Bab VI. Aplikasi Konsep Perancangan
Diagram 4.6 Sirkulasi Pengunjung
Parkir Main Entrance Hall Lobby Outdoor Area Galeri Perpustakaan
R.Pamer Digital Coffee Shop
4.1.5. Diagram Abstrak
Maka konsep sirkulasi antar ruang menggunakan pola linier. Sirkulasi linier : sirkulasi yang menunjukkan satu arah dan menggambarkan gerakan perkembangan dan pertumbuhan ( Francis D.K. Ching ). Sirkulasi linier mengarahkan perjalanan dari keterkaitan dari masing-masing ruang dan saling berinteraksi.
Gambar 4. 1. Diagram Abstrak Sumber : Analisis penulis, 2011
4.2. Analisa Site
Analisa site mempunyai peranan yang cukup besar didalam perencanaan maupun dalam perancangan. Pada penganalisaan fisik site dapat digunakan sebagai penentuan zonning, perletakan pintu masuk, arah hadap bangunan, maupun tampilan bangunan.
4.2.1. Analisa Aksesbilitas
Dapat dilihat bahwa jalur dari arah Jl. Joko Dolog cukup lebar dan berada pada pusat kota, sehingga arus kendaraan yang melalui daerah site dapat dengan mudah untuk mencapai site yang akan digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk merancang sebuah jalur aksesibilitas atau pencapaian adalah :
a. Sirkulasi kendaraan
Sirkulasi kendaraan pada daerah Joko Dolog tidaklah terlalu macet (bilapun terjadi kemacetan, hanya pada saat-saat tertentu saja dikarenakan padatnya
kendaraan umum maupun pribadi yang berlalu-lalang ketika jam kerja). Cukup lebarnya jalan Joko Dolog yang berukuran 19,20 m tersebut dapat mengurangi kemacetan yang diakibatkan padatnya kendaraan umum maupun pribadi.
Pada sisi ini dapat dikatakan sangat baik karena memiliki view
yang besar Main
Entrance Akses keluar masuk pada area permukiman
Gambar 4. 2. Analisa Site Aksesbilitas Sumber : Analisis penulis, 2011
b. Main Entrance
Main Entrance yang baik untuk sirkulasi kendaraan keluar ataupun masuk pada pada site tersebut dapat ditemukan pada bagian Timur dengan analisa pada bagian tersebut dekat dengan sirkulasi kendaraan yang searah sirkulasi kendaraan yang akan masuk ataupun keluar (putar balik) dari site tersebut.
Main Entrance
Gambar 4. 3. Analisa Main Entrance Sumber : Analisis penulis, 2011
4.2.2. Analisa Pembagian Zoning
Merupakan pengelompokkan zona – zona kebutuhan ruang yang digunakan oleh pemakai atau pengguna didalam obyek perancangan. Dimana pengelompokkan zona – zona tersebut memberikan batas – batas terhadap fungsi - fungsi ruang yang ada dalam obyek perancangan. : Zona Publik/ Utama : Zona Pengelola/ Privat : Zona Service
Gambar 4. 4. Analisa Zoning Sumber : Analisis penulis, 2011
4. 2. 3. Analisa Lingkungan Sekitar
Wilayah perancangan berada di bagian Surabaya pusat diaman pada bagian ini merupakan wilayah yang memiliki tujuan yaitu diperuntukkan sebagai kawasan landmark dengan segala pendukungnya. Pusat Sinematografi di Surabaya ini merupakan salah satu wadah untuk fasilitas perfilman sehingga sangat sesuai dengan lokasi perencanaan yang berada di wilayah ini. Hal yang harus diperhatikan pada perencanaan bangunan tersebut yaitu analisa bangunan terhadap site lingkungan sekitar.
Hal –hal yang perlu dipertimbangkan adalah :
a. Desain bangunan sekitar
b. Kecepatan kendaraan yang melalui site
c. Dan tingkat kebisingan.
