• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil dan Pengamatan Penelitian

3. SINORITA SEMBIRING

Subjek penelitian ini merupakan orangtua dari tiga pasangan pengantin Batak Toba yang dipilih peneliti sebagai informan. Semua keluarga pengantin adat Batak Toba yang menjadi informan merupakan ibunda dari salah satu pasangan pengantin adat Batak Toba. Hal ini dikarenakan anggota keluarga lainnya sedang sakit, kemudian ada yang menolak untuk diwawancarai akibat pengetahuan yang kurang terhadap pesta pernikahan adat Batak Toba dan juga sedang berada diluar kota. Namun ketiga informan ini cukup memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh peneliti tentang pernikahan adat Batak Toba, karena ketiga informan berperan aktif didalam segala proses pernikahan adat Batak Toba yang dilangsungkan oleh putra maupun putrinya.

Ibu Ana Sinaga menuturkan bahwa Batak Toba memiliki nilai kebudayaan yang baik. Sebagai seorang yang bersuku Batak Toba, beliau mengakui bahwa keluarga mereka harus memiliki nilai kekeluargaan dan nilai adat dalam adat

Batak Toba. Sedangkan kedua informan lain tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang sama, hal ini dikarenakan Ibu Boru Panjaitan kesulitan dalam merangkaikan jawaban yang tepat, sedangkan Ibu Sinorita Sembiring berasal dari suku Batak Karo, sehingga tidak memahami bagaimana nilai sebagai seorang Batak Toba walaupun beliau memiliki suami bersuku Batak Toba.

Ketiga informan ini pernah mengikuti kegiatan pernikahan adat Batak Toba. Ibu Ana Sinaga mengaku bahwa beliau mengikuti tarian tor-tor dalam upacara pernikahan adat Batak Toba dan mengikuti upacara adat orang meninggal. Ibu Ana Sinaga berpendapat bahwa pesta pernikahan adat Batak Toba merupakan hal yang bagus, karena dalam upacara pernikahan adat Batak Toba ditampilkan tradisi orang Batak Toba dan orang Batak Toba menjadi mengerti bagaimana proses upacara adat pernikahan itu. Beliau berpendapat bahwa pernikahan adat Batak Toba bukanlah sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan, karena tidak semua pengantin dan keluarganya mampu melaksanakan pesta adat akibat ketidakmampuan dalam hal ekonomi. Beliau menambahkan bahwa apabila pelaksanaan upacara pernikahan adat Batak Toba tidak dilaksanakan oleh pengantin, maka keturunan dari pengantin tersebut tidak dapat juga mengikuti proses pernikahan adat Batak Toba yang seharusnya dilakukan.

“Kalo menurutku, tak pala wajib pun tak apa. Karna sebagian ada gak mampu ada yang mampu (dalam ekonomi), karna yang mampu itulah makanya dilaksanakan upacara adat, kalau tak mampu ya macam mana dibuat, ya diberkati saja di gereja, jadi kan gak pala wajib itu. Tapi memang, kalau orang batak itu ya apalagi kalau tak diadati nanti anaknya tak bisa diadati katanya.”

Kedua informan lainnya yaitu Ibu Boru Panjaitan mengatakan bahwa sebagai seorang yang bersuku Batak Toba pasti mengikuti kegiatan adat yang

dilangsungkan, kegiatan yang pernah beliau ikuti yaitu pesta pernikahan adat Batak Toba, upacara adat orang meninggal, kelahiran anak, martupol, dan kegiatan lainnya. Sedangkan Ibu Sinorita Sembiring mengaku bahwa beliau sering mengikuti pesta pernikahan adat Batak Toba dan berpendapat bahwa pernikahan adat Batak Toba dalam melaksanakannya sangat sulit, namun karena mengingat adat maka kesulitan yang terjadi harus tetap dapat dilakukan. Menurut beliau, pernikahan ini wajib dilaksanakan, hal ini dikarenakan adat yang mengikat. Ibu Sembiring ini menuturkan bahwa pernikahan adat Batak Toba lebih sulit pelaksanaanya daripada pernikahan adat Batak Karo.

“Pernikahan batak ini pernikahan yang bisa dibilang repot dan susah, tapi ya namanya juga adat, memang garisnya seperti itu harus dilakukan. Lebih repot dibandingkan adat karo.”

