BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Sistem Pelayanan Perpustakaan
2.3.2 Sistem Pelayanan Tertutup
Sistem Pelayanan Tertutup (close access) adalah salah satu sistem pelayanan yang diberlakukan di beberapa perpustakaan umum yang tidak memungkinkan pengguna atau pengunjung perpustakaan dalam mengakses dan mengambil bahan pustaka secara langsung. Biasanya sistem ini berlaku pada perpustakaan yang memiliki jumlah koleksi sedikit.
Rahmah (2018) menyatakan bahwa sistem layanan perpustakaan yang anggota atau pengunjungnya tidak diperkenankan menelusur dan mengambil sendiri buku-buku yang dibutuhkannya ke ruang koleksi, tetapi harus diambilkan oleh petugas. Dengan demikian, pengguna harus menelusur terlebih dahulu buku atau bahan pustaka yang dibutuhkan melalui katalog dan mencatat nomor panggil atau call number bahan pustaka tersebut dan memberikan kepada petugas perpustakaan di bagian sirkulasi.
Dalam Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000): “pelayanan pemakai sistem tertutup merupakan pelayanan sirkulasi yang tidak memungkinkan pemakai memilih dan mengambil sendiri bahan pustaka”.
Sistem layanan tertutup menurut Standar Nasional Perpustakaan (2009) adalah “sistem layanan perpustakaan yang tidak memperkenankan kepada pemustaka untuk menelusuri dan mengambil sendiri koleksi yang dibutuhkan”.
Sebagaimana sistem pelayanan terbuka, sistem layanan tertutup juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Rahmah (2018) kelebihan dan kelemahan dari sistem pelayanan tertutup adalah sebagai berikut;
Kelebihan sistem layanan tertutup adalah:
1. Letak buku di rak selalu terpelihara karena pengambilan buku dilakukan oleh petugas.
2. Angka kehilangan bahan pustaka atau buku dapat ditekan dengan memasukkan slip buku yang dipinjam, dan tidak memerlukan petugas khusus untuk mengawasi pengunjung perpustakaan.
Adapun beberapa kekurangan sistem layanan tertutup adalah:
1. Pengunjung tidak akrab dengan bahan pustaka.
2. Pengunjung tidak puas dalam memilih koleksi karena hanya melalui katalog.
3. Katalog cepat rusak karena sering digunakan.
4. Banyak buku yang kurang dikenal oleh pengunjung tidak pernah dipinjam.
5. Memerlukan jumlah petugas lebih banyak terutama jika jumlah pengunjung sedang banyak.
6. Terkadang terjadi kesalahpahaman antara petugas dan pengunjung.
7. Sering terjadi antrian panjang di bagian sirkulasi, dan ini berarti pemborosan waktu.
2.3 Jenis Layanan Pengguna Perpustakaan
Jenis layanan pengguna di perpustakaan yang dapat diberikan kepada pengguna sesungguhnya cukup banyak variasinya. Namun semua layanan tersebut dalam penyelenggaraannya haruslah disesuaikan dengan kondisi tenaga perpustakaan dan kebutuhan penggunanya.
Rahayu (2014) menyatakan bahwa jenis-jenis layanan pengguna adalah:
1. Layanan Ruang Baca
2. Layanan Sirkulasi Bahan Pustaka 3. Layanan Referens
4. Layanan Akses Internet
5. Layanan Koleksi Audiovisual (AV) 6. Layanan Fotokopi
7. Layanan Penelusuran Literatur
8. Layanan Pendidikan Pemustaka dan Pelatihan Literasi Informasi 9. Layanan Informasi Kilat
10. Layanan Penyebaran Informasi Terseleksi (Selected Dissemination of Information)
11. Layanan Pembuatan Paket Informasi
12. Layanan Layanan Peminjaman Antarperpustakaan (Interlibrary Loan Services)
13. Layanan Penerjemahan
14. Layanan Kelompok Pembaca Khusus (Anak, Remaja, dan Penderita Cacat)
15. Layanan Perpustakaan Keliling.
Berikut beberapa uraian jenis layanan yang secara umum terdapat pada perpustakaan umum:
2.4.1 Pelayanan Sirkulasi
Layanan sirkulasi merupakan unsur penting dalam kegiatan layanan perpustakaan. Layanan ini memberi kesempatan kepada pengguna untuk menyimpan bahan pustaka untuk dibawa keluar perpustakaan. Layanan sirkulasi merupakan denyut nadi semua kegiatan di perpustakaan, karena kegiatan layanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka merupakan jasa layanan yang secara langsung bisa dirasakan oleh pemustaka. Keberhasilan suatu perpustakaan salah satunya diukur sampai seberapa jauh layanan sirkulasi dapat memenuhi kebutuhan pemustaka.
Sebagaimana dinyatakan oleh Rahayu (2014:15) dalam layanan ini pemustaka yang sudah menjadi anggota perpustakaan dapat meminjam, mengembalikan, dan/atau memperpanjang peminjaman bahan pustaka yang masih dibutuhkan”.
Sutarno (2006) menyatakan bahwa layanan sirkulasi adalah kegiatan melayani pemakai jasa perpustakaan dalam pemesanan, peminjaman, dan pengembalian bahan pustaka beserta penyelesaian administrasinya. Bahan pustaka yang boleh dan dapat dipinjam dibaca di luar perpustakaan pada umumnya adalah koleksi umum (non-referensi). Petugas layanan harus meneliti dan mengecek kondisi bahan pustaka yang akan dipinjam atau dikembalikan, antara lain dalam hal keutuhan dan kelengkapan jumlah halaman, dan ada atau tidaknya coretan, dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000) “peminjaman buku atau sirkulasi adalah kegiatan peredaran koleksi perpustakaan, baik untuk dibaca didalam perpustakaan maupun dibawah keluar perpustakaan”.
Menurut Lasa (2008) layanan sirkulasi merupakan tempat masuk dan keluarnya bahan pustaka. Pada bagian inilah yang mendominasi semua kegiatan yang terdapat pada perpustakaan. Dalam ilmu perpustakaan, pelayanan sirkulasi sering juga disebut dengan pelayanan peminjaman dan pengembalian pustaka.
Sjahrial-Pamuntjak (2000:98) proses pelayanan sirkulasi meliputi kegiatan sebagai berikut:
a. Keanggotaan
Berikut beberapa uraian kegiatan pada proses pelayanan sirkulasi yang secara umum terdapat pada perpustakaan umum:
a. Keanggotaan
Salah satu tugas pada pelayanan sirkulasi adalah menerima pendaftaran anggota perpustakaan dan perpanjangan keanggotaan. Keanggotaan perpustakaan merupakan tanda bukti bahwa pengguna perpustakaan sudah mendaftarkan dirinya sebagai anggota perpustakaan.
Menurut Sutarno (2003) kegunaan dari pada pendaftaran anggota adalah sebagai berikut:
1) Mengetahui jati diri peminjam, memperlihatkan tanggung jawab untuk mengamankan milik perpustakaan dan melindungi hak pembaca yang lain, yang memungkinkan ingin mempergunakan dengan baik.
2) Mengukur daya guna perpustakaan bagi mereka yang dilayaninya.
3) Mengukur kedudukan sosialnya dengan jalan mengetahui jumlah buku yang dipinjam oleh para pembaca.
4) Mengetahui golongan peminjaman untuk mengetahui pula kebutuhan mereka, selera yang sesuai dapat dipergunakan sebagai data perbandingan dengan perpustakaan lain, kemudian meningkatkan.
Dalam Wahyuni (2008:32) menyatakan dengan menjadi anggota perpustakaan kita bisa mendapatkan fasilitas yang cukup menyenangkan misalnya diperbolehkan meminjam koleksi perpustakaan ke rumah sendiri biasanya berbentuk majalah dan buku, mendapatkan informasi jika ada koleksi baru, diundang dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh perpustakaan tersebut.
b. Peminjaman
Kegiatan peminjaman adalah suatu proses pencatatan transaksi yang dilakukan oleh petugas perpustakaan dengan anggota perpustakaan pada saat anggota tersebut meminjam koleksi. Jenis koleksi yang umum dipinjamkan adalah koleksi yang berupa buku.