Dekat dengan Arca Joko Dolog
Dekat dengan landmark kota Surabaya Taman APSARI
Pemukiman
Gambar 4. 5. Analisa Lingkungan Sumber : Analisis penulis, 2011
Pada site ini memiliki dua view yang biasa digunakan, yakni dari arah jalan Taman Apsari dan Jalan Taman Arca Joko Dolog. Karena hanya jalan ini yang berbatasan dengan site tersebut.
Dengan melihat batas-batas sekitar site, untuk area antara bangunan dan jalan dapat digunakan sebagai ”view penangkap” terhadap jalan raya terutama pada bagian Taman Apsari dan Taman Arca Joko Dolog. Kemudian area yang berbatasan dengan permukiman penduduk dapat digunakan sebagai foyer yang menjadi ruang perantara antara kompleks Pusat Sinematografi di Surabaya dengan perumahan penduduk ataupun dapat digunakan sebagai ruang-ruang penunjang.
4. 2. 4. Analisa iklim
Keadaan klimatologi rencana tidak berbeda dengan keadaan klimatologi Kota Surabaya pada umumnya. Dimana tekanan udara maksimum 1014,8 mbs dan minimum 1002,4 mbs. Temperatur maksimum 31,3 dan minimum 26,2 kelembaban udara maksimum 100 % dan minimum 30 %. Rata-rata curah hujan pertahun 117,67 mm ( sumber : RTRK UD. Tunjungan ).
Site yang terletak pada kawasan micro climate Surabaya memiliki kondisi iklim tropis lembab, sehingga bangunan di anjurkan untuk menggunakan desain bangunan tropis, terutama pada desain atap. Letak site di sebelah barat memiliki orientasi mengahadap ke jalan utama Basuki Rahmat. Bangunan yang menghadap ke arah barat dan timur tentunya menyerap lebih panas daripada bagian bangunan yang menghadap utara dan selatan.
U
Gambar 4. 6. Orientasi Matahari dan Curah Hujan Sumber : Analisis penulis, 2011
Jika dilihat dari orientasi matahari seperti di atas maka sebaiknya lebih
memaksimalkan shading pada bagian yang lebih banyak menerima sinar matahari.
Pembayangan (shading) dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan panjang sosoran dengan tetap memperhatikan faktor estetika desain, dapat juga dengan cara meminimalkan bukaan transparan pada bagian tersebut, ataupun dengan cara menempatkan orientasi bangunan yang terpanjang pada arah hadap yang sedikit terkena sinar matahari yaitu Utara
dan Selatan. Semua hal tersebut dilakukan agar beban panas yang diterima bangunan dapat di optimalkan. Sedangkan untuk antisipasi terhadap air hujan maka sebaiknya bentuk atap dibuat dengan ciri khas atap tropis yaitu atap miring yang berfungsi untuk memaksimalkan aliran air hujan yang jatuh pada material atap bangunan.
Gambar. 4. 7. Respon Desain Terhadap Site dan Bangunan Sumber : Analisis penulis, 2011
Gambar. 4. 8. Respon Desain Terhadap Site dan Bangunan Sumber : Analisis penulis, 2011
Daerah paling maksimal menerima sinar matahari (bangunan aktif pada waktu pagi s/d sore hari) dikondisikan dengan memberikan sosoran yang panjang
4. 2. 5. Kebisingan
Kebisingan pada lingkungan site termasuk dalam kondisi ramai dan padat, karena intensitas lalu lintas kendaraan padat tetapi dimensi jalan cukup lebar sehingga jarang terjadi kemacetan. Bila ada kemacetan itupun dipengaruhi oleh adanya banyak kendaraan ketika pada jam kerja.
Gambar 4. 9. Kebisingan di Sekitar Lingkungan Site Sumber : Analisis penulis, 2011
4. 2. 6. Bangunan Sekitar Site.
