• Tidak ada hasil yang ditemukan

9.1. Simpulan ... 96 9.2. Saran ... 96 DAFTAR PUSTAKA ………..………….…... 98 LAMPIRAN ... 103

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Aspek, Variabel, Sumber, dan Teknik Pengumpulan Data ... 31 2. Skalogram Kecamatan X ...… 32 3. Hasil Analisis Skalogram Berdasarkan Jumlah dan Jenis

arana/Prasarana ...

S 33

4. Struktur Data Aktivitas ...…. 35 5. Struktur Tabel LQ ...…... 36 6. Matriks Tujuan, Analisis, Data Yang Dibutuhkan, dan Hasil Yang

iharapkan …...

D 39

7. Desa-Desa Transmigrasi di Kecamatan Kaliorang dan Kaubun ... 41 8. Penempatan Transmigran dan Perkembangan Penduduk ... 43 9. Curah Hujan dan Hari Hujan di Kawasan Transmigrasi Kaliorang . 45 10. Satuan Peta Lahan, Macam Tanah, Kesesuaian Lahan, dan Faktor

embatas ………..

P 49

11. Luas Desa dan Penggunaannya ... 50 12. LuasPencadangan Areal untuk Transmigrasi dan Pemanfaatannya 51 13. Hirarki Desa-Desa Berdasarkan Analisis Skalogram Sarana/

rasarana Dasar ...

P 53

14. Hirarki Desa-Desa Berdasarkan Analisis Skalogram Indeks erkembangan Desa ...

P 54

15. Keragaan Pengusahaan Tanaman Pangan ……….. 57 16. Nilai Perhitungan LQ dan LI untuk Komoditas Tanaman

angan di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur ...

P 58

17. Luas Panen Pengusahaan Komoditas Tanaman Pangan di aliorang dan Kutai Timur tahun 2002 dan 2004/2005 ...

K 59

18. Nilai Shift-share Analysis Pengusahaan Komoditas Tanaman angan di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur ...

P 60

19. Keragaan Pengusahaan Tanaman Perkebunan ……….. 61 20. Nilai Perhitungan LQ dan LI untuk Komoditas Tanaman

erkebunan di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur ...

P 62

21. Luas Tanam Pengusahaan Komoditas Tanaman Perkebunan i Kaliorang dan Kutai Timur tahun 2002 dan 2004/2005 ...

d 62

Perkebunan di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur ... 63 23. Nilai Shift-share Analysis Pengembangan Komoditas Tanaman

Perkebunan di Kawasan Agropolitan Sangsaka, Kabupaten Kutai imur ...

T 64

24. Keragaan Pengusahaan Tanaman Buah-Buahan …….……... 65 25. Nilai Perhitungan LQ dan LI untuk Komoditas Tanaman

uah-Buahan di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur ...

B 66

26. Sebaran Desa dan Potensi Lahan untuk Pengembangan Padi awah ...

S 67

27. Asal Pengetahuan Masyarakat Akan Adanya Kebijakan

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian ………... 8 2. Bagan Alir Kegiatan Penelitian ...…... 40 3. Peta Administratif Kawasan Transmigrasi Kaliorang ...….. 42 4. Lahan Usaha II yang Berupa Semak Belukar atau Padang

lang-Alang ...…...

A 76

5. Persiapan Pasar Tenda di Desa Bumi Rapak ...….... 78 6. Pembakaran Hutan untuk Penanaman Padi Ladang ... 80 7. Kebun Pisang yang Sudah Menjadi Semak Belukar ... 82 8. Kondisi Jalan Penghubung Sehabis Hujan ... 83

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Skalogram Hirarki Desa-Desa di Kawasan Transmigrasi Kaliorang Berdasarkan Jenis dan Jumlah Sarana/Prasarana

asar ...

