• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM INFORMASI 1 Informas

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI BIOENERGI BERBASIS WEB

DAFTAR LAMPIRAN

C. SISTEM INFORMASI 1 Informas

McFadden dkk. (1999) dalam Kadir (2003) mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut. Menurut Davis (1999) dalam Kadir (2003), informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau saat mendatang.

Gambar 1. Transformasi data menjadi informasi

Informasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Davis, 1999 dalam Kadir, 2003):

Data Proses Informasi

a. Benar atau salah. Dalam hal ini, informasi berhubungan dengan kebenaran terhadap kenyataan

b. Baru. Informasi benar-benar baru bagi si penerima.

c. Tambahan. Informasi dapat memperbarui atau memberikan perubahan terhadap informasi yang telah ada.

d. Korektif. Informasi dapat digunakan untuk melakukan koreksi terhadap informasi sebelumnya yang salah atau kurang benar.

e. Penegas. Informasi dapat mempertegas informasi yang telah ada sehingga keyakinan terhadap informasi semakin meningkat.

2. Sistem Informasi

Sistem informasi dapat didefinisikan dalam beberapa cara. Dalam kegunaan ini, sistem informasi didefinisikan sebagai sebuah gugus dari elemen-elemen atau komponen-komponen yang saling berhubungan satu sama lain, yang mengumpulkan (input), memanipulasi, dan menyimpan (pemrosesan), dan menyebarkan (output) data dan informasi sebaik mekanisme umpan balik (Stair, 1992). Beberapa hal yang harus dipahami mengenai sistem informasi, yaitu:

a. Manajemen sistem informasi meliputi sumberdaya dan aktivitas. b. Pengembangan sistem informasi meliputi solusi-solusi dari proses

bisnis.

c. Aplikasi sistem informasi meliputi aplikasi operasional, manajerial, dan misi strategis.

d. Teknologi sistem informasi meliputi perangkat keras, perangkat lunak, telekomunikasi, dan manajemen data.

e. Konsep dasar sistem informasi meliputi konsep model, perilaku, dan teknis.

Sistem informasi dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal, contohnya dalam aktivitas yang didukungnya pada level manajemen (Ebert dan Griffin, 2003, dalam Kadir, 2003). Berdasarkan pengelompokan ini terdapat tiga jenis sistem informasi yaitu Sistem Informasi Pengetahuan, Sistem Informasi Operasional, Sistem Informasi Strategis, dan Sistem Informasi Manajemen.

Kemampuan utama sistem informasi (Kadir, 2003), yaitu:

a. Melaksanakan komputasi numerik, bervolume besar dan dengan kecepatan tinggi.

b. Menyediakan komunikasi dalam organisasi atau antar organisasi yang murah.

c. Menyimpan informasi dalam jumlah yang sangat besar dalam ruang yang kecil tetapi mudah diakses.

d. Memungkinkan pengaksesan informasi yang sangat banyak di seluruh dunia dengan cepat dan murah.

e. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi orang-orang yang bekerja dalam kelompok dalam suatu tempat atau beberapa lokasi.

f. Mengotomatisasikan proses-proses bisnis dan tugas-tugas yang dikerjakan secara manual.

g. Mempercepat pengetikan dan penyuntingan.

h. Pembiayaan yang lebih murah daripada pengerjaan secara manual.

D. SYSTEM DEVELOPMENT LIFE CYCLE (SDLC)

SDLC atau daur hidup pengembangan sistem adalah suatu metodologi pengembangan sistem klasik yang digunakan untuk mengembangkan, memelihara, dan menggunakan sistem informasi. Langkah-langkah yang dilalui sistem dalam tahapan SDLC tidak berbentuk linier melainkan lebih berbentuk iterasi. Evaluasi dari tiap tahap yang memungkinkan adanya kesempatan perbaikan sistem yang lebih baik sebelum ke tahapan selanjutnya (Turban, 1993). Menurut McLeod (1995), SDLC adalah proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis komputer. Proses tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

Memahami masalah dan peluang Pengembangan sistem Penerapan sistem Investigasi Sistem Analisis Sistem Desain Sistem Implementasi Sistem Siklus Percobaan Siklus Pemeliharaan Perawatan Sistem

Gambar 2. System Development Life Cycle (McLeod, 1995)

Ada sejumlah tahapan dalam SDLC (Stair, 1992), yaitu sebagai berikut: 1. Investigasi Sistem

Dalam tahap investigasi sistem ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Hal yang pertama adalah menentukan permasalahan (kondisi tak diinginkan yang dihadapi oleh pengguna), alternatif penyelesaian yang ada, dan peluang dari suatu kondisi.

Hal kedua yaitu studi kelayakan dalam aspek organisasional, operasional, ekonomis, dan teknis. Studi kelayakan ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan informasi dari calon pengguna, menentukan kelayakan proyek, dan mengusulkan sistem yang paling layak untuk pembangunan sistem. Yang dimaksud dengan kelayakan organisasional adalah seberapa jauh pembangunan sistem mendukung tujuan organisasi dan rencana-rencana strategisnya. Kelayakan operasional yaitu seberapa sistem baru yang akan dibuat dapat diterima dengan baik oleh pengguna. Jika sistem dirasa sulit digunakan oleh pengguna sehingga menyebabkan pengguna melakukan banyak kesalahan, maka sistem tersebut tidak layak secara operasional. Kelayakan secara ekonomis mengenai penghematan biaya dan peningkatan keuntungan yang didapatkan dari penerapan sistem,

tentunya keuntungan yang didapatkan harus melebihi biaya operasi dan pembangunan sistem yang diusulkan. Kelayakan secara teknis dapat didemonstrasikan jika kemampuan perangkat keras dan perangkat lunak dapat mempertemukan kebutuhan dari sistem yang diusulkan. Selain itu dilakukan pula analisis biaya/manfaat yang mencakup analisis manfaat yang dapat dihitung secara kuantitatif maupun manfaat yang tidak dapat dihitung secara kuantitatif.

