• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : Konsep Masyarakat Tentang Pendidikan

3.4 Sikap Masyarakat Rantau Prapat Terhadap Sekolah

3.4.1. Sikap Bapak/Ibu (orang tua) terhadap anak

Anak adalah anugrah yang dititipkan oleh Tuhan Yang Maha Esa uantuk dijaga, dilindungi, dididik sesuai dengan norma-norma yang berlaku didalam masyarakat, untuk itu orang tua merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengasuh anak-anaknya dan menghantarkannya kegerbang kehidupan yang layak, yang merupakan idaman dan

keinginan orang tua dalam bentuk yang ideal. Keinginan ini bukan hanya merupakan harapan belaka, namun juga merupakan suatu kewajiban yang mau tidak mau harus dipenuhi. Untuk melengkapi semua ini lah yang merupakan salah satu kewajibannya adalah memberikan bekal pendidikan yang layak yang suatu hari nanti dapat dijadikan pengangan bagi sianak.

Tindakan ini diwujudkan dengan memberikan sianak kesempatan untuk menimbah ilmu pengetahuan dibangku sekolah dan memberikannya tentang manfaat sekolah tersebut. Karena mereka beranggapan bahwa memberikan bekal ilmu bagi anak- anak dipandang lebih berguna dari pada meninggalkan harta benda yang banyak kalau nantinya akan menyusahkan sianak dikemudian hari. Seperti kutipan hasil wawancara penulis dengan informan berikut ini:

“walaupun ada sama awak, tak banyaknya, setapaknya Cuma. Nggaklah bisa itu awak bagi-bagikan sama anak awak. Kalau sama ku ya dek, sekolah dulu anak ku minimal SMA lah kita bilang, walaupun tak mau dia kuliah udah sonang awak. Tapi kalau mau sih sekolah lebih sonang (senang) lagi, walaupun mengutang-utang jadilah. Mau awak kan jangan bodoh anak awak sama kek awak, itunya pula.”

Untuk menimbah ilmu ini sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, agama, sosial, dan lain sebagainya. Karena merasa hal ini mutlak diperlukan, maka tidaklah mengherankan kalau para orang tua berupaya untuk menyekolahkan anaknya sedaya upaya mereka, paling tidak pendidikan dasar telah dimilikinya. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya seorang anak akan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, dengan bekal ilmu yang diperolehnya ia akan mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk didalam hidupnya, mana yang pantas dan yang tidak pantas sebatas

paham yang dianut disekitarnya, sehingga dengan pengetahuannya ini ia dapat mengatur langkah yang terbaik yang dijalaninya.

Keinginan ini adalah keinginan yang wajar dari orang tua yang tidak menginginkan anaknya merosot jauh dibawah orang tuanya dan kalau bias ia harus lebih dari orang tuanya. Dalam hal ini, ibu mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan si anak memiliki fungsi yang ganda dalam membentuk si anak. Si ibu lah yang menjadi pendorong, memberikannya kebebasan untuk memilih, sebagai penghubung antara bapak dan anak, dan sekaligus juga menasehati dan menghukum si anak apabila ia enggan untuk sekolah. Tidak hanya itu saja, si ibu bahkan terkadang membantu si bapak dalam mencari nafkah untuk menambah biaya sekolah anak-anaknya. Misalnya dengan berjualan pasar pagi, marengge-rengge (berjualan pekanan ke kampung orang), pembantu rumah tangga, dan lain-lain. Hal ini berlanjut terus hingga anak-anak mencapai tingkat SLTA. Walaupun orang tua telah bersusah payah memenuhi segala kebutuhan tetapi masih saja ada anak yang tidak melanjutkan pendidikannya (putus sekolah). Apa maksud dan tujuan si anak enggan untuk sekolah? Apakah factor ekonomi yang masih kurang untuk menutupi segala kebutuhan akan dipaparkan pada bahasan selanjutnya.

Selain membantu suami mencari nafkah, mereka juga berharap anak-anaknya bias menduduki bangku kuliah, yamg nantinya mampu mengubah kualitas hidupnya. Walaupun para ibu lebih banyak mengikuti kemauan atau keinginan suaminya maupun pendapatnya, namun yang lebih keras dan berupaya untuk menyekolahkan anak-anaknya adalah kaum ibu, sehingga kadang-kadang menimbulkan kesan cerewet dalam menasehati anak-anaknya. Dan jika dalam dalam keadaan yang terbentur pada masalah yang sulit misalnya anak-anak bolos sekolah terus atau nilai-nilainya merosot terus, maka peranan

bapak diperlukan disini ataupun masalah-masalah lain yang tidak mampu ditangani ibu sendiri.