D 104

2. Skalogram Hirarki Desa-Desa di Kawasan Transmigrasi aliorang Berdasarkan Indeks Perkembangan ...

K 108

3. Hasil Analisis Regresi antara Hasil Analisis Skalogram (Indeks Perkembangan Desa) dengan Umur Desa Transmigrasi dan Jarak Desa Transmigrasi dari Pusat Pelayanan (Simpang

aliorang Kaubun) ...

K 113

4. Satuan Peta Lahan di Kawasan Transmigrasi Kaliorang ... 114 5. Peta Hirarki Perkembangan Desa Berdasarkan Analisis

kalogram Sarana/Prasarana Dasar ...

S 115

6. Nilai Analisis Shift-share Pengembangan Komoditas Tanaman Perkebunan di Kawasan Agropolitan Sangsaka, Kabupaten

1.1. Latar Belakang

Program Transmigrasi telah dilaksanakan sejak zaman kolonial Belanda dengan apa yang disebut sebagai kolonisasi dari penduduk yang dipindahkan dari Bagelen Karesidenan Kedu yang ditempatkan di Gedong Tataan Lampung pada tahun 1905 (Ramadhan et al., 1993). Program ini kemudian diteruskan oleh pemerintah Indonesia mengingat adanya ketimpangan persebaran penduduk terutama antara pulau Jawa dengan pulau non Jawa dengan tujuan bukan hanya semata-mata geografis, berubah menjadi program pembangunan wilayah dan menjadi salah satu program integrasi nasional (Utomo, 2005).

Pembangunan transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan daerah sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan terutama di kawasan yang masih terisolir atau tertinggal yang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitarnya. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, yang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan transmigrasi adalah (a) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, (b) peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, dan (c) memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa.

Transmigrasi sebagai salah satu program pembangunan terutama diarahkan kepada pembangunan pertanian, yaitu peningkatan produksi pertanian yang dilakukan dengan pembukaan lahan-lahan baru atau ekstensifikasi. Soetarto (2004) menyatakan bahwa pembangunan pertanian yang didukung oleh kebijakan agraria yang kontekstual memiliki arti yang strategis bagi penanggulangan kemiskinan, karena jumlah rakyat yang menjadi pekerja di tiap jenis pertanian selalu lebih besar daripada perusahaan swasta dan negara. Karena itu diperlukan adanya regulasi untuk memastikan akses petani terhadap sumberdaya yang krusial, terutama lahan usahatani. Lebih lanjut dinyatakan bahwa sistem hak penguasaan tanah mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan sumberdaya yang efektif, proses demokratisasi, penanggulangan

kemiskinan dan dalam membuka kesempatan berusaha/bekerja bagi golongan miskin. Hasil penelitian Reyes (2002) menunjukkan adanya Agrarian Reform

mempunyai suatu dampak yang positif, yang telah mendorong peningkatan pendapatan per kapita (12,2%) dan mengurangi kemiskinan (47,6% menjadi 45,2%) dari tahun 1990 sampai 2000.

Sejalan dengan hal tersebut maka pada program transmigrasi yang menjadi peserta transmigran diutamakan adalah penduduk yang mengalami keterbatasan dalam mendapatkan kesempatan kerja dan peluang usaha. Di daerah transmigrasi, peserta transmigran mendapatkan lahan usaha dan lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik dan berbagai bantuan lainnya dari pemerintah seperti catu pangan dan sarana produksi pertanian seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI no 2 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi. Dengan berbagai bantuan ini diharapkan transmigran dapat mengembangkan pola usaha pokok yang ditetapkan dengan usaha primer sehingga kesejahteraannya dapat meningkat dibandingkan dengan pada saat masih di daerah asalnya.

