• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Siklus Pertama

Siklus pertama ini terdiri dari empat bagian pokok, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

1. Perencanaan a. Ide Awal

Ide awal penelitian ini berawal dari keaktifan dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X.I SMA Stella Duce Bantul kurang. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian ini untuk memperbaiki dan meningkatkan keaktifan dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMA Stella Duce Bantul.

b. Temuan Awal

Peneliti menggunakan lembar observasi untuk mengetahui tingkat keaktifan dan pretest untuk mengetahui keaktifan siswa dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Peneliti mendiskusikan pembuatan soal pretest dengan guru pamong Th. Seta Nugraha S.Pd, kami membuat 5 butir soal mengenai materi yang akan disampaikan dalam implementasi paradigma pedagogi reflektif. 5 soal tersebut terdapat 3 soal yang termasuk dalam aspek

kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu apek menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa sebelum penerapan tindakan pembelajaran berbasis reflektif, peneliti menggunakan lembar observasi. Berikut data hasil observasi keaktifan siswa pra tindakan

Tabel. 5.1

Hasil Observasi Keaktifan pra tindakan

No Kategori frekuensi presentase

1 Siswa aktif 8 40%

3 Siswa pasif 12 60%

Jumlah 20 100%

Sumber : pra penelitian

Dari tebel hasil observasi tingkat keaktifan siswa diketahui bahwa 8 (40%) orang mengikuti pelajaran dengan aktif, 12 (60%) orang siswa mengikuti pembelajaran dengan kurang aktif, hal ini terjadi karena guru hanya menggunakan metode ceramah selama kegiatan belajar berlangsung sehingga membuat bosan dam siswa tidak bisa berkosentrasi dengan baik dan membuat kegiatan yang lain dengan main HP, tidur dan yang lainnya. Diharapkan hasil observasi setelah proses pembelajaran dengan metode reflektif dapat mengalami peningkatan.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pra penelitian dilihat dari pretest. Hasil pretest dapat dilihat dibawah ini.

Tabel 5.2

Hasil Pretest Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Pra Tindakan)

No NIS Nama

Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

Nilai Mampu Belum Mampu

1 1806 Aaron Luciano Aldy Hurulean 69 V 1807 Angela Merici Meilisa Ariyas P 62 V 3 1808 Chirstiana Ary Wulandari 37 V 4 1809 Christoforus Arif Ananta Rahayu 49 V 5 1810 Cicilia Kharin Herlianawati 47 V 6 1811 Daniel Hendriyana Suhendrik 55 V

7 1812 Ega Efriana 59 V

8 1813 Elmerilia Papuana Lusiana Baru 56 V

9 1814 Erika Natalia 64 V

10 1815 Gabriella Asa Ristartika 66 V 11 1816 Gregorius Wahyu Setiawan 55 V 12 1817 Helena Twindi Rahmawati 76 V

13 1818 Leonardus Dion Naibaho 37 V

14 1819 Maria Immaculata Prasetyarini 40 V

15 1820 Restu Wiyono 55 V

16 1821 Risma Binfamawi Swabra 41 V

17 1822 Rosa Mystica Putri 26 V

18 1823 Sindi Arlinda Dewi 41 V

19 1824 Visensius Bagaskara 56 V

20 1825 Yohanes Aris Purwantoro 45 V Sumber :data primer 2018

Kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran ekonomi di SMA Stella Duce Bantul adalah 76. Berdasarkan hasil pretest yang dilakukan sebelum materi Bank Sentral, Sistem Pembayaran dan Alat pembayaran ternyata pengetahuan awal mereka mengenai materi yang akan disampaikan dan juga kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sangat rendah terbukti hasil pretest dengan materi Bank Alat pembayaran

