minerals, Metals and Sustainable Development (November 2010), the Second Global Commodity Forum (Januari 2011), UNCTAD Multi-year Expert Meeting on Commodities and Development (Maret 2011). Terkait dengan the Fourth United Nations Conference on Least Developed Countries

di Istanbul (Mei 2010), UNCTAD antara lain akan memperhatikan secara khusus melalui pengembangan LDCs Trust Fund.

2) Tindak lanjut Konferensi PBB juga dilakukan melalui program kerja sama teknik, khususnya di bidang fasilitasi bisnis, serta memberikan bantuan dalam bentuk manajemen hutang, dan Official Development

Sementara itu, beberapa delegasi menekankan perlunya UNCTAD memperhatikan sinergi program kerja sama teknik yang dilakukan UNCTAD dengan kerja sama dalam kerangka Selatan-Selatan.

Bantuan UNCTAD kepada Palestina

Koordinator Assistance to the Palestinian People Unit (APPU-UNCTAD) serta koordinator Independent Evaluator menyampaikan laporan dan evaluasi mengenai bantuan UNCTAD kepada Palestina sebagai berikut:

1) Perekonomian Palestina telah meningkat dari 7,4% pada tahun 2009 menjadi 9,3% pada tahun 2010. Namun demikian, kenaikan ini tidak didukung oleh meningkatnya lapangan pekerjaan, hal ini terbukti dari tingkat pengangguran yang masih mencapai 30%.

2) Perkembangan perekonomian Palestina menemui banyak tantangan terkait dengan blokade oleh Israel dan penguasaan atas tanah dan sumber daya di Palestina. Salah satu yang mengemuka adalah impor tidak langsung dari Israel ke Palestina, di mana 58% produk impor Palestina dari Negara ketiga terekam sebagai impor Palestina dari Israel. Hal ini mempengaruhi hilangnya pendapatan Palestina dari fiskal atas produk impor tidak langsung tersebut.

3) Koordinator APPU secara khusus menggarisbawahi bahwa pengendalian East Jerusalem ke wilayah Palestina juga dianggap dapat meningkatkan pendapatan Palestina. Di mana seharusnya GDP Palestina dapat mencapai US$ 8,3 miliar dan bukan US$ 7,6 miliar sebagaimana yang tercatat pada tahun 2010. 4) UNCTAD sendiri telah melaksanakan program kerja

sama teknis antara lain dukungan untuk modernisasi Bea Cukai Palestina (ASYCUDA-III). UNCTAD juga telah menyelesaikan Development Account Project (Tranche

6) pada awal tahun 2011, serta menyelenggarakan Workshop on Promoting Sub Regional Growth-Oriented Economic and Trade Policies towards Achieving the MDGs in Selected Arab Countries, pada bulan Juni 2011.

Dokumen terkait