Menurut Hasugian (2009) mengemukakan bahwa pengertian pinjaman adalah “bahwa buku yang di pinjam bukanlah benar-benar milik kita, tetapi dapat diperpanjang, dan kita harus mengakhirinya dengan mengembalikan buku tersebut, untuk dapat dipinjam pengguna yang lain”.
c. Pengembalian
Pengembalian merupakan kegiatan dalam hal pengembalian atau pemulangan bahan pustaka dibagian sirkulasi yang dilakukan oleh anggota perpustakaan dengan pustakawan pada waktu yang telah ditentukan pada saat peminjaman buku.
Menurut Hasugian (2009) “pengembalian merupakan proses dimana anggota harus mengembalikan buku-buku yang telah dipinjamnya dalam batas waktu yang telah ditentukan”.
d. Perpanjangan
Perpanjangan masa pinjam bahan pustaka dapat terjadi apabila anggota perpustakaan belum selesai menggunakan buku yang telah dipinjam sebelumnya.
Pengguna atau anggota dapat memperpanjangnya dengan cara membawa kembali bahan pustaka yang dipinjam kebagian layanan sirkulasi, petugas sirkulasi akan memberikan waktu perpanjangan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh perpustakaan. Setiap perpustakaan memiliki kebijakan masing-masing dalam memberikan waktu perpanjangan bahan pustaka, ada sebanyak dua kali namun ada juga hanya satu kali perpanjangan saja.
Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi (2015):
prosedur perpanjangan masa pinjam adalah sebagai berikut:
1. Pengguna membawa buku yang dipinjam ke meja layanan.
2. Petugas memeriksa formulir penempahan.
3. Jika tidak ada menempah, petugas membubuhkan tanggal yang baru pada kartu pinjam dan kartu buku.
4. Jika ada yang menempah, petugas tidak memberikan ijin perpanjangan.
e. Pemberian Sanksi
Pemberian sanksi diberikan kepada anggota perpustakaan yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh perpustakaan. Sanksi yang diberikan oleh perpustakaan hendaknya bersifat membangun agar anggota perpustakaan dapat menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Sanksi yang akan diberikan tergantung pada jenis pelanggaran yang dilakukan pengguna perpustakaan.
Menurut Soekanto dalam Supriyadi (2015) sanksi merupakan persetujuan atau penolakan terhadap perilaku tertentu. Sanksi dapat dibagi menjadi sanksi positif dan sanksi negatif. Sanksi positif dapat menimbulkan suatu rangsangan untuk tidak melakukan tindakan tercela. Sedangkan sanksi negatif menimbulkan rangsangan tindakan tercela atau tidak terpuji.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pelayanan sirkulasi merupakan unsur penting di dalam kegiatan pelayanan perpustakaan. Pada layanan ini terjadi proses pendaftaran anggota perpustakaan, peminjaman bahan pustaka yang boleh dipinjam, penentuan masa pinjam, pengembalian, perpanjangan bahan pustaka, dan pemberian sanksi bagi anggota yang melanggar peraturan yang berlaku di perpustakaan tersebut. Agar perpustakaan dapat memainkan perannya dengan baik maka perpustakaan harus didukung oleh sarana, prasarana serta tenaga kerja pengelola yang handal. Untuk itu tenaga pengelola perpustakaan perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola pelayanan sirkulasi.
2.4.2 Pelayanan Referensi
Pelayanan referensi sering disebut juga jasa rujukan dan terbitan berkala adalah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perpustakaan yang khusus menyajikan sumber-sumber koleksi rujukan yang tersedia kepada pengguna perpustakaan. Sumber-sumber rujukan tersebut diantaranya seperti Kamus, Ensiklopedia, Tafsir, Handbook (buku pegangan), Direktori, Sumber Biografi, dan Sumber Biografi.
