Peran inisiatif kesehatan global di Indonesia sejak awal permasalahan AIDS di Indonesia telah meningkatkan pendanaan program sehingga mampu meningkatkan cakupan layanan HIV dan AIDS. Meskipun pembiayaan dari inisiatif global ini cenderung menurun dari tahun ke tahun, saat ini pembiayaan untuk penanggulangan HIV dan AIDS, khususnya untuk pencegahan, masih tetap bergantung pada hibah bilateral maupun multilateral. Penganggaran dari dana pemerintah masih berkisar 40%
dari total pembiayaan (Nadjib, 2013). Peran bantuan lembaga donor yang sedemikian besar di negara-negara berkembang telah memunculkan berbagai konsekuensi baik positif maupun negatif terhadap sistem kesehatan (Atun et al., 2010a; b; Conseil et al., 2013; Desai et al., 2010; Dongbao et al., 2008; Kawonga et al., 2012; Shakarishvili et al., 2010). Sistem kesehatan yang dimaksud adalah berbagai pihak baik individu,
organisasi, atau sumber daya yang dikelola secara bersama berdasarkan serangkaian kebijakan dengan tujuan untuk melindungi dampak atas gangguan kesehatan sesuai dengan harapan masyarakat (WHO, 2000).
Beberapa konsekuensi negatif yang telah teridentifikasi oleh penelitian-pene-litian terdahulu tersebut antara lain: 1) Berkembangnya sistem ganda, yaitu sistem penanggulangan HIV dan AIDS dan sistem kesehatan pada umumnya; 2) Lemahnya insentif dari sistem kesehatan untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS; 3) Terbatasnya integrasi layanan HIV dan AIDS dengan layanan kesehatan yang lain; 4) Pengembangan sistem perencanaan, koordinasi, dan pengawasan yang terpisah dari upaya kesehatan lain; (5) Kekhawatiran bahwa situasi ini dapat memper buruk sistem kesehatan karena akan menggerus sumber daya yang tersedia untuk penanggulangan HIV dan AIDS.
Adanya pengelolaan program HIV dan AIDS di luar sistem atau paralel dengan sistem kesehatan tersebut telah mendorong inisiatif untuk mengintegrasikan program penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat sistem kesehatan yang ada sekaligus memastikan keberlanjutan program tersebut di masa depan seiring dengan menurunnya dukungan dana dan teknis dari inisiatif kesehatan global (Atun et al., 2010; Coker et al., 2010; Kawonga, 2012). Integrasi secara umum merupakan kerangka organisasional dan mana jerial untuk mengadopsi dan melakukan asimilasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam fungsi-fungsi pokok sistem kesehatan. Bentuk integrasi pada tingkat penyediaan layanan misalnya tampak pada penggabungan layanan khusus HIV dan AIDS ke dalam layanan kesehatan umum, penyatuan sistem pembiayaan penang-gulangannya ke dalam pembiayaan kesehatan umum, dsb.
Sebuah kajian tentang integrasi program HIV/AIDS dan Tuberculosis (TB) di Indonesia menunjukkan bahwa kedua program tersebut cenderung belum terintegrasi dengan fungsi sistem kesehatan secara umum. Tata kelola; sistem pengawasan dan evaluasi; perencanaan; pembiayaan; serta penyediaan layanan dalam kedua program tersebut dikembangkan berbeda dari sistem yang selama ini dipakai dalam pengendalian penyakit menular umumnya (Desai et al., 2010; Coker et al., 2010). Sementara itu, sebuah kajian dokumen tentang kebijakan dan program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia tahun 1987–2013 yang dilakukan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada me nunjukkan bahwa pengelolaan program HIV dan AIDS di Indonesia cende-rung terpisah dari sistem kesehatan yang ada. Beberapa kecendecende-rungan ini bisa dili hat dari situasi-situasi sebagai berikut: (1) Upaya penanggulangan HIV dan AIDS merupakan kebijakan bersifat vertikal yang diinisiasi dan dikembangkan
oleh pemerintah pusat dengan dukungan penuh dari lembaga kesehatan global; (2) Dalam era desentralisasi ini, pemda belum memiliki komitmen politik dan peran yang signifikan dalam pengembangan kebijakan dan program penanggulangann HIV dan AIDS baik pencegahan, PDP, maupun MD; (3) Pemerintah pusat dan lembaga MPI cenderung menempatkan pemda sebagai pelaksana program sehingga daerah tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk perencanaan, penganggaran, dan tata kelola program; dan (4) Program penanggulangan HIV dan AIDS mengembangkan struktur dan sistem pengelolaan yang berbeda dari pengendalian penyakit menular pada umumnya.
Integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan dengan memaksimalkan sumber daya dan infrastruktur yang tersedia tidak mudah dilaksana-kan karena melibatdilaksana-kan banyak pemain dengan masing-masing kepentingan prag ma-tis nya, kelembagaan, dan kebijakan (Dudley dan Garner, 2011; Atun et al., 2010).
Upaya untuk mengintegrasikan pendekatan integratif dan vertikal menjadi berisiko karena hasil-hasil yang telah dicapai melalui pendekatan vertikal mungkin bisa kurang tampak atau bahkan hilang karena berbagai inovasi yang telah dihasilkan tidak bisa diakomodasi dalam sistem kesehatan. Sistem kesehatan yang belum kuat juga berisiko pada adanya keengganan mengadopsi inovasi (Godwin dan Dickinson, 2012).
Meskipun demikian, sejauh ini belum ada kesimpulan yang jelas tentang penga-ruh integrasi intervensi khusus ke dalam sistem kesehatan terhadap status kesehatan masyarakat karena masih terbatasnya studi tentang isu ini sekaligus belum tersedianya metodologi yang dinilai memadai (Kawonga, 2012; Coker et al., 2010). Oleh karena itu, isu yang lebih mendasar bukan pada memilih bahwa integrasi lebih baik daripada pendekatan vertikal, tetapi seberapa jauh kombinasi atau komposisi antara kedua komponen pendekatan tersebut bisa memberikan dampak yang lebih baik bagi upaya untuk meningkatkan status kesehatan dengan mempertimbangkan kompleksitas pe nye diaan layanan kesehatan dan berdasarkan perencanaan, koordinasi, dan ma-na jemen yang efektif (Dudley dan Garner, 2011; Atun et al., 2010). Mengetahui komposisi dan kombinasi komponen dari dua pendekatan ini merupakan tantangan terbesar dan memerlukan penilaian yang sangat hati-hati.
Dengan demikian, permasalahan kebijakan yang perlu diperhatikan dalam melihat keterkaitan antara upaya penanggulangan HIV dan AIDS dan sistem kese-hat an di Indonesia antara lain: (1) Sejauh mana kebijakan dan program penang-gulangan HIV dan AIDS di Indonesia terintegrasi dengan sistem kesehatan yang berlaku? (2) Dalam komposisi dan bentuk bagaimana pendekatan vertikal dan pendekatan terintegrasi bisa dikombinasikan agar mampu meningkatkan efektivitas
dan keberlanjutannya dengan memperhatikan fungsi-fungsi sistem kesehatan, karak-teristik para aktor yang terlibat di dalam sistem kesehatan dan penanggulangan HIV/
AIDS, serta konteks eksternal di mana interaksi tersebut terjadi baik dari aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya. Untuk bisa menjawab dua isu kebijakan di atas, maka PKMK FK UGM, dengan bantuan pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) bekerjasama dengan sembilan universitas di delapan provinsi di Indonesia, melakukan penelitian tentang Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS Ke Dalam Sistem Kesehatan. Penelitian ini dimaksudkan untuk memetakan berbagai kekuat an dan kelemahan sistem kesehatan di Indonesia dalam mendukung atau merespons permasalahan HIV dan AIDS sehingga diharapkan bisa mengidentifikasi berbagai potensi dan peluang untuk mengintegrasikan upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan.
C. Pertanyaan dan Tujuan Penelitian