• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Informasi Rumah Sakit

Dalam dokumen HERIKA DEBORA BRAHMANA /AKT (Halaman 53-58)

TINJAUAN PUSTAKA

5. Pemantauan Pengendalian Intern

2.1.4. Sistem Informasi Rumah Sakit

Menurut Laudon (2007) Sistem Informasi adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan, mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk menunjang pengambilan keputusan dan pengawasan dalam suatu organisasi. Sedangkan menurut Hall (2010) sistem informasi merupakan suatu rangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi, dan didistribusikan kepada para pemakai.

Salah satu hal yang mempengaruhi kinerja intansi pemerintah daerah adalah pemanfaatan teknologi informasi. Teknologi informasi berkaitan dengan pelayanan dikarenakan salah satu dimensi dari kualitas pelayanan adalah kecepatan pelayanan. Dengan adanya teknologi informasi maka pelayanan yang diberikan khususnya pada organisasi jasa, akan semakin cepat dan akurat.

Perkembangan teknologi informasi direspon oleh organisasi dengan mendesain sistem informasi berbasis teknologi komputer.

Sistem informasi rumah sakit (SIRS) (Hospital information systems, HIS) adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data rumah sakit se-Indonesia. Sistem Informasi ini mencakup semua Rumah Sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik maupun privat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Sistem Informasi Rumah Sakit merupakan sebuah sistem informasi yang digunakan untuk Rumah Sakit dimana dalam sistem informasi ini memungkinkan aliran data dari sebuah rumah sakit bisa dilakukan secara elektronis, sehingga pelayanan kepada pasien dapat dilakukan dengan lebih cepat, akurat dan

transparan yang pada akhirnya bisa memberikan kepuasan kepada pasien (Kusumadewi, 2009)

Sesuai ketentuan Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit dalam bentuk sistem informasi manajemen rumah sakit. Pencatatan dan pelaporan dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas pembinaan dan pengawasan rumah sakit di Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1171/MENKES/PER/VI/2011 tentang Sistem Informasi Rumah Sakit mengatur bahwa setiap rumah sakit wajib melaksanakan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) , yaitu suatu proses pengumpulan, pengolahan dan penyajian data rumah sakit. Penyelenggaran SIRS bertujuan untuk :

a. merumuskan kebijakan di bidang perumahsakitan b. menyajikan informasi rumah sakit secara nasional

c. melakukan pemantauan, pengendalian dan evaluasi penyelenggaraan rumah sakit secara nasional.

Menurut Hall (2010) informasi yang dihasilkan dari sistem informasi dapat digunakan apabila informasi tersebut berkualitas dengan empat karakteristik :

1) Relevan, artnya harus memberikan manfaat bagi pemakainya 2) Akurasi, artinya informasi harus bebas dari kesalahan dan tidak bias 3) Tepat waktu, artinya informasi yang dihasilkan tidak boleh terlambat

4) Lengkap, artinya bagian informasi yang esensial bagi pemakai tidak boleh ada yang hilang atau kurang.

Tingginya penggunaan suatu sistem informasi menandakan bermanfaat dan mudahnya suatu sistem informasi. Seseorang akan memanfaatkan sistem informasi dengan alasan bahwa sistem tersebut akan menghasilkan manfaat bagi dirinya. Penggunaan tehnologi informasi semakin meningkat dimana adanya satu Model Penerimaan Teknologi / Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989) yaitu model yang berhasil dan sangat dapat diterima untuk memprediksi penerimaan terhadap suatu teknologi yang baru diterapkan. Untuk saat ini, TAM merupakan salah satu kontribusi teoritis yang paling penting terhadap penerimaan dan penggunaan suatu sistem informasi.

Banyak penelitian telah meneliti ulang, memperluas, dan menggunakan TAM.

Tujuan dari TAM adalah untuk dapat menjelaskan faktor-faktor utama perilaku pengguna teknologi informasi tehadap penerimaan pengguna teknologi informasi itu sendiri.

Model ini menggambarkan bahwa pengguna sistem informasi akan dipengaruhi oleh variabel manfaat (usefuliness) dan variabel kemudahan pemakaian (ease of use), dimana keduanya memiliki determinan yang tinggi dan validitas yang telah teruji secara empiris. TAM meyakini bahwa penggunaan sistem informasi akan meningkatkan kinerja individu atau organisasi, disamping itu penggunaan sistem informasi tergolong lebih mudah dan tidak memerlukan usaha keras untuk memakainya.

Menurut Davis perilaku menggunakan TI diawali oleh adanya persepsi mengenai manfaat (perceived of usefulness) dan persepsi mengenai kemudahan menggunakan TI (ease of use). Kedua komponen ini bila dikaitkan dengan TRA adalah bagian dari belief.

Davis mendefinisikan persepsi mengenai kegunaan (perceived of usefulness) ini berdasarkan definisi dari kata useful yaitu capable of being used advantageously, atau dapat digunakan untuk tujuan yang menguntungkan.

Persepsi terhadap kegunaan adalah manfaat yang diyakini individu dapat diperolehnya apabila menggunakan TI.

Pengguna yang potensial percaya bahwa aplikasi tertentu berguna, mungkin mereka, pada saat yang sama, percaya bahwa sistem ini terlalu sulit untuk digunakan dan manfaat yang di dapat dari penggunaan yang melebihi upaya menggunakan aplikasi. Artinya, di samping manfaat atau kegunaannya, penerapan sistem teknologi informasi akan dipengaruhi juga oleh kemudahan yang dirasa penggunaan (perceived ease of use). Oleh sebab itu Davis menambahkan dua komponen itu pada model TAM.

Secara sederhana TAM dapat digambarkan dalam berikut:

Gambar 2.1.Diagram Technology Acceptance Model

Melalui defenisi dan tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi sistem informasi rumah sakit adalah untuk membantu mewujudkan visi dan misi rumah sakit melalui pemanfaatan dan pengolahan data yang ada sesuai kebutuhan rumah sakit. Pemanfaatan tehnologi informasi diterapkan pada semua kegiatan operasional rumah sakit baik kegiatan layanan maupun administrasi. Salah satu kegiatan administrasi di rumah sakit adalah pengelolaan keuangan yaitu dimulai dari proses perencanaan anggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban serta pelaporan keuangan. Pengukuran kinerja menurut SK LAN Nomor 239 tahun 2003 dilakukan dengan memanfaatkan data kinerja yang bersumber dari data internal, berasal dari sistem informasi yang diterapkan pada instansi. Mardjiono (2009) menyimpulkan bahwa pemanfaatan Tehnologi Informasi berpengaruh terhadap Kinerja Instansi Pemerintah. Diharapkan sistem informasi dapat mendukung penerapan anggaran berbasis kinerja dan pengendalian intern sehingga dapat meningkatkan kinerja yang merupakan bagian dari Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Dalam dokumen HERIKA DEBORA BRAHMANA /AKT (Halaman 53-58)

Dokumen terkait