Sistem drainase tersier sangat mempengaruhi tingkat pelayanan sanitasi. Ini terjadi karena drainase tersier punya fungsi ganda, yaitu sebagai tempat pembuangan dan pengaliran grey water dan bahkan black water sepanjang tahun; dan juga sebagai penyaluran air hujan/limpasan saat musim hujan tiba. Sebagian besar wilayah di Kabupaten Buleleng memiliki drainase dengan sistem gravitasi, karena topografinya miring dan juga sebagian besar merupakan drainase alam dan buatan. Hampir semua drainase alam dan buatan mengalir secara gravitasi. Berdasarkan pemilihan sistem dan penentuan prioritas maka aplikasi sistem pengumpulan menghasilkan zona dan pilihan sistem drainase yaitu :
• Desa/Kelurahan dengan pilihan sitem penanganan jangka pendek yaitu daerah-daerah yang selalu menimbulkan genangan pada musim penghujan sehingga menjadi prioritas untuk ditangani seperti pada sebagian besar wilayah di Kecamatan Buleleng, yaitu Kelurahan Banjar Tegal, Kendran, Banyuning, Kampung Baru, Banyuasri, Desa Baktiseraga dan Desa Celukan Bawang di Kecamatan Gerokgak.
• Desa/Kelurahan dengan pilihan sistem penanganan jangka panjang yaitu daerah-daerah yang berada di luar wilayah Kecamatan Buleleng.
Tingkat layanan sanitasi setiap subsektor (Air limbah, Persampahan dan drainase)
• Tingkat layanan sampah di Kabupaten Buleleng masih rendah, dari total jumlah 148 Desa/Kelurahan yang dapat dilayani sekitar 30% (44 Desa/Kelurahan), dari jumlah tersebut 80% di daerah perkotaan dan 26% di daerah perdesaan. Mengacu kepada Peraturan Menteri PU No. 21 PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan, maka target pelayanan sampai Tahun 2015 untuk wilayah perkotaan adalah 80% sedangkan wilayah perdesaan adalah 50%. Pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten Buleleng sampai tahun 2015 direncanakan dapat menjangkau ke seluruh ibukota kecamatan dan beberapa desa di sekitar ibukota kecamatan dengan jumlah 61 Desa/Kelurahan. Dari studi EHRA terhadap 1.036 rumah tangga di Kabupaten Buleleng, dapat diketahui cara-cara utama membuang sampah rumah tangga di Kabupaten Buleleng.
STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) BULELENG III
-Kelompok yang paling banyak dijumpai adalah rumah tangga yang membuang sampahnya di luar halaman rumah sebesar 34,7%. Kelompok kedua yang cukup besar adalah mereka yang membuang sampah dengan dikumpulkan di rumah kemudian diangkut petugas sebesar 23,9%. Sementara kelompok yang membuang sampah dengan menggumpulkan di tempat bersama untuk kemudian diangkut petugas sebesar 16,9%. Sedangkan kelompok yang membuang sampah di halaman rumah sebesar 17,6%. Sisanya adalah mereka yang sampahnya langsung dibakar dan dikubur masing-masing sebesar 3,3% dan 0,3%.
• Sistem pengelolaan limbah yang terdapat di Kabupaten Buleleng yaitu sistem pengolahan air limbah setempat yaitu IPLT yang telah berfungsi dengan kapasitas pemakaian 100% dan lumpur tinja yang masuk IPLT setiap hari. Dari Survey EHRA, 2010 terhadap 26 Desa/Kelurahan, penduduk yang menggunakan septik tank sebesar 80,6 %. Sekitar 80,6% yang melaporkan menggunakan jamban siram ke septik tank, lebih dari separuhnya (54,5%) melaporkan septik tanknya dibangun lebih dari 5 tahun lalu. Dari sejumlah itu, mayoritas atas sekitar 72,2% melaporkan bahwa septik tanknya belum pernah dikosongkan sama sekali sehingga mengindikasikan bahwa yang digunakan mereka bukan septik tank melainkan cubluk atau tangki yang tidak kedap udara alias merembes ke luar tangki. Penduduk yang menggunakan cubluk diharapkan dapat berkurang pertahunnya dengan menggunakan septik tank. Sementara, proporsi rumah tangga yang membuang tinja langsung ke ruang terbuka mencakup sekitar 13,7%, yang terdiri dari 1) Jamban siram disalurkan ke sungai/kali/parit (4,9%), Jamban nonsiram yang disalurkan ke sungai/kali/ parit (2,3%), 3) gantung di atas sungai/ kolam (0,1%) dan 4) tidak ada fasilitas: di sungai/kali/parit/got atau lapangan/semak (6,4%). Diharapkan pola atau kebiasaan sanitasi masyarakat dari tahun ke tahun terus berkurang seriring dengan bertambahnya masyarakat tentang pentingnya sanitasi lingkungan, pencemaran air atau badan air. Target pengelolaan air limbah sampai Tahun 2015 yaitu target akses cakupan air limbah 70% untuk perkotaan dan 60% untuk perdesaan dan pengurangan pencemaran sungai akibat pembuangan tinja sebesar 100%.
