• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONTEKS PENELITIAN

2.9 Sistem Mata Pencaharian

Kehidupan ekonomi penduduk Oksibil sampai pada akhir masa peme-rintahan Belanda berupa kegiatan pertanian dalam bentuk kebun-kebun atau ladang-ladang. Orang Oksibil berladang dengan cara berpindah-pindah di atas tanah yang berada di bawah hak ulayat suatu klan. Sebidang tanah yang telah kehabisan semua zatnya sehingga tidak dapat memberikan hasil yang baik lagi akan ditinggalkan selama bertahun-tahun. Cara berkebun yang mula-mula dilakukan di sekitar tempat tinggal penduduk di lembah-lembah yang sangat subur ini cenderung diganti dengan pembuatan

ke-Gambar 2.21 Tarian Baryop. Sumber: Dokumentasi Misi Gereja

bun atau ladang di lereng-lereng yang tinggi. Dulu ini dibuat untuk meng-hindari serangan musuh ketika terjadi perang antarsuku. Cara itu masih dipertahankan sampai sekarang, tetapi tidak lagi dengan maksud untuk menghindari serangan musuh. Tata susunan tanah di daerah ini terdiri atas campuran pasir, tanah liat, kapur, dan kerikil sehingga tidak mudah untuk dikerjakan. Oleh karena itu, penduduk cenderung membuat ladang di sepanjang Sungai Oksibil dengan cara berpindah-pindah seperti yang telah disebutkan. Hal ini menyebabkan satu keluarga dapat memiliki 1-2 buah kebun yang merupakan tanah hak ulayat klan yang letaknya bisa berjauhan.

Orang Ngalum bercocok tanam dengan cara menebang dan mem-bakar. Cara ini telah dilakukan sejak lama dan masih diterapkan sampai sekarang. Alat yang digunakan untuk bercocok tanam dengan cara ini sangat sederhana, yaitu kayu atau tongkat tunggal, kapak besi, dan golok. Orang Ngalum mengenal dua cara berladang, yaitu mengelola tanah klan dan membuat kebun pribadi.

Terdapat beberapa jenis tanaman yang ditanam di ladang-ladang mereka, yaitu keladi (Colocasia Sp), batatas (Ipomea atau Ipomos Batatas), talas (Alocasia Esculata)—ketiga jenis tanaman tersebut dalam bahasa Ngalum disebut dengan om—, ubi rambat/boneng, sayur lilin, sayur

yamen, dan sayur gedi (Hibiscus Manihot). Selain itu, saat ini masyarakat

Ngalum juga mulai menanam beberapa jenis tanaman lain seperti kacang merah (Dalchos Lablab), kedelai (Glycine Hispida), wortel, kubis dan tomat. Jenis tanaman tersebut ditanam bersama-sama di ladang atau dalam tanah petak. Tanaman ini biasanya dijual atau ditukar dengan barang-barang kebutuhan dapur, seperti garam, gula, dan sebagainya. Selain untuk dijual, tanaman-tanaman ini juga sering digunakan untuk kebutuhan keluarga atau memberi makan babi. Dahulu kala, tanaman-tanaman tersebut diperkenalkan kepada orang Ngalum oleh para penyiar agama ke daerah itu, yang juga membuat kebun-kebun percobaan dan percontohan bagi penduduk setempat.

Masyarakat Ngalum mengenal beberapa jenis boneng dan om seperti pada tabel berikut.

Tabel 2.5

Jenis-jenis Keladi dan Batatas

Daerah Jenis Boneng (Ubi rambat) Jenis Om (Keladi)

Arip (Daerah Panas) Botop Kapethor

Matoa Kulol Tit Delkaki Waris Kotonip Penginip Alam (Victor) Batom Murkur Batom Ngol Adimonki Tinta putih Tinta hitam Apmalmolki

