HASIL PENELITIAN
5.2. Sikap Mahasiswa tentang Konsumsi Makanan Cepat Saji
Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa mahasiswa memiliki sikap baik tentang konsumsi makanan cepat saji yaitu sebanyak 62,1%. Menurut Notoatmdojo (2003), Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi masih merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku, sikap ini masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku terbuka. Dari pemaparan
di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa memiliki sikap baik terhadap konsumsi makanan cepat saji.
Dari sikap yang ditunjukkan oleh mahasiswa terhadap beberapa pernyataan tentang konsumsi makanan cepat saji, dapat dilihat bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran USU memiliki sikap yang baik. Sebagian besar mahasiswa menyatakan setuju bahwa dengan mengonsumsi makanan cepat saji setiap hari dapat menyebabkan obesitas. Hal ini dibuktikan oleh Morgan Spurlock yang membuat film berjudul “Super Size Me”. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana ia mengkonsumsi fast food setiap hari baik itu saat sarapan, makan siang, dan makan malam dalam waktu 30 hari. Ternyata hasil yang didapat sangat mencengangkan. Morgan Spurlock mengalami kenaikan berat badan yang drastis, perut semakin membuncit, kenaikan kadar gula darah dan kolesterol, tekanan darah yang jauh di atas normal dan 2 kali lebih rentan terkena gagal jantung serta perubahan perilaku (Anonim, 2011).
Sikap mahasiswa yang lain yang menunjukkan ke arah kurang baik adalah pernyataan mahasiswa yang tidak setuju bahwa sebagian besar makanan cepat saji yang dijual di lingkungan sekitar kampus tidak aman dikonsumsi, padahal dapat dilihat bahwa makanan cepat saji yang dijual di depan kampus USU (dipinggir jalan) belum tentu aman dikonsumsi dimana tempat para penjual makanan langsung berhadapan dengan jalan raya dimana polusi udara banyak bertebaran di udara. Bahan pencemar banyak dijumpai pada makanan, terutama makanan jajanan yang dijajakan dipinggir jalan. Salah satu yang menyebabkannya adalah pencemar yang berasal dari luar makanan, seperti bakteri dan debu (Sediaoetama, 2009). Bakteri atau debu dapat
masuk pada saat proses pengolahan yang tidak bersih. Selain itu juga kemungkinan terdapat cemaran kimia berupa bahan tambahan pangan yang melebihi batas pemakaian yang diperbolehkan.
Sebagian mahasiswa (30,5 %) menyatakan tidak setuju jika mengonsumsi ayam goreng sebaiknya menyisihkan bagian kulit meskipun pada bagian tersebut memang paling nikmat. Padahal pada bagian kulit ayam, lemak yang terkandung di dalamnya cukup banyak dan tidak baik untuk kesehatan.
5.3. Tindakan Mahasiswa tentang Konsumsi Makanan Cepat Saji
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik), sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana (Notoadmodjo, 2005).
Berdasarkan tabel 4.7. dapat diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki frekuensi konsumsi makanan cepat saji sangat sering yaitu sebanyak 37,9%. Tindakan seseorang tidak selalu dapat diukur berdasarkan tingkat pengetahuan dan sikapnya. Sesorang yang berpengetahuan dan bersikap baik belum berarti memiliki tindakan yang baik pula. Seseorang yang berada dalam satu kelompok akan membuka kemungkinan untuk memperngaruhi dan dipengaruhi oleh anggota-anggota kelompok lain (Noromadmodjo, 2003).
Dalam hal ini, peneliti berasumsi bahwa tindakan mahasiswa dalam mengkonsumsi makanan cepat saji sangat berkaitan dengan lingkungan sekitar yang mendorongnya untuk mengkonsumsi fast food, seperti ajakan teman, banyaknya jenis fast food yang dijual disekitar kampus serta padatnya aktivtas perkuliahan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU. Hal ini sejalan dengan penelitian Wijaya (2005), dimana
tiga perempat mahasiswa UK Petra (133 orang) menyatakan bahwa mereka biasanya makan fast food restaurant bersama dengan teman dan pacar, sedangkan makan bersama dengan keluarga di fast food restaurant hanya biasa dilakukan oleh 15.8% (28 mahasiswa).Sehingga seorang mahasiswa yang memiliki pengetahuan dan sikap baik belum tentu memiliki tindakan baik pula.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa tindakan mahasiswa dalam mengonsumsi makanan cepat saji sangat tinggi dimana terdapat 61,1% mahasiswa dengan frekuensi konsumsi ayam goreng kentucky sebanyak 2-7 kali seminggu dalam 1 bulan terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang sangat sering. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan sehari-hari mahasiswa Fakultas Kedokteran USU yang mengonsumsi makanan cepat saji pada saat jam istirahat, hal ini didukung karna padatnya aktivitas perkuliahan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU, gaya hidup dan disekitar lingkungan kampus banyak terdapat penjual makanan cepat saji. Berdasarkan hasil penelitian Manurung (2009) yang dilakukan di Yayasan Pendidikan SMA Raksana Medan dari 120 orang siswi sebanyak 48 orang (40,33%) mengalami obesitas, overweight sebanyak 11 orang (9,24%), normal sebanyak 46 orang (39,49%), kurus sebanyak 14 orang (10,92%). Hal ini disebabkan oleh pola makan berlebih yang dapat dilihat dari jumlah siswa yang mengonsumsi Kentucky Fried Chicken (KFC) sebanyak 2-3 kali seminggu yaitu sebesar 43,69% (52 orang).
