• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simpulan dan Saran

Dalam dokumen METAFO PAMAAN INJIL JEMAHAN BAHASA (Halaman 48-52)

BAHASA INGGRIS-BAHASA INDONESIA

7. Simpulan dan Saran

bahasa Indonesia yang menganut hukum DM. Sementara itu, terdapat dua pergeseran struktur yang bersifat wajib, yaitu dengan mengubah konstuksi pasif ke aktif. Hal tersebut dilakukan supaya teks terjemahan berterima di kalangan pembaca sasaran. Demikian pula, terdapat dua pergeseran unit yang merupakan penerapan teknik penerjemahan transposisi yang bertujuan untuk menghindari distorsi makna. Di samping itu, terdapat satu pergeseran kategori yang bersifat manasuka yang diterapkan oleh penerjemah untuk memberikan penekanan topik pembicara. Penerapan teknik transposisi lainnya, yaitu terdapat sembilan pergeseran kategori dari pemarkah tunggal dalam bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan sepuluh kategori nomina yang pemarkah jamak diterjemahkan ke dalam nomina yang pemarkah tunggal, karena kelaziman yang terjadi pada BT.

Berdasarkan prosedur penerjemahan metafora konseptual, dari data yang dikaji dalam penelitian ini ada 20 metafora, yang di dalamnya terdapat 18 metaforaditerjemahkan menjadi bentuk metafora dengan citra yang sama, satu metafora diterjemahkan menjadi bentuk non-metafora dengan citra yang sama, dan satu metafora diterjemahkan dengan bentuk non-metafora dengan citra yang berbeda.

Secara umum ideologi yang dianut oleh penerjemah adalah ideologi domestikasi. Hal ini terlihat dari teknik penerjemahan, metode penerjemahan yang secara kolektif mencerminkan ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah ketika menerjemahkan metafora konseptual dalam teks bidang religi, dalam hal ini, perumpamaan Injil Lukas dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

7. Simpulan dan Saran

Penelitian ini difokuskan untuk menemukan jawaban atas persoalan terjemahan metafora konseptual dalam perumpamaan Injl Lukas sehingga berhasil ditemukan jawaban atas permasalahan yang diajukan dan dinyatakan sebagai simpulan penelitian. Permasalahan kategori metafora konseptual yang terdapat dalam perumpamaan Injil Lukas, strategi penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah,

xl   

dan ideologi yang dianut oleh penerjemah dapat dideskripsikan secara maksimal melalui proses triangulasi data yang berpedoman pada penjaringan korpus paralel, model komparatif, sintesis teori dan konfirmasi partisipasi informan kunci yang mengetahui interpretsi metafora dalam perumpaman.

7.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari analisis yang sudah dilakukan dipaparkan berdasarkan permasalahan yang dikaji, sebagai berikut.

(1) Pemetaan konseptual terhadap kategori metafora konseptual terkait dengan permasalahan nomor satu dari penelitian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam teks bidang religi, khususnya dalam teks perumpamaan Injil Lukas. Memahami makna ungkapan metaforis melalui perspektif kognitif yang dilakukan dalam penelitian ini turut memperkuat teori metafora, dalam hal ini dapat memberi pencerahan terhadap bagaimana metafora dalam berbagai jenis teks dapat dikaji. Penelitian ini menekankan empat fungsi metafora konseptual dalam perumpamaan Injil Lukas (TSu) dan terjemahannya dalam bahasa Inggris (TSa), yaitu (1) fungsi kognitif yang bertujuan untuk memudahkan pemahaman substansi perumpamaan dalam teks religi; (2) fungsi retoris kebahasaan untuk tujuan pedagogis, yaitu sebagai sebuah terobosan baru dalam metodologi penerjemahan yang dapat digunakan oleh pengajar ketika mengajarkan praktisi (penerjemah) dalam konteks penerjemahan teks metafora konseptual bahasa Inggris (BS) ke bahasa Indonesia (BT) sehingga terkait erat dengan konsep keterjemahan, yaitu sejauh mana metafora konseptual dapat diterjemahkan ke BT dan sejauh mana metafora konseptual tidak dapat diterjemahkan ke BT (Shuttleworth dan Cowie, 1977). (3) fungsi kultural yang bertujuan untuk memudahkan komunikasi antara pembaca dalam budaya sumber dan pembaca bahasa target melalui aplikasi metafora konseptual dalam teks perumpamaan Injil Lukas; dan (4) fungsi pragmatis-kontekstual yang bertujuan agar terjemahan metafora konseptual dalam perumpamaan Injil Lukas secara