Arip dan Yakwol Yamtulap Abuk sirngopki

Maket Donam Mangayangolki Kapetkor Telur Baptum Bencana Kulim

Yakwol (Daerah Dingin) Suluk Pepyok

Dangdonki Teplok Pilerok Murkur Tabongki Kandon Sip Yakonki Abuk sirngopki Birom

Jenis Baru Bakar Monong

Wanmunki Ngumol

Peternakan adalah usaha yang terbatas di daerah orang Ngalum. Pemeliharaan ternak, seperti ayam, kambing, itik, dan lain-lain sangat jarang ditemukan. Jenis ternak yang paling banyak dipelihara oleh orang Ngalum adalah babi. Binatang ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi orang Ngalum. Babi biasanya digunakan dalam upacara-upacara. Selain itu kepemilikan babi juga melambangkan status sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Jenis babi yang banyak dipelihara adalah babi hitam yang lebih kecil tubuhnya daripada babi putih. Setiap keluarga rata-rata memiliki babi sebagai binatang peliharaan.

Gambar 2.22 Kandang babi. Sumber: Dokumentasi Peneliti

Babi-babi itu biasanya ditempatkan di dalam rumah dan tinggal ber-sama keluarga, di dalam kandang yang terletak di sekitar tempat tinggal mereka, atau dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri di sekitar pe-mu kiman. Babi yang diletakkan di dalam rumah biasanya adalah babi-babi kecil yang berumur 0 sampa 5 bulan. Ketika sudah besar, babi itu akan ditempatkan di luar dapur (di dalam kandang atau dilepas bebas di sekitar pemukiman).

“Babi itu seperti tong pu anak pertama. Pagi-pagi buta sebelum tong makan, babi harus makan dulu. Sa belum pi ke kebun kah kerja kah, babi makan dulu”

Saat ini harga seekor babi hidup di sekitar Pegunungan Bintang men-capai Rp40.000.000,00, sedangkan dagingnya bisa dibeli dengan kisaran harga Rp100.000,00–Rp150.000,00 per kilogram.

Tanah peladangan yang merupakah hak milik umum dari suatu desa lambat laun merupakan hak milik klan, bahkan individu, yang telah dibagi berdasarkan hak milik dan hak pakai yang telah ditentukan warga masyarakat yang bersangkutan. Tampaknya setiap klan dan rumah tangga mulai memperhatikan tanah, yang pada masa lalu disebut dusun lama,

untuk ditempati dan ditanami dengan berbagai jenis tanaman baru. Tanaman-tanaman itu antara lain kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan beberapa jenis tanaman percontohan, yakni murbeid dan markisa, yang mula-mula ditanam oleh para penyiar agama.

Berbagai jenis tanaman yang diperkenalkan para penyiar agama kepada warga masyarakat sampai kini juga diusahakan dalam jumlah yang hanya cukup bagi kebutuhan keluarga saja, dan hanya kadang-kadang saja mereka menjualnya. Selain tanah ladang yang merupakan tanah klan yang terletak di dusun lama, banyak orang Oksibil membuat petak-petak di lereng-lereng gunung yang curam.

Menurut cerita masyarakat, dalam 5-10 tahun terakhir ini ada kecenderungan untuk membuat tanah petak atau kebun di tepi Sungai Oksibil, karena hasil yang diperoleh lebih baik daripada hasil ladang, walaupun tanah di tepi sungai itu dikerjakan tanpa henti-hentinya. Jenis-jenis tanaman yang banyak diusahakan adalah kentang, jagung, kacang tanah, wortel, dan jenis-jenis sayuran lain seperti bawang, bawang bom-bay, batatas, padi gogo, tembakau, tebu, dan sejenis labu yang dimakan bersama batatas dan keladi.

Di tiap kampung dalam wilayah Oksibil terdapat kolam-kolam alam yang biasa digunakan oleh penduduk untuk mandi atau mencuci pada musim kemarau panjang, apabila sungai Oksibil kering. Dua dari keenam kolam terbesar terdapat di Mabilabol dan Kabiding dapat menyimpan air sepanjang musim kemarau, yang juga menjadi tempat pemeliharaan beberapa jenis ikan, seperti mujair dan lele. Akan tetapi, penggunaan air dari kolam-kolam tersebut kadang sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh banyaknya mitos yang melingkupi keberadaan kolam-kolam tersebut sehingga warga merasa takut untuk menggunakan air dari kolam-kolam tersebut secara sembarangan.