BAB II KONTEKS PENELITIAN
2.1 Wajah Distrik Oksibil
Sebuah gapura dengan tinggi lebih kurang 15 meter dan lebar lebih kurang 10 meter tegak berdiri di pintu masuk Oksibil. Gapura itu hanya terletak sekitar 50 meter dari Bandara Distrik Oksibil. Pada puncak tengah gapura tersebut berdiri patung Yesus dengan posisi tangan yang seakan memberkati siapa pun yang melewatinya. Di bawah patung tersebut tertera tulisan dalam bahasa Ngalum “Teba Sirip Sema Nirya” yang berarti mari bangkit membangun bersama.
Gambar 2.1 Pintu gerbang masuk Oksibil. Sumber: Dokumentasi Peneliti.
Gapura inilah yang menyambut kedatangan kita ketika mengunjungi Distrik Oksibil, Pegunungan Bintang. Terdapat satu hal yang menarik dari gapura ini. Menurut cerita warga setempat, gapura yang menjadi pintu masuk Oksibil ini diresmikan langsung oleh utusan Paus Benediktus XVI
dari Roma. Masyarakat di Oksibil percaya bahwa gapura tersebut telah diberkati secara khusus, sehingga dapat mencegah semua hal buruk masuk ke Oksibil. Mereka percaya siapa pun yang melewati pintu ini harus memiliki niat baik. Apabila dia berniat jahat dan melewati pintu ini, maka orang tersebut akan mendapat sebuah musibah. Contohnya, apabila ada orang membawa minuman keras ke Oksibil dan melewati pintu ini, maka dalam waktu yang tidak lama orang itu akan meninggal.
Menyusuri jalan lurus melewati gapura Oksibil, sekitar 50 meter di sebelah kiri jalan terlihat sebuah bangunan gereja Katolik yang berdiri me-gah di tenme-gah tanah seluas kurang lebih 500m2. Di gereja inilah pusat ke-giatan masyarakat Oksibil diselenggarakan. Gereja Paroki Roh Kudus, begi-tulah gereja ini dinamakan. Setiap hari Minggu, gereja ini selalu dipenuhi oleh warga Distrik Oksibil untuk melaksanakan ibadah. Selain Misa pada setiap hari Minggu, di lingkungan gereja ini muda-mudi yang tergabung dalam OMK (Organisasi Muda Katolik) hampir selalu berkumpul untuk se-kadar mengobrol, latihan menyanyi, atau bermain bola voli bersama.
Di dalam lingkungan gereja tersebut terdapat sebuah kantor maskapai penerbangan yang melayani rute perjalanan dari Oksibil ke Jayapura dan ke distrik-distrik lain di wilayah Pegunungan Bintang. Perusahaan penerbangan inilah yang melayani kebutuhan penduduk Oksibil untuk berhubungan dengan warga-warga di distrik lain. Hampir setiap pagi ketika cuaca dirasa baik, sekitar pukul 06.00-08.00, warga yang ingin melakukan perjalanan ke distrik lain, mengirimkan barang, atau ingin mengirimkan kabar kepada sanak saudaranya di distrik lain selalu berkumpul di sini.
Melanjutkan perjalanan dari gerbang masuk Oksibil, kita bisa melihat toko-toko kelontong dan warung-warung makanan berjajar di pinggir jalan. Kondisi yang sama bisa kita lihat apabila kita berjalan ke kiri sejauh 200 meter atau berjalan melingkar ke kanan sejauh 200 meter. Mulai dari warung yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, pakaian, warung makan dengan menu yang bervariasi, bank, pasar, sampai satu-satunya rumah sakit di distrik ini—bahkan di seluruh Pegunungan Bintang, ada di tempat itu. Inilah pusat keramaian Distrik Oksibil, tepatnya di wilayah Mabilabol, Kabiding, dan Balusu. Inilah tempat 70% perputaran uang di Oksibil. Pusat pergerakan ekonomi ada di distrik ini. Pusat Oksibil bisa digambarkan dengan ditarik lurus dari bandara Oksibil sejauh 500 meter, kemudian digambarkan secara melingkar sejauh 2 km2.