Pada sekitar site terdapat beberapa bangunan seperti perkantoran dan pertokoan
(Mall). Dimana pada bangunan perkantoran dan pertokoan sama-sama menggunakan gaya modern, hal tersebut ditujukan untuk menarik pengunjung dan saling memberikan eksisitensi pada lingkungan sekitar site dan mengingat pada kawasan tersebut merupakan Unit Kawasan Jasa dan Perdagangan di Surabaya. Dan juga pertokoan dan perkantoran merupakan bangunan yang terlihat dominan pada kawasan tersebut. Dapat dilihat pada gambar 4.10 berikut ini :
Pada sekitar site terdapat beberapa bangunan seperti perkantoran dan pertokoan
(Mall). Dimana pada bangunan perkantoran dan pertokoan sama-sama menggunakan gaya modern, hal tersebut ditujukan untuk menarik pengunjung dan saling memberikan eksisitensi pada lingkungan sekitar site dan mengingat pada kawasan tersebut merupakan Unit Kawasan Jasa dan Perdagangan di Surabaya. Dan juga pertokoan dan perkantoran merupakan bangunan yang terlihat dominan pada kawasan tersebut.
Dekat dengan Arca Joko Dolog
Dekat dengan landm kota Surabaya Tam APSARI
ark an
Pemukiman
Gambar 4. 10. Potensi Bangunan di Lingkungan sekitar Site Sumber : Analisis penulis, 2011
4.2. Analisa Bentuk dan Tampilan 4.3.1. Analisa Bentuk
Studi bentuk dasar dipergunakan untuk mendapatkan bentuk dasar dari perencanaan bangunan yang ada di dalam tapak, sehingga bangunan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan dapat fleksibel terhadap perubahan. Pada dasarnya bentuk-bentuk bangunan yang diterapkan berangkat dari bentuk dasar geometris segi empat, yang meliputi:
Segi empat, yang menujukkan bentuk netral dan statis. Selain itu bentuk segi empat merupakan bentukan yang memiliki kesan kuat, dan kokoh, serta fleksibel dalam hal efektifitas pembagian ruang berdasarkan fungsi ruangnya.
Tabel 4. 2. Ciri – ciri Bentukan Geometri
Bentuk Gambar Ciri-ciri
Segi empat - Orientasi ke tengah /tepi - Efektifitas ruang tinggi
- Netral - Statis
Bentuk yang digunakan pada Pusat Sinematografi di Surabaya ini mengambil bentukan segi empat sebagai bentukan yang dominan. Hal ini dimaksudkan agar ruang – ruang yang terjadi dapat menjadi ruang yang efektif sesuai dengan fungsi – fungsi ruangnya.
Gambar 4. 11. Proses Pembentukan Bangunan Sumber : Analisis penulis, 2011
Alur pembentukan bangunan tersebut merupakan analogi dari perubahan bentuk dan pengambilan nilai bentuk dari segi empat. Bentuk segi empat yang dirangkai dengan cara memberikan penambahan dan pengurangan di tiap sisinya dimaksudkan ujung sisi pada bentuk segi empat dapat lebih di olah menjadi bentuk terbuka yang dapat terlihat dari bagian tiap 4 sisi segi empat tersebut. Perubahan besar bentukan juga dimaksudkan agar kesenangan dalam membentuk suatu bentuk dasar tersebut dapat terlihat menjadi bentuk yang berbeda dari sebelumnya sehingga jauh dari kesan masif.
4.3.2. Analisa Tampilan
Tampilan bangunan sangat berpengaruh terhadap kenyaman penghuni yang berada di dalam bangunan tersebut. Oleh karena itu tampilan bangunan haruslah memperhatikan faktor – faktor yang dapat mengganggu kenyamanan penghuninya. Di Surabaya faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kenyamanan adalah faktor iklim, seperti suhu udara, curah hujan, maupun lintasan matahari.
Gambar 4. 12. Orientasi Lintasan Matahari Sumber : Analisis penulis, 2011
Dengan arah lintasan matahari seperti gambar di atas, maka perlu penyesuaian pada arah timur, dan barat bangunan.