Ketiga informan ini mengakui bahwa kekerabatan baru dengan menantu yang berasal dari Batak Toba merupakan pilihan hati putra ataupun putri mereka. Ibu Ana Sinaga menuturkan proses pernikahan adat putrinya pada tanggal 27 Desember 2011 dimulai dengan proses matupol. Martupol merupakan rangkaian kegiatan awal sebelum proses pernikahan adat Batak Toba dilangsungkan. Kegiatan yang berlangsung ketika pelaksanaan pernikahan putri ibu Ana Sinaga ini yaitu mempertanyakan kedua calon pengantin apabila masih memiliki hubungan dengan oranglain agar segera diselesaikan, penentuan tanggal pernikahan, dan hal lainnya untuk proses pernikahan adat Batak Toba yang akan dilaksanakan. Proses awalnya yaitu pemberkatan di gereja GKPI Kisaran, kemudian proses adat pernikahan Batak Toba di mulai di Sopo Godang yang berada tepat di samping gereja. Keluarga dari ibu Ana Sinaga tidak mengikuti kegiatan menari tor-tor karena keluarga mereka masih berduka atas meninggalnya

anak pertama dan menantu ibu Ana Sinaga pada bulan Juli 2011 lalu. Beliau mengaku cukup memahami pesta pernikahan adat Batak Toba. Ibu Boru Panjaitan tidak menuturkan secara jelas proses pernikahan adat putranya yang menikah bulan November 2011 lalu. Beliau hanya mengatakan proses yang dilewati yaitu martupol dan hula-hula memberikan ulos. Namun ibu Boru Panjaitan mengatakan bahwa beliau memahami pesta penikahan adat Batak Toba, karena sering mengikuti pesta pernikahan adat yang dilakukan oleh saudara, keluarganya dan tetangga. Ibu Senorita Sembiring memberikan penjelasan yang lebih banyak pada proses pernikahan adat putrinya walaupun beliau merupakan seorang beridentitas Batak Karo. Rangkaian kegiatan yang dilewati dalam proses pernikahan adat Batak Toba tersebut dimulai dengan marhori-hori dinding, yaitu pihak dari laki-laki menyampaikan maksud kepada keluarga pihak perempuan untuk melamar putri ibu Ana Sinaga. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan marhusip, kegiatan yang berlangsung yaitu menentukan tanggal martupol dan pada saat itu pihak laki-laki membisikkan sinamot yang mereka sanggup bayarkan. Martupol dilaksanakan setelahnya, kemudian acara pernikahan adat Batak Toba pun dimulai. Pada saat pernikahan adat Batak Toba berlangsung, pemberian ulos dilangsungkan. Beliau menyatakan bahwa beliau tidak terlalu memahami pesta pernikahan adat Batak Toba, namun beliau belajar memahaminya melalui penuntun dalam pesta tersebut.

Ibu Ana Sinaga menuturkan persiapan untuk proses pernikahan Batak Toba putrinya yaitu ulos, hula-hula mempersiapkan beras dan waktu yang dibutuhkan adalah dua minggu. Ibu Boru Panjaitan mengaku bahwa pesta pernikahan adat putranya mendadak, sehingga yang dipersiapkan yaitu mencari

orang yang bermarga/klan sama dengan menantunya di kampung keluarga mereka dan mereka mempersiapkan untuk pernikahan adat Batak Toba ini kurang dari dua minggu. Sedangkan ibu Sinorita Sembiring mengatakan persiapan yang dilakukan untuk pesta pernikahan adat putrinya membutuhkan waktu berbulan-bulan dan persiapan yang banyak. Beliau mengatakan proses marhusip sampai martupol hanya berbeda beberapa hari, sedangkan proses martupol sampai kepada pesta pernikahan adat membutuhkan waktu dua minggu. Ketiga informan ini mengaku baik calon pengantin dan keluarga mempersiapkan bersama-sama pesta pernikahan adat, terutama putra dan calon menantu serta keluarga ibu Boru Panjaitan yang mempersiapkan pernikahan adat ini yang dengan lebih cepat karena diadakan secara mendadak.

“Ya harus berperan semuanya, apalagi mempersiapkan ini mesti cepat. Apalagi pesta ini kan mendadak bisa dibilang. Tak bisa harus keluarga saja.”

Dalam pesta pernikahan adat yang dilangsungkan oleh putri ibu Ana Sinaga mengaku tidak menghilangkan proses dari yang seharusnya terjadi. Namun apabila melihat pernyataan sebelumnya tentang proses upacara pernikahan adat yang berlangsung, beliau mengatakan bahwa keluarga beliau tidak mengikuti tor-tor dan tidak memberikan uang dikarenakan keluarga yang masih berduka. Hal ini mengakibatkan jawaban yang diberikan ibu Ana Sinaga tidak sesuai dengan pernyataan sebelumnya.

