DAFTAR LAMPIRAN
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Distribusi Massa Air di Jalur Arus Lintas Indonesia (ARLINDO)
4.1.3 Sirkulasi Massa Air
Massa air teridentifikasi berdasarkan T-S diagram. Sirkulasi massa air secara tidak langsung memperlihatkan perjalanan CO2 antropogenik dalam suatu
wilayah perairan. Berapa banyak massa air yang berhasil ditransporkan atau dipindahkan, dapat juga menggambarkan banyaknya konsentrasi CO2
antropogenik yang ditransporkan (Touratier & Goyet 2004b).
Semua air yang berada di perairan Indonesia, pada umumnya berasal dari wilayah subtropis dan lintang tinggi Samudera Pasifik (You 2003). Massa air yang bersumber dari utara maupun selatan Pasfik, keduanya dapat dibedakan dari nilai salinitasnya. Air yang bersumber dari Pasifik Utara digambarkan memiliki salinitas yang rendah dengan temperatur yang tinggi, sebaliknya massa air yang bersumber dari Pasifik Selatan dicirikan memiliki salinitas yang tinggi dengan temperatur rendah (Gordon & Fine 1996; You 2003).
Di Pasifik, sebagian massa air North Equatorial Current (NEC) berbelok ke selatan ketika mencapai perairan Filipina kemudian dilanjutkan dengan Mindanao
61
Current (MC). MC membawa massa air Pasifik Utara, North Pasific Subtropical
Water (NPSW) yang digambarkan berada pada lapisan termoklin dengan salinitas tinggi (~34,65) di kedalaman sekitar 220 m atau = 24,5, dan North Pasific
Intermediate Water (NPIW) yang digambarkan memiliki salinitas minimum (<34,4) pada kedalaman 300 m, atau = 26,5 (Tabel 1). Sebagian massa air MC yang masuk ke Laut Sulawesi kembali ke Samudera Pasifik sebagai North Equatorial Counter Current (NECC) dan sebagiannyanya lagi menuju Selat Makassar dan menjadi ARLINDO.
Pada section P10N ditemukan massa air dengan salinitas pada kisaran 34,93-35,15 psu, pada = 24 (Gambar 31). Massa air ini diduga merupakan massa air NPSW yang berasal dari Pasifik Utara. Batas atas salinitas massa air ini (35,15 psu), terlihat cukup tinggi dibandingkan dengan salinitas massa air NPSW dalam You (2003), yaitu ~34,65 psu. Hal ini diduga karena adanya masukan air bersalinitas tinggi yang datang dari arah timur menuju bagian barat Pasifik, seiring dengan sirkulasi NEC.
Gambar 31 Diagram T-S section P10N, Samudera Pasifik bagian barat.
Pada lapisan bawah termoklin, ditemukan massa air dengan = 26,50 dan salinitas 34,12-34,58 psu, yang diduga adalah massa air NPIW. Nilai ini, memiliki kesamaan dengan massa air NPIW dalam You (2003), dengan salinitas minimum sekitar 34,42 psu pada = 26,50. Atmadipoera et al. (2009) menemukan NPIW memiliki salinitas maksimal (34,90 psu) pada saat memasuki ARLINDO, sementara hasil observasi di Selat Makassar NPIW memiliki salinitas 34,40 psu (Ilahude & Gordon 1996).
Gambar 32 Diagram T-S section P08S, Samudera Pasifik bagian barat.
Massa air NPSW dan NPIW terlacak juga pada section P08S di Pasifik bagian barat dekat perairan Filipina, yaitu pada jalur masuk ARLINDO (Gambar 32). NPSW ditemukan pada kisaran salinitas termoklin 34,76-34,85 psu, pada
antara 24,50-25-50. Sementara NPIW berada di bawah lapisan termoklin pada kisaran salinitas 34,43-34,45 psu, pada = 26,50. Karakteristik massa air di
63
section P08S, terlihat sama dengan yang ditemukan di section P10N. Hal ini menunjukkan, bahwa massa air pada kedua section memiliki asal-usul yang sama, yaitu berasal dari wilayah Pasifik Utara (Wyritki 1961; Ilahude & Gordon 1996;You 2003). Berdasarkan profil diagram T-S, massa air NPSW dan NPIW di
section P08S, menunjukkan kemiripan dengan profil diagram T-S dalam Koch Larrouy et al. (2007) dan Gordon (2005) (Gambar 33).
