4 METODE P E NELITIAN
Sejahtera 1 705 000 8 240 000 8 585 500 8 711 000 3 Sisa Hasil Usaha (SHU) LKM-A Gapoktan Sejahtera
Berdasarkan uraian pendapatan dan beban (Tabel 14 dan 15), maka dapat diketahui sisa hasil usaha (SHU) LKM-A Gapoktan Sejahtera periode tahun 2011- 2014 (Tabel 16). LKM-A Gapoktan Sejahtera memperoleh SHU positif, ada kecenderungan meningkat dari tahun 2011 sampai 2014. Peningkatan SHU disebabkan laju peningkatan pendapatan lebih tinggi dari laju peningkatan beban, yang diakibatkan oleh peningkatan pendapatan jasa pengembalian lebih tinggi daripada peningkatan beban LKM-A.
Tabel 16 Pendapatan, beban, dan Sisa Hasil Usaha (SHU) LKM-A Sejahtera
Uraian 2011 2012 2013 2014 Pendapatan (Rp) 1 841 500 8 960 518 9 469 366 14 681 773 Biaya (Rp) 1 705 000 8 240 000 8 585 500 8 711 000 SHU (Rp) 136 500 720 518 883 866 5 970 773 Penguatan modal 40% (Rp) 54 600 288 207 353 546 2 388309 Kas Gapoktan 30% (Rp) 40 950 216 155 265 160 1 791 232 Operasional LKM-A 30% (Rp) 40 950 216 155 265 160 1 791 232
Berdasarkan informasi laporan keuangan, maka dapat dihitung viabilitas finansial pembiayaan LKM-A Gapoktan Sejahtera selama periode 2011-2014 (Tabel 17). Kondisi finansial dikatakan viable apabila tingkat bunga/unit pinjaman
(r) lebih besar dari beban pembiayaan (i+α+ρ)/(1-ρ). Beban pembiayaan terdiri
dari biaya pokok pinjaman (i), biaya administrasi dan supervisi (α) dan financial loss (L). Financial loss merupakan beban tunggakan pembayaran pembiayaan. Beban pembiayaan tersebut merupakan rasio beban pembiayaan terhadap total pembiayaan. Total pembiayaan pada periode 2011-2014 mengalami peningkatan cukup besar yaitu dari Rp 1 705 000,- tahun 2011 menjadi Rp 8 711 000,- pada tahun 2014.
Tabel 17 Viabilitas finansial LKM-A Gapoktan Sejahtera
Tahun L Α I Hasil Bagi (i+α+L) / (1-L) R selisih (6-5) Viabilitas 1 2 3 4 5 6 7 8 2011 0.123 0.135 0.120 0.431 0.180 0.251 Tidak Viable 2012 0.006 0.025 0.120 0.152 0.180 0.028 Viable 2013 0.009 0.022 0.120 0.152 0.180 0.028 Viable 2014 0.017 0.022 0.120 0.162 0.180 0.018 Viable Rata- rata 0.039 0.051 0.360 0.225 0.180
Keterangan : L = Finansial loss; α = Biaya administrasi dan supervise; I = Biaya pokok pinjaman
Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 17, dapat diketahui bahwa LKM-A Gapoktan Sejahtera mencapai kondisi tidak viable pada tahun 2011, dikarenakan pada tahun 2011 Gapoktan Sejahtera baru membentuk LKM-A dengan biaya proses pembentukan yang cukup tinggi, seperti biaya administrasi dan supervise serta finansial loss, sehingga tingkat bunga pinjaman belum mampu menutupi beban pembiayaan. Kondisi viable setiap tahunnya yaitu terjadi pada tahun 2012 sampai 2014. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat bunga/unit
pinjaman (r) lebih besar dari beban pembiayaan (i+α+ρ)/(1-ρ). Nilai beban bagi hasil terendah dimiliki LKM-A Gapoktan Sejahtera pada tahun 2013 karena pada tahun tersebut LKM-A Gapoktan Sejahtera mulai membentuk LKM-A dengan sistem pembiayaan satu musim melalui bunga pinjaman yang rendah sebesar 1.5 persen disertai persyaratan peminjaman yang mudah melalui kelompok tani, sehingga tidak membebankan bagi hasil.