“Kalau acara yang terakhirnya (acara inti) itulah diberkati di gereja lah orang itu (pasangan pengantin) kan, abis itu foto-fotoan, baru ke sopo (tempat pengadaan upacara pernikahan adat) lah, abis itu hula-hula kami parboru nababan, tulang dari perempuan, tulang dari laki-laki manortor (menari khas Batak Toba) lah semua. Kalau keluarga kami gak mau, karna baru meninggal anak pertamaku sama parumaenku (menantuku) bulan

tujuh itu jadi gak manortor kami. Kami hanya membawa beras itu lah sebagai penyambutan. Itu aja. Kalau orang yang lain-lain manortor.”

Sementara ibu Sinorita Sembiring mengakui tidak mengetahui bagaimana proses pernikahan adat Batak Toba yang sebenarnya, sehingga beliau tidak dapat mengatakan perbedaan pesta pernikahan yang telah dilangsungkan tersebut dengan yang lainnya. Hal ini dapat dipengaruhi karena ibu Sinorita Sembiring berasal dari suku Batak Karo. Namun beliau berpendapat bahwa pesta pernikahan adat Batak Toba tidak dilangsungkan dikarenakan faktor biaya yang tidak mampu dipenuhi, bukan hanya karena restu.

Ibu Ana Sinaga dan ibu Sinorita Sembiring tidak menemui kendala dalam persiapan dan proses pernikahan adat yang dilangsungkan. Sedangkan ibu Boru Panjaitan memiliki kendala yaitu keluarga dari calon menantunya hanya sedikit yang hadir dan keluarga beliau harus mencari orang yang bermarga/klan sama dengan hula-hula calon menantunya di kampung mereka.

“Kalau bisa dibilang, ya besar kendalanya. Apalagi pesta adatnya ini bukan biasa, karna mendadak. Pihak si perempuan tak datang karna hal yang tidak bisa ku bilangkan samamu. Tapi ya namanya orang Batak yang harus diadati lah makanya sangap. Kalau tak, dibilang lah tak punya adat.”

3. Pengantin Adat Batak Toba

Informan terdiri dari :

1. LIA NABABAN (Pengantin Perempuan, Putri dari Ana Sinaga) 2. SMR (Pengantin Laki-Laki, Putra dari Boru Panjaitan)

3. AFRIANTO SIANTURI (Pengantin Laki-Laki, Menantu dari Ibu Sinorita Sembiring).

Subjek penelitian pada penelitian ini merupakan pengantin adat Batak Toba dan masing-masing menikah di tempat yang berbeda, yaitu SMR dan pasanganya di Parapat, Lia Nababan dan pasangannya di Kisaran serta Afrianto dan pasangannya di Medan. Pernikahan pertama dilangsungkan oleh Afrianto dan istrinya pada bulan September 2011, SMR dan istrinya pada bulan November 2011 dan Lia Nababan beserta suaminya di Kisaran pada bulan Desember 2011.

Lia Nababan dan SMR diwawancarai oleh peneliti melalui media telepon, sementara Afrianto Sianturi ditemui peneliti di kediaman orangtuanya (masih tinggal di rumah keluarganya). Lia Nababan berada di Jakarta ketika diwawancarai oleh peneliti sedangkan suaminya menolak untuk diwawancarai. Wawancara dengan Lia Nababan tidak berlangsung lama dikarenakan beliau harus melanjutkan pekerjaannya kembali. Sementara SMR sedang berada di Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan saudara istrinya ketika peneliti mewawancarainya dan beliau akan langsung kembali ke Pontianak. Sementara istrinya menolak untuk diwawancarai saat dihubungi.

Ketiga informan mengakui bahwa mereka menjalani hubungan dengan suami/istri mereka lewan hubungan pacaran terlebih dahulu, jadi tidak dijodohkan oleh keluarga mereka. Lia Nababan memilih menikah dengan suaminya karena mereka memiliki suku dan agama yang sama. SMR mengatakan menikah dengan istrinya yang juga merupakan pariban jauhnya untuk tidak menghilangkan adat Batak Toba yang ada dalam dirinya, hal ini dilakukannya sebagai wujud kongkretnya sebagai seorang yang bersuku Batak Toba. Beliau juga mengatakan bahwa memilih menikah dengan istrinya karena berdasarkan cinta dan lebih mudah berkomunikasi dengan yang juga berasal dari suku Batak Toba. Sementara

Afrianto Sianturi merasa sebagai seorang Batak Toba memang harus mencari yang bersuku sama dengannya.

