• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI : PEMBAHASAN ............................................................................... 90-123

6.4. Sikap Penjual Tahu Terhadap Informasi Bahaya Formalin

Sikap merupakan variabel yang perlu diamati karena sikap dapat

menjadi dasar untuk terbentuknya perilaku. Berdasarkan skala lickert

penilaian pendapat sikap terbagi menjadi 5 kategori yakni: sangat setuju;

setuju; ragu-ragu; tidak setuju; dan sangat tidak setuju (Sugiyono, 2009).

Pada kuesioner ini sikap diukur menggunakan skala lickert dengan gradasi

pertanyaan dari yang sangat positif menuju ke yang sangat negatif. Sikap

positif artinya perilaku baik yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma

kehidupan yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan sikap negatif adalah

sikap yang tidak seseuai dengan nilai dan norma-norma kehidupan yang

berlaku dalam masyarakt atau bahkan bertentangan (Purwanto, 1998).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang cenderung

negatif sebesar 35,3%. Namun kenyataanya masih ditemukan sebesar 46,6%

tahu mengandung formalin. Dengan demikian sikap positif belum tentu

menghasilkan tindakan positif atau baik. Penelitian Habibah (2013), juga

menunjukkan hal yang sama bahwa sikap positif justru menjual makanan

berformalin, dan sebaliknya sikap negatif justru tidak menjual.

Sikap menurut Notoatmodjo (2007), merupakan respon yang masih

tertutup terhadap suatu stimulus tetapi melibatkan faktor pendapat dan

emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju,

positif-negatif, dsb). Perbedaan antara sikap dan perilaku dari responden dapat

disebabkan oleh adanya suatu reaksi tertutup responden terhadap peneliti

sehingga informasi yang didapat mungkin kurang dapat menggambarkan

keadaan yang sebenarnya. Kemungkinan para responden bersikap positif

untuk menutupi perilaku penjualan tahu berformalin yang dilakukannya.

Jika dilihat dari item pernyataan sikap tertentu, akan tergambar pernyataan

mana yang sebenarnya masih belum diketahui responden.

Respon tertutup yang mungkin menyebabkan sebagian responden

tidak jujur dalam menjawab mungkin terkait dengan nilai, salah satunya

nilai keagamaan. Menurut Hakim (2012), nilai tak hanya dijadikan rujukan

untuk bersikap dan berbuat, tapi juga dijadikan ukuran benar tidaknya suatu

fenomena perbuatan dalam masyarakat. Salah satu nilai yang terkait dengan

sikap yang dapat mempengaruhi perilaku adalah nilai keagamaan, yang

dalam hal ini berkaitan dengan kejujuran responden. Jika nilai

keagamaannya tinggi maka apabila si penjual tahu mengetahui bahwa tahu

Selain itu sikap juga terbentuk dari 3 komponen yakni komponen

afektif (perasaan), kognitif (pemikiran), dan perilaku (Waluyo, 2000).

Dalam penelitian ini responden cenderung memiliki sikap positif yakni tidak

setuju keberadaan formalin, dapat dikarenakan komponen afektif (perasaan)

ketakutan jika respon tertutupnya diketahui kebenarnanya, sehingga

menyebabkan responden berfikir untuk menutupinya dengan sikap positif.

Menurut Fitriani (2011), sikap terdiri dari beberapa tingkatan yakni

menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan bertanggungjawab (responsible). Dalam penelitian ini, responden telah mencapai tingkatan kedua yakni merespon (responding), karena responden mau memberikan jawaban saat ditanya, dan mengisi kuesioner saat diminta

mengisinya. Namun saat diajak mendiskusikan terkait formalin, responden

cenderung tertutup dan menolak, sehingga belum sampai pada tingkatan

menghargai (valuing), yakni bersedia mendiskusian suatu masalah.

Pada pernyataan C5 tentang “penggunaan bahan pengawet dapat

meningkatkan kualitas tahu”, skor hasil kali skala lickert menunjukkan hasil 94 yakni cenderung dari ragu-ragu mengarah ke tidak setuju. Kemudian

sebesar 50% responden tidak setuju jika penggunaan bahan pengawet dapat

meningkatkan kualitas tahu. Padahal menurut teori Suprapti (2005), tujuan

penggunaan bahan tambahan pengawet makanan adalah untuk

meningkatkan kualitas tahu yang dihasilkan, namun bahan pengawet itu

sendiri haruslah bahan pengawet yang diizinkan penggunaannya

Pada penelitian ini, responden cenderung ragu-ragu mengarah ke tidak

setuju dengan penggunaan bahan pengawet, karena mereka menganggap

bahwa penggunaan bahan pengawet tidaklah baik. Saat ditanya tentang hal

tersebut kebanyakan dari responden menganggap bahan pengawet adalah

unsur kimia yang tidak baik bagi kesehatan jika di konsumsi, jadi tidak

boleh ada dalam makanan seperti tahu. Menurut Suprapti (2005),

sebenarnya bahan pengawet ada yang alami seperti garam atau kunyit dan

juga ada pengawet sintesis yang diizinkan penggunaannya pada makanan

dengan dosis yang telah ditentukan, sehingga bahan pengawet dapat

membantu dalam meningkatkan kualitas tahu. Responden juga mengakui

tidak mengerti tentang bahan tambahan makanan karena mereka tidak

pernah mendengar berita tentang itu dan juga tidak pernah mengikuti

pelatihan tentang bahan tambahan makanan. Hal tersebut yang mungkin

menyebabkan mereka tidak mengetahui sebenarnya sebagian pengawet ada

yang diperbolehkan penggunanannya.

Kemudian sikap responden terkait pernyataan C7 tentang

“penggunaan formalin pada tahu di perbolehkan” menunjukkan hasil tidak

setuju sebanyak 67,6% dengan skor hasil kali skala likert sebesar 142

menunjukkan tidak setuju mengarah ke sangat tidak setuju. Hal ini sesuai

dengan larangan yang telah di sebutkan dalam SNI-01-0222-1995 tentang

bahan tambahan makanan Lampiran II yang melarang keberadaan formalin

pada makanan. Tetapi kenyataanya, dalam penelitian ini masih ditemukan

sebesar 46,6% tahu mengandung formalin. Penelitian Habibah (2013) juga

formalin tidak diperbolehkan memiliki sikap yang berbanding terbalik

dengan praktik yang dilakukan. Pada penelitian tersebut responden yang

memiliki sikap positif justru menjual makanan berformalin.

Dari yang peneliti amati, ada sebagian responden yang ekspresi saat

ditanya tentang formalin menjawab santai, tetap ramah, dan tenang,

mungkin karena mereka memang tidak mengetahui tahu yang mereka jual

mengandung formalin atau tidak. Akan tetapi ada sebagian juga yang seperti

merasa ketakutan, tidak santai, dan langsung berubah ekspresi wajahnya

menjadi acuh dan menjawab agak sinis, mungkin karena sebenarnya

sebagian dari mereka mengetahui bahwa tahu yang mereka jual berformalin

namun mereka berusaha menutupinya.

Selain itu, sikap responden terkait pertanyaan C10 tentang “makan tahu berformalin baik untuk kesehatan” menunjukkan hasil tidak setuju

sebanyak 61,8%, dengan skor hasil kali skala likert sebesar 147

menunjukkan tidak setuju mengarah ke sangat tidak setuju. Hal ini sesuai

dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mengkonsumsi

formalin dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Formalin juga

diketahui sebagai zat beracun dan karsinogen (menyebabkan kanker) (Sari,

2008).

Sikap responden cenderung tidak setuju mengarah ke sangat tidak

setuju terhadap pernyataan “makan tahu berfomalin baik untuk kesehatan”,

menunjukkan hal yang baik. Mereka bersikap demikian mungkin karena

sebelumnya telah mengetahui bahwa ada dampak jika mengkonsumsi

mengetahui secara mendalam dampaknya seperti apa dan seberapa

berbahayanya. Hal tersebut memang karena disebabkan dampaknya yang

akumulatif, jadi tidak langsung terlihat.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, formalin merupakan bahan

berbahaya yang dilarang penggunaannya pada makanan. Sikap yang

seharusnya dimiliki oleh seseorang terhadap formalin adalah tidak

menjualnya atau menolak penggunaan formalin pada makanan. Sehingga

dapat diasumsikan dalam penelitian ini sikap tidak setuju terhadap

keberaaan formalin pada makanan adalah sikap yang harus ditanamkan

dalam diri masyarakat. Dengan adanya sikap tidak setuju pada diri

seseorang akan membuat dirinya menjauhi atau tidak menjual tahu

berformalin.

Sesuai dengan teori Maulana (2009) sikap merupakan reaksi yang

masih tertutup terhadap suatu objek yang merupakan kecenderungan untuk

berkelakukan (berperilaku) dengan pola-pola tertentu, terhadap objek. Sikap

merupakan respon dalam bentuk abstrak yang belum dapat dilihat, sehingga

masih memungkinkan untuk responden berbohong. Dalam penelitian ini,

jika seseorang memiliki sikap positif yang berasal dari pengetahuan dan

kesadaran akan bahaya suatu zat, maka kemungkinan akan mempengaruhi

orang tersebut untuk berperilaku baik. Perilaku yang diharapkan dari sikap

positif dan pengetahuan yang baik adalah tidak menjual tahu berformalin

Dokumen terkait