Gambar 33 Profil diagram T-S yang di hitung berdasarkan observasi. World
Ocean Data Base 2001 (Levitus 1998 (warna hitam), TIDES- Gordon 2005 (warna oranye), NOTIDES (warna biru) dalam Koch Larroy et al. 2007).
MC yang membawa massa air NPSW dan NPIW selanjutnya bersirkulasi menyusuri perairan Filipina bergerak ke selatan, kemudian masuk ke perairan Indonesia setelah mencapai Laut Sulawesi. Namun demikian tidak semua massa air tersebut ditransporkan ke perairan Indonesia, karena ada juga yang diteruskan lebih ke selatan (Christian 2004). Dalam perjalanannya, karakteristik massa air Pasifik Utara masih jelas terlacak di Selat Makassar bagian utara, yaitu sekitar Labani Channel (Gordon 2005 dengan menggunakan model TIDES dan Koch-
Larrouy et al. 2007 menggunakan model NOTIDES) (Gambar 33), di wilayah sumber ARLINDO.
Dari Selat Makassar, air Pasifik Utara melanjutkan perjalanannya dengan ARLINDO melewati perairan Indonesia yang dikenal dinamis dengan bentuk topografi perairan yang unik, sebelum keluar mencapai Hindia. Namun demikian, massa air Pasifik yang dicirikan dengan salinitas maksimum pada lapisan termoklin dan salinitas minimum di bawah termoklin, mengalami modifikasi ketika mencapai Laut Flores, dengan ditemukan salinitas minimum 34,400 psu (Ilahude & Gordon, 1996).
Kepulauan Indonesia terdiri dari sejumlah selat dangkal dan dalam, dan menyerupai mangkuk besar di bagian dalam (interior basins). Contohnya Laut Sulawesi dan Laut Banda, sebagai yang terbesar dan terdalam di perairan Indonesia. Dengan bentuk ini, di Laut Banda memungkinkan terjadinya pengadukan massa air Samudera Pasifik, akibat kuatnya gaya pasang surut yang dapat mengubah karakter air (Gordon et al. 2006; Gordon 2005).
Di Laut Banda, ditemukan pada lapisan termoklin bersalinitas sekitar 34,45 psu pada = 24 (Gambar 34) dan selanjunya disimpulkan bahwa massa air ini tidak menggambarkan karakteristik massa air NPSW yang memiliki salinitas maksimum sekitar 34,65 psu pada = 24, seperti yang digambarkan dalam You (2003), Koch Larrouy et al. 2007, dan Gordon (2005). Hal ini diduga dalam perjalanannya melewati jalur barat, massa air Pasifik telah mengalami modifikasi akibat adanya Ambang Dewakang di Selat Makassar, menyebabkan terjadinya percampuran vertikal (Hatayama 2004). Demikian pula, intervensi air tawar dengan salinitas rendah dari Laut Jawa yang bergerak ke arah timur menuju Laut Flores dan masuk ke Laut Banda selama musim peralihan (Maret-Mei) (Atmadipoera 2009), juga berpengaruh.
Pada lapisan bawah termoklin stasiun Laut Banda, terlihat salinitas 34,56 psu pada = 26,5. Ini diduga merupakan massa air Pasifik Utara yang bergerak pada lapisan bawah termoklin. Bila dibandingkan dengan section P10N pada lapisan yang sama, nilai ini masuk dalam kisaran massa air NPIW (34,12-34,58 psu pada =26,5). Dalam Suteja (2011), di Selat Ombai ditemukan massa air
65
NPIW dengan salinitas 34,50-34,56 psu pada = 26-26,70. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa massa air pada lapisan bawah termoklin Laut Banda dari penelitian ini, adalah massa air NPIW.