Akan tetapi, pemandangan itu segera hilang ketika kita melangkahkan kaki sedikit saja keluar dari pusat keramaian tersebut. Tidak ada lagi jalan
beraspal halus yang bisa dilewati mobil dengan nyaman. Tidak ada lagi pertokoan. Tidak ada lagi rumah sakit. Tidak ada lagi warung-warung ma-kan dengan pilihan menu yang bermacam-macam. Singkatnya, lepas dari 2 km2 itu, semuanya serba-minim. Atau jika kita berbicara akses terhadap fasilitas umum, bisa dikatakan tidak ada.
Dengan kondisi geografis yang bergunung-gunung,satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai Oksibil adalah pesawat udara. Saat ini terdapat beberapa perusahaan penerbangan yang melayani rute Jayapura-Oksibil. Namun, hanya satu perusahaan penerbangan yang dapat melayani secara reguler dengan jadwal tiga kali penerbangan per hari. Jadwal peberbangan tersebut pun sangat bergantung pada cuaca sepanjang rute penerbangan. Untuk mengoperasikan rute atau perjalanan udara baik dari Jayapura ke Oksibil atau pun ke distrik-distrik lain di Pegunungan Bintang, koordinasi pemantauan cuaca harus dilakukan terus-menerus oleh masing-masing operator penerbangan di setiap lokasi. Maka, besar kemungkinan jadwal penerbangan harus dibatalkan secara tiba-tiba karena alasan cuaca. Dari pengalaman kami selama 70 hari tinggal di Oksibil, pernah terjadi selama dua minggu penuh tidak ada satu pun pesawat yang bisa masuk ke Oksibil karena cuaca buruk.
Gambar 2.2 Pesawat mendarat di Bandara Oksibil.
Pesawat adalah satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai Distrik Oksibil. Dari gambar tersebut terlihat pesawat jenis Cesna mendarat di bandara Oksibil. Jenis pesawat ini paling sering digunakan untuk mencapai distrik-distrik lain
Terdapat dua jenis pesawat yang dapat digunakan secara reguler untuk mencapai Pegunungan Bintang, yaitu jenis Dash-7 dan jenis Cesna. Sementara beberapa jenis helikopter dan pesawat-pesawat militer seperti Hercules atau Casa terbang jika ada tujuan dan maksud tertentu, misalnya mengirim suplai untuk militer yang bertugas di Pegunungan Bintang atau mengirimkan stok obat ketika pesawat lain tidak dapat beroperasi karena kendala cuaca atau situasi genting seperti perang atau bencana alam.
Pesawat Dash-7 adalah jenis pesawat yang menerbangi rute Jaya-pura-Oksibil. Saat ini hanya satu perusahaan penerbangan yang meng-operasikan jenis pesawat ini. Sebenarnya pesawat ini dapat memuat 50 orang penumpang, tetapi karena kebutuhan pengiriman barang yang cukup tinggi dari Jayapura ke Oksibil, maka dua pertiga dari seluruh jumlah kursi dalam pesawat ini dialihfungsikan menjadi ruangan kosong untuk memuat barang. Maka, dalam penerbangan dari Jayapura ke Oksibil, adalah suatu pemandangan yang biasa apabila kita melihat barang-barang mulai dari bahan makanan, pakaian, perabot, kendaraan bermotor, drum BBM (Bahan Bakar Minyak), sampai alat-alat berat seperti suku cadang ekskavator tertumpuk memenuhi dua pertiga bagian pesawat. Barang-barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Oksibil atau dikirimkan ke distrik lain dengan menggunakan pesawat jenis Cesna.