• Drainase mencakup wilayah yang berada dalam kota dan atau diluarnya bila masih membawa pengaruh langsung terhadap sistem drainase kota. Dari Hasil Studi EHRA, 2010, sekitar 60,0% rumah tangga melaporkan banjir di Kabupaten Buleleng terjadi beberapa kali dalam setahun. Sekitar 28,8% rumah tangga yang mengalami sekali dalam setahun, dan yang lebih parah atau yang mengalami sebulan sekali atau lebih dijumpai sangat sedikit, yakni hanya sekitar 6,4%. Target pengelolaan drainase
STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) BULELENG III
-sampai Tahun 2015 yaitu pengurangan genangan pada beberapa wilayah yang berpotensi terjadi genangan di musim hujan.
2.2 VISI MISI SANITASI KABUPATEN BULELENG 2.2.1 Visi Sanitasi Kabupaten Buleleng
Visi sanitasi Kabupaten Buleleng dirumuskan sebagai berikut :
”Terwujudnya Lingkungan yang Bersih dan Sehat berlandaskan Falsafah Tri Hita Karana”.
2.2.2 Misi Sanitasi Kabupaten Buleleng
Misi sanitasi Kabupaten Buleleng adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan cakupan pelayanan persampahan;
2. Meningkatkan cakupan pelayanan drainase; 3. Meningkatkan cakupan pelayanan air limbah;
2.3 KEBIJAKAN UMUM DAN STRATEGI SANITASI KABUPATEN BULELENG 2010 - 2014
2.3.1 Kebijakan Umum Teknik Pembangunan Sektor Sanitasi
Kebijakan sanitasi secara umum lebih didasarkan pada kegiatan fisik sektor sanitasi beserta sarana dan prasarana pengelolaannya, dan juga perilaku masyarakat baik individu maupun kelompok seperti yang tertuang di bawah ini:
1. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pembangunan sanitasi;
Koordinasi dan keterpaduan dalam perencanaan dan pelaksanaan serta pengendalian pembangunan sanitasi perlu ditingkatkan karena sub-sub sektor dalam sanitasi dimaksud saling terkait dan dalam penanganannya tidak parsial/tumpang tindih.
2. Pembangunan Sarana dan Prasarana Sanitasi yang layak;
Menyediakan sarana dan prasarana lingkungan guna mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat aman dan nyaman sesuai dengan kebijakan bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dalam RPJM Daerah Kabupaten Buleleng Tahun 2007-2012.
3. Meningkatkan budaya prilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat;
Sesuai dengan sasaran dalam bidang urusan lingkungan hidup dalam RPJM daerah Kabupaten Buleleng Tahun 2007-2012 yaitu terwujudnya prilaku masyarakat untuk hidup sehat. Hal tersebut akan menjadikan sanitasi sebagai
STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) BULELENG III
-kebutuhan pokok masyarakat sehingga prilaku hidup bersih dan sehat dijadikan budaya dalam kehidupan masyarakat.
4. Pelaksanaan partisipasi masyarakat dan swasta dalam menciptakan lingkungan yang sehat.
Peningkatan partisipasi masyarakat (LSM serta organisasi berbasis masyarakat) dan pihak swasta dan pengutamaan jender dalam perencanaan dan pembangunan sanitasi serta melibatkan masyarakat miskin secara aktif dalam proses pengambilan keputusan.
2.3.2 Arah Strategi Terkait Pembangunan Sektor Sanitasi
Sesuai aspek-aspek pendukung yang terkait dengan penanganan sanitasi maka strategi yang dilaksanakan diarahkan kepada :
1. Meningkatkan upaya lingkungan yang sehat serta perilaku hidup bersih dan sehat;
2. Meningkatkan kapasitas sistem, organisasi dan individu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat;
3. Mewujudkan keterpaduan perencanaan pembangunan air limbah, sampah dan drainase lingkungan dengan perencanaan penataan ruang kabupaten; 4. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan pengelolaan air limbah,
persampahan dan saluran drainase dengan meningkatkan ketegasan sanksi; 5. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana sanitasi kota melalui rencana
induk sistem sanitasi;
6. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan sarana sanitasi, baik yang menyangkut pengolahan air limbah, persampahan maupun drainase lingkungan;
7. Meningkatkan aktivitas pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan;