• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 METODE P E NELITIAN

3) Viabilitas Peserta (Nasabah)

Viabilitas peserta (nasabah) adalah ukuran penting dalam mempengaruhi keberlanjutan suatu pembiayaan dan menempati posisi yang sangat kritikal (Khandker, 1995). Ukuran yang digunakan dalam viabilitas peserta yaitu (1) terjadinya akumulasi kapital yang dapat diproksi dari kenaikan tabungan selama kurun waktu tertentu; (2) tingkat tunggakan rendah selama periode tertentu juga digunakan sebagai indikasi terjadinya viabilitas peserta. Dengan tingkat tunggakan yang rendah, pinjaman dan tabungan yang semakin meningkat menunjukkan terjadinya viabilitas peserta.

Tabel 6 Variabel keberlanjutan nasabah Indikator Keberlanjutan

Nasabah

Variabel

Penyaluran dana PUAP 1. Keterlibatan anggota LKMA dalam pembuatan RUB

2. Ketersediaan dana PUAP

3. Kemudahan persyaratan penerima PUAP 4. Sosialisasi program PUAP

5. Seleksi calon penerima PUAP Pemanfaatan dana PUAP 1. Sebagai unit simpan pinjam

2. Pemahaman terhadap kesesuaian dana yang diterima dengan kebutuhan usaha tani

3. Pemahaman akan jaminan/agunan untuk pinjaman dana PUAP

Pengembalian dana PUAP 1. Ketepatan pengembalian dana PUAP 2. Perguliran dana PUAP pada kelompok lain 3. Peningkatan unit usaha

Sumber: Kementerian Pertanian (2014)

Keberlanjutan nasabah LKM-A (tabel 6) Gapoktan Sejahtera menggunakan persepsi nasabah petani sebagai anggota. Analisis persepsi nasabah petani disesuaikan dengan tujuan program PUAP dan indikator keberhasilan pengelolaan dana PUAP oleh LKM-A dalam kemampuannya menjangkau anggota kelompok tani yang benar-benar memerlukan bantuan penguatan modal untuk kegiatan

usahatani (Kementerian Pertanian 2014). Persepsi petani yang dianalisis dibagi dalam tiga instrumen kelompok, yaitu 1) persepsi nasabah petani terhadap penyaluran dana PUAP, 2) persepsi nasabah petani terhadap pemanfaatan dana PUAP, dan 3) persepsi nasabah petani terhadap pengembalian dana PUAP. Skor penilaian menggunakan skala likert 1-5 dengan pencapaian kategori kepuasan nasabah LKM-A pada tabel 7.

Tabel 7 Kategori pencapaian skor variabel kepuasan nasabah LKM-A

No Pencapaian Kategori 1 4.3 – 5 Sangat Puas 2 3.5 – 4.2 Puas 3 2.7 – 3.4 Sedang 4 1.9 – 2.6 Tidak Puas 5 1 – 1.8 Sangat Tidak Puas

Merumuskan Alternatif Pengembangan Co-operative Entrepreneurship

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A)

Perumusan pendekatan yang dilakukan digunakan untuk pengembangan Co- operative Entrepreneurship sebagai bentuk pengembangan kelembagaan LKM-A yang berbadan hukum koperasi dalam rangka peningkatan kewirausahaan di tingkat kelompok tani. Perumusan ini mempertimbangkan implikasi dari analisis proses penumbuhan dan keberlanjutan LKM-A. Perumusan pendekatan ini juga mempertimbangkan peran pelaku dan proses kewirausahaan tokoh sentral kelompok tani untuk melihat hal apa yang harus diperbaiki dan hal apa yang harus ditingkatkan dalam pengembangan LKM-A. Perumusan ini dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan hasil dari dua tujuan sebelumnya untuk menggiring fenomena sosial yang telah dideskripsikan, sehingga dapat menghasilkan rumusan implikasi pengembangan Co-operative Entrepreneurship.

Definisi Operasional Penelitian

Beberapa pengertian atau definisi yang berkaitan dengan penumbuhan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis adalah :

1. Aset adalah kekayaan kelompok tani yang masih dikelola untuk kepentingan kelompok, baik yang berasal dari dana swadaya kelompok, bantuan pemerintah, maupun program yang ditujukan untuk pemberdayaan kelompok tani.

2. Akses adalah peluang dan kemampuan petani secara individu atau kelompok untuk mendapatkan modal/pelayanan keuangan serta fasilitas kredit dari lembaga keuangan untuk mengembangkan usaha agribisnis. 3. Kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk

atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan bersama.

4. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah Lembaga Keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan.

5. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada LKM dalam bentuk tabungan dan/atau deposito berdasarkan perjanjian penyimpanan dana.

6. Pinjaman adalah penyediaan dana oleh LKM kepada masyarakat yang harus dikembalikan sesuai dengan yang diperjanjikan.

7. Pembiayaan adalah penyediaan dana oleh LKM kepada masyarakat yang harus dikembalikan sesuai dengan yang diperjanjikan dengan prinsip syariah.

8. Penyimpanan adalah pihak yang menempatkan dananya pada LKM berdasarkan perjanjian.

9. Pengembangan Usaha Agribisnis di Perdesaan yang selanjutnya disebut PUAP adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran.

10.Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) PUAP adalah kumpulan beberapa Kelompok Tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.

11.Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) adalah salah satu unit usaha otonom yang didirikan dan dimiliki oleh Gapoktan penerima dana BLM-PUAP dalam bentuk LKM guna memecahkan masalah/kendala akses untuk mendapatkan pelayanan keuangan. LKM-A akan melaksanakan fungsi pelayanan kredit/pembiayaan dan simpanan di lingkungan petani dan pelaku usaha agribisnis sesuai dengan prinsip- prinsip LKM.

12.Nasabah adalah petani atau masyarakat desa yang berhubungan dengan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis baik sebagai penabung maupun peminjam dana untuk berusaha agribisnis.

13.Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau Pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.

14.Pendampingan adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk membantu, mengarahkan dan mendukung individu/kelompok masyarakat dalam mengidentifikasi masalah, merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi dalam mengembangkan organisasi yang dilakukan oleh masyarakat dan berorientasi pada kemajuan untuk meningkatkan pemberdayaan usaha kelompok.

15.Pengelola LKM-A adalah petani anggota yang memiliki kemampuan dan dipilih melalui musyawarah Gapoktan untuk diberi kepercayaan mengelola LKM-A yang didirikan oleh Gapoktan Penerima dana BLM-PUAP,

sebagai lembaga keuangan yang akan melayani seluruh anggota masyarakat desa pelaku usaha agribisnis.

16.Program Kerjasama Lanjutan (Linkage Program) adalah program yang dirancang secara terintegrasi antara LKM-A dengan lembaga keuangan lainnya untuk memperluas jangkauan/layanan (outreach) kepada petani sebagai kelompok penerima manfaat.

17.Skim Mikro Agribisnis adalah suatu skema pembiayaan skala mikro di sektor agribisnis yang dikembangkan oleh LKM-A dengan difasilitasi oleh dinas/instansi terkait sesuai dengan potensi usaha agribisnis di wilayah kerja LKM-A.

18.Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama dibidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.

19.Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang menjalankan usaha simpan pinjam sebagai satu satu usahanya.

20.Kewirausahaan koperasi (co-operative entrepreneurship) adalah sikap mental positif dalam berusaha secara kooperatif untuk mengambil prakarsa inovatif serta keberanian mengambil risiko dengan tetap berpegang teguh pada prinsip koperasi.

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Daerah Penelitian

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu dari dua puluh tujuh (27) Kecamatan yang ada di Kabupeten Lamongan, yang terletak di bagian tengah Lamongan. Kabupaten Lamongan terletak antara 6º 51’ 54’’ sampai dengan

7º23’6’’ lintang selatan dan antara 112º 4’41’’ sampai dengan 112º 33’12’’ bujur

timur, dengan luas wilayah sebesar 1.812,8 km2. Ibukota kabupaten Lamongan berada di Lamongan dengan batas wilayah administratif yaitu sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gresik, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Jombang dan Mojokerto, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Kabupaten Lamongan terdiri dari 27 kecamatan yang terbagi menjadi 3 karakteristik daratan berdasarkan aliran sungai bengawan solo yaitu bagian tengah selatan merupakan daratan rendah yang relatif agak subur yang membentang dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung, Sugio, Maduran, Sarirejo dan Kembangbahu, kemudian bagian utara dan selatan yang merupakan pegunungan kapur berbatu-batu dengan kesuburan sedang meliputi Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokuro serta bagian tengah utara yang merupakan daerah rawan banjir meliputi Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng,

Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Glagah (sumber: Lamongan Dalam Angka 2015)