Ongkos penerbangan dari Jayapura ke Pegunungan Bintang terbilang mahal. Untuk penerbangan reguler, harga tiket untuk setiap penumpang berkisar antara Rp1.250.000,00 sampai Rp2.000.000,00 per orang, sedangkan ongkos pengiriman barang dari Jayapura ke Oksibil berkisar antara Rp18.500,00 sampai Rp40.000,00 per kilogram tergantung jenis barang yang dikirim. Untuk penerbangan rute lain di wilayah Pegunungan Bintang, misalnya dari Jayapura ke Kiwirok atau dari Oksibil ke Batom, harga reguler tersebut tidak dapat diberlakukan. Harga yang diberlakukan untuk rute ini adalah harga carter pesawat, yaitu berkisar antara Rp24.000.000,00 sampai Rp36.000.000,00.
Hal ini tentu saja berimplikasi terhadap banyak hal, salah satunya adalah pada harga barang kebutuhan sehari-hari. Harga barang-barang di wilayah Oksibil bisa dikatakan luar biasa mahal. Sebagai contoh, harga sebotol air mineral botol dengan ukuran 1,5 liter yang biasanya bisa didapatkan dengan harga Rp3.500,00 meningkat harganya menjadi Rp45.000,00, bahkan harga bensin mencapai Rp40.000,00 per liter. Singkatnya, harga barang-barang ketika sampai di distrik ini mengalami peningkatan hingga sepuluh kali lipat dari harga normal. Berikut ini sedikit gambaran mengenai harga barang di wilayah Oksibil.
Tabel 2.1
Harga Barang di Distrik Oksibil No. Jenis barang Harga
1. Air mineral 1,5 liter Rp 45.000,00
2. Bensin per liter Rp35.000,00 sampai Rp60.000,00 (tergantung kelancaran pasokan) 3. Mi instan per bungkus Rp 5.000,00
4. Satu kali makan di warung Rp35.000–Rp70.000,00 (tergantung jenis lauk)
5. Beras per 25 kg Rp 1.000.000,00 6. Gula pasir per 25 kg Rp 1.125.000,00 7. Telur per 3 biji Rp 10.000,00 8. Tempe per bungkus Rp 20.000,00 9. Tahu per biji Rp 5.000,00 10. Ayam potong per ekor Rp 50.000,00 11. Daging babi per kilo Rp 100.000,00 12. Apel per biji Rp 25.000,00 13. Susu instan kotak 250 ml Rp 20.000,00
14. Rokok per bungkus Rp10.000,00 sampai Rp15.000,00 (tergantung jenis rokok, harga sa-ma dengan harga norsa-mal di luar Oksibil)
Sumber: Data Primer
Tingginya harga barang-barang tersebut disebabkan ongkos pengi-rimannya dengan pesawat udara yang juga mahal. Apabila diperhatikan, dari daftar harga tersebut, barang-barang yang mengalami peningkatan harga cukup tajam adalah barang-barang yang notabene mempunyai berat massa yang besar, sedangkan barang-barang yang ringan dan mudah dibawa—seperti rokok—cenderung tidak mengalami peningkatan harga yang tajam.
Listrik di Oksibil hanya bisa menjangkau sekitar ibu kota distrik ini, yaitu daerah Mabilabol, Kabiding, Balusu, dan daerah-daerah perkantoran pemerintah. Sebenarnya tiang-tiang listrik dan kabel telah terpancang jauh sampai ke daerah Yapimakot, tetapi karena sumber tenaga yang masih sangat terbatas, aliran listrik belum bisa menjangkau daerah itu. Sarana
listrik di Oksibil diadakan dan dikelola langsung oleh Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang. Listrik dihasilkan oleh pembangkit bertenaga diesel (generator) dengan sumber tenaga utama BBM (solar) yang dikirimkan dari Jayapura dengan menggunakan pesawat sehingga ada atau tidaknya sarana listrik di wilayah ini sangat bergantung pada kelancaran pasokan BBM dari Jayapura. Karena terbatasnya sumber tenaga, sarana listrik di Oksibil hanya bisa dinikmati selama kurang lebih 7-8 jam per hari, yaitu mulai pukul 17.00 sampai dengan pukul 01.00. Lepas dari jam tersebut, warga yang ingin menikmati listrik memanfaatkan solar cell yang biasanya dipasang di atap-atap rumah atau menggunakan genset-genset milik pribadi.