HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil dan Pengamatan Penelitian
1. Pemuka Adat Batak Toba
Pemuka adat Batak Toba ini merupakan informan pertama yang diwawancarai sehingga peneliti berusaha menanyakan tentang gambaran awal suku Batak Toba dan identitas yang dimiliki beliau barulah kemudian ditanyakan tentang pernikahan adat Batak Toba. Pemuka adat Batak Toba ini bernama Bapak Beruel Sinaga dan berusia 70 tahun. Beliau telah dipercaya menjadi pemuka adat sejak beliau berusia 50 tahun. Beliau tidak hanya dipercaya sebagai pemuka adat di Kisaran, namun juga beberapa kali di daerah asal Batak Toba. Beliau mengatakan bahwa sebagai seorang bersuku Batak perlu memiliki dalihan na tolu, hal ini yang menyebabkan darah batak akan terus mengalir kepada penerusnya dan tidak akan terputus sampai kapanpun.
“Jadi, orang Batak tak terlepas dari dalihan na tolu. Menurutku batak toba itu adalah darah yang mengalir dan tidak akan terputus sampai kapanpun.”
Bapak Beruel Sinaga mengatakan bahwa sebagai seseorang yang bersuku Batak Toba dilarang melanggar dalihan na tolu. Sebagai seorang pemuka adat, beliau sering mengikuti berbagai upacara adat yang diadakan. Saat ditanyakan tentang masa depan suku Batak Toba, beliau mengatakan bahwa dalihan na tolu yang akan membuat adat Batak Toba tidak akan hilang sampai kapanpun.
“Sebetulnya lantaran batak toba ini tidak akan hilang adatnya, yang buat itu ya dalihan na tolu . Gak akan hilang itu sampai kapanpun.”
Pernikahan adat Batak Toba diartikan pemuka adat ini sebagai pernikahan yang tidak mudah untuk dilakukan karena membutuhkan persiapan yang panjang. Pernikahan tidak dapat dilakukan apabila keluarga dari kedua belah pihak pengantin belum mencapai kesepakatan. Beliau mengatakan bahwa pernikahan
adat bagi orang Batak Toba merupakan sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan. Hal ini dikarenakan adat yang tidak dapat dilaksanakan dengan sembarangan. Bapak Beruel Sinaga lebih menyepakati apabila pernikahan adat Batak Toba dilangsungkan oleh pasangan yang sama-sama berasal dari suku Batak Toba. Hal ini dikarenakan suku lainnya tidak mengetahui bagaimana adat Batak Toba itu sedangkan apabila berasal dari suku yang sama tentunya saling memahami.
Bapak Beruel Sinaga menjabarkan proses adat Batak Toba yang dilewati oleh pasangan pengantin. Acara adat dapat dimulai ketika pasangan pengantin telah resmi dipasu-pasu menjadi suami istri, kemudian dilanjutkan dengan pembagian daging kepada keluarga, teman sekampung, dan marga-marga yang berhubungan dengan keluarga pengantin lalu dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah makan bersama dilangsungkan dimulailah acara pembicaraan tentang mahar dan apabila pembicaraan selesai, mahar diberikan bagi orangtua perempuan dan pihak hula-hula yaitu saudara laki-laki dari ibu pihak perempuan dan kepada pihak yang berhak menerima mahar pengantin. Lalu pemberian ulos dilakukan kepada pengantin dan pihak-pihak yang berhak menerimanya. Beliau mengatakan apabila pesta pernikahan dilangsungkan di rumah pihak perempuan, maka setelah pesta pengantin perempuan harus dibawa ke rumah pihak laki-laki.
“Pertama, kalau adat batak toba itu harus dipasu-pasu sesudah dipasu-pasu terus makan bersama, ada jambar daging, semua dapat mulai dari hula-hula, tulang, bona tulang, parboru, dongan sahuta, dongan tubu, semua lah marga-marga sekeluarga pengantin dapat jambar. Sesudah habis makan, maka marhata (membicarakan) soal sinamot. Jadi sinamot ini yang mengasihnya parakan dan parboru, jadi disitu ya dikasilah sinamot pertama kepada orang tua perempuan, partulang sama tulang (saudara lelaki dari ibu), pamarai, simolohon, , pariban tulang. Sesudah itu selesai baru membuat ulos lah parboru, ulos pertama dikasih bapak pangoli laki-laki, ulos kedua untuk pengantin, udah itu ulos untuk pamarai orang itu, simolohonnya, paribannya, boru sihabolongannya dan terus ada
untuk ulos hatoropan, holong namanya. Umpamanya yang diundang orangtua si perempuan tadi mengasi ulos lah ini semua. Sesudah itu hata gabe-gabe terus manukir tangga. Tapi kalau ini pesta di muka paranak, sesudah hata gabe-gabe ya terus pulang lah parboru ke kampungnya. Jadi kalau pestanya di rumah si parboru ya langsung dibawa si perempuan ke rumah si laki-laki ini. Ya itu lah pelaksanaan adatnya.”