Komponen pembentuk viabilitas yang tergolong baik yaitu finansial loss. Hal ini dapat dilihat dari persentase tunggakan pembayaran anggota yang hanya bernilai rata-rata 0.35 persen. Nilai tersebut menggambarkan tingkat pengembalian pembiayaan LKM-A Gapoktan Sejahtera sangat baik dan lancar. Prestasi ini merupakan salah satu keberhasilan LKM-A Gapoktan Sejahtera dalam melakukan pendekatan terhadap nasabah melalui sistem tanggung renteng kelompok tani dan dalam hal pendampingan yang dilakukan oleh PPL dan PMT. Selain itu, aplikasi pola Grameen Bank dinilai memudahkan anggota dalam
pengembalian pembiayaan karena dilakukan musim tanam sesuai dengan kebutuhan usahatani. Biaya administrasi dan supervisi LKM-A Gapoktan Sejahtera tergolong stabil dengan rata-rata 0.051 persen. Artinya, LKM-A Gapoktan Sejahtera membutuhkan biaya transaksi sebesar Rp 0.051,- untuk setiap unit pinjaman. Biaya transaksi terdiri dari gaji petugas, biaya transportasi dan akomodasi.
Hasil perhitungan finansial, menunjukkan bahwa LKM-A Gapoktan Sejahtera mencapai kondisi viable setiap tahunnya yaitu terjadi pada tahun 2012 sampai 2014, yang diakibatkan oleh tingkat bunga/unit pinjaman (r) lebih besar
dari beban pembiayaan (i+α+ρ)/(1-ρ). Nilai marjin pembiayaan atau tingkat bunga/unit pinjaman yang ditetapkan merupakan hasil kesepakatan antara pengurus LKM-A dengan anggota dalam suatu rapat yang disahkan melalui AD/ART. Marjin pembiayaan yang ditanggung anggota juga mempertimbangkan kemampuan dan kesanggupan pengembalian pinjaman oleh nasabah. Keberlanjutan LKM-A Gapoktan Sejahtera menggunakan pendekatan finansial sesuai dengan penelitian Borbora dan Sarma (2008), yang menyatakan bahwa LKM dapat beroperasi secara mandiri dengan menurunkan biaya operasi atau dengan meningkatkan pendapatan suku bunga.
Keberlanjutan Nasabah atau Anggota
Komponen ketiga dalam keberlanjutan LKM yaitu keberlanjutan nasabah. Keberlanjutan nasabah ini sama pentingnya dengan keberlanjutan yang lain, bahkan sering kali menjadi isu sentral dalam pengembangan LKM. Indikator yang dapat digunakan untuk melihat viabilitas nasabah adalah menganalisis sejauh mana telah terjadi pemupukan modal dan bagaimana kinerja pengembalian pinjaman. Dari pembahasan finansial LKM-A Gapoktan Sejahtera dapat diketahui bahwa tingkat tunggakan pinjaman sangat rendah, terjadi peningkatan pemupukan modal sebesar 5 persen per tahun. Tingkat pengembalian pinjaman melalui sistem kelompok telah mampu memberikan kemudahan bagi petani untuk keberlanjutan sebagai nasabah LKM-A.
Pelayanan yang baik juga diharapkan dapat memberikan kepuasan dan nilai tambah bagi LKM-A Gapoktan Sejahtera. Pengukuran kepuasan nasabah dalam keberlanjutan LKM-A sangat penting diketahui karena menggambarkan keberhasilan LKM dalam menjual produknya. Langkah yang dapat ditempuh oleh manajemen LKM-A adalah dengan menganalisis kepuasan nasabah terhadap pelayanan LKM-A Gapoktan Sejahtera. Keberlanjutan nasabah dialkukan agar LKM-A dapat mempertahankan keberlanjutan keuangan dan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan nasabah. Aktivitas ini akan sangat membantu upaya perbaikan dan peningkatan pelayanan terhadap nasabah.
Penilaian keberlanjutan LKM-A Gapoktan penerima dana PUAP harus berdasarkan tujuan digulirkannya program PUAP. Dalam Pedoman Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (2014), program PUAP bertujuan untuk; (a) mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah; (b) meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, pengurus Gapoktan, Penyuluh Pendamping, dan PMT; (c) memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha agribisnis; dan (d) meningkatkan fungsi
kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan.