xli   

kontekstual dapat dipahami oleh pembaca target sesuai dengan konteksnya. Metafora konseptual tidak berdiri sendiri dalam sebuah konteks, dalam teks bidang religi, metafora konseptual muncul bersama komponen TSu yang lain, karena konstruksi bahasa yang menyertai metafora konseptual dalam sebuah paragraf TSu juga mempersulit upaya penerjemahan. Oleh karena itu, penerjemah menerapkan sejumlah alternatif teknik penerjemahan, seperti halnya penerapan prosedur dan metode penerjemahan metafora konseptual di atas. (2) Prosedur penerjemahan terkait dengan permasalahan nomor dua dari penelitian

ini yang sering diterapkan oleh penerjemah adalah prosedur metafora dalam TSu yang diterjemahkan menjadi bentuk metafora dalam TSa dengan RSu (citra) yang sama. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa RSu (citra) dalam TSa sama dengan RSu (citra) dalam TSu sehingga lebih bernuansa BS. Fakta empiris ini semakin menguatkan strategi penerjemahan, khususnya prosedur penerjemahan yang diusulkan oleh Larson (1984), Newmark (1988), termasuk faktor keterjemahan turut mempermudah penerjemahan metafora konseptual. Strategi penerjemahan yang mencakup teknik, prosedur, metode dan ideologi mencerminkan wujud nyata dari upaya yang dilakukan oleh penerjemah untuk menerjemahkan metafora konseptual dalam TSu dari tataran makroteks sampai pada tataran mikroteks. Penelitian ini menguatkan berbagai alternatif prosedur penerjemahan metafora yang diusulkan oleh beberapa pakar metafora, seperti Broeck (1981), Larson (1984), Newmark (1988), walaupun terdapat banyak kesamaan di antara prosedur tersebut. Disertasi ini mensitesiskan prosedur penerjemahan dengan teori metafora konseptual Lakoff (1993) yang lebih mengedepankan pemetaan konseptual (conceptual mapping), yakni relasi ontologis antara RSa dengan RSu yang dalam pendekatan terdahulu lebih dikenal dengan istilah citra (image). Salah satu kecenderungan yang muncul dari hasil penelitian ini adalah bahwa metode penerjemahan harfiah versi Newmark dan teknik penerjemahan harfiah dari sisi penggunaan istilah diperlakukan secara

xlii   

berbeda. Secara hierarkis, metode penerjemahan harfiah mengacu pada salah satu prinsip yang dianut oleh penerjemah, sedangkan teknik penerjemahan harfiah lebih bersifat teknis yang beroperasi pada tataran kata atau frasa.

(3) Aspek lain yang menarik dalam aplikasi prosedur penerjemahan metafora berdasarkan temuan dalam penelitian ini adalah bahwa penerjemah memiliki kecenderungan berorientasi pada BT. Kecendrungan ini dapat dipahami karena ideologi juga “berbicara” pada tataran teknik dan metode penerjemahan metafora konseptual. Kecenderungan penerapan ideologi oleh penerjemah turut memperkuat teori strategi penerjemahan, khususnya ideologi dalam penerjemahan (Mason, 1992; Venuti, 1995; Van Dijk, 1998; Fawcett & Munday, 2009) tentang sikap penerjemah terhadap kedua kutub ideologi tersebut.

7.2 Saran

Saran atau rekomendasi yang dapat disampaikan adalah:

(1) Peneliti menganggap bahwa konsep PK akan terus relevan ketika penelitian bertujuan untuk membandingkan perbedaan PK antara BS dengan BT yang melibatkan korpus monolingual BS dan korpus monolingual BT. Korpus yang mengacu pada comparable corpora yang terdiri atas satu korpus dalam sebuah bahasa (misalnya, bahasa Indonesia) dan satu korpus terjemahan dari bahasa asing. Oleh karena itu, penelitian yang menggunakan konsep PK yang melibatkan comparable corpora direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya.

(2) Peneliti merekomendasikan rekonstruksi terhadap teori metafora konseptual sangat mungkin terus dilakukan, karena kemunculan PK sangat dipengaruhi oleh konteks yang melatari ungkapan metaforis dalam realitas kehidupan. (3) Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan, yaitu koherensi metaforis

dalam TSa vs TSu dan gaya bahasa penerjemah (translator style). Identifikasi kemunculan ungkapan metaforis dalam TSu membuktikan bahwa beberapa jenis metafora atau PK sering muncul secara simultan dalam sebuah paragraf.

xliii   

Sebuah pertanyaan akan muncul bagaimanakah tingkat koherensi dalam TSu dapat dipertahankan atau tidak dapat dipertahankan dalam TSa.

(4) Peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan, yakni inferensi terhadap metafora, mengingat kemunculan inferensi atau entailmentbanyak terdapat dalam penelitian ini. Pertanyaan akan muncul apakah inferensi tersebut akan berdampak terhadap produk terjemahan.

Dalam dokumen METAFO PAMAAN INJIL JEMAHAN BAHASA (Halaman 48-52)

Dokumen terkait