Dalam memandang pernikahan adat Batak Toba, SMR berpendapat bahwa pernikahan adat Batak Toba merupakan sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan. Beliau menyatakan walaupun keadaan yang tidak memungkinkan terjadi untuk melaksanakan pesta pernikahan adat, namun SMR dan keluarga berupaya untuk tetap melangsungkannya. SMR menambahkan bahwa ketika pesta pernikahan adat telah dilaksanakan tanggungjawabnya terpenuhi kepada adat.

“Wajiblah, kalau tak wajib gak mungkin ku usahakan untuk tetap pesta walaupun keadaan tak memungkinkan sebenarnya. Karna kan kalau sudah diadati itu udah lepas beban, karna kalau ditunda-tunda susah nanti kalau orang Batak ini.”

Lia Nababan kurang memahami proses pernikahan adat Batak Toba yang sebenarnya, namun beliau mengatakan akan memahami lewat pesta pernikahan adat Batak Toba yang akan dihadirinya. SMR menguraikan proses pernikahan adatnya secara singkat, hal ini menunjukkan pemahamannya terhadap pesta adat kurang. Sedangkan Afrianto Sianturi sedikit memahami proses pernikahan adat Batak Toba yang telah dilangsungkannya.

Dalam mempersiapkan pernikahan, Lia Nababan menyatakan bahwa beliau beserta suami dan seluruh keluarga berperan untuk mempersiapkan pesta pernikahan adat Batak Toba. Persiapan yang mereka lakukan yaitu sejumlah uang yang diperlukan untuk melangsungkan pesta pernikahan, pakaian yang akan digunakan oleh pengantin dan undangan yang akan hadir dalam pesta ada tersebut. Lia mengaku bahwa persiapan pesta pernikahannya ini tidak sesulit persiapan alm.abangnya, karena masih dalam kondisi berduku maka persiapannya

dibuat lebih sederhana dan waktu yang mereka butuhkan untuk persiapan ini yaitu dua minggu. Lia Nababan mengatakan bahwa dalam pesta pernikahan adatnya tidak menghilangkan prosesnya, namun beliau tidak mengetahui secara jelas proses pernikahan adat Batak Toba yang sesungguhnya. Sementara SMR mempersiapkan materi dan mencari marga tulang dari istrinya di kampung orangtuanya. Persiapan yang mereka lakukan kurang dari dua minggu. Sedangkan perbedaan yang SMR rasakan dari pesta pernikahan adatnya dengan pernikahan adat lainnya yaitu ketidakhadiran orangtua istrinya secara lengkap, sehingga hal ini terasa tidak lengkap dirasakan oleh SMR.

“Kalau perbedaanya tentu lah, kalau pestaku kemarin kan dari keluarga istriku tak ada yang hadir. Karna memang sebenarnya tak ada restu, kalau pesta yang lain kan dari cowok dan cewek keluarganya lengkap jadi yang ikut acara memang keluarga dua-duanya.”

Sementara Afrianto Sianturi bahwa beliau beserta istri dan seluruh keluarga berperan aktif dalam mempersiapkan pesta pernikahan adat Batak Toba. Afrianto Sianturi mempersiapkan pernikahannya dari setahun sebelumnya. Hal pertama yang dipersiapkan adalah gedung tempat berlangsungnya pesta adat, pakaian pengantin dan hal yang lainnya. Beliau menyatakan tidak ada proses yang dihilangkan dalam upacara pernikahan adat yang telah dilangsungkannya dan tidak menemui kendala dalam pelaksanaanya. Afrianto menyatakan bahwa pernikahan adat dilakukan apabila pengantin dan keluarga mampu secara materi untuk pembiayaan pesta pernikahan adat, karena beliau berpendapat bahwa pesta pernikahan Batak Toba membutuhkan biaya yang besar akibat mahalnya kebutuhan pesta. Afrianto bependapat untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Batak Toba, seorang Batak Toba harus melestarikan bahasa Batak Toba agar tidak hilang kebudayaan Batak Toba tersebut. Untuk kelestarian nilai budaya dalam

pernikahan adat Batak Toba, Afrianto menyarankan untuk mengajarkan kepada anak dan cucu untuk berbahasa batak toba dimulai dari rumah dan mengajaknya mengikuti upacara adat Batak Toba sehingga adat tidak lekang oleh zaman.