Keberlanjutan nasabah LKM-A Gapoktan Sejahtera menggunakan persepsi nasabah petani sebagai anggota. Persepsi adalah proses dalam memahami lingkungan yang melibatkan pengorganisasian dan penafsiran sebagai rangsangan dalam suatu pengalaman psikologis (Silalahi 2012). Analisis persepsi nasabah petani disesuaikan dengan tujuan program PUAP dan indikator keberhasilan pengelolaan dana PUAP oleh LKM-A dalam kemampuannya menjangkau anggota kelompok tani yang benar-benar memerlukan bantuan penguatan modal untuk kegiatan usahatani. Persepsi petani yang dianalisis dibagi dalam tiga instrumen kelompok, yaitu 1) persepsi nasabah petani terhadap penyaluran dana PUAP, 2) persepsi nasabah petani terhadap pemanfaatan dana PUAP, dan 3) persepsi nasabah petani terhadap pengembalian dana PUAP. Responden penelitian analisis keberlanjutan nasabah ini adalah nasabah LKM-A Gapoktan Sejahtera sebanyak 60 orang dengan menggunakan skor penilaian skala likert 1-5 dengan kategori nilai kepusan nasabah (1 – 1.8 = sangat tidak puas, 1.9 – 2.6 = tidak puas, 2.7 – 3.4 = cukup puas, 3.5 – 4.2 = puas, 4.3 – 5 = sangat puas). Hasil keberlanjutan nasabah berdasarkan persepsi anggota ditunjukkan pada tabel 18. Tabel 18 Rata-rata nilai parameter keberlanjutan nasabah LKM-A Gapoktan
Sejahtera
No Parameter Keberlanjutan Nasabah Rata-Rata Nilai A Aspek penyaluran dana PUAP
1 Keterlibatan anggota LKMA dalam pembuatan RUB
3.41
2 Ketersediaan dana PUAP 4.25
3 Kemudahan persyaratan penerima PUAP 4.13
4 Sosialisasi program PUAP 4.00
5 Seleksi calon penerima PUAP 3.97
Total rata-rata (A) 3.95
B Aspek Pemanfaatan dana Program PUAP
1 Sebagai unit simpan pinjam 4.22
2 Pemahaman terhadap kesesuaian dana yang diterima dengan kebutuhan usaha tani
3.78 3 Pemahaman akan jaminan/agunan untuk
pinjaman dana PUAP
2.88
Total rata-rata (B) 3.63
C Aspek pengembalian dana PUAP
1 Ketepatan pengembalian dana PUAP 4.06
2 Perguliran dana PUAP pada kelompok lain 3.56
3 Peningkatan unit usaha 4.31
Total rata-rata (C) 3.98
Keberlanjutan nasabah diukur melalui tiga persepsi kepuasan berdasarkan Pedoman Pengembangan LKM-A (Kementerian Pertanian 2014), yaitu penyaluran, pemanfaatan dan pengembalian dana PUAP. Penilaian terhadap indikator penyaluran dana PUAP kepada nasabah petani menggunakan 5 variabel,
yaitu; (1) Keterlibatan anggota LKMA dalam pembuatan RUB, (2) Ketersediaan dana PUAP, (3) Kemudahan persyaratan penerima PUAP (4) Sosialisasi program PUAP kepada anggota, (5) Seleksi calon penerima dana PUAP. Penilaian terhadap indikator penyaluran dana PUAP kepada nasabah petani mempunyai rata-rata nilai 3.95 artinya nasabah petani menilai “puas” aspek penyaluran PUAP. Variabel yang mempunyai nilai tertinggi dalam indikator penyaluran dana PUAP yaitu ketersediaan dana PUAP (4.25). Hal ini berarti nasabah menilai “puas” terhadap ketersediaan dana PUAP sebagai alternatif permodalan usaha taninya. Sedangkan variabel keterlibatan anggota dalam pembuatan RUB mendapatkan nilai paling rendah (3.41), artinya nasabah “cukup puas” karena bagi mereka melalui perwakilan ketua kelompok tani sudah cukup.
Penilaian terhadap pemanfaatan dana PUAP untuk nasabah petani menggunakan 3 variabel, yaitu; (1) Sebagai unit simpan pinjam, (2) Pemahaman terhadap kesesuaian dana yang diterima dengan kebutuhan usaha tani, (3) Pemahaman akan jaminan/agunan untuk pinjaman dana PUAP. Penilaian terhadap pemanfaatan dana PUAP untuk nasabah petani mempunyai rata-rata nilai 3.63
artinya nasabah petani telah “puas” merasakan pemanfaatan dana PUAP untuk
modal usahataninya. Variabel unit simpan pinjam mempunyai nilai tertinggi (4.22) pada indikator pemanfaatan dana PUAP, karena melalui kegiatan unit pinjaman, nasabah sebagai petani terbantu memperoleh pinjaman dengan bunga rendah dan persyaratan ringan melalui LKM-A. Sedangkan variabel pemahaman jaminan/agunan mempunyai nilai kepuasan cukup rendah (2.88), karena nasabah menganggap jaminan atau agunan di LKM-A tidak perlu diadakan atau digunakan sebagai persyaratan, karena petani sudah tergabung dalam kelompok sehingga dapat meringankan petani dalam meminjam dan mengembalikan dana PUAP tersebut.
Penilaian terhadap pengembalian dana PUAP menggunakan 3 variabel, yaitu; (1) Ketepatan pengembalian dana PUAP, (2) Perguliran dana PUAP pada kelompok lain, (3) Peningkatan unit usaha. Penilaian terhadap pengembalian dana PUAP menghasilkan nilai rata-rata 3.98, artinya nasabah telah merasakan “puas” terhadap indikator pengembalian PUAP. Bagi nasabah, variabel yang mewakili kepuasan ini adalah peningkatan unit usaha yang mempunyai nilai tertinggi (4.31) karena melalui peningkatan unit usaha diantaranya pemasaran, pengolahan, palayanan jasa melalui LKM-A akan menjamin berlangsungnya keberlanjutan LKM-A. Sedangkan variabel perguliran dana PUAP pada kelompok lain dianggap paling rendah (3.56), karena nasabah masih menganggap dana PUAP yang digulirkan bisa rutin dipinjamkan kepada kelompok dan nasabah yang sama di setiap peminjaman pergantian musim.
Keberlanjutan nasabah selain diukur melaui tingkat persepsi terhadap penyaluran, pemanfaatan dan pengembalian dana PUAP juga didukung dengan laporan keuangan adanya peningkatan akumulasi dana PUAP, selama tiga tahun berjalan sejak 2011 sampai 2014, LKM-A Sejahtera mampu meningkatkan dana sebesar 115 juta rupiah, tingkat pengembalian pinjaman dana PUAP oleh anggota, telah diantisipasi melalui kelompok tani dengan sistem tanggung renteng, sehingga tingkat pengembalian mencapai 88 persen, dan pengurangan jumlah petani miskin, terbukti dengan adanya dana PUAP kebutuhan usaha tani tercukupi melalui pembelian saprodi dan penyisihan konsumsi rumah tangga untuk renovasi pembangunan rumah.
Hasil analisis keberlanjutan LKM-A berdasarkan pendekatan lembaga, finansial, dan nasabah sesuai dengan penelitian Khandker (1995), yang melihat keberlanjutan lembaga keuangan melalui tiga pendekatan tersebut. Hal ini senada pula dengan tujuan kebijakan dari Kementerian Pertanian untuk mengembangkan dan memberdayakan LKM-A agar tetap berlanjut berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu:
1. Petani diharapkan dapat memperoleh pelayanan keuangan tepat waktu dan tepat sasaran sesuai kebutuhan petani.
2. Pola pelayanan LKM-A tidak menggunakan pola perbankan konvensional (prudent banking/5C), sehingga petani kecil dapat langsung mengakses untuk mendapatkan kredit bagi usaha tani tanpa adanya proses administrasi yang menyulitkan.
3. LKM-A umumnya menggunakan pendekatan pengelolaan yang transparan oleh pengurus sehingga secara psikologis ada kepercayaan dan dapat mengurangi resiko kredit.
4. Arus pelarian modal keluar pedesaan dapat dicegah.
5. Kegiatan ekonomi produktif lainnya di pedesaan dapat tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
6. Mendorong adanya peluang usaha atau lapangan kerja baru di pedesaan. 7. Tingkat pemanfaatan kredit petani yang lebih pasti pada skala pelayanan
optimum dari LKM-A.
8. Menstimulus pengembangan kegiatan usaha mikro yang berbasis sumberdaya lokal.
9. Melalui LKM-A secara bertahap petani dapat membangun asetnya sendiri melalui tabungan, sehingga LKM-A juga dapat berkembang menjadi industri keuangan yang dikelola secara mandiri dan desentralistis.
