• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

SIKAP PEMILIK KENNEL

Untuk mengetahui bagaimana sikap Bapak/Ibu terhadap penanganan anjing di kennel, dimohon membaca pernyataan-pernyataan berikut secara teliti. Setelah itu Bapak/Ibu dapat memberikan tanggapan yang paling sesuai menurut pendapatnya, dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban

“setuju”, “ragu-ragu”, atau “tidak setuju”.

NO PERNYATAAN TANGGAPAN/ PENILAIAN Setuju Ragu- ragu Tidak Setuju 1.

Bebas dari rasa haus dan lapar

Menurut pendapat saya memberi makan anjing berapa kali sehari tidak masalah asalkan memenuhi kebutuhannya

2. Memastikan ketersediaan air minum bersamaan dengan saat memberi makan anjing

3. Saya percaya, kandungan gizi dalam pakan dapat menyebabkan anjing obesitas

4. Saya tidak percaya, anjing yang memakan makanan mentah seperti ikan/ daging bertulang mempengaruhi kesehatan anjing. Karena anjing memiliki naluri

5.

Bebas dari rasa tidak nyaman

Tempat tidur tidak berpengaruh pada anjing. Karena anjing dapat tidur di dalam kandang sesuka hatinya

6. Tersedianya kandang yang luas membuat anjing lebih bebas membuang kotoran

7. Bau dan lembab didalam kandang anjing merupakan hal biasa meskipun tersedianya ventilasi sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap anjing

8. Pada kenyataannya, membersihkan kotoran pada lantai kandang licin lebih cepat bersih, sehingga anjing merasa nyaman

9.

Bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit

Pemilik kennel berkewajiban mengobati sendiri jika anjingnya sakit atau terluka

10. Menurut pendapat saya, vaksinasi pada anjing bukan yang utama dalam pencegahan terhadap penyakit. tetapi harus diperhatikan kebersihan lingkungan kennel

11. Saya menganggap perlu memberikan obat cacing saat anjing kecacingan. Karena jika berlebih dapat menimbulkan efek samping

12. Saya tidak melihat adanya pengaruh negatif kesehatan anjing terhadap kesehatan manusia sebagai masalah serius. Karena penyakitnya berbeda

13.

Bebas mengekspresikan perilaku normal

Meskipun perlu ukuran kandang yang sesuai, tetapi kennel masih dapat menyesuaikan dengan kondisi lahan

14. Anjing diikat/ditambat dengan tali/rantai yang pendek menghindari leher anjing terlilit

15. Menurut pendapat saya, dengan fasilitas kennel

yang lengkap anjing sudah dapat mengekspresikan nalurinya sehingga tidak perlu dibawa jalan/bermain di luar kennel

16. Saya tidak melihat adanya manfaat interaksi antara anjing yang satu dengan anjing lainnya di dalam kennel. Karena berpotensi menyebarkan penyakit

17.

Bebas dari ketakutan dan tertekan

Saya merasa bahwa kemampuan anjing untuk memahami manusia sangat baik, sehingga dengan ketegasan saja anjing sudah mengerti 18. Saya memperhatikan sifat dari setiap jenis anjing

yang dikandangkan, biasanya anjing ukuran besar senang bergaul dengan anjing ukuran kecil 19. Saya yakin akan kemampuan adaptasi anjing

yang cepat. Sehingga anjing sulit stres

20. Saya tidak pernah merisaukan jika anjing di

kennel jarang saya jenguk, karena anjing

Checklist Observasi

No Kondisi pada saat wawancara Hasil observasi Komentar

1 Apakah tersedia tempat makan dan minum yang bersih di dalam kandang ?

Ya Tidak NA 2 Bagaimana performa tubuh anjing

?

Obesitas Ideal Kurus 3 Bagaimana kondisi kebersihan di

dalam kandang ?

Kotor & lembab Bersih & kering NA

4 Bagaimana sistim kandang ? Tertutup (AC) Terbuka Semi 5 Bagaimana sirkulasi udara dalam

kandang ?

Baik Tidak baik NA

6 Apakah ada ruang isolasi/ruang perawatan anjing sakit ?

Ya Tidak NA 7 Apakah tersedia tempat bermain/

berlatih anjing ?

Ya Tidak NA 8 Apakah ada buku vaksin dan

riwayat penyakit untuk setiap anjing di kennel ?

Ya Tidak NA 9 Apakah luas kandang sesuai

ukuran dan jenis anjing ?

