• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Supervisi Klinis

5. Siklus Supervisi Klinis

124

Menurut Cogan dalam bukunya Clinical supervision,125 ada delapan tahap pelaksanaan supervisi klinis, yakni sebagai berikut:

1. Tahap membangun dan memantapkan hubungan guru dengan supervisor. 2. Tahap perencanaan bersama guru.

3. Tahap perencanaan strategi observasi. 4. Tahap observasi pengajaran.

5. Tahap analisis proses belajar mengajar. 6. Tahap perencanaan strategi pertemuan. 7. Tahap pertemuan, dan

8. Tahap penjajakan rencana pertemuan berikutnya.

Sedangkan Goldhammer, Anderson dan Krajewski (dalam Kimball Wiles pada bukunya Supervision for Better Schools) menyatakan bahwa ada lima kegiatan dalam proses supervisi klinik yang disebutnya dengan sequence of supervision126, yaitu:

1. Pertemuan sebelum observasi. 2. Observasi.

3. Analisis dan strategi. 4. Pertemuan supervisi.

5. Analisis sesudah pertemuan supervisi.

Walaupun berbeda-beda langkah supervisi klinis oleh para ahli di atas, namun sebenarnya langkah-langkah tersebut dapat dikembangkan pada tiga tahap esesnsial yang berbentuk siklus, yaitu:

125

Cogan, M. L., Clinical supervision. (Boston: Houghton Mifflin, 1973), h. 9. 126

Kimball Wiles, Supervision for better schools, (United States of America: Prentice- Hall, 1983), h. 171.

1) Tahap pertemuan awal,

2) Tahap observasi mengajar, dan 3) Tahap pertemuan balikan. 1) Tahap Pertemuan Awal

Tahap pertama dalam proses supervisi klinis adalah tahap pertemuan awal

(preconference). Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas, sehingga banyak juga para ahli supervisi klinis yang menyebutnya dengan istilah tahap pertemuan sebelum observasi (preobservation conference).127 Wiles mengatakan bahwa tahap ini adalah sangat penting.128 Tujuan utama pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan secara bersama-sama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan nanti pada saat observasi. Hasil dari pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru.

2) Tahap Observasi Mengajar

Tahap kedua dalam proses supervisi klinis adalah tahap observasi mengajar. Tahap ini harus dilaksanakan secara sistematis dan objektif. Perhatian observasi ditujukan pada guru dalam bertindak dan kegiatan-kegiatan kelas hasil tindakan guru. Pada tahap ini, guru dan supervisor menentukan waktu sesuai dengan kesepakatan bersama pada saat mengadakan pertemuan awal.

Daresh (dalam Makawimbang) menyatakan bahwa ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan oleh supervisor sebelum dan selama melaksanakan observasi mengajar, yaitu menentukan aspek-aspek yang akan di

127

Jerry H. Makawimbang, Op. Cit., h. 39. 128

observasi dan bagaimana cara mengobservasinya.129 Mengenai aspek-aspek yang akan di observasi harus sesuai dengan hasil diskusi bersama antara supervisor dan guru pada waktu pertemuan awal. Tujuan utama pengumpulan data adalah memperoleh informasi yang nantinya akan digunakan untuk mengadakan tukar pikiran dengan guru setelah observasi terakhir, sehingga guru bisa menganalisis secara cermat aktivitas-aktivitas yang telah dilakukannya di kelas. Pada saat inilah teknik dan instrumen observasi sangat dibutuhkan untuk digunakan mengobservasi guru dalam mengelola proses belajar mengajar.

Sedangkan Masaong menyatakan bahwa pada tahap observasi kelas, hal- hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Pengawas bersama guru memasuki ruangan kelas dengan penuh keakraban.

b) Guru memberikan penjelasan kepada siswa maksud kedatangan supervisor.

c) Supervisor mengobservasi penampilan guru dengan menggunakan format observasi yang telah disepakati.

d) Selama pengamatan pengawas hanya memfokuskan pada kontrak dengan guru. Jika ada hal-hal yang penting di luar dari kontrak, pengawas dapat membuat catatan untuk pembinaan selanjutnya atau didiskusikan.

e) Setelah pembelajaran selesai, guru bersama-sama dengan supervisor menuju ke ruangan khusus untuk tindak lanjut.130