Sementara itu, tidak terdeteksinya massa air NPSW di stasiun Laut Banda pada penelitian ini, dijelaskan oleh Hautala et al. (1996) yang menyimpulkan, bahwa massa air Pasifik dengan salinitas maksimum pada lapisan termoklin, terlihat menghilang ketika mencapai Laut Banda, membentuk karakteristik massa air dengan salinitas yang homogen sekitar 34,58 psu di bawah 20oC. Terhadap fenomena ini Gordon (2005) menyimpulkan, bahwa Laut Banda memainkan peranan penting terhadap proses pengadukan massa air dalam membentuk lapisan homogen. Demikian pada beberapa penelitian lainnya disimpulkan, adanya gelombang internal yang menyebabkan terjadinya transformsi karakteristik massa air sebelum mencapai Laut Banda (Schiller 2004; Hatayama 2004, Koch-Larrouy
et al. 2007). Sebaliknya, keberadaan massa air NPIW di Laut Banda, dijelaskan oleh Gordon dan Fine (1996), yang menyimpulkan konsentrasi CFC di lapisan dalam Laut Maluku yang berasal dari Pasifik Utara, sangat berhubungan dengan konsentrasi CFC di kedalaman Laut Banda.
Dari bentuk topografi perairan, Laut Banda merupakan mangkuk raksasa tempat bertemunya massa air dengan sumber origin yang berbeda karakteristiknya. Wilayah ini dipengaruhi oleh angin muson yang berubah arah 2 kali setahun (Wyrtki 1961). Sementara itu, air di Laut Banda sendiri memiliki waktu tinggal yang cukup lama, yaitu rata-rata minimum 10 tahun (Koch Larrouy
et al. 2007) dan paling lama 13-22 tahun (Gordon & Fine 1996). Disini jelas menunjukkan, bahwa perairan Laut Banda merupakan perairan yang sangat dinamis dan memungkinkan terjadinya proses perubahan karakteristik massa air.
Dengan data CTD terbaru dari pelayaran INDOMIX, Purba et al. (in press), menyimpulkan bahwa karakteristik massa air Subtropical Lower Termoklin (SPSLTW) yang berasal dari Pasifik Selatan, juga tidak terdeteksi di Laut Banda. Hal ini disebabkan karena adanya gelombang internal di Laut Halmahera dan Laut Seram, yang memodifikasi karakter massa air ini sebelum masuk ke Laut Banda (Gambar 35). Fenomena ini telah ditegaskan sebelumnya oleh Koch Larrouy et
Gambar 34 Diagram T-S stasiun Laut Banda.
Gambar 35 Diagram T-S dan DO (Dissolved Oxygen) di Halmahera, Banda and Ombai. Kotak di sebelah kanan adalah lokasi CTD, INDOMIX 2010 (Purba et al. in press).
67
al. (2007), bahwa perubahan salinitas maksimum massa air Pasifik Selatan tidak mucul di Halmahera dan Laut Seram, akibat adanya percampuran.
Percampuran vertikal yang terjadi di wilayah ini menyebabkan karakteristik beberapa origin massa air sulit teramati. Pengaruh angin muson, juga turut mempengaruhi dinamika oseanografi di wilayah ini, terutama di lapisan permukaan (Zijlstra et al. 1990; Ilahude et al. 1990). Selama muson tenggara, (Juni – Agustus), arus permukaan bergerak dari Laut Banda menuju Laut Flores, Laut Jawa sampai Laut Cina Selatan. Sebaliknya selama periode muson barat laut (Desember – Februari), arus permukaan Laut Jawa dan Selat Makassar bergerak melintasi Laut Flores kemudian masuk ke Laut Banda (Gordon 2005). Selama muson tenggara, arus yang mengalir ke arah barat, menyebabkan terjadinya
upwelling di bagian timur Laut Banda, sehingga temperatur permukaan menjadi lebih rendah dan perairan kaya akan nutrien (Wyrtki 1961; Troelstra & Kroon 1989). Selama periode upwelling, dari April ke Desember, rata-rata kecepatan Ekman upwelling adalah 1,27 Sv (Gordon & Susanto 2001).
Selama periode transisi dari muson tenggara ke muson barat laut, arus permukaan berubah arah menurut arah angin. Pada lapisan atas, arus mengalir menuju timur sebesar 6,3 Sv. Sebaliknya pada tekanan antara 300 sampai 1000 dbar, arus bergerak ke barat sebesar 3,9 Sv. Pada kedalaman ini terjadi transfer salinitas yang tinggi ke Laut Flores. Pergerakan arus ini mencapai Selat Makassar, dan membentur Ambang (sill) Dewakang yang memiliki ketinggian sekitar 650 m (Gordon et al. 1994).