Priyono (2004) menyatakan bahwa pengembangan wilayah transmigrasi merupakan usaha menumbuh kembangkan wilayah yang memiliki potensi sumberdaya alam dengan keunggulan komoditas tertentu yang dikelola secara terpadu dengan mengisi kekurangan sumberdaya manusia melalui program transmigrasi. Sebagai salah satu program pembangunan, program transmigrasi sampai dengan tahun 2005 telah membangun kurang lebih 2.744 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT). Sebagian dari UPT-UPT tersebut telah mendorong perkembangan daerah menjadi pusat pemerintahan di 235 kecamatan dan 66 kabupaten yang terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai infrastruktur dan dinamikanya masing-masing (Pusat Data dan Informasi Ketransmigrasian, 2004). Namun demikian, tidak semua desa-desa eks UPT tersebut berkembang sesuai dengan yang diharapkan dan sebagian diantaranya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. Menurut Deputi Bidang Kawasan Transmigrasi (2000), faktor penyebab timbulnya permasalahan di desa-desa eks UPT antara lain:

a. Penerapan teknologi belum sesuai dengan kondisi sumberdaya alam yang umumnya marginal.

b. Kualitas sumberdaya manusia masih rendah.

c. Kesempatan kerja dan peluang usaha di pedesaan terbatas. d. Sarana dan prasarana terbatas.

e. Kelembagaan yang ada di desa belum berfungsi. f. Tidak terdapat pasar di wilayah tersebut.

Luasan lahan usaha yang diusahakan transmigran secara umum belum optimal yaitu 0,48 ha untuk Lahan Pekarangan (LP), untuk Lahan Usaha I (LU I) 0,4 ha dan hanya 0,31 ha untuk Lahan Usaha II (LU II). Oleh karena itu usaha pembukaan lahan dan perluasan usahatani perlu mempertimbangkan kemampuan transmigran dalam menggarap lahan atau memberikan bantuan tenaga kerja seperti pemberian tenaga ternak, mesin-mesin pertanian (Sitorus dan Pribadi, 2000). Untuk LU II pada umumnya baru dibuka jika ada penyediaan dana oleh pemerintah atau ada kerjasama dengan pihak swasta untuk pembukaan dan penyiapan lahannya. Menurut Delam et al. (2000) lahan transmigran yang terluas belum dibuka adalah LU II yang disebabkan karena adanya keterbatasan tenaga kerja dan modal.

Desa-desa transmigrasi yang tidak berkembang tersebut sebagai wilayah pedesaan dengan basis ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian mengalami ketimpangan pembangunan dengan wilayah sekitarnya. Menurut Anwar (2005) adanya ketimpangan dalam pembangunan antara perkotaan dan perdesaan ini menyebabkan ekonomi sektor perdesaan menjadi semakin terspesialisasi dalam produksi primer termasuk aktifitas pertanian secara luas: pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan kehutanan guna menyediakan kebutuhan penduduk, terutama yang tumbuh di kawasan perkotaan.

Menurut Ibrahim (2004) kebijakan pembangunan dari atas atau pemerintah pusat dijadikan akar permasalahan kegagalan pembangunan di Indonesia termasuk yang dihadapi Departemen Transmigrasi. Diperlukan paradigma baru pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat lokal yang diharapkan akan mampu mengurangi permasalahan yang dihadapi di tingkat lokal. Kunci keberhasilan dari pendekatan pengembangan komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup adalah partisipasi aktif dari semua pihak khususnya warga komunitas setempat.

Akhir-akhir ini berkembang suatu pendekatan pembangunan pedesaan dengan konsep agropolitan. Pengembangan agropolitan ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-hasil pertanian, mendukung tumbuhnya industri agro-processing skala kecil menengah dan mendorong keberagaman aktifitas ekonomi dari pusat pasar (Rustiadi dan Hadi, 2006). Segala aktifitas harus diorganisasikan terutama untuk membangun keterkaitan dengan menyediakan fasilitas, pelayanan, input produksi pertanian dan aksesibilitas yang mampu memfasilitasi lokasi-lokasi permukiman di pedesaan yang umumnya mempunyai tingkat kepadatan yang rendah dan lokasinya lebih menyebar. Menurut Pranoto (2005) program prioritas yang dibutuhkan dalam pengembangan agropolitan adalah peningkatan sumberdaya manusia pertanian yang berkualitas, peningkatan produktivitas usahatani, pasar dan pemasaran, kemitraan usaha, pembangunan agroindustri dan peningkatan kinerja lembaga penunjang sistem usahatani.