Ya Tidak NA 10 Bagaimana kondisi anjing dalam

kandang ? Sehat Sakit Penyakit kulit Cacat Takut Cemas Stres

Animal Welfare in Province of DKI Jakarta. Under direction of DENNY WIDAYA LUKMAN and TITIEK SUNARTATIE

Kennel is the place for care and breeding dogs. Kennel used to preserve the genetic and as an attempt to take provit. A good kennel management must consider the welfare of animals to ensure the quality of the dogs life during their stay there. This studied aim to observe: the level of animal welfare at the kennel, the level of knowledge, attitude and practices of kennel owner performed by interviewing respondents using questionnaires and observation. Data analysis to determine associations between variables using chi-square and gamma tests. The results show that the characteristics of the owner (age, level of education, training, experience and scale of business) are not related. There is association between knowledge (P<0,05) and attitudes (P<0,05) towards animal welfare practices.

Kesejahteraan Hewan di Provinsi DKI Jakarta. Dibimbing oleh DENNY WIDAYA LUKMAN dan TITIEK SUNARTATIE.

Manusia dan anjing sudah sejak lama hidup bersama. Keduanya memiliki hubungan cukup menarik selama ribuan tahun. Beberapa penelitian telah menjelaskan bahwa anjing dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara eksternal maupun internal. Anjing telah berkontribusi sebagai terapi untuk berbagai kelompok dalam masyarakat termasuk anak-anak, orang tua, penyandang cacat dan narapidana. Ikatan hewan dan manusia secara berdampingan dikaitkan dengan banyak aspek menguntungkan, terlepas dari kebutuhan yang berbeda dari setiap individu.

Namun bagaimana jika anjing berada di lingkungan terbatas, seperti contoh di kennel. Kennel merupakan tempat pemeliharaan, perkembangbiakan

dan pemuliaan ras anjing. Biasanya kennel memberikan kebutuhan biologis

hewan peliharaan tetapi mengabaikan kebutuhan emosional mereka. Perspektif ini muncul dari anggapan bahwa emosi tidak terukur pada hewan dan kesehatan emosional tidak relevan dengan penderitaan pada hewan. Pemikiran ini membuat penekanan pada kecukupan biologis sebagai alasan tunggal dalam hal penderitaan pada hewan. Ada anggapan bahwa, hewan tidak bisa menderita karena tekanan emosional, akibatnya kebutuhan emosional sering diabaikan. Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengungkapkan tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan di kennel.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi kesejahteraan hewan pada kennel di wilayah DKI Jakarta, (2) tingkat pengetahuan, sikap dan

praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan dan (3) hubungan antara

pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah: (1) kondisi kennel di DKI Jakarta

sudah sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan, (2) tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan sudah baik dan (3)

terdapat korelasi antara pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait

kesejahteraan hewan.

Metode wawancara dilakukan terhadap pemilik kennel sebagai responden

menggunakan kuesioner dan observasi menggunakan checklist berkaitan

dengan kesejahteraan hewan. Kuesioner berisi beberapa pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan praktik kesejahteraan hewan. Isi checklist memuat

pertanyaan mengenai kondisi kesejahteraan hewan di lapangan. Responden diambil pada kennel yang terdapat di wilayah : Jakarta Pusat, Jakarta Utara,

Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat berdasarkan data sekunder dari Perkumpulan Kinologi Indonesia (PERKIN) Jaya tahun 2011. Besaran sampel yang diambil sebanyak 87 responden dari 831 pemilik kennel. Besaran

sampel dihitung menggunakan Win Episcope 2.0 dengan asumsi proporsi pemilik

kennel yang menerapkan prinsip kesejahteraan hewan adalah 50%, tingkat

kesalahan 10% dan tingkat kepercayaan 95%. Sampel diambil menggunakan metode pengambilan contoh acak sederhana.

Dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16, data

yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan Uji Gamma, untuk melihat adanya hubungan/korelasi antara peubah-peubah yang diamati dan untuk mengetahui asosiasi antara peubah-peubah yang berskala ordinal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya karakteristik pengalaman dan skala usaha terhadap variabel sikap yang memiliki hubungan positif nyata.

hewan.

Hasil tingkat pengetahuan responden mengindikasikan bahwa responden telah mengetahui tentang kesejahteraan hewan sedang sampai baik. Banyaknya tingkat pengetahuan responden kategori sedang sampai baik ini, terutama diperoleh secara otodidak. Hal ini disebabkan karena kurangnya penyelenggaraan program kursus/pelatihan tentang kesejahteraan hewan.

Berdasarkan indikator sikap responden mengindikasikan bahwa secara umum responden memiliki sikap negatif sampai netral tentang kesejahteraan hewan. Banyaknya kategori sikap netral dari responden yang dibentuk dari pengetahuan dan pengalaman atau kebiasaan-kebiasaan mereka selama memelihara anjing di kennel sudah memadai. Faktor kurangnya mengikuti

program kursus atau pelatihan tentang kesejahteraan hewan di kennel, membuat

responden merasa yakin apa yang diketahui selama ini sudah sesuai.

Hasil penjumlahan kumulatif praktik dan observasi menunjukkan kondisi kesejahteraan hewan yang sebenarnya di kennel. Gambaran responden

melakukan praktik kesejahteraan hewan didominasi kategori kurang (53 %). Hal ini mengindikasikan bahwa kecenderungan responden kurang peduli terhadap kesejahteraan anjing di kennel. Mengingat keterbatasan lahan kennel dan waktu

responden dalam memberikan perhatian terhadap anjing di kennel.

Adanya hubungan antara pengetahuan dengan praktik (0,017) dan sikap dengan praktik (0,006). Sementara pengetahuan dengan sikap tidak memiliki asosiasi (0,169). Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan dan sikap responden berpengaruh terhadap praktik responden terkait kesejahteraan hewan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manusia dan anjing sudah sejak lama hidup bersama. Keduanya memiliki hubungan cukup menarik selama ribuan tahun. Namun hanya dalam beberapa tahun terakhir penelitian telah dilakukan untuk memperoleh data mengenai hubungan tersebut. Ada yang percaya bahwa anjing memiliki kepribadian, sementara ada yang ragu tentang bidang-bidang yang kaitannya dengan kognisi (kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan tentang kesadaran dan perasaan)

Beberapa penelitian telah menjelaskan bahwa anjing dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara eksternal maupun internal. Anjing telah berkontribusi sebagai terapi untuk berbagai kelompok dalam masyarakat termasuk anak-anak, orang tua, penyandang cacat dan narapidana. Dengan bantuan anjing, manusia mampu mengatasi apa pun yang menghalangi mereka dari fungsinya dalam masyarakat dan mencegah terjadinya trauma fisik atau emosional. Ikatan manusia dan hewan secara berdampingan dikaitkan dengan banyak aspek menguntungkan, terlepas dari kebutuhan yang berbeda dari setiap individu.

Richeson (2003) menyatakan bahwa ada penurunan perilaku gelisah yang cukup signifikan pada orang dewasa setelah intervensi animal-assisted therapy (AAT) selama tiga minggu. Allen et al. (2002) melaporkan bahwa kehadiran anjing peliharaan mengakibatkan detak jantung dan tekanan darah pemilik relatif lebih rendah. Tindakan membelai hewan kesayangan telah terbukti mengakibatkan penurunan sementara tekanan darah dan denyut jantung (Katcher 1981; Shiloh et al. 2003; Wilson 1991). Beberapa anjing memiliki kemampuan bawaan untuk mendeteksi kanker bahkan hipoglikemia (Wells et al.

2008). Keuntungan bagi kesehatan dalam jangka panjang diperoleh dari hewan peliharaan secara tidak langsung dengan meningkatkan latihan bersama pemilik hewan (Bauman et al. 2001; Brown dan Rhodes 2006; Serpell 1991).

Menurut Ledger (2004), bahwa kennel melakukan pekerjaan dengan baik dengan memberikan kebutuhan biologis hewan peliharaan tetapi mengabaikan kebutuhan emosional mereka. Perspektif ini muncul dari anggapan bahwa emosi tidak terukur pada hewan dan kesehatan emosional tidak relevan dengan penderitaan pada hewan. Pemikiran seperti ini membuat penekanan pada

kecukupan biologis sebagai alasan tunggal dalam hal penderitaan pada hewan. Ada anggapan bahwa, hewan tidak bisa menderita karena tekanan emosional, akibatnya kebutuhan emosional sering diabaikan. Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengungkapkan tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel

terkait kesejahteraan hewan di kennel.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Kondisi kesejahteraan hewan pada kennel di wilayah DKI Jakarta

b. Tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan

c. Hubungan antara pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan:

- Memberikan informasi mengenai kondisi kesejahteraan hewan pada

kennel di wilayah DKI Jakarta

- Memberikan informasi mengenai tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan di wilayah DKI Jakarta

- Memberikan motivasi, penerapan kesejahteraan hewan berdasarkan lima prinsip kebebasan untuk menunjang kualitas hidup anjing.

Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Kondisi kennel di DKI Jakarta sudah sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan

2. Tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan sudah baik

3. Terdapat korelasi antara pengetahuan, sikap dan praktik pemilik kennel

Dokumen terkait