Bagi mereka, belumlah cukup untuk menimba ilmu pengetahuan dengan hanya memberikan pendididkan formal (sekolah) dari tingkat dasar hingga ke tingkat SLTA. Sehingga, walaupun merasa kurang mampu apabila ditinjau dari sudut ekonomi , terbesit juga keinginan untuk menyekolahkan mereka hingga ke Perguruan Tinggi. Seperti kutipan hasil wawancara kemarin dengan seorang informan berikut ini:

“Awak Li (panggilan akrab penulis) bukannya orang berada, tapi kalau maunya anak awak itu sekolah, ada pula otaknya, pintar maksudku, wi………. Marutang-utang pe jadi. Itulah kalo kakak Li.Ibaratnya enggak sia-sia uang awak itu menyekolahkan dia. Kalo kami orang tua ini ibaratnya biarlah awak makan ikan asin, asalkan bisalah baya anak awak sekolah, tak terlambat uang sekolahnya, uang bukunya, biar tenang dia yang belajar itu. Cobalah pikir mu Li, tak bolum awak bayarlah misalnya uang bukunya, dor…. Lah dipanggil namanya di kelas karena belum bayar uang bukunya, kan jadi pikirannya itu. Inilah ya kan Li, udah semester 6 lah si Erni (anak informan), udak ondak mau siap lah dia ini, uang lagi kesitu pikirmu Li, tapi biarlah awak pala-pali asalkan bias dia tamat, dicarinyan kerjanya nanti. Kan udah lumayan, udah punya dia ijazah kuliah baya.”

Untuk meraih masa depan yang lebih baik, maka mereka (orang tua) mulai mempersiapkan bekal yang lebih dini kepada anak-anaknya, yaitu dengan memberikannya pendidikan melalui cerita-cerita dan gambaran-gambaran secara umum. Tanpa bekal pengetahuan (yang diwujudkan dengan adanya ijazah) yang memadai, si anak akan kesulitan dalam mghadapi dan meaih msa depan yang gemilang. Bagi mereka ijazah itu adalah sarana untu mendapatkan ayau menghasilkan kerja yang baik. Alasan mereka adalah pada masa sekarang yang diperlukan adalah ijazah sebagai persyaratan untuk memperoleh pekerjaan yang akan mendukung masa depannya (dan juga didukung

oleh dana). Dan lagi pula untuk meraih masa depan yang lebih baik tidak hanya cukup dengan pendidikan SLTA.

Selanjutnya, dalam usaha untuk meningkatkan kealitas hidup anak kelak, mereka akan menyokongnya sejauh ia mampu memberikannya. Orang tua akan memberikan dorongan tidak hanya secara material saja namun juga secara sprituil. Karena pengetahuan yang mereka miliki dirasa hanya sedikit (awam) tentang arti dan fungsi dari pendidikan formal tetapi hal ini tidak menghalangi mereka untuk memberikan anak- anaknya pendidikan yang layak.

Harapan mereka dengan terpenuhinay kebutuhan anak-anaknya mereka akan pendidikan maka kualitas hidup anak-anaknya akan lebih tinggi dan terjamin dalam menghadapi tantangan dimasa mendatang. Mereka ingin agar anak-anaknya mampu memilih yang terbaik dalam hidupnya dan lebih dari mereka, sehingga mereka membiarkan atau memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih pendidikan atau sekolah mana yang diinginkannya, walaupun banyak sekali terdapat perbedaan keinginan antara anak dan orang tua, namun mereka merasa bahwa sianak lebih tahu dan lebih mampu untuk memilih mana yang sesuai dengan minat kemampuannya, atau kah sianak lebih suka memasuki sekolah menengah umum, atau sekolah kejuruan.

Untuk meraih masa depan yang lebih gemilang dengan berlandaskan pendidikan bukanlah mudah karena dilingkungan sekitarnya banyak tawaran pekerjaan yang menarik bagi anak-anak.(ada yang berkerja sebagai penggali pasir, nekerja di pertokoan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, kerja di kebun sawit dan karet, ada juga yang berdangang). Sehingga suatu kemujuran bagi mereka untuk dapat mendidik dan mengarahkan anak-anaknya hingga tertarik melanjutkan sekolahnya, karena tidak sedikit

anak-anak yang hanya tamat tingkat sekolah lanjutan pertama (SLTP) sudah berhenti sekolah untuk bekerja dan kemudian setelah merasa mampu (karena telah bekerja) merekapun berumah tangga.

Walaupun dari segi ekonomi mereka tidak terlalu lebih (pas-pasan) namun sering juga terbersit keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lenih tinggi lagi, akan tetapi anak-anaknyalah yang enggan untuk bersekolah. Sehingga terkadang harapan mereka untuk lebih meningkatkan kualitas hidup sianak kelak terhenti sehingga akhirnya mereka jenuh sendiri dalam membujuk sianak. Seperti kutipan hasil wawancara penulis dengan seorang informan sebagai berikut:

“bukan tak kami bujuk dia sekolah dek, tapi udah capek kami ama abang mu menghajarnya biar dia mau sekolah. Yang banyakan permintaannya, sebentar minta uang jajan mau ditambah, udah begitu malas jalan kaki kesekolah, minta supaya naik becak. Kami naikkan juga lah dia naik becak. Bertingkah lagi, ‘tak mau aku mak sekolah’ katanya. Ku bawa lah kereta (sepeda motor), biar sekolah aku mak, kami kasi juga asallah sekolah. Nggak lama, boloslah dia ama kawannya naik kereta, tabrakanlah dijalan baru, hancurlah kereta itu, dia nggak mau sekolah lagi. Udah lah itu sukanya sajalah dia mau jadi apa. Sudah sakit kepala ku terus memikirkan dia.”

Dokumen terkait