dan Sistem pembayaran dari 20 siswa kelas X.1 sebanyak 19 (95%) tidak memenuhi standar kelulusan minimal (KKM). Soal pretest tersebut merupakan soal uraian yang didalamnya memuat kompetensi C-1 sampai C6 dan di dalam soat pretest terebut terdapat tiga soal yang bisa dikatakan memenuhi syarat untuk kemampuan berpikir tinggat tinggi yaitu soal menganalisis (C4), Mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Namun dilihat dari jawaban siswa kelas X.I terlihat kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi cenderung lemah, dari 20 siswa yang mengikuti pratset sebelum tindakan sebanyak 19 siswa (95%) belum mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan siswa dari keseluruhan siswa tersebut hanya 1 (5%) siswa saja yang sudah mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Dari hasil pretest yang masih banyak siswa yang belum mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi maka dari itu peneliti menggunkan model pembelajaran reflektif. Di dalam pembelajaran reflektif terdapat prinsip konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi maka siswa diharapkan mampu menjadikan konteks dalam kehidupan mereka untuk dijadikan pengalaman sebagai sebagai dasar untuk memulai pengetahuan mereka pengetahuan tersebut kemudian direfleksikan agar tidak hanya diingat saja tetapi juga dihidupi dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa mampu mewujudkan aksi baik di dalam kelas dengan membuat komitmen dalam diri sendiri serta aksi diluar kelas dengan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Dari rangkaian proses diatas

maka siswa mampu mengevaluasi dirinya sendiri maupun orang lain agar dirinya bisa berkembang untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

Pada tahap perencanaan tindakan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bersama dengan guru, menentukan materi yag akan disampaikan, menyiapkan media pembelajaran dalam pembelajaran dengan model reflektif

1) Menyusun Rencana Pelaksanaa Pembelajaran (RPP)

Peneliti menyusun (RPP) dengan model reflektif sesuai dengan materi yang diberikan guru.

2) Menyiapkan bahan pembelajaran reflektif dengan membuat power

point (PPT) dengan materi Bank, Sistem Pembayaran dan alat

pembayaran dan juga contoh kasus untuk melatih siswa agar memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi.

3) Menyiapkan materi refleksi dan lembar refleksi untuk siswa dan untuk menguji pengetahuan siswa sesaat sebelum pertemuan di kelas berakhir.

2. Tindakan

Setelah tahap perencanaan dipersiapkan dengan baik maka peneliti melaksanakaan tahap tersebut pada pembelajaran di kelas. Peneliti bertindak sebagai guru ekonomi yang mempraktekkan RPP yang telah disusun oleh peneliti dan guru ekonomi. Pertemuan pertama membahas materi Alat pembayaran, sistem pembayaran dan alat pembayaran materi ini disampaikan dalam 2 kali pertemuan.

a. Pertemuan pertama (18 April 2018, 2X45 Menit) 1) Persiapan

a) Peneliti mempersiapkan media pembelajaran berupa Power Point dengan materi bank, sistem pembayaran, dan alat pembayaran. b) Sebelum pembelajaran dimulai peneliti memberi pengantar,

pengarahan dan motivasi kepada siswa tentang apa yang akan dilakukan pada pembelajaran hari ini

c) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran. 2) Penyampaian

Dalam penyampaian terdapat lima bagian atau poin penting dalam pembelajaran sesuai dengan paradigma pedagogi reflektif yaitu:

a) Konteks

Sebelum memulai pembelajaran peneliti berusaha mempersiapkan diri siswa dengan baik dengan cara menkondisikan suasana kelas dengan menyapa menanyakan kesiapan belajar semua itu dilakukan agar siswa benar-benar siap untuk belajar kemudian peneliti membuka wawasan siswa mengenai pengetahuan awal mereka tentang bank, sistem pembayaran dan alat pembayaran dikaitkan dengan keseharian siswa sehari-hari, peneliti juga mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang bisa memunculkan pengalaman mereka misalnya

“apakah kalian sudah pernah pergi ke bank” serta pertanyaan lainnya yang memancing pengalaman para siswa.

b) Pengalaman

Siswa mengungkapkan pengalaman mengenai pengetahuan tentang bank, sistem pembayaran dan alat pembayaran dengan mensharingkan pengalaman mereka mengunjungi bank dari pengalaman itu siswa bisa menerangkan sendiri tentang pengertian bank kegiatan apa saja yang dilakukan oleh bank serta manfaat bank, peneliti memberikan materi dengan media power point peneliti juga mengali pengalaman siswa dengan tanya jawab dan diskusi serta pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kasus bank yang ada di Indonesia serta pertanyaan lain mengenai materi bank sistem pembayaran dan alat pembayaran.