Gambar 4. 13. Penyelesaian Sketsa Bangunan terhadap Iklim Sumber : Analisis penulis, 2011
U
Dengan datangnya sinar dari arah tertentu, maka pada bagian bangunan yang berhadapan langsung dengan sinar matahari diberikan penyelesaian sosoran, ataupun
cladding yang cukup untuk menaungi bukaan – bukaan yang ada, dan juga untuk meredam banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan.
Bagian bangunan pada sebelah Timur menggunakan penonjolan pada bentuk bangunan dan bentuk atap bangunan yang lebar guna mengurangi sinar matahari
Gambar 4. 14. Penyelesaian Sketsa Bangunan terhadap Iklim Sumber : Analisis penulis, 2011
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
Dalam sebuah proses perancangan, diperlukan adanya analisa dan pembuatan konsep yang didasari atas hasil analisa yang di dalamnya terdapat penyelesaian – penyelesaian terhadap permasalahan yang ada. Konsep perancangan dari Pusat Sinematografi ini merupakan solusi dari permasalahan-permasalahan desain yang berasal dari rumusan latar belakang kasus, interpretasi kasus, analisis fungsi, analisis tapak, dan analisis lahan. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisa dan konsep rancangan yang diinginkan untuk direalisasikan pada perancangan Pusat Sinematografi.
5. 1. Konsep Dasar Rancangan
Dalam melakukan proses konsep untuk sebuah rancangan harus didahului dengan pencarian Fakta dan Isu yang ada. 2 hal tersebut nantinya akan menjadi tolak ukur dan cikal bakal munculnya sebuah tema dan konsep untuk sebuah rancangan.
1. Fakta.
Perkembangan perfilman dibuktikan dengan banyaknya koleksi Film Indiependent “Indie” yang dilakukan oleh Sinematek Indonesia yang ada di Pusat Sinematografi Usmar Ismail, Jakarta yang sampai sekarang menampung semua dokumentasi berbagai film Nasional, kondisi perfilman pada masa sekarang ini telah membuktikan Indonesia bisa ikut dalam berbagai acara festival film internasional seperti halnya Festival Film Perancis di tahun 2007. (Sumber EagleAwards.co.id).
TAHUN FILM INDONESIA FILM LUAR TOTAL PROSENTASE 2000 6 213 219 3% 2001 4 251 255 2% 2002 11 269 280 4% 2003 14 227 241 6% 2004 22 200 222 10%
2005 32 196 228 14% 2006 40
Tabel 5.1. Tabel Lampiran Produksi Film di Indonesia pada tahun 2000-2006 Sumber : Wikipedia.film_net.id
Tetapi, di kota Surabaya sebuah wadah sebagai penampungan apresiasi karya film personal (Indiependent) dari sineas-sineas yang ada di Surabaya pemanfaatannya masih bersifat “dipaksakan”. Disamping itu juga, wadah untuk komunitas sineas di kota Surabaya masih terbilang dalam skala kecil. Maka dari itu, dibutuhkan adanya suatu wadah penampungan apresiasi dan pengembangan karya film dari sineas Indonesia (khususnya dari kota Surabaya),
2. Issue.
• Meningkatkan mutu kualitas karya film dan mengembangkan kuantitas bisnis
perfilman Indiependent di kota Surabaya.
• Menciptakan Bangunan yang aman nyaman bagi para sineas dalam beraktifitas
dalam perfilman dan berinteraksi dengan sesama sineas lainnya dengan fasilitas yang mendukung aktifitas perfilman tersebut.
Dari isu dan fakta yang ada tersebut, perancangan proyek ini mengambil tema
rancangan ”Fun with the Shape” (Kesenangan dalam membentuk sebuah bentuk).
“Bentuk” yang dimaksudkan adalah bentuk dari gambar icon sebuah Proyektor Film, dimana gambar icon tersebut menjadi ide gagasan dalam proses pencarian bentuk yang kemudian diaplikasikan menjadi bentuk bangunan Pusat Sinematografi. Dengan melalui pendekatan teori konsep Analogic Design (Geoffrey Broadbent dalam buku ”Design in Architecture”). Analog adalah sama, serupa, pengibaratan, pengandaian dengan benda lain yang punya bentuk / makna yang hasilnya adalah memodifikasi bentukan awal. Konsep rancangan ini dimaksudkan agar citra dari fasad maupun ruang luar bangunan ini dapat langsung terlihat dan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar yang ada di eksisting site tersebut .
