H. Prosedur Penelitian
2. Siklus II a. Hasil Belajar
Data hasil belajar SAINS pada siklus II diperoleh melalui pemberian tes hasil belajar SAINS setelah menyelesaikan konsep Pengaruh Gaya Terhadap Gerak dan Bentuk Suatu Benda. Analisis deskriptif skor hasil belajar SAINS murid Kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Hasil Belajar SAINS Murid Kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa Pada Tes Akhir Siklus II
Statistik Nilai Statistik
Jumlah murid 36
Skor ideal 100
Nilai tertinggi 100
Nilai terendah 60
Rentang skor 40
Skor rata-rata 80,83
Median 85
Standar deviasi 11,05
Sumber : Diolah dari hasil tes siklus II
Hasil belajar yang diperoleh pada tes akhir siklus II memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar SAINS murid kelas V hal itu dapat dilihat dari
meningkatkan skor perolehan murid setelah diadakan tes evaluasi dimana skor tertinggi yang diperoleh murid 100 dan untuk skor terendah yaitu 60 nilai tersebut hampir mencapai standar ketuntasan tiap individu yang telah ditentukan yaitu 65.
Selain itu rata-rata kelas untuk siklus II juga mengalami peningkatan 80,83. Jadi dapat dikatakan bahwa hasil belajar pada siklus II tergolong tinggi.
Apabila skor hasil belajar SAINS tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori sesuai dengan kategori yang ditetapkan oleh Departeman pendidikan dan Kebudayaan, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Pada Siklus II
Kategori Interval Nilai Frekuensi persentase %
Sangat Tinggi 89 – 100 10 27,77
Tinggi 77 – 88 10 27,77
Sedang 65 – 76 14 38,89
Rendah 53 – 64 2 5,57
Sangat Rendah ˂ 52 0 0
Jumlah 36 100
Sumber : Diolah dari hasil tes siklus II
Hasil di atas menunjukkan bahwa persentase 27,77%, atau 10 orang murid dari 36 jumlah murid berada pada kategori tinggi, jadi dapat dikatakan bahwa hasil belajar murid pada siklus II mengalami peningkatan.
Gambar 4.3 Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Pada Siklus II
Nilai ketuntasan belajar SAINS dapat dilihat berdasarkan daya serap murid.
Apabila daya daya serap murid terhadap konsep Pengaruh Gaya terhadap Bentuk dan Gerak Suatu benda dikelompokkan ke dalam kategori tuntas dan tidak tuntas, maka diperoleh distribusi frekuensi dan prentase ketuntasan belajar SAINS pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Deskriprtif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
Kategori Skor Siklus II
Frekuensi Persen (%)
Tidak Tuntas 0 - 64 2 5,55
Tuntas 65 - 100 34 94,45
Jumlah 36 100
Sumber : Diolah dari hasil tes siklus II
10
0 2 4 6 8 10 12 14 16
89 – 100 Sangat Tinggi
Distribusi Frekuensi Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Siklus II
Gambar 4.3 Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Pada Siklus II
Nilai ketuntasan belajar SAINS dapat dilihat berdasarkan daya serap murid.
Apabila daya daya serap murid terhadap konsep Pengaruh Gaya terhadap Bentuk dan Gerak Suatu benda dikelompokkan ke dalam kategori tuntas dan tidak tuntas, maka diperoleh distribusi frekuensi dan prentase ketuntasan belajar SAINS pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Deskriprtif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
Kategori Skor Siklus II
Frekuensi Persen (%)
Tidak Tuntas 0 - 64 2 5,55
Tuntas 65 - 100 34 94,45
Jumlah 36 100
Sumber : Diolah dari hasil tes siklus II
10 10
14
2
0 77 – 88 65 – 76 53 – 64 ˂ 52
Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah
Distribusi Frekuensi Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Siklus II
Gambar 4.3 Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar SAINS Pada Siklus II
Nilai ketuntasan belajar SAINS dapat dilihat berdasarkan daya serap murid.