Di Selat Ombai, Suteja (2011) menemukan massa air Pasifik Utara pada bulan Juli 2010 terlihat pada lapisan termoklin dan di lapisan bawah termoklin (Gambar 36). Massa air NPSW teridentifiksi pada = 24,00-22,00 dengan kisaran salinitas 34,38-34,54 psu. Sementara itu, massa air NPIW menempati kisaran densitas antara 26-26,70 pada salinitas 34,50-34,56 psu. Sementara, pada lapisan pemukaan, lebih didominasi oleh massa air Laut Jawa dengan salinitas yang rendah sekitar 33,38-33,86 psu pada = 21-22.
Gambar 36 Diagram T-S di Selat Ombai tanggal 16-17 Juli 2010. Tanda panah dan kotak merah menunjukkan jenis massa air yang terdeteksi (Suteja 2011).
Namun demikian, dari data CTD ini menunjukkan bahwa massa air Laut Jawa yang terlacak di kedalaman termoklin Selat Ombai pada saat periode transisi Maret-Mei (Atmadipoera et al. 2009), tidak terlihat pada penelitan ini. Hal ini di duga, karena kurangnya volume massa air Laut Jawa yang mencapai perairan Selat Ombai setelah mencapai puncak tertinggi di bulan Maret. Air Laut Jawa sendiri digambarkan memiliki karakter yang dingin dan tawar, dengan salinitas berada pada kisaran antara 31,00-32,00 psu (Wyrtki, 1961; Admadipora et al. 2009).
Perjalanan air Samudera Pasifik menuju Hindia mengalami sejumlah modifikasi di perairan Indonesia, ini ditandai dengan hilangnya sejumlah karakteristik massa air ketika mencapai Hindia bagian timur. Hal ini ditandai
69
dengan tidak terlihatnya massa air bawah termoklin Pasifik Selatan (SPSLTW) di Selat Ombai pada Juli 2010. SPSLTW digambarkan memiliki salinitas 34,20 psu pada antara 26 dan 27 (Atmadipoera et al. 2009). Tidak terdeteksinya massa air ini, didugadisebabkan oleh adanya variasi musiman massa air Samudera Pasifik selatan yang masuk ke jalur ARLINDO (Suteja 2011).
Seperti yang kita ketahui, bahwa massa air dari Pasifik Utara dan Selatan dapat ditentukan berdasarkan salinitas dan temperaturnya. Massa air Pasifik Utara dengan temperatur tinggi salinitas rendah, sebaliknya air Pasifik Selatan dengan salinitas tinggi temperatur rendah. Massa air Pasifik tersebut, selanjutnya mengalami sejumlah proses modifikasi di Perairan Indonesia sebelum keluar menuju Hindia. Di Laut Banda dan Timor, massa air Pasifik mengalami pengadukan vertikal sampai massa air mencapai campuran homogen secara vertikal (You 2003). Gordon 2005 menunjukkan, bahwa massa air NPIW pada kedalaman 300 m (=26,5), hanya sekilas saja terlihat di Laut Timor, setelah mengalami proses pengadukan. Demikian halnya massa air Antartic Intermediate
Water (AAIW) yang masuk dari jalur sebelah timur, kira-kira pada kedalaman 600-1000 m (atau = 27,1-27,2), juga tidak teridentifikasi di Laut Banda (Gordon 2005). Taley dan Sprintall (2005) menyebutkan, AAIW bertransformasi menjadi Intermediate Indonesian Water (IIW) pada kedalaman 1000 m (atau = 31,96) ketika mencapai Hindia bagian timur, yang kemudian bergabung bersama SEC. Dalam You (2003) disebutkan, IIW memiliki kandungan silikat maksimum sekitar 80 µmol.kg-1.
Tingginya proses modifikasi yang menghilangkan sejumlah karakteristik massa air Pasifik di ARLINDO, membuat para peneliti menggunakan tracer (pelacak) nutrien dan kimia lainnya, untuk mengidentifikasikan massa air setelah diagram T-S dianggap kurang pasti. Gordon dan Fine (1996), menggunakan
chlorofluorocarbons (CFC-11 dan CFC-12) untuk memisahkan stratifikasi massa air. Mereka menemukan konsentrasi CFC di lapisan dalam Laut Banda, berkesuaian dengan di Selat Makassar dan Laut Maluku pada lapisan yang sama. Sementara Hautala et al. (1996), menggunakan oksigen untuk melihat sirkulasi massa air pada lapisan atas dan bawah termoklin. Demikian juga silikat yang
banyak terdapat di Laut Banda, dianggap dapat mewakili identifikasi perubahan karakter massa air Indonesia di Samudera Hindia (You 2003). Karena tingginya kandungan silikat, tracer ini digunakan oleh Coatanoan et al. (1999) untuk melacak massa air ARLINDO di Hindia, dengan menggunakan data JADE section 1989, dari pelayaran R/V Marion Dufresne. Dia berpendapat bahwa silikat merupakan salah satu pelacak penting dalam menganalisis massa air pada satu wilayah perairan.