5. 2. Konsep Bentuk
Bentuk yang digunakan pada Pusat Sinematografi di Surabaya ini mengambil bentukan persegi panjang sebagai bentukan yang dominan lalu diaplikasikan ke dalam bentukan site untuk tatanan Block Plan’nya dan kemudian diteruskan menerus ke atas mengikuti tatanan dari Block Plan tersebut.
Gambar 5.1. Konsep Bentuk
5. 3. Konsep Tampilan
Bentukan dasar dari bangunan Pusat Sinematografi di Surabaya ini mengikuti dari bentukan icon Proyektor Film yang menjadi ciri khas konsep tatanan bentukan ruang dan bangunan Pusat Sinematografi ini.
Output yang ingin dicapai adalah lebih menonjolkan konsistensi fungsinya sebagai pusat pengembangan film di Surabaya dengan mensajikan ekspos cladding yang dibentuk dari analogi dari sebuah proyektor.
5. 4. Konsep Zonning.
Pada konsep zonning Pusat Sinematografi di Surabaya ini terbagi menjadi 3 penzonningan. Dapat terlihat pada gambar berikut :
Area Publik
Area Private
Area service
Gambar 5.3. Konsep Zonning
Area publik, didalamnya terdapat beberapa ruang yaitu ; Urban Space, Lobby, Coffee Shop, Gallery, Library, R.Pamer Digital. Area semi publik, didalamnya terdapat ruang Pengelola gedung beserta ruang Karyawan.
Area service terdapat Dapur dan Pantry, Gudang penyimpanan
peralatan film dan dokumen film, ruang Perbaikan peralatan film, dan ruang Genset.
5. 5. Konsep Sirkulasi.
Pada konsep sirkulasi Pusat Sinematografi di Surabaya ini terbagi menjadi dua sirkulasi yaitu sebagai berikut :
• Sirkulasi ruang luar
Sirkulasi pengunjung pada ruang luar menggunakan sirkulasi linier terkoordinir yang diterapkan dengan penggunaan elemen pengarah, dan menggunakan beberapa pintu masuk dan beberapa pintu keluar.
• Sirkulasi ruang dalam
Pola sirkulasi yang digunakan untuk mengarahkan pengunjung sesuai aktifitasnya terbagi menjadi 2 macam sirkulasi yaitu:
a. Sirkulasi horizontal, menggunakan sirkulasi linier. b. Sirkulasi vertikal, menggunakan tangga.
5. 6. Konsep Entrance dan Drop Off.
Entrance utama terletak pada jalan Joko Dolog. Untuk sirkulasi dibuat menjadi 2 : 1. Pengunjung dapat langsung drop off kedalam area lobby bangunan.
2. Pengunjung yang akan masuk ke dalam bangunan dan memarkir
kendaraanya dapat dilanjutkan masuk kedalam parkir yang ada di
groundfloor.
Masuk ke parkir Upper Ground
Keluar parkir Upper Ground
DROP OFF
5. 7. Konsep Orientasi Bangunan.
Berorientasi pada2 arah mata angin yaitu Utara, Timur. Pertama ke arah Utara yang berorientasi pada jalan Taman Apsari dan yang kedua, berorientasi ke arah Timur yaitu pada jalan Taman Apsari dan Joko Dolog
Gambar 5.5. Konsep Orientasi Bangunan
Pada bagian depan bangunan diberikan urban space. Yang berfungsi sebagai
Video Art Mapping Space, yaitu ruang terbuka untuk menonton video maupun film Indie yang ditembakkan langsung pada dinding depan fasad bangunan. Diharapkan dengan pemberian urban space ini para pengguna yang ada di eksisting sekitar site dapat saling berinteraksi secara langsung dengan kegiatan yang ada di dalam ruang terbuka tsb.