Gambar 6 Peta Kabupaten Lamongan Sumber: Lamongan dalam Angka 2015

Berdasarkan data statistik Kecamatan Kembangbahu (2014), secara administrasi Kecamatan Kembangbahu terdiri dari 18 desa dan 77 dusun. Setiap dusun terbagi menjadi beberapa Rumah Tangga (RT) dengan jumlah keseluruhan sebanyak 360 RT. Selain itu ada beberapa Rukun Warga (RW) yang berada di beberapa lintas desa. Secara keseluruhan jumlah RW sebanyak 100 RW. Desa Lopang adalah desa dengan jumlah dusun dan RT terbanyak di kecamatan Kembangbahu yaitu sebanyak 10 dusun dan 51 RT. Setiap desa dipimpin seorang Kepala Desa dimana dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sekretaris desa dan beberapa Kasi dan Kaur.

Ketersediaan bahan makanan sangat penting untuk menciptakan ketahanan pangan suatu wilayah. Untuk itu diperlukan produksi tanaman bahan makanan yang memadai. Variabel yang sangat mempengaruhi besaran produksi adalah luas lahan pertanian dan rata-rata produksi per hektar komoditas tersebut. Di kecamatan Kembangbahu (3 777 hektar), luas kecamatan digunakan sebagai lahan pertanian dengan rincian sebanyak 1.288 Ha merupakan lahan sawah berpengairan, 2 489 hektar berupa lahan sawah tidak berpengairan dan 1 891 hektar adalah ladang/tegal. Ada beberapa produksi tanaman bahan makanan yang dihasilkan di kecamatan ini yaitu padi, jagung, kedelai, kacang hijau. Untuk keempat komoditi tanaman bahan makanan tersebut, produksi padi paling banyak dihasilkan di kecamatan Kembangbahu dibandingkan dengan komoditas bahan makanan yang lain.

Kebutuhan protein hewani bisa diperoleh dari daging yang dihasilkan oleh ternak besar, ternak kecil, dan ungggas, maupun produksi turunannya. Khusus ternak besar selain penghasil daging, juga bisa dimanfaatkan tenaganya untuk alat transportasi, maupun untuk mengolah lahan pertanian. Populasi ternak besar meliputi ternak sapi potong, sapi perah, kambing, domba dan kuda. Populasi ternak besar yang paling banyak di kecamatan Kembangbahu adalah populasi Sapi potong yaitu sebanyak 7 684 ekor. Tidak hanya sapi potong di kecamatan Kembangbahu juga terdapat ternak kambing dan domba. Secara berturut-turut jumlah populasi ketiga ternak tersebut sebanyak 6 338 ekor dan 2 043 ekor.

Dalam usaha untuk memajukan perekonomian di wilayah Kecamatan Kembangbahu telah didukung dengan beberapa sarana seperti : 1 unit Puskesmas sebagai sarana kesehatan, 1 unit Wahana Kegiatan Sosial Berbasis Masyarakat, 2 buah pasar umum, 28 koperasi yang sudah berbadan hukum, 1 buah KUD, dan dilengkapi 18 buah LPMD, yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memajukan perekonomian desa (Lamongan dalam Angka 2015). Adanya program pembangunan desa diharapkan dapat meningkatkan desa tersebut menjadi lebih maju dan sejahtera, termasuk program PUAP yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M). Dana PUAP ini dilakukan dengan pemberian bantuan langsung sebesar 100 juta rupiah kepada satu Gapoktan sebagai dana stimulus pengelolaan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) di tingkat kelompok tani.

Pola pengelolaan dan jenis usaha program BLM-PUAP Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan

Sasaran program BLM-PUAP Gapoktan Sejahtera, yaitu petani (pemilik dan atau penggarap), buruh tani, dan rumah tangga petani miskin di pedesaan melalui koordinasi Gapoktan sebagai lembaga yang dimiliki dan dikelola oleh petani. Salah satu tujuan program PUAP adalah mengatasi persoalan petani terhadap ketersediaan permodalan, akses pasar, dan teknologi. Pelaksanaan program PUAP di Kecamatan Kembangbahu mengacu pada pola dasar yang ditetepkan dalam Permentan Nomor 16/Permentan/OT.140/2/2008 yaitu pendidikan dan latihan untuk pengembangan usaha, pendampingan, dan pemberian fasilitas bantuan modal usaha tani yang dikoordinasikan oleh Gapoktan. Untuk membangun kemandirian Gapoktan dalam pelaksanaan program PUAP, maka Gapoktan didampingi oleh Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT), sehingga Gapoktan dapat mengoptimalkan pemanfaatan dana sesuai dengan tujuan program PUAP. Melalui penerapan sistem demokrasi pada tingkat Gapoktan, yaitu keputusan rapat anggota yang merupakan forum teringgi Gapoktan sehingga diharapkan bantuan modal usaha untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan dapat dikekola secara optimal.

Program BLM-PUAP di Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu: tahap seleksi desa lokasi PUAP, tahap penetapan Gapoktan PUAP, tahap sosialisasi program PUAP, tahap penyusunan data dasar, tahap pelatihan dan pembekalan, tahap pemberdayaan Gapoktan, dan tahap penyusunan rencana usaha (RUA, RUK, dan RUB). Pengelolaan BLM-PUAP dikoordinasikan oleh Gapoktan, selanjutnya BLM-

PUAP tersebut dialokasikan ke masing-masing kelompok tani sesuai dengan rencana Usaha Kelompok. Anggota kelompok tani akan menerima BLM-PUAP sesuai dengan Rencana Usaha Anggota yang telah disusun berdasarkan potensi di daerahnya.

Pola pengelolaan dana BLM-PUAP di Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan adalah dengan pola simpan pinjam dengan tingkat bunga dan waktu pengembalian sesuai dengan kesepakatan kelompok. Jenis usaha program PUAP di Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu : (1) usaha budidaya pertanian, yang meliputi budidaya sub sektor tanaman pangan, sub sektor hortikultura, sub sektor peternakan, dan sub sektor perkebunan: dan (2) usaha non budidaya, yang meliputi usaha industri rumah tangga pertanian/industri pengolahan hasil pertanian, pemasaran skala kecil/bakulan dan usaha lain berbasis pertanian.

Gambaran Umum LKM-A Gapoktan Sejahtera

Berikut ini akan dijelaskan tentang gambaran umum LKM-A Gapoktan Sejahtera yang terdiri dari Sejarah LKM-A Gapoktan Sejahtera, landasan, asas dan prinsip, struktur organisasi, aktivitas LKM-A Gapoktan Sejahtera.

Sejarah LKM-A Gapoktan Sejahtera

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan Sejahtera merupakan pengembangan dari unit usaha permodalan yang dikelola oleh Gapoktan. Gapoktan Sejahtera merupakan salah satu Gapoktan di Kabupaten Lamongan yang berhasil mendapatkan dana PUAP sebesar 100 juta rupiah dari Kementerian Pertanian pada tahun 2011. Dana tersebut dipergunakan untuk membantu permodalan bagi masyarakat di wilayah perdesaan khususnya bagi petani kecil. Apabila melihat Petunjuk Teknis Pemeringkatan Gapoktan PUAP menuju LKM-A, waktu ideal untuk pembentukan LKM-A adalah pada tahun ke-3 terhitung dari waktu perolehan dana PUAP. Gapoktan Sejahtera mendirikan LKM-A pada tanggal 13 Juni 2013 di Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan.

Pada saat pembentukan Gapoktan, pembentukan LKM-A telah dilakukan namun belum berjalan aktif. Pengurus Gapoktan masih merangkap sebagai pengurus LKM-A, pengawasan terhadap dana pinjaman dari pemerintah pun sangat rendah. LKM-A Sejahtera memulai kepengurusannya yang baru dan terpisah dari Gapoktan pada tahun 2011. Penyuluh pendamping juga sepakat untuk memperbaharui kepengurusan LKM-A bagi keberlangsungan sub-unit simpan pinjam dan LKM-A Sejahtera. Manajer LKM-A mencoba membuat berbagai strategi baru yang diharapkan dapat membuat pinjaman terus bergulir dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Pembentukan LKM-A Gapoktan Sejahtera bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut meningkatkan perekonomian masyarakat. Metode pembiayaan yang diterapkan yaitu pembiayaan kelompok selama satu musim tanam. Hal ini dilakukan karena LKM-A Gapoktan Sejahtera tidak hanya beranggotakan individu-individu, tetapi lebih pada pembiayaan kelompok tani. Masing-masing kelompok tani ini melalui

tanggung jawab ketua kelompok tani, akan memperoleh pencairan dana PUAP setiap satu musim tanam dan membagikannya kepada anggota secara bergulir dengan syarat peminjaman yang telah ditentukan. Sistem peminjaman dan pengembalian melalui kelompok tani ini mereka sebut sebagai sistem “tanggung

renteng”.

Landasan, Asas, dan Prinsip LKM-A Gapoktan Sejahtera

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Sejahtera memiliki landasan, asas, dan prinsip yang sama dengan Gapoktan Sejahtera, karena LKM-A Sejahtera pada dasarnya merupakan pengembangan dari unit usaha permodalan Gapoktan Sejahtera. Landasan LKM-A Gapoktan Sejahtera adalah Pancasila dan UUD 1945 dengan berasas kekeluargaan. LKM-A Gapoktan Sejahtera melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip-prinsip yaitu :

1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka 2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis

3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

4. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal

5. Kerjasama dan menjalin kemitraan antara Gapoktan, petani, KUD, Mitra dari Dinas Pertanian dan Kehutanan, BUMN dan swasta dalam mengembangkan pola kemitraan.

Struktur Organisasi LKM-A Gapoktan Sejahtera

Struktur organisasi menunjukkan pembagian kerja yang terdapat dalam organisasi LKM-A serta menggambarkan jenjang tanggung jawab setiap bagian dalam struktur tersebut. Struktur organisasi LKM-A Gapoktan Sejahtera terdiri dari:

1. Ketua : Zainal Arifin 2. Sekretaris : Nursanto 3. Bendahara : Supiyono.

Pengurus ini bertugas melakukan pertemuan kegiatan LKM-A melalui Rapat Anggota Tahunan, Laporan Pertanggungjawaban, pertemuan untuk pembagian dan pengembalian dana PUAP kelompok tani, administrasi dan pembukuan melalui pendampingan PMT, dan sosialisasi pelatihan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan melalui pendampingan Penyuluh Lapang.

Aktivitas LKM-A Gapoktan Sejahtera

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan Sejahtera memiliki serangkaian kegiatan yang tidak jauh berbeda dengan LKM pada umumnya. Salah satu pembeda antara LKM-A dengan LKM lainnya adalah pada anggota (nasabah) LKM tersebut. LKM-A Gapoktan Sejahtera memiliki anggota (nasabah) petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). LKM-A Gapoktan Sejahtera memiliki aktivitas pokok dan aktivitas penunjang. Aktivitas pokoknya adalah menjalin hubungan dan kemitraan dengan pihak-pihak dalam penyediaan kebutuhan usaha tani bagi anggota terutama pada masa awal tanam budidaya dan pemasaran serta pasca panen komoditi pertanian. Sedangkan aktivitas penunjangnya adalah menyalurkan sarana produksi pertanian untuk keperluan anggota; mengusahakan permodalan

petani lewat jalinan kerjasama kemitraan; mengembangkan peralatan pertanian untuk kebutuhan petani; bekerjasama dengan pihak lain seperti BUMN, swasta maupun Gapoktan lainnya dalam maupun luar daerah.

Keanggotaan LKM-A Gapoktan Sejahtera

Sejak awal berdirinya LKM-A, ketua LKM-A menetapkan bahwa anggota (nasabah) LKM-A Gapoktan Sejahtera harus merupakan anggota yang tergabung dalam Gapoktan Sejahtera. Hal ini dilakukan agar dana yang dipinjamkan oleh LKM-A dapat digunakan secara maksimal pada bidang agribisnis, karena anggota yang tergabung dalam gapoktan merupakan anggota yang memiliki usaha di bidang agribisnis. Selain itu, hal ini dapat membantu pihak LKM-A untuk mendata jenis usaha yang dilakukan oleh nasabah sebagai salah satu persyaratan pada peminjaman dana di LKM-A.

Sampai saat ini, LKM-A Gapoktan Sejahtera memiliki anggota yang berasal dari tujuh kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan. Ketujuh kelompok tani tersebut adalah Sari Tani 1, Sari Tani 2, Sari Tani 3, Mawar, Sari Tani 4, Tani Jaya, dan Sri Rahayu. Adapun syarat-syarat untuk menjadi anggota (nasabah) LKM-A Gapoktan Sejahtera adalah perwakilan Kelompok Tani sebagai berikut :

1. Mempunyai kemampuan penuh untuk melakukan tindakan hukum (dewasa dan tidak berada dalam perwalian);

2. Petani warga desa yang bergerak di bidang pertanian yang memiliki lahan/garapan (baik sawah maupun tegal) di wilayah kecamatan;

3. Telah menyetujui isi AD/ ART dan ketentuan-ketentuan Gapoktan yang berlaku;

4. Mengajukan permohonan anggota kepada pengurus;

5. Permohonan yang diterima segera didaftar dalam Buku Daftar Anggota dengan mengisi formulir keanggotaan.

Penyaluran Dana PUAP melalui LKM-A Gapoktan Sejahtera

Dana bantuan PUAP yang diberikan oleh Kementerian Pertanian sebesar 100 juta rupiah kepada Gapoktan Sejahtera, dipinjamkan kepada nasabah LKM-A dengan cara bergiliran, sesuai dengan kebutuhan kelompok tani maupun petani individu. Dana tersebut dapat cair melalui beberapa tahap, yaitu:

1. Mengajukan permohonan pinjaman kepada LKM-A dengan: a. Mengisi Formulir Rencana Usaha Anggota

b. Menyertakan Fotokopi KTP yang masih berlaku c. Menandatangani Surat Perjanjian Pembiayaan

2. Penyeleksian terhadap ajuan kredit untuk mengetahui usaha yang layak atau tidak oleh pengurus LKM-A Sejahtera.

3. Mendapat persetujuan dari Komite Pembiayaan yang terdiri dari pengurus Gapoktan dan pengurus LKM-A.

Dana PUAP yang telah dicairkan Gapoktan Sejahtera di tahun pertama digunakan sebagai usaha kegiatan produktif untuk pembelian saprodi berupa benih, pupuk, dan obat pengendali hama penyakit tanaman. Ketersediaan saprodi melalui Gapoktan Sejahtera ini kemudian akan didistribusikan kepada masing- masing kelompok. Perputaran dana PUAP melalui usaha produktif pembelian

saprodi ini cukup besar mencapai 105 juta rupiah. Sedangkan di tahun kedua, penggunaan dana PUAP dialokasikan melalui usaha simpan pinjam (U-S-P). Kegiatan peminjaman melalui dana PUAP ini memudahkan petani meminjam kredit usahatani dengan bunga yang ringan yaitu sebesar 1.5 persen. Namun kegiatan berupa simpanan belum bisa terlaksana. Tahun ke-3 Gapoktan Sejahtera mulai menguatkan unit usaha otonomnya melalui penumbuhan LKM-A (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis). Modal PUAP 100 persen akan diputar dengan pembagian operasional LKM-A sebesar 0.3 persen per bulan, kas gapoktan 0.3 persen dan penguatan modal sebesar 0.4 persen.

Karakteristik Petani Responden

Karakteristik petani anggota LKM-A dilihat dari beberapa kriteria antara lain jenis kelamin, usia, pendidikan, pengalaman usahatani dan luas kepemilikan lahan serta tingkat peminjaman dana PUAP.

Jenis Kelamin Nasabah LKM-A Gapoktan Sejahtera

Berdasarkan kriteria jenis kelamin, nasabah LKM-A penerima BLM- PUAP yang berusahatani padi, jagung, kedelai dibagi dua kelompok, yaitu laki- laki dan perempuan. Sebagian besar petani responden dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 88.30 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kaum laki-laki masih memegang peranan utama dalam kegiatan usahatani. Sebaran petani responden penerima BLM-PUAP dari masing masing kelompok jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran nasabah LKM-A menurut jenis kelamin Jenis Kelamin Jumlah Nasabah LKM-A

(orang) Persentase (%) a. Laki-laki 53 88.30 b. Perempuan 7 11.70 Jumlah 60 100.00

Usia Nasabah LKM-A Gapoktan Sejahtera

Tabel 9 Sebaran nasabah LKM-A menurut golongan usia Golongan Usia (Tahun) Jumlah Nasabah LKM-A

(orang) Persentase (%) 20-29 1 1.67 30-39 7 11.67 40-49 24 40.00 50-59 12 20.00 > 60 16 26.67 Jumlah 60 100.00

Berdasarkan kriteria usia, nasabah LKM-A penerima BLM-PUAP yang berusahatani padi, jagung, kedelai dibagi lima kelompok usia, yaitu kelompok usia 20-29 tahun, 30-39 tahun, 40-49 tahun, 50-59 tahun dan lebih dari 60 tahun.

Sebaran petani responden penerima BLM-PUAP dari masing masing kelompok usia dapat dilihat pada Tabel 9. Dari sisi usia, 40.00 persen petani responden

Dokumen terkait