Menurut Utomo (2005) di wilayah-wilayah transmigrasi lama perlu dikembangkan pusat-pusat agroindustri/industri pedesaan yang pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja muda di pedesaan dan akan memacu pertumbuhan wilayah. Untuk tujuan tersebut, pemerintah daerah juga harus membangun infrastruktur dan akses pasar, sehingga akan terjadi harmonisasi pembangunan wilayah.

Sumardjo (2004) menyatakan bahwa di daerah-daerah transmigrasi merupakan wilayah agraris yang tersedia produk transmigran dan masyarakat di sekitarnya yang mempunyai keunggulan komparatif. Di daerah tersebut berpotensi menjadi kawasan agrobase development, yaitu pengembangan sektor perekonomian berbasis pertanian dan perdesaan. Oleh karena itu, kawasan transmigrasi potensial menjadi wilayah pengembangan kawasan agropolitan, yaitu terintegrasinya kota pertanian dan desa-desa sentra produksi yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis-agroindustri.

Menurut Sitorus dan Nurwono (1998), upaya untuk mempercepat pertumbuhan wilayah dimana sektor pertanian merupakan tulang punggung wilayah yang mantap diperlukan adanya mobilisasi potensi-potensi pembangunan daerah ke dalam satu arah pembangunan yang terpadu dan konsisten. Selanjutnya

dinyatakan bahwa penerapan konsep agropolitan dan pertumbuhan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dalam bentuk kota-kota tani merupakan pilihan strategi pengembangan wilayah yang tepat dikembangkan dalam pembangunan transmigrasi skala besar secara terencana dan konsisten. Apabila konsep agropolitan akan digunakan dalam program pembangunan transmigrasi dan masyarakat sekitar permukiman transmigrasi maka gagasan agropolitan dapat diusulkan dibangun pada: (1) lokasi yang baru sama sekali (WPT) atau (2) pada lokasi yang sedang tumbuh. Pada lokasi yang sedang tumbuh, di sini sifatnya memanfaatkan lokasi-lokasi lama yang dinilai mempunyai prospek pertumbuhan ekonomi yang baik.

Salah satu kawasan transmigrasi yang dikembangkan adalah kawasan transmigrasi Kaliorang yang merupakan bagian integral dari wilayah pengembangan agropolitan Sangsaka (Sangkulirang, Sandaran dan Kaliorang) di Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Lokasi transmigrasi di kawasan transmigrasi Kaliorang meliputi 13 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) dengan desain awal pengembangan pertanian pola usaha pokok tanaman pangan lahan kering di LP dan LU I serta tanaman kelapa hibrida di LU II. Penempatan transmigran dilaksanakan dari tahun 1986 sampai dengan 1999 dengan jumlah penempatan sebanyak 3.540 Keluarga.

1.2. Perumusan Masalah

Kawasan transmigrasi tidak semuanya dapat berkembang sebagaimana yang diharapkan. Berbagai masalah yang dihadapi dalam pengembangan kawasan transmigrasi diantaranya UPT-UPT berlokasi di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau karena terbatasnya prasarana jalan dan transportasi yang mengakibatkan aksesibilitas ke kawasan transmigrasi yang rendah sehingga produksi para transmigran tidak dapat dipasarkan.

Masalah lain yang terjadi adalah adanya lahan transmigrasi yang tidak subur, sarana dan prasarana sosial ekonomi (kelembagaan) yang kurang mendukung pengembangan usaha transmigran dan adanya masalah kepemilikan lahan seperti adanya klaim kepemilikan kembali oleh penduduk setempat, tuntutan ganti rugi dan adanya kepemilikan beberapa sertifikat yang berbeda nama oleh satu orang transmigran. Kelembagaan yang ada terutama kelembagaan

formal sering terjadi hanya papan nama saja dan aktif jika ada kegiatan dari pemerintah. Kawasan transmigrasi yang bermasalah ini seringkali ditinggalkan oleh warganya untuk mencari penghidupan di wilayah sekitarnya sehingga menjadi semak belukar dan tidak berkembang.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dikemukakan dalam pengembangan kawasan transmigrasi Kaliorang, dirumuskan tujuan penelitian, yaitu:

1. Menganalisis tingkat perkembangan wilayah (desa-desa) dan struktur hirarkinya berdasarkan struktur hirarki pusat-pusat aktifitas termasuk infrastrukturnya.

2. Menganalisis kegiatan usaha pertanian dan pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi.

3. Menganalisis partisipasi dan aspirasi masyarakat terhadap pengembangan kawasan transmigrasi.

4. Menyusun arahan pengembangan kawasan transmigrasi. 1.4. Hipotesis

Berdasarkan tujuan penelitian analisis tingkat perkembangan wilayah (desa-desa) diturunkan hipotesis yaitu semakin lama umur desa transmigrasi dan semakin dekat desa transmigrasi dengan pusat pelayanan maka desa transmigrasi tersebut memiliki hirarki yang lebih tinggi.

1.5. Kerangka Pemikiran

Pembukaan kawasan transmigrasi pada awalnya ditujukan untuk menghasilkan produksi pertanian. Untuk menghasilkan produksi pertanian, peserta transmigran mendapatkan lahan usaha dan lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik dan berbagai bantuan lainnya dari pemerintah. Peningkatan produksi pertanian diharapkan dari waktu ke waktu semakin meningkat dan dapat meningkatkan perekonomian desa-desa dan masyarakat di kawasan transmigrasi tersebut. Ternyata seringkali dengan berkembangnya kawasan transmigrasi tersebut yang ditandai dengan peningkatan produksi pertanian tidak dapat dipasarkan karena beberapa sebab seperti aksesibilitas yang

buruk, lahan transmigrasi yang tidak subur, sarana dan prasarana sosial ekonomi (kelembagaan) yang kurang mendukung pengembangan usaha transmigran dan adanya masalah kepemilikan lahan.

Akhir-akhir ini berkembang suatu pendekatan pembangunan pedesaan dengan konsep agropolitan. Penerapan konsep agropolitan ternyata juga menyentuh desa-desa di kawasan transmigrasi. Pengembangan kawasan transmigrasi sebagai bagian dari kawasan agropolitan selain didukung oleh pengembangan sarana dan prasarana fisik juga harus didukung oleh adanya kelembagaan di tingkat petani.

Sebagai bagian dari pengembangan kawasan agropolitan maka pengembangan pertanian dilakukan dengan pengembangan komoditas unggulan yang bertumpu pada sumberdaya domestik di kawasan tersebut dan pengembangannya di wilayah sekitarnya. Selain itu diperlukan partisipasi dan aspirasi masyarakat dalam pengembangan kawasan sehingga dapat disusun arahan pengembangan kawasan tersebut agar semakin berkembang. Kerangka pikir penelitian tertera pada Gambar 1.

1.6. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak, antara lain bagi:

a. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dapat dijadikan acuan dalam arahan pengembangan kawasan transmigrasi di wilayah yang lain.

b. Pemerintah Daerah, dapat diajukan acuan dalam pengembangan wilayahnya yang berpotensi untuk pengembangan pertanian (agribisnis).

c. Masyarakat, dapat memahami dan berpartisipasi dalam pengembangan kawasan yang dapat meningkatkan kesejahteraannya.

d. Ilmu Wilayah, sebagai informasi dan referensi bagi para mahasiswa untuk penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan penerapan konsep agropolitan di kawasan transmigrasi.

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian. Kawasan transmigrasi dan masyarakatnya

semakin berkembang

Partisipasi dan aspirasi masyarakat Pembangunan atau peningkatan sarana dan prasarana Pengembangan komoditas unggulan Kawasan transmigrasi yang

kurang berkembang Aksesibilitas rendah Produksi tidak dapat dipasarkan Kelembagaan kurang mendukung pengembangan kawasan transmigrasi Masalah kepemilikan lahan

Penerapan konsep agropolitan di kawasan transmigrasi

Lahan tidak subur

Partisipasi dan aspirasi masyarakat yang

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyelenggaraan Program Transmigrasi di Indonesia dan Permasalahannya

Wilayah Republik Indonesia dengan jumlah penduduk yang begitu besar, penyebaran penduduk yang belum serasi dan belum seimbang antara daya dukung alam dan daya tampung lingkungan, apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan kerawanan sosial ataupun kerusakan lingkungan. Adanya penyebaran penduduk yang belum serasi dan belum seimbang tersebut menyebabkan pembangunan wilayah yang tidak merata, sehingga ada kecenderungan wilayah yang telah berkembang menjadi makin berkembang dan sebaliknya wilayah yang tertinggal menjadi semakin tertingal. Daerah atau wilayah yang tertinggal dengan penduduk terpencar-pencar dalam kelompok kecil sulit berkembang. Untuk itu perlu diatur melalui penyelenggaraan transmigrasi (Undang-Undang No. 15, 1997).

Program Transmigrasi telah dilaksanakan sejak zaman kolonial Belanda dengan apa yang disebut sebagai kolonisasi dari penduduk yang dipindahkan dari Bagelen Karesidenan Kedu yang ditempatkan di Gedong Tataan Lampung pada tahun 1905 (Ramadhan et al., 1993). Dipilihnya Gedong Tataan, antara lain karena letaknya dekat dengan jalan raya dan tidak jauh dari pelabuhan, tanahnya datar, mempunyai banyak sumber air, cukup baik untuk pembukaan sawah-sawah baru. Istilah kolonisasi ini pada era setelah kemerdekaan diganti menjadi transmigrasi (Utomo, 2005). Berdasarkan Undang-Undang No. 15 tahun 1997, transmigrasi didefinisikan sebagai perpindahan penduduk secara sukarela dan berencana untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di Wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) atau Lokasi Permukiman Transmigrasi.

Menurut Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung dan budidaya. Kawasan transmigrasi adalah kawasan yang ditetapkan fungsinya sebagai wilayah untuk pengembangan permukiman transmigrasi (WPT). Permukiman transmigrasi adalah satu kesatuan permukiman atau bagian dari satuan permukiman yang diperuntukkan bagi tempat tinggal dan tempat usaha transmigran.

Yang dimaksud dengan WPT seperti tertuang dalam Undang-Undang No. 15 tahun 1997 adalah wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi untuk mewujudkan pusat pertumbuhan wilayah baru sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah lokasi potensial yang ditetapkan sebagai permukiman transmigrasi untuk mendukung pusat pertumbuhan wilayah yang sudah ada atau sedang berkembang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Seperti halnya kawasan pedesaaan, kawasan transmigrasi mempunyai kegiatan utama pertanian. Yulia (2005) menyatakan bahwa kawasan transmigrasi adalah kawasan budidaya intensif untuk menampung perpindahan penduduk secara menetap dalam jumlah besar dengan susunan fungsi-fungsi sebagai tempat permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, sosial dan kegiatan ekonomi untuk menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi.

Penduduk yang dapat menjadi atau mendapat kesempatan ikut serta dalam program transmigrasi, adalah:

a. Penduduk bermasalah, yang memiliki tekad dan semangat untuk melakukan peningkatan kesejahteraannya, tetapi mengalami keterbatasan dalam mendapatkan peluang kerja dan usaha.

b. Penduduk yang relatif berpotensi dan telah mendapatkan kesempatan kerja dan usaha, tetapi lebih ingin meningkatkan kesejahteraannya.

c. Penduduk yang telah mampu mengembangkan diri, tetapi ingin lebih meningkatkan mutu kehidupannya lebih baik lagi.