5. 8. Konsep Struktur
Sistem Struktur yang direncanakan memakai sistem grid pada penataan kolom dan balok. Konstruksi yang digunakan pada kolom dan balok adalah beton bertulang.
Sedangkan pada atap menggunakan sebagian atap dack dan sebagian atap pelana
zinccallum . Material seperti kaca dan aluminium juga dipergunakan untuk memperkuat identitas bangunan.
Untuk mendukung tampilan bangunan konsep struktur yang tepat untuk mewujudkan bangunan yang berkarakter adalah sistem struktur rigrid frame untuk fasad
bangunan, struktur space frame dan trusses yang akan diapliksikan kedalam bentuk atap Pusat Sinematografi ini.
Gambar 5.6. Struktur
5. 9. Konsep Mekanikal Elektrikal A. Sistem Aliran Listrik
Listrik mutlak diperlukan sebagai kelangsungan kegiatan yang terus menerus pada bangunan Pusat Sinematografi ini. Untuk itu disamping menggunakan aliran listrik dari PLN, disediakan pula alternatif generator set (genset), apabila terjadi pemadaman listrik dari PLN. Penempatan genset disesuaikan sehingga tidak menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu aktifitas dalam bangunan Pusat Sinematografi.
B. Sistem Penghawaan
Pencahayaan di ruang maupun diusahakan meminimalisir cahaya matahari agar tidak merusak koleksi film. Bukaan ini tidak langsung mengenai langsung roll film. Penghawaan ruang gelap maupun ruang penyimpanan dokumen film perlu dibatasi dari udara luar yang lembab, berdebu, dan mengandung organisme, oleh karena itu digunakan penghawaan buatan berupa AC Central. Pemakaian jenis AC ini dipertimbangkan dengan:
- Kebisingan yang timbul AC dapat dihindarkan. - Pemeliharaan dan maintenance lebih mudah. - Biaya operasional lebih efisien.
Untuk penggunaan AC Central menggunakan sistem AC Central All Water System yaitu suatu sistem AC dimana proses pendinginan udara didalam suatu ruang tertutup diproses oleh FCU ( Fan Coil Unit ) yang ditempatkan pada ruang yang didinginkan.
Air dingin yang dihasilkan oleh chiller didistribusikan ke FCU dengan menggunakan pipa yang diisolasi, selanjutnya udara didalam ruangan dihembuskan melewati FCU sehingga menjadi dingin dan selanjutnya udara dingin didistribusikan keruangan. Dapat dilihat gambar sitim kerja dari AC Central All Water System berikut ini :
Gambar 5.7. Sistem AC Central All Water System
C. Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran
Bangunan Pusat Sinematografi ini merupakan gedung dengan fungsi bangunan umum yang melibatkan banyak pelaku aktifitas, maka haruslah direncanakan keamanan terhadap bahaya kebakaran dengan digunakannya sistem pencegahan kebakaran yang dapat mengamankan peralatan perfilman maupun dokumen-dokumen film dan manusia. Adapun cara pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran antara lain adalah :
- Perencanaan terhadap pemilihan bahan / material yang tidak mudah terbakar dan
penyebaran apinya lambat.
- Merencanakan pintu darurat atau tangga darurat dan sirkulasinya.
- Menyediakan peralatan pemadam kebakaran pada tempat – tempat umum yang mudah
a. Sprinkler dengan smoke detektor yang bekerja secara otomatis dengan membunyikan fire alarm, yang ditempatkan pada masing – masing ruang dalam. b. Fire Extinguiser khususnya pada ruang dapur, mekanikal / elektrikal atau ruang -
ruang yang terdapat aliran listrik.
c. Fire Hydrant yang ditempatkan pada ruang luar dengan sumber air yang berasal dari pipa induk PDAM serta tanki – tanki air.
Berikut adalah Diagram cara kerja Sprinkler Semi Otomatis :
Hydrant Pipa Induk Pilar Pompa Utama Tanki Air Jockey Jump Area Kebakaran