Setelah melakukan proses wawancara terakhir, tanggal 9 Januari 2011 pagi penulis melakukan analisis menonton vcd yang telah dipinjamkan oleh ibu Sinorita Sembiring. Pemberkatan dilakukan pada hari Sabtu, 17 September 2011 di Gereja HKBP Moria Resort Medan Baru dan acara adat pernikahan dilangsungkan pada hari yang sama di Wisma Jayapuri, Jl. Sei Mencirim No.172 Medan. Berdasarkan vcd berdurasi 120 menit yang telah disaksikan, peneliti merangkaikan acara pernikahan Batak Toba tersebut sebagai berikut:

1. Pengantin laki-laki beserta keluarga bersiap-siap berangkat menuju rumah pengantin perempuan dengan membawa beras dan ulos.

2. Setelah sampai di kediaman pengantin perempuan, pengantin laki-laki beserta keluarga memasuki rumah dengan membawa beras dan ulos yang telah disiapkan untuk diberikan kepada keluarga pihak perempuan. Pengantin perempuan beserta keluarga menyambut kehadiran calon suami beserta keluarga dengan saling bersalaman.

3. Utusan juru bicara dari pihak pengantin laki-laki menyampaikan maksud kepada keluarga perempuan bahwa mereka ingin meminang si pengantin perempuan dan menjemputnya agar ikut kepada calon suaminya. Pihak pengantin laki-laki memberikan persembahan makanan dari hewan ternak (babi) dan kemudian dibalas oleh juru bicara dari pihak perempuan bahwa pihak perempuan bersedia untuk menerima pinangan dan mengizinkan si

pengantin perempuan untuk ikut kepada calon suaminya, kemudian pihak perempuan memberikan ikan mas arsik (dekke) untuk pihak laki-laki. 4. Makan bersama dilakukan oleh kedua pihak pasangan pengantin di

kediaman keluarga perempuan.

5. Pengantin perempuan memasang bunga di baju pengantin calon suaminya dan dibalas oleh suaminya dengan memberikan bunga kepadanya, kemudian pengantin laki-laki mencium kening calon istrinya.

6. Pasangan pengantin yang hendak menikah menyalami keluarganya lalu keluarga calon pasangannya untuk meminta izin dan restu. Setelah itu, dilanjutkan foto bersama keluarga sebelum berangkat menuju gereja.

7. Pengantin berangkat menuju gereja beserta keluarga. Sesampainya di gereja, pengantin menuju kantor gereja untuk menikah secara hukum negara disaksikan dan ditandatangani oleh para saksi dan orangtua yang hadir.

8. Setelah resmi menikah secara hukum negara, pengantin menuju gedung gereja untuk mengikuti prosesi pernikahan secara agama diiringi oleh pendamping dan keluarga masing-masing pengantin.

9. Ibadah di gereja dimulai dengan pandungan pendeta dan diikuti oleh seluruh jemaat yang terdiri dari keluarga dan para undangan.

10. Pengantin menaiki mimbar untuk dilakukan pemberkatan nikah dihadapan seluruh jemaat. Pengucapan janji nikah diucapkan oleh keduanya dan diresmikan sebagai pasangan suami istri yang sah di hadapan gereja.

11. Saling menukar cincin dilakukan kedua pengantin sebagai simbol pengikat keduanya dan didoakan oleh pendeta dan seluruh jemaat, setelah itu pendeta memberikan kitab suci kepada pengantin tersebut.

12. Setelah ibadah pemberkatan usai dilakukan, dilanjutkan foto bersama seluruh keluarga. Kemudian pengantin beserta keluarga berangkat menuju Wisma Jayapuri untuk melangsungkan proses pernikahan adat Batak Toba.

13. Acara yang pertama kali dilakukan yaitu penyampaian pesan-pesan dari hula-hula dan pemuka adat kepada pengantin beserta seluruh keluarga.

14. Para undangan dari pihak laki-laki memberikan kado dan uang kepada pengantin kemudian dilanjutkan dengan tarian tor-tor yang diikuti oleh pengantin beserta keluarganya.

15. Pengantin wanita menyanyi didampingi oleh suaminya dan diberikan uang dari keluarga dan undangan (uang diberikan hanya bagi yang ingin memberi saja).