Konsumsi hamburger sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU. Ada 47,4% mahasiswa yang mengonsumsi hamburger sebanyak 2-7 kali seminggu dalam satu bulan terakhir.
Frekuensi konsumsi chicken nugget berada pada ketegori frekuensi konsumsi sangat sering, dimana sebanyak 48,4% mahasiswa yang frekuensi konsumsinya tinggi yaitu sebanyak 2-7 kali seminggu. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK) Institut Pertanian Bogor tahun 1997 dalam Sugihatro (2007), menunjukkan bahwa 75% konsumen yang datang ke restoran fast food ternyata pekerja kantoran, pelajar/mahasiswa, ibu rumah tangga dan lain-lain.
Gorengan, mie instan, mie ayam dan mie goreng merupakan makanan yang relatif terjangkau dari segi harga dan mudah diperoleh di sekitar kampus Fakultas Kedokteran USU. Sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran USU mengonsumsi makanan cepat saji ini sebanyak 2-7 kali seminggu. Frekuensi ini tergolong tinggi atau frekuensi konsumsi sangat sering. Adapun jumlah mahasiswa yang sangat sering mengonsumsi makanan cepat saji jenis gorengan sebanyak 69,5%, jenis mie instan sebanyak (63,2%), jenis mie ayam sebanyak 53,7%, jenis mie goreng sebanyak 55,8%, jenis siomay sebanyak 51,6%, jenis mie pangsit sebanyak 47,4%. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Wijaya (2005), menunjukkan bahwa dari 177 mahasiswa di Surabaya 98,3% menyatakan pernah makan di restoran fast food dengan frekuensi kunjungan terbanyak adalah 2-5 kali satu bulan.
Sebagian mahasiswa Fakultas Kedokteran USU mengonsumsi makanan cepat saji ini sebanyak 3-4 kali sebulan dan frekuensi ini termasuk dalam kategori frekuensi sering. Adapun jumlah mahasiswa yang sering mengonsumsi makanan cepat saji jenis kentang goreng sebanyak 45,3%, jenis pizza sebanyak 43,2% dan bakso bakar/goreng sebanyak 40.0%.
Konsumsi makanan cepat saji jenis sosis, spaggethi dan donat termasuk dalam kategori frekuensi jarang yaitu 0-2 kali. Adapun jumlah mahasiswa yang jarang mengonsumsi makanan cepat saji jenis sosis sebanyak 36,8%, jenis spaghetti. sebanyak 31,6% dan donat sebanyak 36,8%.
Demikian juga, penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran USU ini, dimana dari 86,3% mahasiswa yang memiliki pengetahuan yang baik, ada 39,0 % mahasiswa yang memiliki frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang sangat sering yaitu 2-7 kali seminggu. Hal ini disebabkan oleh tersedianya sejumlah fasilitas penyedia makanan cepat saji di lingkungan kampus termasuk di dalam kantin Fakultas Kedokteran USU, aktivitas perkuliahan yang padat, faktor eksternal yaitu sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Untuk mengurangi dampak negatif dari mengonsumsi makanan cepat saji hendaknya mahasiswa Fakultas Kedokteran USU mengimbangi dengan makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah-buahan, dan jangan lupa untuk berolahraga.
Berdasarkan penelitian Wijaya (2005), faktor yang paling mempengaruhi responden memilih mengonsumsi makanan cepat saji adalah kualitas makanan enak sebesar 38.4% dari total responden atau sebanyak 68 orang, pelayanan cepat sebesar 20.9% atau dijawab oleh 37 responden, harga terjangkau yaitu sebesar 16.4% dari total responden atau sebanyak 29 responden, lokasi restoran yang strategis sebanyak 23 responden atau 13% dari total responden, dan kenyamanan restoran dijawab oleh 7.3% dari total responden atau oleh 13 responden.
Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran USU memiliki sikap yang baik tetapi frekuensi konsumsi makanan cepat sajinya sangat sering. Hal ini dapat dilihat
seperti pada tabel 4.10 dimana ada 62,1% yang memiliki sikap yang baik, akan tetapi 42,4% dari mahasiswa mempunyai frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang sangat sering yaitu 2-7 kali seminggu.
BAB VI