129

Jerry H. Makawimbang, Op. Cit., h. 40. 130

Abdul Kadim Masaong, Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru,

Acheson dan Gall (dalam Makawimbang) juga mereview beberapa teknik dalam proses supervisi klinis. Beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut:

a) Selective verbatim, yakni seorang supervisor membuat semacam rekaman tertulis yang biasa disebut dengan verbatim transcript. Transkip ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu melalui tape recorder.

b) Rekaman observasional berupa seating chart. Disini supervisor mendokumentasikan perilaku siswa sebagimana mereka berinteraksi dengan seorang guru selama pembelajaran berlangsung. Seluruh kompleksitas perilaku dan interaksi dideskripsikan secara bergambar. c) Wide lens techniques. Pada saat ini supervisor membuat catatan yang

lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dalam cerita yang panjang lebar. Teknik ini bisa juga disebut anecdotal record.

d) Checklists and timeline coding. Disini supervisor mengobservasi dan mengumpulkan data perilaku belajar mengajar. Dalam analisis ini, aktivitas kelas diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan murid, dan tidak ada pembicaraan

(silence)131

3) Tahap Pertemuan Balikan

131

Tahap ini adalah tahap ketiga dalam proses supervisi klinis. Wiles mengatakan bahwa postobservation behavior includes the analysis of the data collected during observation of instruction, the evaluation of teaching and learning behavior, the process of providing feedback for teachers, and the final stages of the evaluation of the clinical supervisory process.132 Kegiatan

postobservation (pertemuan balikan) meliputi analisis data yang dikumpulkan selama pengamatan pembelajaran, evaluasi pengajaran dan perilaku belajar, proses pemberian umpan balik bagi guru dan tahap akhir evaluasi proses pengawasan klinis. Pertemuan balikan ini dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran, dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil observasi.

Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah menindaklanjuti apa saja yang dilihat oleh supervisor, sebagai observer, terhadap proses belajar mengajar.133 Pertemuan balikan ini merupakan tahap yang sangat penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik, konkret, bersifat memotivasi, aktual, dan akurat, sehingga betul-betul bermanfaat bagi guru. Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru sebagaimana dikemukakan oleh Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981) dalam Makawimbang,134 yaitu:

a) Guru bisa diberi penguatan dan kepuasan, sehingga bisa termotivasi dalam karyanya.

132

Kimball Wiles, Op.Cit., h. 177. 133

Ibid.

134

b) Isu-isu dalam pengajaran bisa didefinisikan bersama supervisor dan guru yang tepat.

c) Supervisor, bila mungkin perlu, bisa berupaya mengintervensi guru secara langsung untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan.

d) Guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri.

e) Guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat

analisis profesional diri pada masa yang akan datang.

Pada pertemuan balikan ini, sebaiknya supervisor banyak memberikan penguatan (reinforment) terhadap guru. Setelah itu dilanjutkan dengan analisis bersama setiap aspek pengajaran yang menjadi perhatian supervisi klinis.

Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama pertemuan balikan, yaitu:

a) Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap

pengajaran yang dilakukan, kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan (reinforment).

b) Menganalisis pencapaian tujuan pengajaran. Disini supervisor bersama guru mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dengan tujuan pengajaran yang dicapai.

c) Menganalisis target keterampilan dan perhatian utama guru. Disini supervisor bersama guru mengidentifikasi target keterampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum dicapai.

d) Supervisor menanyakan perasaannya setelah menganalisis target keterampilan dan perhatian utamanya.

e) Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi klinis.

f) Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus mentapkan rencana berikutnya.135

Faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan supervisi klinis sebagai suatu pendekatan supervisi pembelajaran adalah kepercayaan (trust) pada guru bahwa tugas supervisor semata-mata untuk membantu mengembangkan pengajaran guru. Berikut ini adalah gambar dari siklus supervisi klinis:

Gambar 2.2 Siklus Supervisi Klinis

135

Ibid., h. 43. Tahap Pertemuan Awal

1. Menganalisis rencana pelajaran

2. Menetapkan bersama aspek- aspek yang akan diobservasi dalam mengajar

Tahap Pertemuan Balikan

1. Menganalisis hasil observasi bersama guru 2. Menganalisis perilaku mengajar

3. Bersama menetapkan aspek-aspek yang harus dilakukan untuk membantu perkembangan keterampilan mengajar berikutnya

Tahap Observasi mengajar

1. Mencatat peristiwa selama pengajaran

2. Catatan harus objektif dan selektif