c) Refleksi

Istilah refleksi dipenelitian ini adalah mencermati kembali bahan studi tertentu, pengalaman, ide, usul atau reaksi sepontan supaya menangkap maknanya lebih mendalam (memunculkan makna dalam pengalaman manusiawi) dalam refleksi peneliti meminta siswa menreview kembali apa yang sudah mereka dapatkan dari pengalaman

pembelajaran pada hari itu dalam selembar kertas kemudian menuliskan apa yang mereka dapatkan dari pengalaman pembelajaran pada hari ini kemudian manfaat apa yang diperoleh dari pembelajaran ini serta apa yang akan mereka perbuat setelah bersama-sama belajar mengenai bank, sistem pembayaran dan alat pembayaran baik dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran d) Aksi

Istilah aksi menunjuk pada pertumbuhan batin seseorang berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Aksi dalam pembelajaran ini dibagi menjadi 2 yaitu:

i) Aksi dalam pembelajaran

Dalam penelitian ini peneliti menfokuskan aksi dalam PPR ini dengan keaktifan dan kemampuan kemampuan berpikir tingkat tinggi meningkat yang menurut peneliti merupakan tujuan dari adanya pembelajaran dengan model reflektif.

ii) Aksi diluar pembelajaran

Siswa diajak oleh peneliti untuk membuat komitmen tentang apa yang akan diperbuat setelah pembelajaran ini selesai siswa menuliskannya dalam lembar refleksi dan beberapa siswa mensharingkan aksinya di depan kelas.

e) Evaluasi

Setelah mengadakan refleksi dan aksi peneliti meminta pendapat siswa mengenai pendapat, perasaan, saran mengenai pembelajaran pada hari ini. Pendapat perasaan saran dan masukkan dari siswa menjadi masukkan yang saat berharga bagi peneliti agar dipertemuan kedua pembelajaran bisa lebih baik lagi sehingga siswa benar-benar memahami materi bank, sistem pembayaran dan alat pembayaran.

a. Pertemuan kedua ( 25 April 2018 2 x 45 menit) 1) Persiapan

a) Peneliti memberi pengantar, pengarahan, dan motivasi kepada siswa pada materi yang akan dibahas dengan model pembelajaran reflektif.

b) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran

c) Peneliti melakukan review terhadap pertemuan sebelumnya dengan mengajukan pertanyaan mengenai bank , sistem pembayaran dan alat pembayaran.

2) Penyampaian a) Konteks

sebelum memulai pembelajaran peneliti menanyakan terlebih dahulu kesiapan mereka dalam pembelajaran termasuk menanyakan keadaan mereka, mengatur suasana

kelas agar nyaman serta meminta siswa agar mengikuti pembelajaran dengan sungguh – sungguh selanjutnya sebelum masuk ke dalam materi pembelajaran peneliti membuka kembali wawasan mereka terkait pertemuan sebelumnya dengan menanyakan pemahaman yang sudah mereka pahami pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya peneliti membuka wawasan siswa terkait dengan penggunaan alat pembayaran dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pengalaman mereka dalam menggunakan uang sebagai alat pembayaran.

b) Pengalaman

Peneliti menjelaskan materi yang belum sempat diberikan kepada siswa dan membuka pertanyaan tentang materi yang disampaikan. Dalam pertemuan kedua peneliti membuat langkah berbeda dengan mengemasnya melalui analisis kasus perbankan yang ada di Indonesia. peneliti meminta siswa untuk memecahkan atau memberi solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan perbankan yang ada di Indonesia untuk memecahkan permasalahan yang terdapat dalam lembar kasus peneliti meminta siswa supaya membaca serta menganalisis dan mencari informasi atau pengalaman dari sumber-sumber tertentu agar dapat mengatasi permasalahan yang ada, dengan begitu siswa bisa

memahami konteks permasalahan yang ada guna memecahkan permasalahan tersebut dengan tepat. Latihan ini juga dimaksudkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

c) Refleksi

Refleksi pada pertemuan ini peneliti menggunakan analisis masalah sebagai media pembantu untuk refleksi agar siswa bisa lebih mampu memahami persoalan dan berlatih dengan kemampuan refleksi mereka. Sehinga bisa menjawab kira-kira solusi apa yang sesuai dengan masalah yang diberikan oleh peneliti dengan begitu siswa bisa lebih mendalami refleksi dan memilah informasi dengan baik sehingga bisa memecahkan persoalan dengan baik pula. Peneliti juga meminta perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka mengenai masalah perbankan dan cara mengatasinya. Setelah itu Peneliti juga kembali melakukan kegiatan refleksi akhir (penutup) untuk materi bank sistem pembayaran dan alat pembayaran dengan cara yang sama dengan yang dilakukan dipertemuan pertama.

d) Aksi

Istilah aksi menunjuk pada pertumbuhan batin seseorang berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Aksi dalam pembelajaran ini dibagi menjadi 2 yaitu:

i. Aksi di dalam kelas

Dalam penelitian ini peneliti menfokuskan aksi dalam PPR ini dengan keaktifan dan kemampuan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menurut peneliti merupakan tujuan dari adanya pembelajaran dengan model reflektif.

ii. Aksi di luar kelas

Siswa diajak oleh peneliti untuk membuat komitmen tentang apa yang akan diperbuat setelah pembelajaran ini selesai siswa menuliskannya dalam lembar refleksi dan beberapa siswa mensharingkan aksinya di depan kelas.

e) Evaluasi

Peneliti bersama – sama dengan siswa mengevaluasi kegiatan pembelajaran selama dua kali pertemuan dengan menanyakan serta memberi masukkan dan saran mengenai kegiatan pembelajaran. Dan selama dua kali pertemuan tersebut siswa merasa senang dan antusias dengan pembelajarn ekonomi pada materi bank, sistem pembayaran dan alat pembayaran karena pembelajaran dikemas secara menarik dan tidak monoton sehingga siswa juga antusias dalam mengikuti pembelajaran ekonomi pada materi ini.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada saat peneliti mempraktekkan RPP pada pembelajaran dengan model reflektif di kelas X.I, untuk melihat kekatifan belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi

Keaktifan belajar siswa selama proses belajar di kelas setelah tindakan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

a. Hasil pengukuran kekatifan belajar siswa di kelas

Tabel 5.3

Hasil Observasi Kekatifan Belajar siswa Setelah Implementasi I No Kategori Frekuensi Presentase

1 Siswa aktif 17 85%

2 Siswa pasif 3 15%

Jumlah 20 100%

Sumber:hasil penelitian,2018

Keaktifan dalam kegiatan belajar ekonomi dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 aspek yaitu (1) siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, (2) siswa mengajukan pendapat/tanggapan bila diberi kesempatan, (3) siswa berani mengungkapkan pendapat dalam kelompok/teman dalam diskusi, (4) siswa mengerjakan latihan secara individu. Dari ke empat aspek tersebut peneliti melihat bahwa terdapat peningkatan signifikan keaktifan siswa saat pembelajaran ekonomi dengan dengan menggunakan model pembelajaran reflektif hingga lebih dari 55% atau dari data yang peneliti peroleh maka tingkat keaktifan setelah implementasi tindakan pertama yaitu 85% dari target minimal yaitu 55% kekatifan siswa saat pembelajaran ekonomi. hal ini tercapai karena meneliti mengamati selama kegiatan pembelajaran

ekonomi dengan reflektif hampir semua siswa antusias terbukti dengan selama kegiatan pembelajaran setiap siswa banyak yang aktif dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran baik bertanya saat di beri kesempatan, menjawab saat ditanya kemudian berusaha memecahkan masalah dalam kelompok saat diberi persoalan dan yang terakhir siswa menrefleksikan apa yang sudah mereka pelajari.dengan begitu menurut peneliti hal semacam itu bisa dikategorikan/digolongkan ke dalam tingkat keaktifan yang tinggi berdasarkan data yang diperoleh langsung.

b. Hasil pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi

Setelah peneliti melakukan tindakan pada kelas X.1 dengan penerapan pembelajaran reflektif maka perlu diukur apakah pembelajaran reflektif mampu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di SMA Stella Duce Bantul. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan soal tes. Soal tes ini terdiri dari 5 soal yang di dalamnya termuat soal yang mencerminkan kemampuan C4-C5, soal dibuat oleh peneliti dan diberi saran serta masukkan oleh guru pembimbing mata pelajaran ekonomi kelas X.I soal/ tes yang diberikan siswa berbentuk uraian yang diharapkan dengan soal uraian siswa mampu untuk mengungkapkan gagasan mereka sendiri dan dengan lebih bebas bisa menuangkan apa yang telah mereka pelajari dan mereka dapatkan selama pembelajaran ekonomi berlangsung dengan begitu siswa bisa

dikatakan mampu dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dari hasil pengerjaan soal uraian yang dilakukan oleh siswa maka diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 5.4