Apabila daya daya serap murid terhadap konsep Pengaruh Gaya terhadap Bentuk dan Gerak Suatu benda dikelompokkan ke dalam kategori tuntas dan tidak tuntas, maka diperoleh distribusi frekuensi dan prentase ketuntasan belajar SAINS pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Deskriprtif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
Kategori Skor Siklus II
Frekuensi Persen (%)
Tidak Tuntas 0 - 64 2 5,55
Tuntas 65 - 100 34 94,45
Jumlah 36 100
Sumber : Diolah dari hasil tes siklus II Distribusi Frekuensi Jumlah Murid Dalam Setiap
Kategori Hasil Belajar SAINS Siklus II
Frekuensi
Hasil diatas menunjukkan bahwa pada siklus II, hasil belajar SAINS murid kelas V sudah berada dalam kategori tuntas sebab banyaknya murid yang memperoleh kategori tuntas 34 murid yang apabila dipersentasekan memiliki nilai 94,45%.
Gambar 4.4 Grafik Deskriptif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
b. Aktivitas Murid
Keaktifan murid dalam belajar mengajar dapat diketahui dari hasil observasi pada setiap pertemuan yang dilakukan oleh observator. Pada siklus II terdapat tiga kali pertemuan.
0 5 10 15 20 25 30 35
Frekuensi
Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Belajar Siklus II
Hasil diatas menunjukkan bahwa pada siklus II, hasil belajar SAINS murid kelas V sudah berada dalam kategori tuntas sebab banyaknya murid yang memperoleh kategori tuntas 34 murid yang apabila dipersentasekan memiliki nilai 94,45%.
Gambar 4.4 Grafik Deskriptif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
b. Aktivitas Murid
Keaktifan murid dalam belajar mengajar dapat diketahui dari hasil observasi pada setiap pertemuan yang dilakukan oleh observator. Pada siklus II terdapat tiga kali pertemuan.
34
2
Kategori
Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Belajar Siklus II
Tuntas Tidak Tuntas
Hasil diatas menunjukkan bahwa pada siklus II, hasil belajar SAINS murid kelas V sudah berada dalam kategori tuntas sebab banyaknya murid yang memperoleh kategori tuntas 34 murid yang apabila dipersentasekan memiliki nilai 94,45%.
Gambar 4.4 Grafik Deskriptif ketuntasan belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka Kabupaten Gowa pada siklus II
b. Aktivitas Murid
Keaktifan murid dalam belajar mengajar dapat diketahui dari hasil observasi pada setiap pertemuan yang dilakukan oleh observator. Pada siklus II terdapat tiga kali pertemuan.
Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Belajar Siklus II
Tuntas Tidak Tuntas
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi observasi aktivitas murid pada siklus II
No Indikator yang Diamati
Siklus I
Rata-rata (%) Frekuensi Persentase (%)
P.1 P.2 P.3 P.1 P.2 P.3 1 Murid yang menyimak penjelasan
guru (murid yang terlihat memperhatikan penjelasan guru)
31 34 35 86,11 94,44 97,22 92,59 2 Aktivitas murid dalam kelompok
saat mencari jawaban LKS 30 34 34 88,33 94,44 94,44 92,40 3 Murid yang mencatat atau
menyalin apa yang telah dijelaskan oleh guru
31 31 33 86,11 86,11 91,67 87,97 4 Murid yang menjawab pertanyaan
(memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan
12 15 18 33,33 41,67 50 41,67
5 Murid yang mengajukan tanggapan (murid menyangkal dan memberi jawaban lain dengan alasaan sendiri)
8 9 12 22,22 25 33,33 26,85
6 Murid yang meminta bimbingan
guru dalam menyelaesaikan LKS. 11 10 5 30,55 27,77 13,88 24,07 7 Murid yang melakukan kegiatan
lain baik dalam proses pemberian materi pembelajaran maupun disaat mengerjakan tugas (main-main, kluar masuk kelas, ribut, mengerjakan pekerjaan lain dan sebagainya)
6 2 0 16,67 5,55 0 7,40
Rata-rata 53,27
Sumber : Diolah dari hasil observasi aktivitas murid siklus II
Hasil observasi pelaksaan tindakan pada siklus II terjadi perubahan baik dari sikap, perhatian maupun keaktifan murid, dan yang paling menonjol adalah jumlah murid yang melakukan kegiatan lain di dalam kelas sudah tidak ada lagi.