Menurut Rahayu (2014:15) layanan referensi disediakan untuk membantu pemustaka dalam mencari informasi melalui berbagai sumber informasi referens yang memuat informasi teknis dan uraian singkat, seperti kamus, ensiklopedi, buku pegangan, direktori, almanak, dan buku tahunan.
Sedangkan menurut Yusuf & Suhendar (2005) “pelayanan referensi dapat diartikan sebagai proses pemberian jawaban oleh pustakawan atau pertanyaan pengunjung, yang jawabannya dapat dicari melalui sumber-sumber informasi yang dimiliki perpustakaan”.
Rahayuningsih (2007:103) menyatakan bahwa layanan referensi adalah suatu kegiatan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yaitu dengan cara menjawab pertanyaan dengan menggunakan koleksi referensi, serta memberikan bimbingan untuk menemukan dan memakai koleksi referensi.
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat dipahami bahwa layanan referensi adalah salah satu kegiatan pokok perpustakaan yang melayani dan memberikan informasi untuk menjawab pertanyaan pengguna dengan menggunakan sumber- sumber referensi (rujukan) oleh pustakawan kepada para pengguna.
Adapun jenis koleksi referensi menurut Lasa (2005) bahwa jenis-jenis koleksi layanan referensi antara lain:
1. Kamus (Dictionary)
Kamus adalah kumpulan kata-kata. Kamus memberikan pertolongan pembaca yang menemukan kesulita tentang kata. Sebab koleksi ini berisi daftar kata yang disusun alfabetis, tiap kata dianalisis dan diolah menurut asal kata, ucapannya, artinya maupun cara penggunaannya juga sinonim, lawan kata. Contoh: Kamus Besar Bahasa Indonesia.
2. Ensiklopedia (Encyclopedia)
Merupakan salah satu koleksi referensi yang banyak dipergunakan pemakai. Jenis karya ini merupakan karya universal, menyeluruh yang berisi ukuran ringkas tentang berbagai cabang ilmu atau bidang ilmu pengetahuan. Entri-entrinya disusun alfabetis seperti pada kamus dan urainnya dalam bentuk artikel-artikel yang terpisah.
Contoh: Encyclopedia Britannica.
3. Bibliografi (Bibliography)
Merupakan sebagai daftar pustaka yang disusun menurut aturan maupun pola tertentu.
4. Sumber Biografi
Merupakan catatan maupun tulisan-tulisan tentang riwayat hidup seseorang atau beberapa orang sejak kecil sampai dewasa yang ditulis sendiri atau ditulis oleh orang lain. Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh pelakunya disebut autobiografi.
5. Indeks (Index)
Dapat diartikan sebagai tanda atau petunjuk indikasi. Misalnya; IP (Indeks prestasi/Index Prestation), berarti menunjukkan prestasinya juga misalnya indeks bahan makanan, indeks harga dan lain-lain.
6. Abstrak (Abstrac)
Adalah uraian yang dipadatkan dari suatu karangan atau artikel yang biasanya bersifat ilmiah.
7. Buku Pedoman (Handbook & Guidebook)
Berisi uraian yang dapat dipergunakan untuk mengerjakan sesuatu.
Juga merupakan petunjuk ringkas tetapi menyeluruh dalam satu bidang. Petunjuk-petunjuknya diberikan secara mendalam dan dilengkapi dengan gambar-gambar agar mudah digunakan.
8. Direktori (Directory)
Bahan rujukan ini berupa daftar nama-nama orang, Lembaga, organisasi maupun perkumpulan lain yang disususn alfabetis maupun sistematis. Dicantumkan pula data pendukung lainnya seperti: alamat, profesi, Pendidikan dan lain-lain yang berguna untuk menghubungi orang-orang tertentu maupun akan mengunjungi lembaga tertentu.
9. Almanak (Almanac)
Almanak merupakan bahan rujukan tentang kependudukan, bisnis, olahraga serta soal-soal statistik pertanian.
10. Buku Tahunan (yearbook)
Adalah buku rujukan yang memuat peristiwa-peristiwa selama setahun terakhir. Pada umumnya buku tahunan ini berisi masalah-masalah statistik dan kejadian-kejadian penting selama setahun lewat.