Implikasi Pola Pengembangan Co-operative Entrepreneurship LKM-A
Para pelaku agribinsis skala kecil dan menengah seringkali banyak mengalami hambatan dalam mengembangkan agribisnisnya, termasuk Gapoktan. Salah satu faktor yang menghambat pengembangan usaha agribisnis adalah kurangnya kemampuan kewirausahaan dan penerapan manajemen. Agribisnis memiliki beberapa keunikan, sehingga diperlukan kesiapan mental pengelolanya dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen secara khusus. Downey dan Erickson (1992) menyatakan bahwa pada umumnya, prinsip dan pengetahuan manajemen sama untuk semua bisnis, namun yang membedakannya terletak pada seni menggunakan prinsip dasar manajemen untuk menjalankan bisnis.
Wirausaha kelompok dalam Gapoktan melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat agribisnis. Austin Stevenson dan Wei-Skillern berpendapat bahwa wirausaha kelompok berbeda dengan pengusahanya sendiri, metode, situasi, dan peluang. Tujuan utama dari wirausaha kelompok adalah melayani kebutuhan dasar masyarakat, sementara pengusaha tradisional adalah untuk meraih pasar dengan kesenjangan yang besar dan memperoleh keuntungan, dalam proses bertaraf minimum untuk kepentingan masyarakatnya. Salah satu alasan
dibentuknya kewirausahaan kelompok adalah unruk memfasilitasi pembentukan lembaga pembiayaan yang mandiri dalam kelompok tani sendiri.
Kewirausahaan kelompok diharapkan mampu mengatasi keterbatasan modal, pengetahuan tentang bisnis dan kemampuan untuk memperkuat bisnis mereka. Kewirausahaan kelompok memberikan ruang yang luas bagi anggotanya untuk lebih mengoptimalkan daya kewirausahaan mereka dan karena itu kelompok tani dapat menjadi lembaga integratif bagi pelayanan usaha-usaha ekonomi anggotanya. Penataan modal sosial sebagai landasan kerjasama antar warga dalam membangun usaha-usaha ekonomi akan sangat mendukung setiap upaya untuk menjadikan kelompok tani sebagai sarana untuk mendukung ketahanan pangan komunitas.
Lembaga pembiayaan modal sosial kelompok tani difasilitasi melalui pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) dengan aturan sistem yang telah melembaga dalam pembiayaan agribisnis perdesaan. Kebijakan suku bunga dan kredit untuk manajemen lembaga pembiayaan perdesaan sebaiknya berdasarkan pada orientasi pasar dengan menetapkan suku bunga fleksibel dan tidak berupaya untuk memberi subsidi pada peminjam. Kebijakan kredit meliputi kriteria untuk memilih debitur, insentif untu membayar kredit kembali, dan pengawasan perilaku debitur. Kredit yang disalurkan kepada satu kelompok (bukan orang per orang) akan mengurangi masalah asymetric information antara kreditur dan debitur. Penyaluran kredit kepada kelompok berada pada struktur kredit co-operative.
Struktur kredit co-operative secara mendasar berbeda dengan kredit bank biasa. Kredit co-operative umumnya tidak didasarkan pada persyaratan modal. Keunggulan kredit co-operative lainnya adalah biaya administrasi yang sangat rendah. Model kredit co-operative dapat dikembangkan melalui perbaikan manajemen keuangan dan kebijakan yang mengatasi kelemahan struktural di wilayah tata kelola dan kepemilikan. Model co-operative (pengelolaan bersama) mendekati bentuk badan hukum koperasi.
LKM-A sebagai model kredit co-operative dalam struktur Gapoktan, diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pembiayaan usahatani di tingkat kelompok tani. Salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan (sustainability) LKM-A adalah kapabilitas sumberdaya manusia (SDM) pengelola LKMA. Keberlanjutan LKMA juga membutuhkan inovasi, khususnya dalam mencari model pembiayaan yang inovatif. Sedangkan syarat untuk melakukan inovasi adalah kompetensi. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi pengelola LKM-A merupakan hal sangat penting dan harus terus dilakukan. Inovasi dan kompentensi akan semakin relevan bila dikaitkan dengan peran LKMA dalam melakukan aktivitas pembiayaan kepada pelaku usaha di perdesaan melalui pendekatan co- operative entrepreneurship. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan SDM pengelola LKM-A dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi, instansi pemerintah, BUMN/BUMD, badan usaha milik swasta, dan lembaga internasional. Pendidikan dan pelatihan dapat difokuskan pada sistem dan tata kelola LKM-A, pengembangan usaha, penguasaan teknologi, pengembangan jaringan kemitraan, aksesibilitas terhadap dukungan pendanaan, dan pelayanan masyarakat.