Begitu juga dengan murid yang meminta bimbingan guru pada saat mengerjakan LKS sudah berkurang. Selain itu murid yang menjawab dan mengajukan
tanggapan juga memperlihatkan kemajuan yang cukup baik. Sedangkan murid yang mencatat dan menyimak penjelasan guru juga menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Hal yang paling menonjol juga diperlihatkan pada aktivitas murid dalam mengerjakan LKS semakin kompak. Akan tetapi masih ada beberapa murid dalam satu kelompok yang tidak aktif.
c. Refleksi siklus II
Tabel pengkategorian skor hasil belajar murid menunjukkan bahwa hasil belajar murid kelas V pada siklus II sudah mengalami peningkatan. Hal ini ditandai dengan distribusi nilai hasil belajar murid yang berbeda pada kategori sangat tinggi dengan distribusi nilai hasil belajar murid yang berbeda pada kategori sangat tinggi dengan persentase 27,77% dan kategori tinggi sebesar 27,77% mengalami peningkatan. Penerapan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI). Pada siklus II telah menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua pada siklus II. Akan tetapi , pada akhir siklus II, masih ditemukan beberapa masalah dalam proses pembelajaran, masalah-masalah yang ditemukan tersebut dapat dijadikan sebagai refleksi untuk perbaikkan siklus II. Adapun permasalahan yang ditemukan selama proses pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Masih ada 1-2 orang murid yang tidak aktif dalam mengerjakan LKS.
2) Masih ada murid yang susah menggunakan bahasa ilmiah dalam SAINS.
Menyikapi berbagai masalah yang terjadi pada siklus II, maka perbaikan yang dilaksanakan pada siklus II lebih ditekankan pada pengelolaan kelas agar proses diskusi berjalan lancar dan murid yang aktif selama proses pembelajaran lebih meningkat. Adapun tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah.
1) Lebih menekankan kepada setiap murid bahwa dengan bekerja kelompok akan menambah wawasan.
2) Lebih banyak menggunakan bahasa ilmiah SAINS agar murid terbiasa menggunakan bahasa ilmiah.
Beberapa kendala dihadapi pada siklus II ini akan sebagai refleksi yang akan dilakukan perbaikan diantaranya lebih mendorong murid lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan memberikan penjelasan lebih mendalam, ditekankan pula kepada murid bagaimana harus bersikap toleransi, bertanggungjawab, kerja sama saling menghargai sesama kelompok.
Menyikapi hasil refleksi siklus II dan setelah mengamati berbagai kekurangan dan kemajuan murid selama siklus II terlihat bahwa sebagian besar hambatan yang ditemukan pada siklus I dapat teratas, meskipun masih terjadi pada siklus II. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa model pembelajaaran koperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) memberikan konstribusi positif terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar SAINS murid kelas V SD Inpres Katangka kabupaten Gowa. Kembali melihat indikator keberhasilan maka dapat dikatakan penelitian ini berhasil terbukti dimana dari jumlah keseluruhan murid yang ada di kelas V terdapat lebih dari 80% murid yang berada dalam kategori hasil belajarnya tuntas (dikatakan tuntas ketika mencapai ketuntasan minimal sebesar 65%), sehingga penelitian ini berakhir disiklus II.