Hal ketiga yang dilakukan pada tahap ini adalah membuat rencana manajemen proyek yang meliputi kerja tim, jadwal proyek, estimasi biaya, dan pembagian tugas.

2. Analisis Sistem

Pada tahapan ini pengembang sistem menganalisis dan menentukan kebutuhan informasi pengguna akhir yang kemudian menentukan informasi apa saja yang akan disampaikan pada sistem, dengan mempertimbangkan lingkungan organisasi, di antaranya struktur, prosedur, dan geografis. Pengembang dapat mengembangkan sistem dari sistem yang sedang berjalan atau membuat sistem baru, semuanya bertujuan untuk membangun kebutuhan fungsional yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Umumnya, aktivitas yang dilakukan pada tahapan ini adalah pengembangan dari pelaksanaan studi kelayakan.

Analisis-analisis terhadap suatu sistem yang harus dilakukan antara lain tentang bagaimana suatu sistem menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, dan sumberdaya manusia untuk mengkonversi sumber-sumber data dan informasi. Kemudian dilakukan pembuatan dokumentasi tentang bagaimana aktivitas input, proses, output, penyimpanan, dan kontrol sistem disempurnakan, sehingga dalam tahap desain sistem dapat dilakukan spesifikasi terhadap sumber, hasil, dan aktivitas apa yang seharusnya ada untuk mendukung user interface dalam suatu sistem yang akan didesain. Analisis-analisis tersebut disebut analisis organisasional yang merupakan langkah awal dari pelaksanaan tahapan ini.

3. Desain Sistem

Tahap desain merupakan tahap untuk menjelaskan sistem yang akan memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Tahap ini akan menjelaskan bagaimana sistem mampu memberikan informasi bagi pengguna. Desain sistem menetapkan bagaimana sistem akan menyempurnakan tujuan. Desain sistem terdiri atas aktivitas desain yang menghasilkan spesifikasi sistem yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan fungsional yang telah dikembangkan dalam tahap analisis sistem.

Tahap desain sistem mencakup 3 (tiga) kegiatan, yaitu desain user interface, desain data, dan desain proses.

a. Desain User Interface

Aktivitas desain user interface berfokus pada dukungan interaksi antara pengguna dan aplikasi berbasis komputernya. Desainer berkonsentrasi terhadap bentuk desain input dan output yang atraktif dan efisien bagi pengguna seperti mudahnya menggunakan halaman internet/intranet.

b. Desain Basis Data

Desain basis data berfokus pada struktur basis data dan berkas yang digunakan oleh sistem informasi yang diusulkan. Produk dari desain basis data secara detail merupakan deskripsi dari:

1). Atribut/karakteristik entitas (objek, orang, dan tempat) tentang sistem informasi yang diusulkan yang diperlukan untuk memelihara informasi.

2). Hubungan yang dimiliki masing-masing entitas.

3). Elemen data spesifik (basis data, berkas, record, dll.) yang perlu dipelihara untuk tiap track entity oleh sistem informasi.

4). Integritas rules yang menentukan bagaimana tiap elemen data ditentukan dan digunakan dalam sistem informasi.

c. Desain Proses

Aktivitas desain proses berfokus pada desain sumber perangkat lunak yang dibutuhkan program dan prosedur sistem informasi yang akan dibuat. Desainer berkonsentrasi pada pembangunan spesifikasi

detail untuk perangkat lunak yang akan dibuat oleh pemrograman untuk bertemu spesifikasi desain user interface dan data pembangunan kebutuhan fungsional dalam tahap analisis sistem.

4. Implementasi

Pada tahap implementasi, dilakukan pemrograman komputer (pengembangan perangkat lunak) dan pembangunan basis data dari desain sistem yang telah dilakukan sebelumnya.

Tahap implementasi sistem juga melibatkan akuisisi perangkat keras dan perangkat lunak, pengujian program dan prosedur, pembangunan dokumentasi, dan berbagai aktivitas instalasi. Selain itu, tahap ini juga melibatkan pendidikan dan pelatihan terhadap pengguna dan spesialis yang akan mengoperasikan sistem baru.

Implementasi sistem merupakan tahap yang sulit dan menghabiskan waktu yang banyak dalam pembangunan suatu sistem informasi. Selain itu, tahap ini merupakan tahap yang vital dalam menentukan kesuksesan dari pembangunan sistem baru, yang walaupun didesain dengan baik, sistem akan gagal jika tidak diimplementasikan dengan benar.

5. Perawatan Sistem

Tahap terakhir dari SDLC adalah perawatan sistem. Tahap ini meliputi kegiatan pengawasan, evaluasi, dan modifikasi sistem. Selama sistem digunakan, modifikasi dibuat sehingga sistem dapat memenuhi kebutuhan pengguna secara kontinu. Modifikasi yang dibuat sesuai dengan perubahan internal atau eksternal dari lingkungan organisasi dari pengguna yang disebut sebagai perawatan/pemeliharaan sistem. Alasan diadakannya perawatan sistem antara lain untuk memperbaiki kesalahan (error), untuk menjaga agar sistem tetap berjalan, dan untuk memperbaiki sistem yang telah dibangun.

Dokumen terkait