Untuk melihat distribusi CO2 antropogenik di Hindia bagian timur, adalah
penting terlebih dahulu mengetahui karakteristik massa air di wilayah ini. Kaitannya dengan hal itu, data CTD section H_I10 yang telah tersedia di website WOCE/JGOFS, di pilih untuk perhitungan konsentrasi CO2 antropogenik dan
perkiraan sirkulasi massa air ARLINDO di wilayah outlet. Adalah satu keberuntungan, dimana Wijffels et al. (2002) dengan menggunakan data yang sama, telah mengidentifikasi terlebih dahulu sejumlah massa air dengan sumber origin yang berbeda pada wilayah ini.
Gambar 37 Diagram T-S section H_I10 (berdasarkan garis bujur), Samudera Pasifik bagian barat.
71
Section H_I10 dibagi menurut garis bujur (langitud) dan garis lintang (latitud). Berdasarkan longitud, terlihat salinitas berkurang dari timur ke barat, dari 34,63 psu menjadi 33,14 psu yaitu dekat perairan Selat Sunda (Gambar 37). Sementara itu, menurut latitud, salinitas terlihat meningkat ke selatan, mencapai 35,66 psu di dekat perairan Australia, dari 34,50 psu di stasiun dekat Selat Lombok (Gambar 38).
Menurut Wijffels et al. (2002), setidaknya terdapat 3 jenis massa air lapisan termoklin ( = 24,5) di Samudera Hindia bagian timur (Gambar 39). Pertama adalah massa air South Indian Subtropical Water (STW), yang digambarkan memiliki salinitas maksimum di bagian atas termoklin, berasal dari wilayah subtropis selatan Samudera Hindia yang bersalinitas tinggi akibat tingginya evaporasi. Kedua, North Indian Water (NIW) yang digambarkan memiliki kadar oksigen yang rendah. Yang ketiga adalah Indonesian Throughflow Water (ITW), digambarkan memiliki salinitas lebih rendah dari air Hindia sendiri. Dari jalur keluar ARLINDO, terlihat ITW menuju ke Hindia dan bergabung dengan South
Equatorial Current (SEC), mengalir ke bagian barat di sepanjang garis lintang 12o LS.
Diantara ujung Sumatera dan Jawa, ditemukan massa air permukaan bersalinitas rendah dengan temperatur yang cukup tinggi. Massa air ini berada di atas NIW di bagian selatan kepulauan Indonesia. Kelompok air ini diindikasikan berasal dari bagian barat Sumatera yang memiliki intensitas curah hujan yang tinggi, melalui proses adveksi dengan salinitas rendah, bergerak ke arah barat dari perairan dangkal Laut Jawa.
STW yang relatif memiliki salinitas tinggi yaitu sekitar 35 psu, terletak pada kedalaman 220 m antara pantai Australia dan garis lintang 15o LS. ITW yang lebih tawar ditemukan pada lapisan termoklin agak ke utara dari STW antara lapisan permukaan dan kedalaman 300-400 m (antara 14o LS dan 10o LS). Massa air ini, kemudian menjadi lebih asin ketika mengalir ke barat dari jalur keluar ARLINDO. Berdasarkan data CTD JADE dan WOCE section, pada jalur keluar, ITW memiliki salinitas <34,6 (Wijffels et al. 2002), Pada ujung Selat Sunda, NIW menempati kedalaman dangkal 100-150 m, dan berada di bawah kelompok massa air tawar yang keluar dari antara Sumatera dan Jawa tadi. Di Selat Lombok
Gambar 38 Diagram T-S section H_I10 (berdasarkan garis lintang). (A) 11–15o LS, (B) 15–20o LS, dan (C) 20–25o LS.