11. Penerbitan pemerintah
Terbitan ini menyajikan informasi yang perlu diketahui oleh masyakarat pada umumnya. Sumber informasi ini tidak dijual belikan di toko-toko buku meskipun isinya diperlukan masyarakat.
2.4.3 Pelayanan Akses Internet
Layanan Akses Internet merupakan layanan yang disediakan perpustakaan yang memiliki akses internet. Dengan adanya layanan internet di suatu perpustakaan, pengguna bisa berkunjung ke website perpustakaan kapan saja, dari mana saja dan dapat mencari dan melakukan proses temu-kembali informasi yang mereka butuhkan secara cepat dan tepat.
Rahayu (2014:15) menyatakan bahwa di beberapa perpustakaan kini banyak yang menyediakan akses penelusuran ke pangkalan data online (melalui internet). Di samping penelusuran ke database online, dengan adanya layanan akses internet pemustaka dapat mencari informasi apa saja, baik yang bersifat ilmiah maupun hiburan melalui internet dan atau juga menggunakan sarana e-mail.
Zainuddin (2006) bahwa manfaat terbesar dari pemustakaan layanan internet adalah terpenuhinya kebutuhan informasi pemustaka. Internet menyediakan akses tak terbatas terhadap sebuah informasi misalnya artikel, baik ilmiah maupun populer.
Rahayu (2003) menyatakan bahwa peranan internet adalah sangat penting untuk mendukung kegiatan ilmiah baik dikalangan ilmuwan maupun civitas akademika, karena internet memiliki potensi dalam menunjang kegiatan ilmiah sehingga tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan produktifitas peneliti.
Berdasarkan ketiga pendapat diatas, dapat dipahami bahwa dengan adanya layanan internet di perpustakaan dapat membantu proses temu kembali informasi yang dimanfaatkan sebagai sarana dan wahana sumber pengetahuan. Penelusuran informasi dengan menggunakan Internet telah memberikan kemudahan dan dampak positif bagi pengguna perpustakaan dalam mencari berbagai jenis informasi yang mereka butuhkan secara up to date.
2.4.4 Pelayanan Anak
Layanan Anak merupakan salah satu kegiatan pelayanan perpustakaan yang disediakan khusus untuk anak-anak mulai dari pra sekolah sampai dengan umur 13 tahun yang didalamnya berisi berbagai macam koleksi dan kegiatan-kegiatan menarik yang dapat membantu meningkatkan gemar membaca anak dan menunjang kecerdasan anak dimasa pertumbuhannya.
Rahayu (2014) menyatakan bahwa biasanya layanan anak diberikan oleh perpustakaan umum yang memang memiliki berbagai macam kelompok pembaca. Untuk kelompok pembaca anak-anak misalnya, perpustakaan dapat menyediakan layanan story telling atau pembacaan buku cerita.
Pengertian layanan anak menurut Rietz (2004) layanan anak adalah pelayanan perpustakaan yang ditujukan untuk anakanak sampai anak berumur 12-13 tahun, didalamnya termasuk pengembangan koleksi anak muda, lapsit services, mendongeng dan membantu pengajaran dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, program summer reading, biasanya disediakan oleh pustakawan anak di ruang anak yang ada di perpustakaan.
Sedangkan Menurut Sulistyo-Basuki dalam Tampubolon (2014)
“perpustakaan anak atau layanan anak adalah perpustakaan yang mengkhususkan
diri dalam koleksi dan pelayanan anak–anak, umumnya para anggotanya yang berusia antara 4 sampai dengan 15 tahun”.
Rahim (2008:85) menyatakan bahwa: agar ruang baca anak menjadi menarik bagi anak-anak sebaiknya disediakan koleksi berupa : a) Buku teks, yaitu buku fiksi atau karangan yang bersifat nonfiksi atau karangan yang bersifat nyata, b) buku sastra anak-anak, merupakan refleksi dari kehidupan, jadi buku sastra anak hendaknya dipilih sesuai dengan penglaman tentang kehidupan anak-anak, c) buku referensi, buku ini seperti kamus, atlas dan almanak, d) majalah anak, majalah ini banyak menyediakan informasi, sehingga anak-anak dapat membaca dan menemukan banyak informasi di daam satu buku, e) surat kabar, merupakan bahan bacaan tambahan bagi anak, karena surat kabar terbit setiap hari, jadi anak-anak akan menemukan informasi yang berbeda setiap hari.