Sebagai salah satu program pembangunan, program transmigrasi sampai dengan tahun 2005 telah membangun 2.744 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT). Sebagian dari UPT-UPT tersebut telah mendorong perkembangan daerah menjadi pusat pemerintahan, berupa 235 kecamatan dan 66 kabupaten yang terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai infrastruktur dan dinamikanya masing-masing (Pusat Data dan Informasi Ketransmigrasian, 2004). Namun demikian, tidak semua desa-desa eks UPT tersebut berkembang sesuai dengan yang diharapkan dan sebagian diantaranya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik bahkan banyak yang telah menurun.

Penurunan kondisi ini disebabkan antara lain karena ketidaksiapan Pemerintah Daerah untuk memelihara dan melanjutkan pembangunan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Pada akhirnya desa-desa eks UPT yang demikian belum memberikan kontribusi yang nyata dalam peningkatan pembangunan di daerah. Karena itu saat ini diperlukan adanya revitalisasi pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kawasan transmigrasi agar kawasan transmigrasi berkembang dan selanjutnya terbentuk pusat pertumbuhan (Deputi Bidang Kawasan Transmigrasi, 2000).

Kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi diharapkan terus meningkat sehingga mampu menumbuh-kembangkan pusat-pusat pertumbuhan secara mandiri dan terpadu dengan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten menjadi Kota Terpadu Mandiri (Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi, 2006). Kota Terpadu Mandiri dirancang dengan pendekatan WPT/LPT pada kawasan yang sudah terdapat pembangunan transmigrasi atau kawasan potensial yang belum ada pembangunan transmigrasi.

Kota Terpadu Mandiri (KTM) adalah kawasan transmigrasi yang pembangunan dan pengembangannya dirancang menjadi pusat pertumbuhan yang mempunyai fungsi perkotaan melalui pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 2006). Tujuan pembangunan KTM adalah :

a. Menciptakan sentra-sentra agribisnis dan agroindustri yang mampu menarik investasi swasta untuk menumbuh-kembangkan kegiatan ekonomi transmigran dan penduduk sekitar, serta membuka peluang usaha dan kesempatan kerja.

b. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan transmigran dan penduduk sekitar.

c. Meningkatkan kemudahan transmigran dan penduduk sekitar untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar.

Sasaran pembangunan KTM adalah (a) peningkatan investasi budidaya dan industri pertanian, jasa dan perdagangan, (b) peningkatan produktivitas transmigran dan penduduk sekitarnya, (c) peningkatan pendapatan asli daerah,

(d) peningkatan efektivitas pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan. (e) perluasan kesempatan kerja, dan (f) peningkatan jaringan infrastruktur.

Untuk mewujudkan KTM ini perlu dukungan kegiatan usaha transmigran yang berada di belakangnya. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan KTM perlu melakukan pembangunan WPT yang dapat mendorong tumbuhnya suatu kota. Konsep pengembangan WPT menyebutkan bahwa WPT akan terdiri atas sejumlah Satuan Kawasan Pengembangan (SKP) dan setiap SKP akan terdiri dari beberapa UPT atau desa di mana masing-masing hirarki permukiman memiliki pusat, Desa Utama untuk setiap SKP dan Pusat Desa untuk setiap UPT atau desa. Dengan demikian KTM akan membawahi Desa-Desa Utama dan Desa Utama akan membawahi Pusat-Pusat Desa di mana antar Pusat Desa dengan Desa Utama dan antar Desa Utama dengan KTM akan terhubungkan dengan jaringan transportasi baik darat ataupun air/sungai.

2.2. Pola Usaha Pokok Dalam Pembangunan Transmigrasi

Sasaran penyelenggaraan transmigrasi adalah meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integrasi permukiman transmigrasi sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (Undang-Undang No. 15, 1997). Untuk memenuhi hal tersebut maka dikembangkan tiga jenis

Dokumen terkait