73
sepanjang JADE section, ditemukan massa air yang lebih tawar, dimana NIW berada di bawah sekitar 300 m dari massa air ini. Pada pelayaran bulan April dan November 1995, kelompok air tawar permukaan dari Selat Lombok dan NIW, terlihat meluas ke selatan sampai pada latitud 10o LS, namun sementara selama September, kedua massa air ini terlihat berada pada latitud sekitar 8o LS.
Gambar 39 Tiga massa air termoklin di Samudera Hindia bagian timur. North Indian Water (NIW), South
Indian Subtropical Water (STW) and Indonesian
Throughflow Water (ITW) (Wijffels et al. 2002).
South Java Current (SJC), ditemukan dekat Selat Sunda dan terlihat bergerak ke arah selatan dari pantai pulau Jawa. Pada bulan September SJC melemah, tetapi pada November terlihat menguat lagi dan begerak ke timur pada lapisan permukaan (Wijffels et al. 2002).
Penurunan properti ekstrim terjadi dekat muara pada sejumlah massa air, yang diakibatkan oleh intevensi air tawar, terutama pada stasiun-stasiun dekat selat. ITW mengalami peningkatan salinitas ke arah barat, sementara NIW dan STW mengalami penurunan salinitas ke timur. Perubahan ini diakibatkan oleh
pengadukan dan resirkulasi air yang berasal dari Hindia menuju bagian barat bersama SEC, yang juga membawa massa air ARLINDO.
Wijffels et al. (2002), membagi lapisan intermediate Pasifik bagian timur pada kisaran antara 300-800 m. Berdasarkan data WOCE section H_I10, terdapat tiga massa air pada wilayah ini yaitu, (1) Antartic Intemediate Water (AAIW), digambarkan memiliki salinitas minimum dekat 6-7oC, relatif tinggi oksigen dan rendah konsentrasi silikat. (2) Intermediate Indonesian Water (IIW), memiliki konsentrasi silikat yang tinggi dan rendah oksigen. Rochford (1961) dalam Wijffels et al. (2002) menyebut massa air ini sebagai Banda Sea Intermediate
Water, dan (3) massa air North Indian Intermediate Water (NIIW), memiliki kandungan oksigen yang sangat rendah, yang terbentuk di bagian utara garis katulistiwa setelah mengalami pengadukan di perairan marginal dan pada saat melintasi perairan intermediate katulistiwa.
AAIW mengalir ke utara menyusuri sepanjang perairan Australia yang dibawa oleh Western Australian Current dan Leeuwin Undercurrents (Thompson 1984; Smith et al. 1991). Pada garis lintang 20o LS, massa air ini kemudian mengalir ke barat bersama dengan SEC. Massa air IIW yang pada umumnya berada di bagian dalam ARLINDO, keluar melewati outlet (Ombai dan Timor), kemudian mengalir ke arah barat menyusuri jalur SEC antara 10o LS dan 14o LS. Sementara itu, NIIW ditemukan sepanjang wilayah katulistiwa Samudera Hindia sampai ke bagian timur dan terlihat melebar sampai ke selatan sepanjang kepulauan Indonesia.
Sepanjang section H_I10, AAIW (S<34,5 psu) berada di kedalaman perairan Australia sekitar 600 m. Sementara massa air IIW (S<34,62 psu), ditemukan pada kedalaman 800-1000 m. IIW yang bersalinitas rendah terlihat di JADE section dekat dengan jalur keluar ARLINDO, yang disinyalir telah mengalami proses pengadukan. Massa air ini kemudian bergerak ke barat seiring dengan NEC (You 2003).
IIW meninggalkan kedalaman Laut Banda menuju Hindia melewati Laut Timor di atas kedalaman ambang (1950 m). Di Hindia, pada kedalaman antara 1250 m dan 1700 m, IIW bercampur dengan North Indian Deep Water (NIDW), yang memiliki salinitas maksimum >34,73 psu pada kedalaman 2200 m di latitud
75
10o LS. Pada kedalaman antara 500 dan 1200 m, salinitas minimum IIW menempati wilayah antara 14o LU dan 10o LU.
Ditemukan juga percampuran IIW dan NIIW yang bergerak ke timur Hindia. Distribusi massa air yang digambarkan di atas, menyiratkan bahwa SEC yang berada di bagian timur Hindia selain mengandung massa air ARLINDO, juga menerima massa air melalui resirkulasi dari SJC dari bagian timur dan
Leewin Undercurrent yang bergerak ke barat antara latitud 16o LS–20o LS.