Bapak Beruel ini mengatakan bahwa persiapan pertama yang harus dipersiapkan yaitu sinamot, yaitu uang mahar yang diberikan kepada pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Hal lain yang perlu dipersiapkan yaitu makanan yang akan disajikan dalam pesta pernikahan adat Batak Toba, seperti daging yang akan dihidangkan pada acara berlangsung apakah menggunakan kerbau, lembu atau daging ternak yang lainnya. Beliau berpendapat bahwa persiapan yang dibutuhkan untuk membentuk pesta adat Batak ini dua minggu.
“Persiapannya satu, mengenai sinamot, kedua, mengenai soal makanan yang mau dibuat untuk acara, ntah horbo (kerbau), pinahan lombu (daging lembu), ya itulah persiapannya. Jadi kalau menurut adat bataknya mesti ada dua minggu.”
Pemuka adat yang juga berprofesi sebagai kepala lingkungan ini mengatakan bahwa pernikahan adat Batak Toba terkadang tidak bisa sama dengan pernikahan adat Batak Toba yang lainnya, hal ini dikarenakan letak perkampungan yang berbeda dan marga atau klan yang berbeda. Sehingga dibutuhkan musyawarah untuk menyatukan pendapat terhadap pesta adat agar pesta ini dapat berlangsung.
Menurut Bapak Beruel Sinaga, pengantin dan keluarganya berperan bersama-sama dalam mempersiapkan pesta pernikahan adat. Hal tersebut dipengaruhi karena pada saat ini pernikahan dilangsungkan bukan dikarenakan perjodohan, berbeda dengan pernikahan yang dilandaskan perjodohan maka keluarganya yang lebih banyak berperan.
“Gimanapun sama saja perannya itu. Kalau dulu banyak dijodohkan, jadi keluarganya yang banyak menyiapkan. Tapi sekarang jarang dijodohkan, jadi sama-sama menyiapkan.”
Bapak Beruel Sinaga mengatakan bahwa dalam upacara pernikahan adat Batak Toba seharusnya tidak dihilangkan prosesnya, karena apabila dihilangkan maka menjadi kurang baik. Hal yang menyebabkan hilangnya suatu hal dari proses pernikahan adat Batak Toba sehingga tidak dilaksanakan disebabkan oleh peraturan dari suatu agama, seperti Katholik dan Pantekosta tidak melaksanakan proses martupol. Menurut pemuka adat ini, proses pernikahan adat Batak Toba harus melalui suatu kesepakatan, sehingga tidak dilaksanakannya suatu hal di dalam upacara adat tidak menjadi masalah. Namun keluarga dari pengantin adat Batak Toba patut bertanggungjawab atas sesuatu yang hilang didalam proses pernikahan adat Batak Toba. Menurut Bapak Beruel Sinaga, kendala yang dialami dalam proses pernikahan adat Batak Toba yaitu salah satu pengantin ternyata telah bertunangan kepada orang lain. Hal ini menyebabkan pernikahan adat Batak Toba menjadi batal. Untuk mengatasi kendala yang terjadi tersebut, Bapak Beruel mengatakan bahwa martupol hendaknya dilaksanakan, karena didalam acara martupol ini masing-masing calon pasangan yang hendak menikah ditanyakan apakah masih menjalani hubungan kepada orang lain dan apabila masih maka harus diselesaikan agar pernikahan dapat laksanakan dengan baik.
“Itulah maka untuk seperti sekarang ini dibuat dulu martupol, martupol ini ada perjanjian. Pada perjanjian itu dikatakan apakah kamu menjalin hubungan kepada perempuan atau laki-laki lain, kalau ada mesti diselesaikan dulu supaya bisa diberkati perkawinan kamu.”
Agar nilai budaya didalam suatu proses pernikahan adat Batak Toba tidak hilang, Bapak Beruel menyatakan bahwa dalihan na tolu harus diingat dan digunakan, karena apabila dilupakan maka adat itu dapat hilang. Hal yang yang
harus dilakukan untuk mempertahankan nilai-nilai dalam upacara pernikahan adat Batak toba yaitu mengingat bagian-bagian dari suatu hewan ternak yang harus dibagikan kepada pihak-pihak yang berhak didalam tutur keluarga. Pembagian ini juga dapat mengingat anggota keluarga lainnya yang masih terdapat didalam adat orang Batak.
2. Keluarga Pengantin Adat Batak Toba