16. Pengantin beserta keluarga dari pihak laki-laki berdiri didepan pintu sedangkan keluarga pihak perempuan keluar gedung, hal ini merupakan bagian dari ritual pernikahan adat Batak Toba yang harus dilaksanakan. Pengantin dan keluarga pihak laki-laki menyambut keluarga pihak perempuan dengan saling bersalaman sehingga keluarga pihak perempuan kembali memasuki gedung.

17. Pemberian ikan mas beserta nasi kepada pengantin yang diberikan oleh orangtua perempuan, hula-hula dan saudara dari pihak pengantin laki-laki. 18. Acara makan bersama dimulai dengan diawali dengan doa bersama.

Pengantin memakan makanan berupa ikan mas dan yang diberikan dengan saling menyuapi.

19. Acara peyampaian sinamot berlangsung antara keluarga pengantin laki-laki dan perempuan di lantai satu, sedangkan pasangan pengantin menghibur undangan yang berada di lantai dua dengan menyumbangkan beberapa lagu berbahasa Indonesia.

20. Acara pemberian ulos oleh suhut parboru (orangtua pengantin perempuan) kepada suhut parnakan (orangtua pengantin laki-laki) yang diawali dengan penyampaian pesan-pesan oleh suhut parboru agar pihak keluarga pengantin laki-laki menerima putrinya sebagai menantu dalam keluarga tersebut dengan baik.

21. Pemberian ulos suhut parboru kepada pasangan pengantin dengan diawali pesan kepada sang putri agar menjadi istri yang baik dan pesan kepada sang menantu agar menjaga istri dan rumah tangganya kelak.

22. Pemberikan ulos kepada pengantin oleh hula-hula serta dari dongan sahuta dan dongan tubu.

23. Keluarga pengantin perempuan manortor (menari tor-tor) dan memberikan uang kepada hula-hula dan hula-hulan memberikan berkat sebagai balasan.

24. Pemberian ulos kembali diberikan kepada pengantin yang berasal dari pihak marga-marga yang masih berhubungan dan para undangan.

25. Acara selesai dan pengantin pulang ke rumah orangtua pengantin laki-laki.

Untuk melengkapi informasi tentang proses pernikahan Batak Toba, peneliti akan memaparkan perkawinan adat Batak Toba menurut buku Bungaran Antonius Simanjuntak dan E.H Tambunan. Pada buku Bungaran Antonius Simanjuntak, pada zaman dahulu pernikahan putri dengan saudara laki-laki ibu merupakan suatu keharusan. Sejak kecil boru ni tulang (artinya anak perempuan dari saudara laki-laki ibu, dalam bahasa batak dinamakan pariban) sudah sering disuruh oleh ibunya (istri tulang, dalam bahasa batak dinamakan nantulang) untuk membantu namborunya (artinya saudara perempuan dari ayah) bekerja di sawah atau ladang. Demikian sebaliknya dengan si pemuda sudah sering membantu tulangnya. Pergaulan marpariban (ber-pariban) sangat mesra dan bebas namun tetap dibatasi dalam norma-norma kesopanan. Apabila dua orang muda-mudi telah sepakat untuk menikah, mereka memberitahukan kepada orangtuanya. Kemudian pihak laki-laki mengutus utusan yaitu anak perempuan (borunya) beberapa orang untuk penyampaian kehendak (parsahatton hata), pinangan dan berapa kira-kira mahar (tuhor/sinamot). Pembicaran tuhor/sinamot ini diadakan secara berbisik-bisik oleh keduabelah pihak karena belum boleh diketahui oleh umum dan belum ada keputusan yang pasti, hal ini dinamakan dengan marhusip. Dalam marhusip terjadi tawar-menawar tuhor/sinamot, panjuhuti (daging untuk pesta), jumlah ulos yang akan diberikan oleh hula-hula (pihak keluarga dari istri dan paling dihormati dalam keluarga), jumlah undangan keduabelah pihak, tempat pesta (dinamakan namangalanami/hembangan anak), waktu pesta, dan hal

lainnya. Pada zaman dahulu penentuan hari nikah diserahkan kepada datu (dukun), hal ini disebut maniti ari yang artinya memilih hari baik. Pada saat ini kegiatan maniti ari oleh datu masih dilangsungkan di desa-desa, namun di kota sudah dipertimbangkan sesuai dengan hari libur atau hari kerja yang pendek.