Dengan demikian layanan anak dapat dikatakan sebagai upaya dari perpustakaan umum menjaring pembacaan sebanyak-banyaknya, dan sedini mungkin untuk mengenal perpustakaan. Layanan anak-anak dapat diadakan di perpustakaan umum karena pada dasarnya perpustakaan umum melayani seluruh lapisan masyarakat.
2.4.5 Pelayanan Perpustakaan Keliling
Layanan perpustakaan keliling adalah salah satu kegiatan pelayanan pengguna perpustakaan umum dimana perpustakaan yang mengunjungi pengguna dengan menggunakan kendaraan (baik itu kendaraan darat, air atau udara).
Biasanya kegiatan ini merupakan bagian dari perluasan jasa pelayanan perpustakaan untuk memungkinkan masyarakat yang tempat tinggalnya jauh dari perpustakaan sehingga pengguna dapat menikmati layanan perpustakaan.
Rahayu (2014:18) menyatakan bahwa perpustakaan keliling ditujukan untuk menjangkau pembaca yang letak tempat tinggalnya jauh dari perpustakaan sehingga kemungkinan mereka untuk datang ke perpustakaan sangat sulit.
Hal ini dilakukan juga untuk mendukung pemerintah dalam memberantas buta huruf sehingga masyarakat Indonesia dapat bebas buta huruf.
Menurut Perpustakaan Nasional RI (2006) perpustakaan keliling sesuai dengan fungsi dan sarana yang digunakan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Perpustakaan Keliling Terapung (floating library)
Merupakan perpustakaan yang mempergunakan sarana kapal motor.
Daerah pelayanan perpustakaan ini adalah daerah yang dialiri sungai atau daerah pantai yang hanya mungkin untuk dialayani dengan
kendaraan yang dapat melalui air. Perpustakaan jenis ini dapat ditemukan pada perpustakaan terapung di Provinsi Kepulauan Riau dan daerah Ternate Provinsi Maluku Utara dalam bentuk kapal.
2. Perpustakaan Keliling Darat (mobile library)
Merupakan perpustakaan keliling yang memberikan layanan mempergunakan kendaraan beroda dua, roda empat dan roda enam, seperti sepeda pintar, motor pintar, mobil perputakaan keliling (MPK), dan Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling).
Wahyuni (2008:25) menyatakan bahwa layanan perpustakaan keliling adalah perpustakaan yang memberikan pelayanan dengan mendatangi kelompok orang yang membutuhkan pelayanan perpustakaan, biasanya perpustakaan keliling ini ada untuk daerah terpencil, yang belum mendirikan perpustakaan sama sekali.
Sedangkan menurut M. Ali Supriyanto, dkk. dalam Rakib (2017) perpustakaan keliling adalah perpustakaan yang bergerak (mobile library) dengan membawa koleksi seperti buku, majalah, koran, dan koleksi lainnya untuk melayani masyarakat dari suatu tempat ke tempat lain yang belum terjangkau oleh tempat yang belum terjangkau oleh perpustakaan menetap antara lain daerah-daerah terpencil seperti desa-desa, tempat lokalisasi, panti asuhan, panti jompo, rumah tahanan, rumah sakit, dan lain-lain.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat dimengerti bahwa perpustakaan keliling merupakan salah satu kegiatan layanan perpustakaan umum yang melayani masyarakat yang tempat tinggalnya jauh dari lokasi perpustakaan dengan mengunjungi kelurahan/desa dan juga sekolah-sekolah yang merupakan usaha peningkatan perluasan pelayanan perpustakaan. Dengan adanya pelayanan perpustakaan keliling maka diharapakan tidak ada lagi masyarakat yang tidak mengetahui informasi yang bisa mereka akses di Perpustakaan.