Hasil Nilai Ulangan Setelah Tindakan I Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

No NIS Nama Nilai Kemampuan Berpikir Tingkat Tiggi Mampu Belum Mampu 1 1806 Aaron Luciano Aldy Hurulean 83 V

2 1807 Angela Merici Meilisa Ariyas P 77 V 3 1808 Chirstiana Ary Wulandari 78 V 4 1809 Christoforus Arif Ananta Rahayu 77 V 5 1810 Cicilia Kharin Herlianawati 76 V 6 1811 Daniel Hendriyana Suhendrik 77 V

7 1812 Ega Efriana 76 V

8 1813 Elmerilia Papuana Lusiana Baru 43 V

9 1814 Erika Natalia 78 V

10 1815 Gabriella Asa Ristartika 80 V

11 1816 Gregorius Wahyu Setiawan 73 V 12 1817 Helena Twindi Rahmawati 77 V

13 1818 Leonardus Dion Naibaho 46 V 14 1819 Maria Immaculata Prasetyarini 78 V

15 1820 Restu Wiyono 81 V

16 1821 Risma Binfamawi Swabra 77 V 17 1822 Rosa Mystica Putri 77 V 18 1823 Sindi Arlinda Dewi 79 V

19 1824 Visensius Bagaskara 57 V

20 1825 Yohanes Aris Purwantoro 77 V Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 76

Sumber setelah Implementasi, 2018

Dari pengerjaan soal uraian yang dikerjakan secara individu, dapat dilihat bahwa 16 siswa kelas X.I sudah mampu menggunakan kemampuan

berpikir tingkat tinggi untuk menyelesaikan soal ulangan (80%) dan 4 orang (20%) belum mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk menyelesaikan soal ulangan. maka dalam hal ini harapan 75% siswa mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi sudah tercapai. Siswa sudah mampu menyampaikan jawaban dengan menggunakan bahasa sendiri dari hasil kemampuan berpikir abstrak dengan soal berbeda dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi, namun masih ada 4 siswa yang belum mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Rekapan nilai siswa sebelum implementasi siswa dan setelah implementasi siklus 1 dapat dilihat di tebel di bawah ini:

Tabel 5.5

Rekap Nilai Ulangan Ekonomi Sebelum Implementasi Dan Sesudah Implementasi Pada Aspek Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

No NIS

Sebelum Tindakan Setelah Tindakan Nilai Kemampuan berpikir tingkat tinggi Nilai Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi mampu Belum mampu Mampu Belum Mampu 1 1806 69 V 83 V 2 1807 62 V 77 V 3 1808 37 V 78 V 4 1809 49 V 77 V 5 1810 47 V 76 V 6 1811 55 V 77 V 7 1812 59 V 76 V 8 1813 56 V 43 V 9 1814 64 V 78 V 10 1815 66 V 80 V 11 1816 55 V 73 V 12 1817 76 V 77 V 13 1818 37 V 46 V 14 1819 40 V 78 V

15 1820 55 V 81 V 16 1821 41 V 77 V 17 1822 26 V 77 V 18 1823 41 V 79 V 19 1824 56 V 57 V 20 1825 45 V 77 V

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 76 Sumber : sebelum dan sesudah Implementasi

Dilihat dari hasil siswa pada pretest dan posttest setelah implementasi pembelajaran reflektif 16 siswa sudah memiliki kemampuan berpikirtingkat tinggi dan tuntas nilai KKM. Target 75% dari keseluruhan siswa sudah mampu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk menjawab soal-soal yang memuat kemampuan untuk menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6) sudah tercapai yaitu sebanyak 16 siswa (80%) sudah memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dari sebelumnya 5% siswa. Keberhasilan dari kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan pembelajaran reflektif tidak hanya dilihat dari perolehan skor dan jawaban yang digunakan oleh siswa dalam menjawab soal tetapi juga didasarkan atas pengalaman dan refleksi yang dilakukan oleh setiap siswa hal ini sejalan dengan prinsip refleksi yaitu pengalaman, refleksi, dan aksi. Pengalaman di sini adalah saat siswa melaksanakan pembelajaran bersama, refleksi di sini adalah saat siswa mengungkapkan pengalamannya saat pembelajaran dan aksi di sini adalah saat siswa mengerjakan soal dengan baik.

4. Refleksi

Dari hasil penelitian dan observasi pada saat sebelum dan sesudah implementasi pembelajaran reflektif jelas terlihat dampak yang signifikan dari yang sebelum menggunkan refleksi dan sesudah penerapan pembelajaran refleksi, hal ini cukup menggembirakan bagi peneliti karena target awal yakni 55% keaktifan di kelas saat pembelajaran ekonomi dan 75% kemampuan berpikir tingkat tinggi telah terpenuhi. Dari yang sebelumnya keaktifan siswa di kelas saat pembelajaran ekonomi hanya 20% naik sampai hingga 60% menjadi 80%. Hal ini dikarenakan guru yang mengampu pelajaran ekonomi sebelumnya hanya menggunakan metode ceramah dan ceramah saat menjelaskan materi ekonomi yang disampaikan sehingga membuat siswa bosan dan mengantuk. Tetapi hal itu berubah saat peneliti masuk kelas terlihat mereka sangat antusias saat peneliti mengajar di kelas X.I hal itu dibuktikan dengan keaktifan mereka yang sangat tinggi mulai dari menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan, kemudian saat diberi kesempatan untuk bertanya mereka menggunakannya dengan sangat antusias dan ketika mereka diberi kesempatan untuk menjelaskan, bahkan ketika sharing pendapat dan saat berefleksi mereka mengikuti dengan sungguh – sungguh dan penuh semangat hal ini yang membuat peneliti menganggap bahwa pembelajaran reflektif ini sangat baik untuk meningkatkan keaktifan karena pembelajaran ini mengedepankan student center dan guru disini sebagai penengah saja hal ini sejalan dengan pembelajaran reflektif karena pembelajaran ini

mengedepankan perbaikan diri sendiri (kesadaran diri dari dalam) agar siswa aktif tanpa harus dipaksa oleh guru.

Dalam upaya peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sebelumnnya hanya 5% dan naik signifikan menjadi 80% dari hasil tes yang dilakukan oleh peneliti, terlihat bahwa siswa yang mampu berpikir tingkat tinggi menjawab soal-soal degan tingkatan kesukaran yang berbeda pada aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi. Siswa dengan sendirinya mampu membahasakan apa yang sudah mereka pahami (pengalaman) yang mereka dapatkan dari pembelajaran yang diajarkan oleh peneliti untuk menjawab soal yang memuat kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini berarti siswa tidak hanya menghafal namun juga secara langsung mencari dan memecahkan masalah pada soal ekonomi sesuai dengan apa yang siswa pahami. contoh masalah yang diberikan oleh peneliti dalam kegiatan pembelajaran juga sangat membantu dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran serta dalam melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Dengan menggunakan contoh masalah yang nyata dalam sehari – hari maka siswa mampu memecahkan masalah tersebut dengan mengali pengalaman mereka dan menrefleksikan apa yang harus dilakukan untuk mencari masalah tersebut dengan dengan pengalaman yang siswa miliki, siswa dapat memecahkan persoalan tersebut dengan baik dan benar tanpa dibatasi oleh guru/peneliti.

Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus 1 pelaksanaan pembelajaran ekonomi di SMA Stella Duce Bantul sudah optimal. Hal

tersebut karena pembelajaran dengan reflektif merupakan pembelajaran yang memiliki tujuan yang baik yaitu meningkatkan keaktifan dengan pembelajaran reflektif siswa akan dituntut untuk mengungkapkan pengalaman mereka serta mengungkapkan gagasan mereka serta menceritakan kembali apa yang sudah mereka pelajari (refleksi) dan itu menuntut keaktifan dari siswa itu sendiri sehingga membuat pembelajaran reflektif ini mampu meningkatkan kekatifan siswa

Pembelajaran reflektif juga berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dimana siswa tidak hanya sekedar menerima saja tetapi dengan pembelajaran reflektif siswa terdorong mendalami lebih dalam (berpikir tingkat tinggi) serta mampu mengaitkan substansi dengan kehidupan nyata (berpikir tingkat tinggi), siswa juga diajak untuk mengungkapkan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari kemudian menrefleksikan pengalaman mereka dan menwujudkannya dalam aksi nyata dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam mengerjakan soal.

BAB VI

Dokumen terkait