BAB I PENDAHULUAN
2.3 Simulasi Gosip sebagai Retorika Infotainment
Hadirnya realitas baru yang diciptakan oleh infotainment membuat tayangan itu seperti layaknya kenyataan yang benar-benar terjadi. Padahal realitas yang ditayangkan itu hanyalah sebuah tiruan yang dihasilkan dari kenyataan yang ada. Tiruan itu dibentuk dari sebuah proses yang mengemas informasi dan hiburan menjadi sebuah berita yang mudah dikonsumsi publik, mementingkan unsur dramatis, cenderung sensional dan melebih-lebihkan.26 Maka, apa yang diberitakan benar-benar mendasarkan pada prinsip dromologi27 yang berupaya menghasilkan produk secara cepat dan instan dan sedapat mungkin memiliki
25
H. Winarno (2010), “Ilham Bintang Infotainment Beritakan Aib Demi Kepentingan Umum”, http://hot.detik.com/read/2010/08/05/183123/1414458/230/ilham-bintang-infotainment-beritakan-aib-demi-kepentingan-umum. 26 Santosa (2005), op.cit., 155. 27 Ibid., 207.
aspek proksimitas28 atau kedekatan secara emosional antara para penonton dengan subjek yang diberitakan. Karena itulah, infotainment tidak hanya menjadi “tontonan masyarakat” Indonesia29, tetapi sekaligus dipandang sebagai sumber “informasi” yang mampu “memberikan berita yang menghibur kepada para pemirsa untuk mengendurkan urat syaraf.”30 Itu artinya, infotainment sama sekali tidak berpretensi menayangkan berita yang serius, melainkan hanya berita ringan belaka yang tidak berkaitan dengan urusan dan/atau kepentingan apa pun. Dengan kata lain, infotainment sekadar menampilkan apa yang terjadi dalam kehidupan para selebritis, namun penampilan itu telah dibuat sedemikian rupa sehingga menarik untuk diperbincangkan. Perbincangan yang bergaya khas gosip ini disajikan dalam bentuk retorik yang simulatif agar apa yang ditampilkan seolah-olah ada di depan mata para penontonnya. Hal inilah yang membuat infotainment tampak mirip dengan sinetron karena secara audio-visual mampu menampilkan kenyataan yang seakan-akan sedang dan/atau masih berlangsung meski sesungguhnya sudah berlalu.
Dengan cara seperti itu, infotainment pun menjadi sebuah arena gosip yang alurnya mengambil bentuk serial bersambung selama tiga atau empat menit.31 Dalam bentuk itu, kisah yang ditampilkan pun lebih sering menyajikan sesuatu yang bersifat privat tanpa memerlukan pemikiran yang mendalam. Dengan kata lain, kisahnya dibuat seringan mungkin, dibiarkan mengambang, sesekali disisipi dengan ketegangan yang dramatis, dan hasil akhirnya pun sulit untuk ditebak. 28 Ibid., 176. 29 Yulianto (2012), op.cit., 200. 30
“Tayangan Infotainment Upaya Pengalihan Isu Politik”,
http://www.antaranews.com/print/88772/cargo-aircraft-catching-fire-at-wamena-airport-injures-airport-crew.
31
Pola yang sedemikian khas ditampilkan dalam infotainment di Indonesia ini memiliki poros pada kehidupan para selebritis yang ada di Jakarta.32 Maka dengan pola yang seperti itu, masuk akal jika infotainment diproduksi, bahkan direproduksi, bukan semata-mata untuk kepentingan para selebritis. Tetapi hal itu juga amat mempertimbangkan kepentingan rumah produksi yang menggarap infotainment, stasiun televisi yang menjadi produser penayangan, dan juga para pengiklan yang berintensi mempromosikan beragam produknya. Kepentingan yang saling menguntungkan antara berbagai pihak itu merupakan faktor yang menentukan dari setiap tayangan infotainment yang akan disajikan. Dengan demikian, jenis infotainment macam apa yang akan ditayangkan tak bisa lepas dari untuk apa dan siapa infotainment dibuat, dari mana saja dana didapatkan, atau siapa yang akan menayangkannya kepada publik. Hal-hal itulah yang turut mempengaruhi bentuk dan isi dari tayangan infotainment yang akan diretorikkan dengan tipe simulasi gosip seperti apa. Jadi, sesungguhnya tayangan infotainment itu bukanlah produk yang asal jadi, tetapi justru dikerjakan dengan strategi yang bukan ala kadarnya.
Di stasiun televisi sendiri, tayangan infotainment mendapat perlakuan yang setara dengan berbagai tayangan lainnya. Menurut salah seorang praktisi media, stasiun televisi memiliki beberapa divisi yang menangani beragam tayangan yang akan ditampilkan. Meski tujuhpuluh lima persen produk infotainment dikerjakan secara outsourcing, namun ada divisi yang secara khusus mengelola penayangan infotainment. Untuk infotainment yang dibuat sendiri oleh stasiun televisi, ada divisi produksi non-drama, selain divisi produksi drama, yang berfungsi untuk
32
mengatur penayangan infotainment. Sedangkan untuk infotainment yang dibuat oleh rumah produksi, divisi programming-lah yang bertanggungjawab untuk menyeleksi tayangan infotainment dan bernegosiasi dengan pihak luar yang berkepentingan terhadap penayangan infotainment. Namun divisi ini juga memiliki otoritas untuk menentukan tayangan lainnya yang dihasilkan oleh divisi pemberitaan dan divisi produksi baik drama maupun non-drama. Jadi, divisi ini seakan-akan menjadi representasi atau kepanjangan tangan dari stasiun televisi yang berwenang untuk menentukan tayangan macam apa yang layak untuk ditampilkan, termasuk infotainment.33 Itulah mengapa sesimulatif apa tayangan infotainment dapat berpengaruh ditentukan oleh pihak yang memiliki kuasa seperti layaknya “hakim” atau “dewa” dalam sebuah stasiun televisi.
Namun, simulasi yang dihasilkan dari tayangan infotainment juga ditentukan oleh para pekerja infotainment yang “tahan banting, tidak mengenal waktu dan bisa memaksa para selebriti untuk “buka mulut”, kendati mereka sering keberatan.”34 Mereka inilah yang karena tuntutan “kejar tayang” dari penayangan infotainment selalu berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan berita-berita yang bombastis dan/atau sensasional. Maka tidak mengherankan jika cara-cara yang digunakan lebih sering menyulut emosi daripada berdasarkan pada akal sehatnya. Hal inilah yang memungkinkan berbagai kejadian tak menyenangkan dari para selebritis seperti memaki-maki, melempar benda, merusak kamera, hingga benturan fisik dapat terjadi.35 Bahkan tak jarang pula mereka yang menjalankan profesi sebagai wartawan infotainment sebagaimana telah diakui
33 Set (tt), op.cit., 1. 34 Ibid., 3. 35 Ibid., 3.
oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)36 juga melakukan hal serupa dengan cara menghalangi dan menggebrak mobil para selebritis misalnya.37 Cara-cara seperti inilah yang tak jarang menimbulkan sinisme, bahkan antipati, terhadap tayangan infotainment.
Akan tetapi, meski tidak semua tayangan infotainment mendapat tanggapan sekontroversial itu, sulit untuk dielakkan bahwa simulasi gosip yang dikemas dalam infotainment telah menggiring dan membentuk paradigma media yang lebih mendahulukan kepentingan rating dan share ketimbang realitas dan/atau makna yang mau ditampilkan. Karena itu, bukan kebetulan belaka jika ada beberapa ungkapan yang menyatakan “Mengapa masih berkutat di berita pembunuhan Munir? Apa gak ada berita lain?” atau, “Kita senang bila ada program atau berita yang mendapat award atau penghargaan dari pihak lain, tapi bisnis kita tidak bisa hidup dari award.”38 Ungkapan yang seakan-akan memberi “petunjuk” yang secara struktural bermakna sebagai sebuah perintah untuk lebih memperhatikan masalah ekonomi daripada hanya berkutat pada soal budaya media yang sehat. Hal itulah yang membuat salah satu tayangan infotainment yang awalnya berupaya untuk menyajikan berita-berita tanpa gosip di seputar proses kreatif yang bukan semata-mata menginterogasi privasi menjadi selebritis mesti berbalik haluan hanya karena dinilai tidak mampu meningkatkan rating dan
share dari stasiun televisi tertentu. Hasilnya, sebagaimana dipaparkan di bawah ini, tayangan infotainment itu mampu memperoleh omzet sebesar seratus
36
D. Sari (2010), “PWI: Infotainmen Adalah Karya Jurnalistik”,
http://www.tempo.co/read/news/2010/07/15/173263704/PWI-Infotainmen-Adalah--Karya-Jurnalistik. 37 Set (tt), op.cit., 3. 38 Ibid., 4.
duapuluh juta rupiah per hari dan termasuk dalam kategori the big five di jajaran infotainment di Indonesia.
Dari 60 menit durasinya, 20 menit sudah dikapling iklan. Dengan tarif iklan rata-rata Rp 3-4 juta per spot (30 detik), maka setiap pagi program ini bisa menenggak pemasukan hingga Rp 120 juta. Padahal, sebagai program in-house, direct cost-nya (biaya operasional peliputan), hanya sekitar Rp 5-6 juta per hari. Sementara in-direct cost (gaji karyawan, overhead kantor, dll) jika dihitung harian, jumlahnya juga kurang lebih sama. Dus, hanya dengan modal Rp 12 juta, ...bisa mendapatkan untung hingga 10 kali lipat. Setiap pagi!39
Maka, mudah ditebak jika Ilham Bintang yang dijuluki sebagai “raja gosip” mampu menghasilkan “peta” dalam bisnis media di Indonesia dengan Grup Bintang yang terdiri dari PT Bintang Media Sari Usaha, PT Bintang Advis Multimedia (C&R, Halo Selebriti dan Buletin Sinetron), PT Bintang Sakti Mediatama (Tabloid C&R); PT Bintang Sakti Promo Piranti (PR dan event
organizer), PT Bintang Mas Mediatama (Kroscek Senin, Kamis dan Jumat), PT
Bintang Media Griya Usaha (Kroscek Selasa, Rabu dan Sabtu), dan PT Bintang Media Citra Utama (program infotainment GATE, Gebyar Tokoh dan Elit), sebagai “pusatnya” yang salah satu “wilayahnya” adalah infotainment yang menyumbang 60% dari total pendapatan Grup Bintang.40 Sementara wilayah lain yang juga dibentuk dari peta itu memberikan kontribusi masing-masing dari tabloid sekitar 20%, dari event organizer sebesar 15%-20%, dari sejumlah program teve, seperti C&R sekitar 40%, disusul Kroscek 25%, dan sisanya, terbagi merata pada program Halo Selebriti, Buletin Sinetron, Katakan Cinta,
H2C, Rumours dan Great Romances.41 Dengan demikian, menjadi jelas bahwa
peta yang diciptakan melalui simulasi gosip dalam tayangan infotainment mampu
39
Ibid., 4-5.
40
“Bintangnya Bisnis Infotainment”, http://swa.co.id/listed-articles/bintangnya-bisnis-infotainment, 22 Desember 2003.
41
menghadirkan wilayah yang sedemikian luas bagi perkembangan bisnis media di Indonesia yang membawa perubahan tak terduga dan mendalam, seperti layaknya gosip, terhadap paradigma budaya masyarakat.