BAB III
KEGIATAN PELAYANAN PENGGUNA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN LABUHANBATU
3.1 Gambaran Umum Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu
3.1.1 Sejarah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu Perpustakaan Daerah Kabupaten Labuhanbatu adalah perpustakaan umum yang di peruntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial – ekonomi. Sejarah singkat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu dimulai dari Perpustakaan di Kabupaten Labuhanbatu sebelum PP. 41 Tahun 2007 di kelola oleh Kantor Penerangan, Informasi, Komunikasi Kabupaten Labuhanbatu dikendalikan Seksi Perpustakaan.
Kemudian pada bulan Maret 2009, diresmikan berdirinya Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Labuhanbatu, beralamat di Rumah Dinas Perkebunan Ujung Bandar, Jl. S.M Raja Rantauprapat.
Pada Tahun 2011 Kantor Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Kab.Labuhanbatu pindah ke Rumah Dinas Kepala Dinas Perikanan Kab.Labuhanbatu Jl. Meranti No.4 Rantauprapat. Dan pada Tahun Anggaran 2012 dibangun Perpustakaan Umum Kabupaten disamping Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Labuhanbatu dan Telah diresmikan pada tanggal 20 Mei 2013.
3.1.2 Visi dan Misi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu
A. VISI
“Bersama Masyarakat Gemar Membaca Dan Budaya Tertib Arsip Menuju Labuhanbatu Hebat Berkompeten.”
B. MISI
1. Mewujudkan Masyarakat Labuhanbatu Gemar Membaca.
2. Mewujudkan Budaya Tertib Administrasi Arsip di Lingkungan Pemerintah Kabupaten, Swasta dan Masyarakat.
3. Mewujudkan Penataan Dokumentasi Data Elektronik Kabupaten Labuhanbatu Dalam Bentuk Informasi Teknologi (IT).
3.1.3 Struktur Organisasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dibentuk berdasarkan Peraturan Bupati Labuhanbatu Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu terdiri dari 17 Pejabat struktural yaitu 1 (satu) Orang Kepala yang membawahi 1 (satu) Orang Sekretaris yang membawahi 3 (tiga) Orang Kepala Sub Bagian, 3 (tiga) Orang Kepala Bidang yang membawahi masing-masing 3 (tiga) Orang Kepala Seksi yaitu:
1. Kepala Dinas.
2. Sekretariat terdiri dari:
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;
b. Sub Bagian Program;
c. Sub Bagian Keuangan.
3. Bidang Pembinaan Sumber Daya Manusia, Pembinaan Kelembagaan dan Teknologi Informasi Perpustakaan terdiri dari:
a. Seksi Pembinaan Sumber Daya Manusia;
b. Seksi Pembinaan Kelembagaan;
c. Seksi Teknologi Informasi.
4. Bidang Pengolahan Bahan Pustaka, Layanan Perpustakaan dan Deposit Daerah terdiri dari:
a. Seksi Pengolahan Bahan Pustaka;
b. Seksi Layanan Perpustakaan;
c. Seksi Deposit Daerah.
5. Bidang Arsip dan Dokumentasi terdiri dari:
a. Seksi Pengelolaan Arsip dan Dokumentasi;
b. Seksi Layanan Arsip;
c. Seksi Pembinaan Arsip.
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN LABUHANBATU
Gambar 3.1. Struktur Organisasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu.
3.1.4 Tata Tertib Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu
Setiap pengunjung atau pengguna perpustakaan wajib menaati peraturan tata tertib yang berlaku pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu untuk menjamin bahwa setiap pengunjung perpustakaan memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam memanfaatkan koleksi dan sarana yang tersedia, tata tertib ini berlaku bagi setiap pengunjung perpustakaan, tanpa terkecuali.
Tata Tertib Pemustaka pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Labuhanbatu, yakni:
1. Pemustaka wajib mengisi buku pengunjung perpustakaan/melakukan chek
1. Pemustaka wajib mengisi buku pengunjung perpustakaan/melakukan chek