Perkembangan LKM-A Gapoktan Sejahtera terus terlihat dari peningkatan nominal peminjaman serta persentase pinjaman lancar dari tahun ke tahun. Saat
ini LKM-A Gapoktan Sejahtera sedang bersiap untuk memperkuat dirinya dengan lembaga hukum berupa koperasi. Sehingga peneliti mengajukan pola implikasi co-operative entrepreneurship sebagai penguatan badan hukum koperasi yang telah dikuatkan melalui sistem kelembagaan yaitu kelompok tani. Suatu bangsa yang memiliki kelompok wirausaha yang besar akan lebih mudah untuk maju dan lebih tahan terhadap ganguan krisis. dan dikarenakan soko guru perekonomian Indonesia adalah koperasi, maka kebutuhan akan wirausaha koperasi menjadi
penting. Hal ini didukung oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19
tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menyatakan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dibentuk oleh, dari dan untuk petani melalui Gapoktan. BUMP dapat berbentuk koperasi atau badan usaha lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dengan demikian Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) maupun unit otonom simpan pinjam yang dimiliki Gapoktan PUAP sebagai salah satu model BUMP harus memiliki badan hukum. Sesuai karakteristik dari BUMP yang dibentuk oleh, dari dan untuk petani melalui Gapoktan maka bentuk badan hukum yang sarankan untuk LKM-A adalah Koperasi.
Implikasi pengembangan co-operative entrepreneurship yang diajukan untuk LKM-A sejalan dengan kebijakan pengembangan dan pemberdayaan LKM- A. Kebijakan untuk pengembangan dan pemberdayaan LKM-A menurut Arsyad (2008) adalah sebagai berikut: (1) Lembaga keuangan mikro (LKM) yang telah ada, tumbuh dan berkembang di masyarakat berdasarkan kultur serta sistem yang diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. LKM yang akan dijadikan jejaring dari LKM Agribisnis adalah LKM yang berbasis di area pengembangan agribisnis. (2) Embrio LKM yang berasal dari pengembangan kelompok-kelompok tani berbasis pada program dana bergulir baik yang dikembangkan oleh donor (bantuan Luar negeri) maupun yang dikembangkan melalui program pemerintah, atara lain seperti Unit Pengelola Keuangan Desa (UPKD).
Perumusan implikasi pengembangan LKM-A di Kabupaten Lamongan dihadapkan oleh berbagai tantangan, mulai dari yang bersifat kebijakan hingga hal-hal yang bersifat teknis. Hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lamongan belum mengeluarkan peraturan daerah yang secara khusus menangani LKM-A, sehingga pengembangan LKM-A ke depan belum memiliki konsep dan strategi yang jelas. Dalam penelitian ini, perumusan implikasi pola pengembangan LKM- A di Kabupaten Lamongan menggunakan metode pendekatan kewirausahaan koperasi (Co-operative Entrepreneurship) dengan melibatkan unsur pelaku dan proses.
Implikasi pengembangan co-operative entrepreneurship difokuskan pada pengembangan sumberdaya manusia yang ada dan potensial untuk bentuk menjadi seorang wirakoperasi yaitu melalui unit usaha otonom LKM-A yang mempunyai prinsip koperasi. Pendekatan pertama inilah yang dilihat dari sisi pelaku yaitu pengurus atau anggota koperasi. SDM potensial LKM-A merupakan anggota dari Gapoktan yang secara bersama-sama melakukan kegiatan pembiayaan dari dan untuk anggota, salah satunya melalui Ketua Kelompoktani yang menjadi panutan anggota. Tugas utama wirakoperasi adalah mengambil prakarsa inovatif, artinya berusaha mencari, menemukan, dan memanfaatkan peluang yang ada demi kepentingan bersama. Kewirausahaan dalam koperasi dapat dilakukan oleh anggota, manajer birokrat yang berperan dalam pembangunan koperasi dan
katalis, yaitu orang yang peduli terhadap pengembangan koperasi. LKM-A Gapoktan Sejahtera mempunyai tipe kewirakoperasiaan anggota karena nasabah LKM-A sekaligus sebagai pemilik yang dapat menggunakan peluang untuk pengembangan LKM-A menuju badan hukum koperasi. Berdasarkan fungsi, LKM-A Gapoktan Sejahtera masuk dalam jenis kewirakoperasian arbitrase, yaitu nasabah LKM-A sebagai wirakoperasi bertugas mencari peluang yang lebih menguntungkan (Hendar dan Kusnadi 2005).
Pendekatan kedua dilihat dari sisi proses dengan berdasarkan kedudukan LKM-A dalam gapoktan, yaitu sebagai financial education untuk mendukung unit usaha gapoktan seperti saprodi, produksi, pengolahan, dan pemasaran. LKM-A yang telah berbadan hukum koperasi dengan menerapkan kewirausahaan akan memudahkan pengembangan masing-masing unit usaha gapoktan melalui kerjasama dengan lembaga lain. Hal ini sesuai dengan teori Mc Donnel, et all (2012), yang menyatakan bahwa kewirausahaan koperasi (Co-operative Entrepreneurship) sebagai bentuk kewirausahaan bersama dalam pembentukan usaha yang berdasarkan prinsip koperasi. Berdasarkan hasil wawancara responden, yaitu pejabat Direktorat Pembiayaan Pertanian, Pejabat Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, PMT, Ketua LKM-A dan Dosen Perguruan Tinggi Pertanian, menyatakan bahwa legalitas, kemitraan dan kelembagaan yang kuat merupakan faktor utama dalam keberlanjutan LKM-A. Misalnya untuk mendapatkan pendanaan dari bank, maka pendirian LKM-A perlu berbadan hukum dan melengkapi persyaratan administrasi lainnya. Atau dengan kemitraan dengan berbagai lembaga yang ada, LKMA dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan modal. Sedangkan kelembagaan menjadi faktor penentu karena dengan kelembagaan yang kuat, maka LKM-A dapat dengan mudah dikelola, sehingga dapat mendorong tercapainya kemitraan, pendanaan, dan legalitas. Secara keseluruhan, pendanaan dan kemitraan merupakan faktor utama yang perlu diperkuat untuk mencapai tujuan. Pendanaan dapat diperoleh dari lembaga keuangan, bank, atau pemerintah. Sedangkan kemitraan yang perlu dibangun, yaitu dengan lembaga swadaya masyarakat lain, lembaga keuangan, lembaga pendidikan,dan lembaga pelatihan.
Berdasarkan hasil wawancara dan survey, diperoleh implikasi pengembangan Co-operative Entrepreneurship LKM-A yang dapat dijadikan informasi dalam pengembangan LKMA di Kabupaten Lamongan. Sebuah pengembangan perlu diimplementasikan dalam bentuk pola yang tersusun melalui bagan alir. Beberapa bentuk program yang dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis penumbuhan LKMA dan keberlanjutan LKM-A berdasarkan pendekatan kelembagaan, finansial dan nasabah adalah sebagai berikut:
1. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam penumbuhan dan pengembangan LKM-A adalah pengelolaan kelembagaan.
2. Aktor utama yang harus diberdayakan dan ditingkatkan kualitas SDM-nya dalam penumbuhan dan pengembangan LKM-A adalah Gapoktan melalui Ketua Kelompok Tani dan Ketua LKM-A.
3. Tujuan yang diprioritaskan dalam penumbuhan dan keberlanjutan LKM-A adalah penguatan pendanaan dan terjalinnya kemitraan dengan lembaga lain; 4. Pola pengembangan LKM-A melalui badan hukum koperasi adalah melalui
pendekatan co-operative entrepreneurship yang bermakna kewirausahaan bersama berdasarkan prinsip koperasi.
Sebelum menyentuh keempat program utama di atas, Pemerintah Kabupaten Lamongan terlebih dahulu harus menutupi kelemahan-kelemahan terkait dengan pengelolaan LKM-A. Berdasarkan beberapa temuan di lapangan, beberapa program yang harus dilakukan untuk pola pengembangan LKM-A di masa yang akan datang adalah sebagai berikut: